NovelToon NovelToon
God Killer

God Killer

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi / Balas Dendam
Popularitas:714
Nilai: 5
Nama Author: Franzzz

Para dewa tidak membawa kedamaian-mereka membawa penindasan.

Di bawah kekuasaan Vasilias, langit menginjak manusia tanpa ampun. Ketika Dewa Matahari sejati dijatuhkan dan seorang wanita manusia dibunuh demi menjaga "kemurnian", seorang anak lahir dari pengkhianatan.

Setengah dewa. Setengah manusia.
Dan penuh dendam.

Dengan api matahari dalam darahnya, ia bangkit untuk memburu para dewa-termasuk pewaris palsu langit, Filius.

Namun semakin dekat pada balas dendam, ia mulai menyadari:

Tidak semua dewa layak dibunuh.
Dan tidak semua manusia layak diselamatkan.

Ketika langit mulai retak, satu pertanyaan tersisa-

Apakah ia akan menghancurkan para dewa...
atau menjadi yang paling kejam di antara mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Franzzz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

(ARC 1) Chapter 16: Beban Pilihan

Malam telah larut.

Suara kota perlahan mereda.

Di pinggiran Kota Heimdall—

sebuah lumbung tua berdiri miring di tengah ladang kosong yang mulai mengering. Kayunya lapuk dimakan usia, sementara celah-celah dinding membiarkan angin malam masuk tanpa hambatan.

Di dalamnya—

sunyi.

Hanya suara angin yang masuk dari sela kayu.

Dan gesekan jerami saat seseorang bergerak.

Grachius duduk sendiri.

Punggungnya bersandar pada tiang kayu tua. Enjin berada di sampingnya, bersandar diam seperti bayangan yang selalu mengikuti.

Cahaya bulan masuk tipis melalui celah atap.

Membelah kegelapan menjadi garis-garis pucat.

Grachius menatap kosong ke depan.

Namun pikirannya jauh dari tenang.

Hari ini terasa panjang.

Terlalu panjang.

Wajah gadis-gadis di kuil itu kembali muncul di kepalanya.

Tatapan takut mereka.

Tubuh yang gemetar.

Dan cahaya ritual yang menelan mereka tanpa suara.

Lalu—

patung Sagitta.

Kepala batu yang jatuh menghantam lantai kuil.

Jeritan panik para Hiereus.

Kota yang mulai gempar.

Grachius menutup matanya perlahan.

Dan yang paling mengganggunya bukan tindakan itu sendiri.

Melainkan—

perasaan setelahnya.

Tidak ada penyesalan.

Namun juga tidak ada kepuasan.

Hanya… berat.

Tangannya perlahan bergerak menggenggam lututnya sendiri.

“...apa ini benar?”

Suaranya sangat pelan.

Hampir tenggelam dalam suara angin.

"Aku membenci mereka."

"Itu tidak akan berubah."

Namun malam ini—

untuk pertama kalinya, ia benar-benar mempertanyakan sesuatu.

Apakah kebencian ini lahir karena Sonne dan Rosalia?

Atau karena dirinya sendiri?

Grachius mencoba membayangkan wajah ayah dan ibunya.

Namun seperti sebelumnya—

tidak ada apa-apa.

Tidak ada senyum.

Tidak ada suara.

Tidak ada kenangan.

Hanya nama.

Dan kekosongan besar yang tidak bisa diisi.

Ia membuka matanya perlahan.

Tatapannya jatuh pada Enjin di sampingnya.

Purus pernah berkata—

balas dendam selalu memiliki akhir.

Dan Vita pernah memperingatkan—

tidak semua pembunuhan akan membuatnya merasa benar.

Saat itu, Grachius mendengarkan.

Namun baru sekarang kata-kata itu benar-benar terasa berat.

Kalau ia terus berjalan di jalan ini…

akan menjadi apa dirinya nanti?

Pembunuh?

Monster?

Atau sesuatu yang lebih buruk dari para dewa yang ia benci?

Hening memenuhi lumbung tua itu.

Angin malam bergerak pelan melewati rambut putihnya.

Grachius perlahan mengambil Enjin.

Tangannya menggenggam gagang pedang itu erat.

Stabil.

Tenang.

Sama seperti pertama kali ia menyentuhnya.

Dan tiba-tiba—

ia memahami sesuatu.

Jalan ini bukan takdir.

Bukan kutukan.

Bukan juga kehendak siapa pun.

Bukan Sonne.

Bukan Rosalia.

Bukan Purus.

Bukan Vita.

Melainkan dirinya sendiri.

Ia yang memilih masuk ke kuil.

Ia yang menghunus Enjin.

Ia yang menebas patung Sagitta.

Semua itu—

pilihannya sendiri.

Grachius menundukkan kepala sedikit.

Dan anehnya—

kesadaran itu justru membuat dadanya terasa lebih ringan.

Karena untuk pertama kalinya—

ia berhenti mencari pembenaran.

