Larasati, gadis desa sederhana, percaya bahwa pernikahannya dengan Reza Adiguna akan membawa kebahagiaan. Namun semua harapan itu hancur di hari ia melahirkan—anaknya direbut, dirinya diceraikan, dan ia dicampakkan tanpa sempat memeluk buah hatinya.
Sendiri dan hancur, Larasati berjuang bertahan hidup di tengah kota yang asing. Hingga takdir mempertemukannya dengan Hajoon Albra Brajamusti, pria yang dulu pernah dikenalnya tanpa sengaja.
Dengan keberanian yang tumbuh dari luka, Larasati menyamar sebagai ibu susu demi bisa dekat dengan anaknya kembali.
Di tengah perjuangannya, hadir perasaan yang tak pernah ia duga.
Apakah Larasati sanggup merebut kembali anaknya sekaligus menemukan arti cinta sejati?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon IAS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ternyata Nggak Peduli 19
Laras menggenggam erat pegangan kursi yang sekarang ia duduki. Tubuhnya hampir saja ambruk ketika bertemu dengan Reza. Tapi beruntung, ia dapat menguasai dirinya sepenuhnya. Karena mengenakan cadar, Laras juga bisa sedikit memainkan suaranya sehingga Reza tidak mengenalinya.
Siapa sangka pria itu ada di rumah. Sekali lagi, Laras sangat berterimakasih kepada Hajoon, pasalnya ia langsung melakukan saran dari pria itu untuk memakai cadar.
"Beruntung, aku beruntung banget, uuuugh," gumamnya lirih.
"Kalau ketahuan, Ibu nggak akan bisa lagi ketemu sama kamu sayang," ucap Laras kepada anaknya yang tengah menyusu itu. Ia tahu bahwa cepat atau lambat dirinya akan bertemu dengan Reza, namun tak pernah diduga bahwa ia akan bertemu mantan suaminya itu secepat ini.
Laras merasa jantungnya akan copot tadi ketika berhadapan dengan Reza. Dan saat ini ia sangat bersyukur karena tadi bisa berlalu dengan cepat.
"Aku harus hati-hati, aku nggak boleh lengah atau nunjukkin ketakutanku dan kegugupanku. Semua itu demi anakku, jadi aku nggak boleh ada celah barang sedikitpun."
Laras bertekad untuk tidak kalah dan menyerah untuk bisa di sisi putranya. Baby El sangat membutuhkan dirinya saat ini, sehingga Laras harus ekstra hati-hati agar dirinya tidak ketahuan.
Waktu kapan, Hajoon pernah berkata bahwa dia akan membantu Laras untuk mengambil Elio dengan proses hukum. Tapi Laras sendiri belum memutuskannya dan juga belum ada pembicaraan lebih lanjut. Untuk saat ini Laras ingin fokus saja memberi Elio ASI, karena jika proses hukum itu benar dilakukan, Laras takut jika dirinya tak bisa memberi Elio ASI. Sekarang, Laras sudah merasa puas bisa berada di sisi Elio.
"Waah cepet banget langsung bobok. Ah ya ampun Mbak Saras, aku lega banget pokoknya Baby El ketemu sama Mbak Saras. Haah, aku nggak bisa bayangin gimana kalau nggak ada Mbak Saras," ucap Sus Ani. Wajah perawat tersebut terlihat murung saat berkata demikian yang mana memancing rasa penasaran Laras.
"Ada apa emangnya, Mbak Ani? Apa ada masalah sebelum aku datang?" tanya Laras. Dia tahu kalau Baby El tak mau menyusu, namun agaknya permasalahannya tak hanya itu.
"Begini, sebenernya aku sih nggak pengen ya Mbak ngomong. Cuma kok ya kebangetan sih. Bu Eva, dia kan pengen gitu bisa nyusui adek bayi. Tapi dia nggak ada effort gitu lho. Air susu dia tuh sebenernya udah keluar, tapi Baby El sama sekali nggak mau nyusu alhasil cuma nangis. Nah dia tuh nggak ada usaha buat bonding sama baby. Misal, tidur bersama, mandiin, atau sekedar gendong, dia tuh nggak ngelakuin itu. Kan kasihan bayinya. Bayi itu diambil dari ibunya, kupikir bakal dirawat sepenuh hati. Tapi ternyata nggak. Ya lihat ini, cuma dibiarin begitu aja."
Degh!
Cerita panjang lebar dari Ani bisa memberikan Laras gambaran apa yang terjadi pada anaknya. Eva ternyata tak sepenuhnya mencintai Elio. Elio sepertinya hanya dirawat tapi tidak sepenuhnya dicintai oleh wanita itu.
Ras nyeri seketika menyerang dada Laras, bahkan ia sampai kesulitan bernafas melihat anak yang tanpa dosa diperlakukan.
