Klan Jenderal Cang yang agung berdiri di ujung jurang kehancuran. Titah rahasia Kaisar Yan telah turun, mengincar nyawa setiap anggota keluarga yang memegang kendali militer. Sebagai pewaris tunggal, Cang Qixuan memilih jalan yang paling dibenci dunia demi menyelamatkan klannya: menjadi sampah. Ia menenggelamkan diri dalam lautan arak, judi, dan wanita, menghamburkan emas kekaisaran seolah debu. Di balik cemoohan rakyat dan tawa meremehkan musuh-musuhnya, Qixuan merajut Jaring Bayangan. Setiap keping emas yang ia lempar di rumah bordil adalah investasi intelijen; setiap aib yang ia ciptakan adalah perisai pelindung. Berawal dari kultivasi yang hancur, ia memanjat kembali dari dasar jurang kekuasaan, menelan penghinaan untuk kelak menelan seluruh Kekaisaran Yan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝐍𝐞𝐳𝐮𝐤𝐨 i, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 34 kiamat di puncak Surga dan peresmian takhta ketiadaan
Langit di atas Benua Tengah tidak pernah dirancang untuk menahan penderitaan. Selama puluhan ribu tahun, kanvas biru surgawi itu hanya mengenal warna keemasan dari energi keabadian, tarian naga suci, dan gema lonceng pencerahan dari para ahli Dao. Namun hari ini, kanvas itu dilukis ulang menggunakan tinta hitam kehancuran yang dipompa langsung dari jantung kapitalisme absolut.
*DZHUUUUUUUUMMMMMMMM!!!*
Ketika lima puluh ribu pilar sinar hitam kemerahan membelah atmosfer dan menghujam Ibukota Titah Langit, suara itu melampaui ambang batas pendengaran fana. Bunyi itu berubah menjadi gelombang kejut fisik yang menggetarkan lempeng tektonik di kedalaman jutaan kilometer di bawah tanah. Sinar kiamat yang ditenagai oleh pecahan *Inti Matahari Buatan* dan diubah oleh *Koin Timbangan Surga* itu tidak mengenal konsep belas kasihan, tidak pula membedakan antara bangunan bersejarah dan nyawa makhluk hidup.
Di bawah sana, Istana Pualam Sembilan Naga—simbol kekuasaan tertinggi Sekte Titah Langit yang dibangun selama seribu tahun—menguap dalam waktu kurang dari satu tarikan napas. Batu giok yang diklaim tidak bisa dihancurkan oleh senjata kelas Surga sekalipun meleleh menjadi lahar hijau yang mendidih. Paviliun-paviliun yang menyimpan jutaan gulungan teknik rahasia terbakar menjadi abu ketiadaan.
Ribuan murid sekte yang tidak sempat melarikan diri bahkan tidak memiliki kesempatan untuk menjerit. Saat sinar pemusnah itu menyentuh tubuh mereka, darah, daging, dan *Dantian* mereka langsung terurai menjadi partikel dasar spiritual. Mereka terhapus dari siklus reinkarnasi itu sendiri.
Di udara, Kaisar Surgawi Huangpu Taiyi berdiri membeku. Wajahnya yang awet muda dan penuh arogansi kini terlihat setua fosil yang melapuk. Matanya yang keemasan menatap kosong ke arah lautan api hitam yang menelan jantung kekaisarannya.
"Tidak... tidak mungkin... Warisan sepuluh ribu tahun... Leluhur... apa yang telah kulakukan?" Taiyi bergumam dengan suara bergetar, air mata darah mengalir dari sudut matanya. Ia adalah penguasa tertinggi, namun saat ini, ia merasa lebih kerdil dari debu.
Di sebelahnya, tiga Kaisar Purba yang tersisa—Cangming, Yanxing, dan Guxuan—terengah-engah. Wajah mereka dipenuhi teror yang belum pernah mereka rasakan sejak era primordial. Mereka telah melihat banyak peperangan, menaklukkan banyak dunia, namun mereka tidak pernah menghadapi musuh yang bisa memproduksi kiamat secara massal tanpa perlu mengorbankan setetes pun darah pasukannya.
