Setelah Andra menikah lagi, Armila berubah. Ia menjadikan suaminya ini ada, tapi tiada. Sapaan, rayuan dan keberadaanku serupa angin lalu.
Diamnya armila membuat Andra stres.
Pernikahannya dengan resti pun menjadi tidak harmonis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Saskiah Khairani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
LENGKAP
RESTI
"Kamu, tuh gak punya perasaan, Resti! Affan itu anakku bagaimana kalau terjadi apa-apa padanya?"
Aku harus cepat-cepat membalikkan keadaan agar mas Andra gak kebablasan marahnya. Bisa membahayakan ini. Gimana kalau tiba -tiba keluar kata cerai. Kamu, sih bego harusnya jangan ngusik anaknya dulu. Nantilah kalau sudah terikat, baru sikat dua-duanya.
Langsung saja kusodorkan foto-foto Armila dan Reiga. Gak semua asli, ada yang editan juga. Aku dapat dari orang yang dibayar itu. Lumayanlah kerjanya bagus.
Seperti dugaanku, mas Andra langsung lupa dengan kemarahan saat datang. Sudah berganti dengan kemarahan pada Armila akibat kobaran api cemburu.
Lihat saja apa yang terjadi nanti. Aku yakin badai rumah tangga mereka akan semakin membesar. Bahkan, menghantam seluruh pondasinya.
Aku sampai jingkrak-jingkrak setelah mas Andra pergi. Gak bisa dilukiskan kata, loh kebahagiaannya.
Resti memang jenius!
"Bu, Bu, ngapain jejingkrakan, kayak ulet kekek.aja!"
"Sembarangan, kamu! Eh, karena aku lagi seneng, nih buat jajan baso!"
Bi Mimin yang kuberi lima puluh ribu juga jingkrak-jingkrak. Udah kayak ondel-ondel aja.
"Eh, tunggu! Kalau rencanaku gagal lagi gimana cara menyelamatkan diri, ya?"
"Rencana apa emang, Bu?"
"Керо!"
"Oh, ibu kali aja saya bisa bantu. Pan saya jenius!"
Bi Mimin mengedipkan mata tiga kali.
Lalu, masang tampang siap mendengarkan penjelasan.
Terpaksa aku ceritakan sepintas, terus minta pendapat jika rencana kali ini gagal. Seperti biasa dia bergaya mikir.
Entah beneran atau tidak.
"Ahaaa! Saya ada ide, Bu!"
"Apa? Cepet jelasin!"
"Ada bonus tapi, ya, Bu!"
"Mimiiiin!"
*
Mas Andra pulang dengan tampang mengenaskan. Sorot mata layu, wajah suram, rambut tak beraturan. Jalannya juga tak tegap, agak condong ke depan dengan kepala tertunduk.
Ia langsung masuk kamar tanpa mengindahkan keberadaan istrinya ini. Lalu, merebahkan tubuh di atas ranjang.
Dari gaya dan penampilannya hari ini, aku yakin rencanaku gagal. Sepertinya mas Andra percaya pada penjelasan Armila terkait foto itu.
Aku harus berhati-hati dengan situas ini. Baiknya jangan bicara apa-apa sebelum mas Andra memulainya. Kutinggalkan saja lelaki yang tengah menatap langit-langit dengan pandangan kosong. Biarkan saja dulu, nanti juga normal lagi.
Keesokan harinya barulah mas Andra mengatakan bahwa aku harus minta maaf pada Armila dan Reiga. Tentulah setelah bicara itu dia ngomong panjang lebar. Aku dengarkan saja meski sebal setengah mati.
"Kalau kamu terus begini, kita semua akan hancur. Kalau kamu selalu berniat jahat pada Armila, aku gak bisa terus mempertahankan rumah tangga kita."
"Mas!"
"Armila memintaku memilihmu atau dirinya. Jika tak memilih, dia akan melayangkan gugatan cerai. Kamu tahu 'kan aku tak mungkin menceraikan Armila, maka tak ada jalan lain kecuali melepasmu jika masih mau hidup dengannya!"
Mataku langsung melotot mendengar perkataan mas Andra. Seiring itu emosiku langsung membumbung tinggi. Jelas tak terimalah dengan pernyataan jahanam itu.
Enak saja main ceraikan aku setelah menikmati tubuh ini berulang kali. Dia pikir aku mainan. Sesudah bosan lantas dibuang?
"Mas ngomong apa? Enak aja mau menceraikan setelah kamu nikmatin tubuhku? Di mana otak kamu, Mas? Aku cuma main-main soal foto itu. Kenapa harus dihukum berat? Itu tak adil, tak adil!"
"Main-main katamu? Itu fitnah, Res. Bahkan Reiga akan melaporkan ini sebagai pencemaran nama baik jika kamu gak mau minta maaf! Kenapa, sih kamu gak bisa waras sedikit? Kenapa kamu sebebal itu? Sepertinya aku memang pantas menceraikanmu!"
Gawat, mas Andra sepertinya kali ini tak main-main. Dia diam saja kemarin mungkin sedang menimbang-nimbang.
Okelah, saatnya aku mainkan rencana berikutnya. Ide ini berasal dari bi Mimin. Ternyata pembantu itu ada gunanya juga. Aku harus nyolok mulut dulu biar muntah beneran.
Akting dimulai.
"Mas, aku ke belakang dulu, ya. Mual banget, aduh!"
Satu, dua, tiga, yes mas Andra mengikuti ke belakang.
Sukses! Makanan yang baru dimakan bisa dimuntahkan berkat colokan tangan. Bahkan muntahnya berulang-ulang. Sakit, sih tapi tak apa demi mada depan.
"Kamu kenapa?"
"A, aku lemas banget, Mas!"
Mas Andra menggendongku menuju kamar. Setelah membaringkan, ia menyelimuti.
"Mas, minta air hangat! Bilang ke bi Mimin minta air jahe manis hangat!"
"I, iya!"
Tak berapa lama, bi Mimin masuk membawa pesanan. Saat ia mendekat, aku mengedipkan mata.
"Kata saya juga apa, Bu. Makannya dikit-dikit aja. Kalau lagi hamil emang gitu. Makan terlalu banyak, entar dimuntahin!"
"Aku 'kan laper, Bi, kemarin males makan. Pas ada bapak jadi semanget makannya. Bawaan dedek bayi, loh!"
"A, apa, kamu hamil? Kamu beneran hamil?"
"I, iya, Mas. Mau cerita jadi bingung sebab mas marah-marah terus!
Mas Andra seperti orang bego. Planga-plongo. Rasain, kamu pasti makin bingung.. Huh, aku yakin, kamu gak akan menceraikan aku.
"Dek, kita harus berjuang berdua nanti sebab papa gak akan ada di sini lagi. Tak apa, 'kan masih ada nenek, om dan Tante.
Aku mengelus perut sambil memasang tampang super sedih. Lepas itu menutup wajah supaya bisa nyolok mata.
Mas Andra masih berdiri di depan ranjang. Wajahnya beneran kayak orang stress. Apalagi ketika aku berhasil menangis.
Lengkap sudah penderitaanmu, Mas! Aku gak salah, loh. Resti itu cantik, seksi, cerdas dan selalu benar Kamu aja yang begonya gak ketulungan!
Beneran 'kan para pembaca kece badai?