🍀AYO, MAMPIR 🍀
Galang Langit jatmika sama sekali tidak mengenal sosok Hanum Sekar Salsabila.
Tapi di ranjang kematian ibunya, ia di paksa mengucap ijab Kabul untuk menikahi gadis itu.
"Nikahi Sekar, jaga gadis itu untuk ibu."
Pernikahan tanpa cinta, masa lalu yang datang, dan rumah tangga yang semakin terasa hambar.
Tapi bagaimana kalau wasiat itu justru jadi jalan satu-satunya untuk menyembuhkan hati mereka berdua yang penuh luka?
Yuk, cari jawabannya di sini 🍀
°°°°°°°°
Jangan lupa subscribe, like, vote, dan komen🫶
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yehppee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode, 3. Memaafkan (2)
Pagi itu, langit di atas Garut masih berwarna kebiruan pucat. Udara dingin khas pegunungan menyelinap melalui celah-celah jendela rumah keluarga Rahman yang sederhana. Jam dinding di ruang makan baru menunjukkan pukul setengah enam pagi ketika Sekar meletakkan mangkuk berisikan sayur lodeh di atas meja.
Uap hangat dari sayur tersebut yang baru saja ia sajikan di meja. Aroma santan bercampur bawang merah dan daun salam memenuhi ruangan. Di sampingnya di atas piring lonjong berjejer ikan mujair goreng berwarna keemasan, terlihat renyah di luar namun lembut di dalam. Ikan itu sudah Sekar marinasi sejak kemarin sore sebelum disimpan di lemari pendingin.
Di tengah meja terdapat cobek kecil berisi sambal terasi, kata Teh Mila--sambal terasi adalah salah satu sambal favorit Galang.
"Kalau Galang lagi gak napsu makan, kasih aja sambal terasi. Biasanya makannya nambah."
Sejak saat itu, diam-diam Sekar selalu mengingatnya. Mempelajari resepnya dari sang kakak ipar sewaktu menginap di rumah ini.
Meskipun hubungan mereka masih belum di sebut hangat, setidaknya dia melakukan tugasnya sebagai seorang istri. Terlebih lagi, kejadian kemarin dimana dirinya dengan refleks meninggikan suaranya di hadapan Galang, dan itu sangat tidak baik.
Sekar menoleh ke arah ambang pintu ruang tengah ketika terdengar suara langkah kaki.
Galang muncul dengan kemeja hitam lengan panjang yang sudah digulung hingga siku. Rambutnya yang ditata model comma hair tampak rapi. Di usia tiga puluh lima tahun, pria itu memiliki ketampanan yang matang. Rahangnya tegas, tubuhnya tinggi, dan pembawaannya selalu tenang seperti tengah berada di ruang operasi.
Sekar sempat melirik sekilas.
Lalu buru-buru mengalihkan pandangannya ketika Galang menarik kursi di depannya.
"Semuanya udah siap?" tanya Galang seraya duduk lalu mendongak menatap Sekar yang masih berdiri.
Gadis itu tampak kikuk. Lalu mengangguk pelan, "Iya. sudah."
Tak lama kemudian Sekar duduk, keduanya menikmati sarapan sederhana itu tanpa membahas apa pun.
Ruang makan itu sunyi, hanya terdengar sendok yang sesekali beradu di piring.
Galang diam-diam mencuri pandang pada istrinya yang tengah menikmati sarapannya. Ia mengambil sedikit sayur lodeh lalu memakannya perlahan.
Sebenarnya ada sesuatu yang menggangu pikirannya sejak bangun tidur tadi.
Kemarin pagi, bukankah Sekar masih sangat marah?
Persoalan Bu Dian yang menyebarkan gosip bahwa Sekar mandul membuat istrinya itu menangis hampir sepanjang hari hingga gadis itu tertidur cukup lama.
"Maaf," gumam Sekar seraya memberanikan diri menatap suaminya yang tertangkap basah menatapnya.
"U-untuk apa?" tanya Galang gelagapan seraya mengalihkan pandangan.
"Soal kemarin pagi. Seharusnya aku tidak berkata tinggi, A Galang marah ya?" tanyanya.
Galang meraih gelas berisi air minum lalu menyesapnya seperempat. Pria itu menatap wajah Sekar yang bengkak karena menangis sampai sesenggukan.
"Sudah, tidak perlu di bahas. Aku cuma minta aja sama kamu, jangan terlalu di masukin ke hati ucapan Bu Dian. Di sini, beliau sudah terkenal dengan ucapan tajamnya." Ujar Galang.
Sekar mengangguk, "soal hamil..."
Galang tiba-tiba saja terbatuk saat kata hamil meluncur begitu saja dari bibir istrinya.