"Ini bukan sihir... Ini bukan teknik kultivasi!" Kaisar Cangming meraung, jubah peraknya compang-camping akibat gelombang kejut. "Dia menembakkan hukum alam murni! Meriam-meriam itu mengubah energi panas menjadi ketiadaan! Anak ini... dia membengkokkan hukum sebab-akibat dunia ini dengan uang!"
Di atas kapal bendera *Fatamorgana Emas*, Cang Qixuan duduk santai di kursinya. Kipas gioknya berayun pelan, meniupkan hawa sejuk di tengah neraka yang sedang ia ciptakan. Matanya menatap layar pembantaian di bawahnya tanpa sedikit pun riak emosi.
"Hentikan tembakan," Qixuan memberi isyarat ringan dengan tangan kirinya.
Di ruang kontrol, Hong Lian menarik tuas sentral. Raungan lima puluh ribu meriam mendadak berhenti. Asap tebal mengepul dari laras-laras perak kehitaman, mendesis liar saat cairan pendingin dari tubuh tiga utusan pajak disuntikkan untuk menurunkan suhu mesin.
Keheningan yang menyusul terasa jauh lebih mencekam daripada suara ledakan.
Asap hitam perlahan menipis, memperlihatkan lanskap yang tidak lagi bisa disebut sebagai ibukota. Yang tersisa hanyalah kawah raksasa selebar ratusan kilometer, permukaannya dilapisi kaca obsidian yang terbentuk dari tanah dan giok yang meleleh kemudian mendingin mendadak. Tidak ada satu pun pilar istana yang berdiri tegak. Tidak ada teriakan kehidupan. Ibukota Titah Langit, surga bagi para dewa Benua Tengah, telah resmi dihapus dari peta geografis.
Hanya Huangpu Taiyi dan tiga Kaisar Purba yang tersisa di udara, selamat karena kultivasi *Kaisar Langit* mereka mampu menahan sisa-sisa pancaran sinar mematikan di titik terluar. Namun, kondisi mereka sangat mengenaskan. Aura mereka kacau balau, dan fondasi Dao mereka retak.
Qixuan berdiri dari kursinya. Ia melayang maju, turun dari ketinggian kapalnya dengan langkah yang lambat dan penuh perhitungan, menuruni anak tangga udara tak kasat mata hingga posisinya sejajar dengan keempat dewa yang tersisa tersebut.
"Pembongkaran lahan selesai," Qixuan mengumumkan dengan nada datar, suaranya menggema di kawah kosong yang dulunya adalah rumah musuhnya. "Lahan ini sekarang bersih dari bangunan liar. Sangat cocok untuk didirikan pusat perbelanjaan baru."
Huangpu Taiyi mendongak. Matanya dipenuhi kebencian yang begitu pekat hingga bisa meneteskan racun.
"CANG QIXUAN!" raung Taiyi, suaranya merobek tenggorokannya sendiri. Ia mencabut sebuah pedang panjang berwarna emas dari dalam Dantiannya. Pedang itu adalah *Pedang Kaisar Titah Langit*, pusaka warisan sekte yang mengandung kehendak jutaan pengikut. "Kau menghancurkan rumahku... Kau membantai rakyatku... Aku akan mencabut jiwamu dan menyiksamu di dalam nyala api abadi selama seratus ribu tahun!"
Qixuan menyipitkan matanya, menatap pedang di tangan Taiyi. "Kau masih ingin bertarung? Setelah semua bukti efisiensi yang kutunjukkan padamu? Taiyi, aku menghancurkan kotamu bukan karena aku membencimu. Aku melakukannya karena lahan kosong lebih mudah diukur untuk sertifikat kepemilikan baru. Kau hanyalah mantan pemilik tanah yang keras kepala."
"JANGAN BANYAK OMONG KOSONG!"