"Maksud Mbak Ani, Elio diambil dari ibunya itu, gimana ya Mbak? Terus menurut Mbak Ani kenapa Bu eva kayak nyuekin Elio?" Laras pura-pura tidak tahu. Dia penasaran tentang sudut pandang Ani terkait peristiwa yang dialaminya.
"Yang aku lihat, Elio ini emang bukan anak Bu Eva. Itu jelas bukan sebuah kebohongan. Elio anak dari istri kedua Pak Reza. Padahal yang kulihat setiap Pak Reza itu kayak cinta banget sama ibu dari Elio. Tapi nggak tahunya dia kejam banget, sampai misahin Elio dari ibunya. Dan kalau aku nggak salah denger, Elio itu dilahirkan untuk jadi penerus keluarga. Jadi kayaknya Bu Eva yang cuma menganggep Elio seperti itu.?
Asumsi, ya seperti itulah asumsi dari Ani tentang apa yang dilihatnya. Dia hanya orang luar, namun bisa berpikir demikian setelah melihat dan mendengar peristiwa di depannya.
Eva memang ingin Elio bisa jadi anaknya dengan cara menyusui. Tapi ketika berkali-kali tak berhasil, Eva menyerah begitu saja. Dan setelah Laras datang sebagai ibu susu yang cocok dengan Elio, Eva pun tampaknya menjadi tidak terlalu peduli dengan Elio.
Semalam saja Eva sama sekali tidak menengok Elio. Pagi hari juga batang hidungnya tidak terlihat.
Sekedar bertanya tentang bagaimana keadaan Elio saja tidak. Benar-benar anak ini seolah hanya dijadikan alat sebagai penerus tanpa diberikan kasih sayang.
Ani menceritakan hal-hal kecil tentang sikap tak acuhnya Eva kepada Laras, yang mana membuat Laras semakin merasa sakit hatinya.
"Elio butuh kasih sayang, bukannya butuh title sebagai pewaris. Sebenarnya mengapa mereka hanya terobsesi menjadikan seorang anak yang bahkan belum lama lahir sebagai pewaris alih-alih mencintai dan menyayanginya."
Seketika Laras menjadi khawatir, dia takut kehidupan Elio kedepannya akan sulit jika hidup bersama Eva dan Reza. Dia tidak bisa membayangkan bagaimana tekanan dari dua orang itu terhadap anaknya.
"Aku, aku harus bisa mengambil Elio gimanapun caranya. Aku nggak boleh ngebiarin Elio dibesarkan oleh dua orang egois itu."
Laras mencengkeram box bayi dengan sangat keras. Matanya berapi-api, menunjukkan tekad yang begitu besar untuk bisa mengambil Elio dari keluarga ini.
Ceklek
"Gimana Mbak, apa semuanya aman?"
Panjang umur, belum lama Laras dan Ani membicarakan Eva, wanita itu langsung muncul bahkan tanpa salam dan tanpa permisi.
"Aman Bu, alhamdulillah Baby El juga lelap tidurnya," jawab Ani.
"Oh oke, good. Terus Mbak Saras apa udah mau pulang? Ehm kalau udah mau pulang, tolong tinggalin kantong ASI yang cukup ya buat Elio. Biar nggak nangis nanti malem. Pokonya yang cukup buat Elio sampai besok pagi. Tenang aja Mbak, nanti aku bakalan kasih bonus yang gede buat Mbak Saras."
Grrrtttt
Laras semakin keras mencengkeram box bayi itu. Apa yang diceritakan oleh Ani ternyata benar bahwa Eva sama sekali tak memiliki kasih sayang kepada Elio. Wanita itu bahkan sama sekali tidak masuk untuk melihat Elio, dan hanya berdiri diambang pintu saja.
Terlebih ketika Eva meminta Laras menyiapkan ASIP (air susu ibu peras) yang banyak karena takut Elio menangis. Sungguh membuat Laras geram sekali.
"Ya udah kalau gitu, aku tinggal dulu ya. Kalau mau pulang makan dulu Mbak Saras, aku udah minta asisten rumah tanggaku buat masakain makanan khusus ibu menyusui. Air susu kamu harus banyak agar Elio menjadi anak yang kuat. Jadi nanti dia akan jadi pewaris Adiguna yang hebat. Pokoknya aku serahkan padamu soal ASI ya Mbak Saras."
Setelah mengatakan itu, Eva pergi. Benar-benar dia datang hanya untuk berkata tentang ASI milik Laras dan bukannya untuk Elio.
"Dia bener-bener kayak nggak peduli sama Baby El,"ucap Ani.
Dari tatapan Ani, Laras tahu bahwa hal serupa sering terjadi dan cukup membuat dada Laras semakin sesak dibuatnya.
"Anakku, kenapa kami harus mengalami hal kayak gini, Ya Allah,"ucap Laras dalam hati.
TBC