"Aku juga minta maaf. Seharusnya kemarin aku tidak membentakmu," ucapnya.
Sekar tersenyum, ia mengulurkan tangannya ke arah Galang sedang tangan kirinya memegang sendok. Galang menatap jemari lentik Sekar sesaat sebelum pada akhirnya menjabat tangan dingin Sekar.
"Mulai hari ini, kita lupain masalah pagi kemarin. Aku janji, aku gak bakal dengerin omongan-omongan tetangga itu." Ucap Sekar tulus.
Galang masih memperhatikan gadis itu.
"Soal kemarin, aku sudah tidak bersikap dewasa. Maaf...lain kali aku gak bakal seperti itu lagi. Pasti, harusnya aku ngerti...A Galang juga pasti capek di rumah sakit, bukan cuma aku aja yang capek." Ungkap gadis itu lagi.
Dada Galang terasa menghangat saat kalimat sederhana itu terucap. Bagi dirinya, seorang dokter kadang di salah artikan oleh pasangannya. Telat memberi kabar, maka sebagian pasangan akan marah dan tidak suka. Padahal yang ia inginkan di mengerti, rasa lelah di rumah sakit, pasien yang tiba-tiba tak sadarkan diri, pasien yang takut saat ia bius, membuat ia menginginkan seseorang yang selalu ada menunggunya pulang.
Sekar melepaskan jabatan tangannya, lalu kembali menikmati sarapan.
"Sekar," panggil Galang hati-hati.
Gadis itu mengangkat wajahnya, "ya. Ada apa?"
"Nanti...kalau waktuku luang, kamu mau kan aku ajak ke kebun Mawar Situpaha. Kita staycation disana, kamu juga belum aku ajak mengenal wisata Garut." Ucap Galang seraya menyendok nasi, "kamu mau kan nunggu aku?"
Kalimat kamu mau kan nunggu aku membuat Sekar diam sesaat. Rasanya ia paham betul, bukan besok atau Minggu depan. Tapi feeling-nya sangat kuat, pria di hadapannya ada rasa takut yang tengah ia sembunyikan.
"Ya. Tentu saja," jawab Sekar seraya tersenyum manis.
Galang menatap lamat senyum manis itu, lalu kata-kata Ardi sang sahabat beberapa Minggu lalu terngiang kembali senyum sepupunya Galang tuh manis banget. Dan kini Galang baru menyadarinya, senyum itu memang manis.
"Habisin makanannya, bukannya nanti jadwal operasi A Galang penuh? Aku gak sengaja liat memo A Galang di atas meja di kamar." Ucapnya seraya menyendok nasi.
"Sayur lodeh buatan kamu, enak." Puji Galang membuat gadis di hadapannya terpaku tak percaya.
Senyum yang Galang berikan kepadanya sangat tulus, sangat jarang ia melihat Galang yang mengekspresikan emosinya.
🍁🍁🍁
Galang keluar dari mobil saat sampai di parkiran khusus karyawan. Ia berjalan ringan, tidak seperti biasanya dengan muka di tekuk. Kali ini ada gurat senyum yang membingkai di wajah tampannya.
Selain menenteng tas kerja, ia juga menentang lunch box bag yang berisi beberapa wadah. Di dalamnya ada potongan buah, sandwich dan juga ada yogurt rasa blueberry kesukaan Galang. Dan semua itu Sekar yang menyiapkan semuanya.
"Nanti kalau selesai operasi, jangan lupa makan."
Kalimat itu terus terngiang di dalam otaknya. Hingga ia sampai di ruangan pribadinya, ia meletakkan lunch box bag itu di atas meja. Lalu gegas mengganti pakaiannya dengan scrub hijau seperti biasanya.
Pintu terbuka kala ia sudah selesai berganti pakaian, tampak wajah kusut Ardi yang semalaman berjaga.
"Tumben wajah lo kagak di tekuk kaya ayam kampung kena flu burung," celetuk Ardi seraya menjatuhkan diri di atas sofa.
Semalam, Ardi telah melakukan operasi sesar bersama dokter anestesi senior.
"Di," panggil Galang.
"Apa?"
Galang menatap sahabatnya, ada yang ingin ia katakan namun ragu. Dan Ardi bisa melihatnya dengan jelas.
"Apaan dah? Ceritain aja, siapa tahu gue bisa bantu." Ucapnya.
Galang menyandarkan pantatnya di meja, kedua tangannya terlipat di dada.
"Sekar...dia mau hamil--"
Seketika Ardi berdiri dari duduknya, "Lu mau punya anak? Istri lu hamil bro?"
🍁🍁🍁
Bersambung...