Kaisar Yanxing, yang tubuhnya masih diselimuti api hitam abadi, tiba-tiba melesat ke depan. Ia tidak menyerang Qixuan dengan api. Ia menoleh ke arah dua saudaranya, Cangming dan Guxuan. Mata ketiga kaisar purba itu bertemu dalam satu pemahaman absolut yang mengerikan.
"Taiyi! Mundur!" teriak Kaisar Guxuan, aksara kutukan di tubuhnya mulai menyala dengan warna merah darah yang menyilaukan. "Serangan fisik dan energi tidak akan mempan terhadapnya! Kulitnya telah diperkuat oleh hukum anomali! Kita tidak bisa membunuhnya dari luar!"
Kaisar Cangming mengangguk, raut wajahnya menua dengan cepat saat ia membakar esensi umur lima ribu tahun miliknya. "Kita gunakan tabu tertinggi. Jika kita tidak bisa menghancurkan tubuhnya, kita akan meremukkan roda takdir dan karmanya! Kita seret jiwanya ke dalam pusaran samsara!"
Ketiga Kaisar Purba itu secara serentak menancapkan tangan mereka langsung ke dalam dada mereka sendiri.
*CRAAAAK!*
Pemandangan mengerikan terjadi saat ketiga entitas kuno itu merobek jantung spiritual mereka sendiri. Darah emas bercampur hitam menyembur ke udara, tidak jatuh ke tanah, melainkan melayang dan menyatu di tengah-tengah formasi segitiga yang mereka buat.
"Apa yang mereka lakukan?!" Shen Feiyan yang melihat dari atas kapal menjerit panik. "Tuanku! Itu adalah *Formasi Pengorbanan Samsara*! Mereka membakar eksistensi jiwa dan akar Dao mereka untuk memanggil hukum kausalitas! Itu adalah serangan karma absolut yang mengabaikan segala bentuk pertahanan fisik dan energi pelindung!"
Di langit, darah dan jiwa ketiga kaisar itu membentuk sebuah roda gigi raksasa berwarna kelabu yang dipenuhi oleh ribuan wajah roh penasaran. Roda itu memancarkan aura penderitaan, dosa, dan utang karma dari seluruh pembunuhan yang pernah terjadi di alam semesta.
Huangpu Taiyi terhuyung mundur, matanya terbelalak melihat ketiga leluhurnya mengorbankan sisa nyawa mereka demi satu serangan terakhir. "Leluhur... kalian mengorbankan reinkarnasi kalian..."
"BUNUH IBLIS INI, TAIYI! BANGUN KEMBALI SEKTE KITA!" raung jiwa ketiga kaisar purba itu secara bersamaan, suara mereka tumpang tindih dari dalam roda samsara raksasa tersebut.
Tubuh fisik Cangming, Yanxing, dan Guxuan hancur menjadi debu putih. Sisa-sisa esensi mereka sepenuhnya ditelan oleh roda raksasa itu.
*WUSSSSH!*
Roda Samsara itu berputar dengan kecepatan melanggar logika dimensi, membelah ruang dan waktu, lalu melesat langsung mengunci titik karma di dahi Cang Qixuan. Serangan ini tidak bisa ditangkis oleh tangan kosong, tidak bisa dihalangi oleh perisai sutra, dan tidak bisa diuapkan oleh meriam lava. Ini adalah serangan yang langsung menargetkan dosa dan utang nyawa targetnya. Dan dengan jutaan nyawa yang baru saja dihapus oleh perintah Qixuan, utang karmanya sangatlah masif.
Qixuan berdiri tegak, matanya menatap roda karma kelabu yang melesat ke arahnya. Angin kencang menerpa wajahnya, namun ia tidak mundur satu sentimeter pun.
"Karma, ya?" Qixuan berbicara sangat pelan, suaranya sangat tenang di tengah amukan badai spiritual tersebut.
Tangan kirinya perlahan merogoh ke dalam jubahnya.