Ia tidak tahu apakah jalannya benar.

Tidak tahu akan berakhir menjadi apa.

Namun ia tahu satu hal.

Ia tetap akan berjalan.

Dan apapun yang menunggunya di ujung jalan nanti—

ia akan menghadapinya sendiri.

Grachius perlahan menyandarkan Enjin kembali di sampingnya.

Matanya menatap keluar melalui celah kayu lumbung.

Ke arah langit malam Heimdall.

Tenang.

Namun berat.

Dan tanpa ia sadari—

malam di kota itu sudah mulai berubah.

...—...

Kuil Sagitta.

Ruang utama masih dipenuhi pecahan batu.

Patung besar tanpa kepala itu tetap berdiri di tengah aula seperti simbol kesakralan yang telah dirusak.

Namun suasana di sana telah berubah.

Tidak ada lagi kepanikan liar seperti sebelumnya.

Yang tersisa hanyalah tekanan.

Dan ketegangan.

Para Hiereus berdiri diam di pinggir aula dengan wajah pucat.

Takut.

Karena untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun—

seseorang berani menyentuh simbol dewa mereka.

Langkah pelan terdengar menggema di lantai batu.

Semua orang langsung menunduk.

Seorang pria berjalan memasuki aula.

Jubah hitam panjang dengan aksen emas gelap menyentuh lantai saat ia bergerak. Rambutnya hitam rapi, sementara matanya tajam dan dingin seperti bilah tipis yang tersembunyi.

Sebastian.

High Hiereus Heimdall.

Pemimpin kuil Sagitta di kota itu.

Ia berhenti tepat di depan patung yang rusak.

Diam.

Tatapannya memperhatikan bekas tebasan pada leher batu.

Bersih.

Terlalu bersih.

Bukan pekerjaan orang biasa.

Ruangan menjadi semakin sunyi.

Lalu—

sesuatu melintas di benaknya.

Kilasan.

Cepat.

Namun jelas.

Rambut putih.

Cahaya kuning kemerahan.

Mata seperti matahari.

Sebastian sedikit menyipitkan matanya.

Kilasan itu menghilang secepat datangnya.

Namun cukup.

Ia perlahan mengangkat kepalanya.

“Dia masih di Heimdall.”

Suaranya tenang.

Namun membuat seluruh ruangan menegang.

Salah satu Hiereus langsung menunduk lebih dalam.

“Y-ya, High Hiereus.”

Sebastian menatap pecahan kepala patung di lantai.

Tatapannya tidak marah.

Justru terlalu tenang.

Dan itu lebih menakutkan.

“Sebarkan perintah.”

Para Hiereus langsung menegakkan tubuh.

“Cari orang dengan rambut putih.”

Suara Sebastian bergema pelan di aula.

“Mata seperti matahari.”

Tatapannya sedikit menyipit.

“Dia telah menghancurkan simbol dewa kita.”

Hening sesaat.

Lalu—

“Tangkap hidup-hidup jika bisa.”

Udara terasa lebih dingin.

“Dan bunuh jika perlu.”

...—...

Malam Heimdall berubah.

Penjaga kota mulai bergerak di jalan-jalan utama membawa obor.

Orang-orang kuil menyebar ke seluruh penjuru kota bersama prajurit bersenjata.

Gang-gang sempit diperiksa.

Pasar malam dibubarkan paksa.

Distrik miskin dipenuhi langkah sepatu besi dan cahaya api.

“Buka tudung mu!”

Seorang penjaga menarik kasar kain kepala seorang pria tua.

“Perlihatkan rambutmu!”

Anak-anak menangis.

Orang-orang menunduk ketakutan.

Tidak ada yang berani melawan.

Karena semua ini dilakukan atas nama kuil.

Dan melawan kuil berarti melawan dewa.

Rumor mulai menyebar semakin luas.

“Pria berambut putih…”

“Penghancur patung Sagitta…”

“Anak dalam ramalan…”

Nama itu belum diketahui banyak orang.

Namun bayangannya mulai hidup di seluruh Heimdall.

Dan di balik ketakutan itu—

sesuatu yang lain mulai muncul.

Harapan.

Kecil.

Namun nyata.

Sementara itu—

di pinggiran kota—

Grachius masih duduk diam di dalam lumbung tua.

Tidak tidur.

Tidak melarikan diri.

Tatapannya tenang dalam gelap.

Karena jauh di dalam dirinya—

ia tahu.

Ia bukan seseorang yang akan terus bersembunyi.

Dan Heimdall—

tidak akan pernah benar-benar tenang lagi setelah malam ini.

...A Novel By Franzzz...

1
Manusia Ikan 🫪
nih, aku kasih gift iklan biar semangat😎👍
Manusia Ikan 🫪
heh
Manusia Ikan 🫪
ini baru Nama yang keren v:
Manusia Ikan 🫪
:v kalau aku sih gk masalah
Manusia Ikan 🫪
Nama yang unik🧐
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!