"Kalian mengira bahwa akumulasi dosa adalah sebuah hukuman alam semesta yang tidak bisa diganggu gugat. Para pendeta dan dewa-dewa kolot selalu menakut-nakuti manusia dengan konsep karma agar mereka patuh. Tapi kalian lupa satu hal mendasar, wahai dewa-dewa yang sudah mati."
Qixuan mengeluarkan sekeping koin berwarna hitam legam yang memancarkan pendaran galaksi. *Koin Timbangan Surga*.
"Karma hanyalah utang kosmik," Qixuan membalik koin itu di sela-sela jarinya, seolah sedang bersiap membayar tagihan di kedai teh. "Dan di duniaku, tidak ada utang yang tidak bisa dilunasi. Apalagi jika kau memiliki kas yang tidak terbatas."
Saat Roda Samsara raksasa itu berjarak hanya sepuluh meter dari wajahnya, bersiap meremukkan jiwanya di bawah beban jutaan nyawa, Qixuan menjentikkan koin itu ke udara.
"Menelan Langit Tahap Absolut: Likuidasi Karma."
Qixuan tidak mengalirkan qi. Ia menggunakan akses mentalnya ke *Bank Sentral Kekaisaran Bayangan* miliknya. Ia menghubungkan otoritas koin itu dengan cadangan lima ratus juta batu spiritual tingkat atas yang tersimpan di Menara Teratai Emas di Benua Timur, serta puluhan urat bumi yang baru saja ia sita dari sekte-sekte bawahan.
*TIIIIIIING!*
Suara dentingan koin kuno itu terdengar sangat renyah, melampaui suara gemuruh roda samsara.
Sebuah neraca emas raksasa—proyeksi hukum dari Koin Timbangan Surga—muncul di atas langit kawah. Di satu sisi timbangan, Roda Samsara yang berisi dosa dan utang darah jutaan nyawa mendarat dengan bobot yang sangat mengerikan, membuat timbangan itu anjlok ke bawah.
Namun, di sisi lain timbangan, hukum alam mulai menuangkan "pembayaran".
Bukan batu spiritual fisik yang dituangkan, melainkan *nilai murni* dari ratusan juta keping batu spiritual, miliaran ton emas, dan puluhan urat bumi yang dimiliki oleh Qixuan secara de facto. Cahaya keemasan menumpuk di sisi kosong timbangan itu dengan kecepatan gila.
Sisi timbangan Qixuan menjadi semakin berat, semakin padat, hingga akhirnya seimbang dengan beban Roda Samsara, lalu menekan jauh lebih berat ke bawah.
Hukum alam semesta terdiam. Timbangan keadilan kosmik telah terpenuhi. Utang darah telah "dibeli" lunas menggunakan modal kekayaan yang melampaui nalar dewa manapun.
"P-Pemalsuan hukum..." suara putus asa terdengar dari dalam Roda Samsara yang tertahan di udara, proyeksi jiwa ketiga kaisar purba itu menjerit tak percaya. "Kau... kau membeli karma dengan uang?! Langit tidak akan mengizinkannya!"
"Langit selalu punya harga, Kakek," Qixuan tersenyum sinis. "Kalian saja yang terlalu miskin untuk mengetahuinya."
Qixuan mengulurkan tangan kanannya, mencengkeram udara.
*KRAAAKKK!*
Roda Samsara yang telah dibeli lunas karmanya itu kehilangan perlindungan surgawinya. Qixuan meremas tangannya, dan roda raksasa itu hancur berkeping-keping, pecah menjadi ribuan serpihan cahaya kelabu.
Namun, Qixuan tidak membiarkan investasi itu terbuang percuma.
*Inti Emas Kegelapan* di dalam perutnya, yang telah mencapai puncak absolut ranah *Jiwa Baru*, mulai menderu layaknya pusaran lubang hitam.
"Esensi jiwa tiga Kaisar Langit tidak boleh terbuang ke tanah," Qixuan membuka mulutnya, menghirup paksa serpihan cahaya kelabu dari roda yang hancur tersebut.
Daya hisap ekstrem menyedot sisa-sisa jiwa Cangming, Yanxing, dan Guxuan langsung ke dalam tubuh Qixuan. Penderitaan dan pengetahuan ratusan ribu tahun kultivasi membanjiri pikiran Qixuan. Urat-urat di leher pemuda itu menonjol kehitaman. Matanya menyala merah sebelum kembali menjadi amber-emas. Tubuhnya bergetar sesaat, menahan lonjakan energi yang sanggup merobek dimensi.
*BZZZZZZT!*
Sebuah dentuman pelan terdengar dari dalam tubuh Qixuan, seolah sebuah cangkang kaca yang sangat tebal baru saja pecah.
Aura Qixuan berubah. Gravitasi di sekelilingnya tidak lagi terasa menekan, melainkan sepenuhnya tunduk. Kepadatan qi-nya menyatu dengan ruang itu sendiri. Miniatur kegelapan di dalam Dantiannya melebur dan menyatu ke dalam darah daging dan tulangnya.
*Ranah Domain Bumi (Earth Realm) Tahap Awal.*
Di usia dua puluh tahun, dengan menelan esensi tiga Kaisar Langit dan membeli utang karmanya menggunakan kekayaan dua benua, Cang Qixuan secara resmi melangkah ke ranah para dewa sejati Benua Tengah.
Ia menghembuskan napas pelan. Udara di sekitarnya membentuk kristal es hitam sebelum menguap.
"Rasa jiwa orang tua yang putus asa memang selalu sedikit pahit," Qixuan mendecakkan lidah, lalu menoleh ke arah satu-satunya musuh yang tersisa.
Kaisar Surgawi Huangpu Taiyi kini sendirian. Pedang emas di tangannya bergetar. Pasukannya musnah, istananya menjadi kawah kaca, dan tiga leluhur terkuatnya baru saja dimakan mentah-mentah di depan matanya.
Arogansi Taiyi telah hancur sepenuhnya. Ia menyadari bahwa di hadapan eksistensi seperti Qixuan, gelar "Kaisar Surgawi" tidak lebih berharga dari pada selembar kertas bekas.
"Kau bukan manusia," bisik Taiyi, melangkah mundur di udara. "Kau adalah iblis kutukan yang dikirim oleh Alam Ilahi untuk mereset dunia ini."
"Label iblis, label pahlawan... semua itu hanya istilah *marketing* yang dibuat oleh para pemenang untuk menulis sejarah," Qixuan melangkah maju, kecepatannya kini jauh melampaui nalar setelah menembus *Domain Bumi*.
Hanya dalam kedipan mata, Qixuan sudah berdiri berhadapan dada dengan Huangpu Taiyi.
Taiyi berteriak histeris, menebaskan pedang kaisarnya dengan seluruh sisa kekuatan yang ia miliki. "MATI!"
Tebasan itu dihentikan oleh dua jari Qixuan. Jari telunjuk dan jari tengah pemuda berjubah hitam itu menjepit bilah pedang emas peninggalan leluhur tersebut dengan sangat mudah.
"Satu-satunya kesalahan fatal dalam manajemenmu, Taiyi," ucap Qixuan, menatap mata sang kaisar yang membelalak ngeri, "adalah kau mengira bahwa kekuatanmu berasal dari garis keturunan dan gelar. Kau tidak sadar bahwa kekuatan sejati adalah kendali atas sumber daya."
*Trak!*
Qixuan mematahkan pedang kaisar itu hanya menggunakan jepitan dua jarinya. Pecahan bilah emas itu berhamburan di udara.
Sebelum Taiyi sempat merespons, Qixuan menusukkan tangannya yang diselimuti oleh *Air Kegelapan (Yin)* yang baru berevolusi, langsung menembus dada sang kaisar.
Darah emas menyembur dari punggung Taiyi. Kaisar Surgawi itu tersedak, matanya terbelalak menatap wajah tampan Qixuan yang sedingin gunung es.
"C-Cang... Qixuan..." rintih Taiyi, merasakan jantung spiritualnya diremas oleh tangan pemuda itu.
"Namamu akan dicatat dalam pembukuanku sebagai kerugian penghapusan aset (write-off), Huangpu Taiyi," bisik Qixuan di telinga sang kaisar. "Terima kasih atas Benua Tengahnya. Aku berjanji akan mengelolanya jauh lebih menguntungkan daripadamu."
Dengan satu sentakan brutal, Qixuan menarik keluar jantung spiritual yang memancarkan cahaya keemasan dari dada Taiyi. Dantian sang kaisar hancur seketika. Tubuh fana Taiyi yang kehilangan seluruh esensi surgawinya langsung menua dalam hitungan detik, berubah menjadi kerangka berlapis kulit kering, sebelum akhirnya jatuh ke dalam kawah obsidian di bawah mereka dan hancur menjadi debu.
Dewa tertinggi di dunia fana ini tewas tanpa ada upacara, tanpa ada nyanyian keagungan. Ia mati layaknya tunggakan kredit macet yang akhirnya dilikuidasi.
Qixuan memandangi jantung spiritual kaisar di tangannya yang masih berdenyut. Ia tidak memakannya. Esensi dari tiga kaisar purba sudah cukup untuk membuat fondasi *Domain Bumi*-nya sangat padat. Jika ia makan lebih banyak, ia butuh waktu berbulan-bulan untuk menstabilkannya, dan ia tidak punya waktu untuk beristirahat.
"Mo Chen!"
Panggilan itu dijawab oleh kemunculan bayangan dari kawah di bawah. Mo Chen melayang ke atas, berlutut dengan satu kaki.
"Hamba di sini, Tuanku."
Qixuan melemparkan jantung spiritual tingkat *Kaisar Langit* itu ke arah pengawalnya. "Jantung ini adalah hadiah untukmu. Serap energinya. Aku ingin kau menembus *Domain Bumi* secepat mungkin. Aku tidak ingin pengawal utamaku tertinggal jauh di belakangku saat kita harus menghadapi lawan-lawan yang lebih berisik nanti."
Mo Chen menangkap jantung itu dengan kedua tangannya. Matanya yang kosong menyiratkan keterkejutan dan kesetiaan yang tak tergoyahkan. Pusaka yang diperebutkan oleh ribuan sekte ini diberikan padanya layaknya memberi permen. "Nyawa hamba adalah milik Anda sejak awal, Tuanku. Hamba akan mengukir bayangan Anda di seluruh alam semesta."
Qixuan memutar tubuhnya, menatap ke arah armada *Fatamorgana Emas* yang melayang tenang di angkasa. Pasukan Naga Hitam di atas geladak yang telah terbebas dari tekanan aura kaisar purba kini berdiri tegak.
Ketika mereka melihat pemuda berjubah hitam itu menghabisi lima dewa tertinggi berturut-turut tanpa goresan sedikit pun, kekaguman mereka berubah menjadi fanatisme keagamaan. Ribuan prajurit itu serentak menjatuhkan senjata mereka, berlutut di atas dek kapal, dan menundukkan kepala dalam-dalam.
"HIDUP DEWA KEKAYAAN! PENGUASA LANGIT BERDARAH! KAISAR BAYANGAN DARI SEMUA BENUA!"
Teriakan seratus ribu prajurit itu menggema, memecah kesunyian Benua Tengah yang baru saja kehilangan para penguasanya.
Qixuan melayang kembali menuju kapal bendera. Ia mendarat di haluan, disambut oleh Yan Ling, Shen Feiyan, Leng Yue, dan Hong Lian yang masih diliputi euforia dan ketakutan.
"Pertunjukan kembang apinya sudah selesai," Qixuan mengibaskan jubahnya santai. Ia melangkah menuju kursi kebesarannya. "Leng Yue, bawa infanteri turun. Bangun basis operasi militer di sekitar kawah ini. Tangkap setiap tetua, jenderal, atau murid divisi lain yang tersisa di Benua Tengah. Jika mereka menyerah, berikan mereka kerah pembatas spiritual dan pekerjakan mereka di tambang giok. Jika mereka menolak..."
"Potong kepala mereka dan jadikan pupuk untuk ladang herbal kita," sambung Leng Yue dengan wajah dingin dan senyum sadis.
"Persis," Qixuan mengangguk. "Shen Feiyan, kau memiliki tugas terberat. Benua ini sangat luas dan mata uang mereka (Kristal Inti Bintang) harus ditarik dari peredaran dalam waktu satu minggu. Aku ingin Bank Sentral kita mengambil alih seluruh urat bumi di benua ini. Mulai besok, setiap tarikan napas qi alam yang dihirup oleh warga Benua Tengah harus dibayar dengan pajak yang disetorkan ke rekeningku."
"S-Satu minggu?!" Shen Feiyan nyaris pingsan mendengar tenggat waktu tersebut, otaknya sebagai bendahara langsung mengalami *overload* memikirkan skala operasi administratif yang harus dilakukan. Namun ia tidak berani membantah. "H-Hamba akan menggerakkan jutaan klerk dari Jaring Bayangan, Tuanku! Kami tidak akan tidur hingga neracanya seimbang!"
"Bagus," Qixuan duduk di kursinya, memejamkan mata menikmati pijatan kemenangan.
Namun, ketenangan itu tidak berlangsung lama.
*TRRRRZZZT... WUUUSSSHH!*
Tiba-tiba, langit di atas Benua Tengah yang tadinya bersih tanpa awan mendadak berubah warna menjadi ungu keemasan. Sebuah retakan berukuran ribuan kilometer robek secara kasar di puncak atmosfer, jauh melampaui lapisan eksosfer dunia tersebut.
Dari dalam retakan itu, memancar energi yang begitu agung, begitu suci, dan luar biasa berat. Ini bukanlah energi fana. Ini bukan energi alam dari Benua Tengah. Ini adalah *Qi Ilahi (Divine Qi)* sejati.
Di dalam retakan dimensi tersebut, sebuah mata raksasa berwarna emas cemerlang muncul, menatap langsung ke arah Benua Tengah, dan secara spesifik menatap ke arah armada *Fatamorgana Emas*. Pandangan mata raksasa itu tidak mengandung emosi, hanya ada perhitungan matematis dan kehampaan mutlak.
Seluruh prajurit Naga Hitam yang sedang merayakan kemenangan seketika terdiam. Mereka merasakan tekanan yang membuat jiwa mereka seolah ditusuk jutaan jarum.
Bahkan Mo Chen, Hong Lian, dan Yan Ling merasakan keringat dingin membasahi punggung mereka. Tekanan ini berbeda dengan aura Kaisar Taiyi. Ini adalah kehadiran eksistensi dari dimensi yang jauh lebih tinggi. Alam di mana dewa sejati bernaung.
*Alam Ilahi (Divine Realm).*
Suara yang tidak terdengar oleh telinga, namun langsung bergema di dalam jiwa setiap manusia di benua itu, mengudara.
*"SEORANG FANA TELAH MEMBUNUH WAKIL KAMI. SEBUAH ANOMALI HUKUM ALAM TERDETEKSI. TINGKAT ANCAMAN: INVASI KARMA TINGKAT TINGGI. PROSES ELIMINASI AKAN DIMULAI DALAM SATU SIKLUS MATAHARI."*
Mata raksasa itu perlahan tertutup, dan retakan dimensi di langit kembali menyatu tanpa bekas. Langit kembali biru, seolah kengerian barusan hanyalah halusinasi kolektif. Namun, semua yang ada di sana tahu bahwa ancaman tersebut nyata. Alam Ilahi telah menyadari kehancuran boneka mereka di dunia bawah. Para Dewa Sejati (True Immortals) sedang bersiap untuk turun langsung dan menghapus anomali tersebut.
Kepanikan menyebar di geladak.
"T-Tuanku..." Shen Feiyan berucap dengan suara nyaris menangis. "I-Itu adalah tatapan dari Dewa Pengawas Alam Ilahi... Legenda mengatakan mereka tidak bisa dibunuh oleh kekuatan materi fana. Tembakan meriam kita tidak akan bisa menembus batas dimensi mereka."
"Mereka akan mengirim pasukan dewa sejati untuk membumihanguskan kita semua..." Yan Ling jatuh terduduk, pedangnya terlepas dari genggamannya. Perasaan bahwa mereka baru saja menang kini hancur berkeping-keping digantikan bayangan kiamat absolut.
Di tengah keputusasaan yang melanda para jenderalnya, Cang Qixuan masih duduk bersandar di kursinya.
Pemuda itu membuka matanya perlahan. Alih-alih memancarkan ketakutan atau kekhawatiran, sepasang mata amber-emasnya justru berkilat dengan tingkat keserakahan tertinggi yang pernah ia perlihatkan. Sudut bibirnya tertarik ke atas, membentuk seringai predator yang telah menemukan hidangan utama yang selama ini ia tunggu-tunggu.
"Dewa sejati dari Alam Ilahi, ya?" Qixuan bergumam pelan, mengeluarkan Koin Timbangan Surga dari jubahnya, melemparkannya ke udara, dan menangkapnya dengan bunyi *klik* yang mantap.
Ia berdiri dari kursinya, jubah hitamnya berdesir tertiup angin. Ia menatap ke arah langit yang baru saja menutup retakannya.
"Kalian dengar apa yang dikatakan dewa-dewa sombong itu?" Qixuan bertanya pada jenderal-jenderalnya yang masih gemetar. "Mereka menyebut kita sebagai 'Anomali Ancaman'. Tahukah kalian apa artinya itu dalam dunia bisnis?"
Semua terdiam, tidak mampu mencerna lelucon di tengah kiamat.
Qixuan menyeringai lebar, merentangkan kedua tangannya seakan ingin memeluk seluruh kekayaan alam semesta.
"Artinya, kita baru saja resmi diakui sebagai pesaing pasar (market competitor) di wilayah mereka," ucap Qixuan dengan penuh percaya diri. "Selama ini, kita hanya bermain di pasar kolam lumpur (dunia fana dan Benua Tengah). Namun dengan terbukanya perhatian Alam Ilahi... itu berarti ada benua baru dengan aset spiritual tanpa batas, logam dewa yang tak terhingga, dan umur panjang absolut yang belum diakuisisi."
Pemuda itu membalikkan tubuhnya, menatap Hong Lian dan Shen Feiyan.
"Satu siklus matahari. Kita punya waktu tiga ratus enam puluh hari sebelum mereka datang mengetuk pintu kita," perintah Qixuan, nada suaranya kini dipenuhi agresi tiran mutlak. "Hong Lian, lupakan meriam. Aku ingin kau membangun kapal *Pemecah Dimensi Ilahi*. Jika mereka tidak mau turun untuk berdagang, kita yang akan menjebol atap rumah mereka."
"Shen Feiyan," lanjut Qixuan pada bendaharanya yang masih pucat. "Hitung seluruh aset dua benua yang telah kita miliki. Jadikan semuanya sebagai modal agunan (collateral). Kita akan meminjam energi dari kekosongan absolut untuk membiayai perang antar-dimensi ini."
Qixuan melipat lengan jubahnya di belakang punggung, tatapannya menyala menantang surga yang tidak terlihat.
"Mereka menyebut diri mereka Dewa Sejati. Mereka mengira keabadian mereka adalah sertifikat mutlak. Namun mereka belum tahu aturan mainnya," senyum iblis Qixuan merekah sempurna. "Alam Ilahi sekalipun, pada akhirnya akan kujual menjadi real estat di bawah manajemen Kekaisaran Bayangan."
Babak baru belum dimulai, namun kertas tagihannya telah dicetak. Dewa Kekayaan tidak berniat bertahan dari serangan dewa-dewa suci. Ia sedang merencanakan *hostile takeover* berskala ilahi, dan kali ini, seluruh alam semesta akan menjadi meja negosiasinya yang berlumuran darah.