Satu malam yang seharusnya terlupakan justru mengubah segalanya. Nayra, mahasiswi yang hidupnya sederhana, terbangun dengan kenyataan pahit—dia hamil dari pria asing yang bahkan tidak ia kenal namanya. Di tengah ketakutan dan tekanan, Nayra memilih mempertahankan janin itu, meski harus menanggung semuanya seorang diri.
Sementara itu, Arsen—seorang CEO dingin yang tak pernah memikirkan cinta—mulai dihantui bayangan malam yang sama. Hanya berbekal satu nama, ia mencari gadis yang tanpa sengaja telah mengubah hidupnya. Namun saat akhirnya mereka bertemu kembali, kenyataan jauh lebih rumit dari yang ia bayangkan.
Ketika tanggung jawab berubah menjadi perasaan, dan jarak usia menjadi tembok yang sulit ditembus… akankah Nayra membuka hatinya, atau justru memilih menjauh dari pria yang dulu hanya ia anggap kesalahan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dina Auliya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kehadiran Yang Tidak Bisa Diabaikan
Malam terasa berbeda. Kamar kos yang biasanya terasa sempit dan sunyi— Kini seperti menyimpan sesuatu yang baru. Bukan benda. Bukan suara. Tapi… kehadiran.
Nayra duduk di tepi ranjang. Punggungnya bersandar ke dinding. Tatapannya kosong ke depan. Namun pikirannya— Penuh.
“Na…” Sinta memanggil pelan dari ranjang. Malam ini Sinta memutuskan tidur di kamar Nayra.
“Iya…”
“Kamu dari tadi diem aja.”
Nayra tersenyum tipis. “Lagi mikir.”
Sinta menghela napas. “Dia lagi?”
Nayra tidak menjawab. Namun itu sudah cukup.
Sinta bangkit, duduk menghadap Nayra. “Aku tanya jujur ya.”
Nayra menoleh. “Iya.”
“Kamu masih nolak dia?” Pertanyaan itu Langsung. Tanpa basa-basi.
Nayra terdiam. Beberapa detik. Ia menarik napas pelan. “Aku… nggak tahu.” Jawaban itu jujur. Dan untuk pertama kalinya— Tidak tegas seperti sebelumnya.
Sinta mengangkat alis. “Berarti berubah.”
Nayra menggeleng cepat. “Bukan berubah.”
“Terus?”
Nayra menunduk. “Aku cuma… bingung.”
Ia memejamkan mata sejenak. “Makin hari… dia makin ada.”
Sinta terdiam.
“Bukan cuma datang terus pergi,” lanjut Nayra, “tapi… beneran ada.” Kalimat itu pelan. Namun dalam.
Sinta tersenyum kecil. “Itu yang namanya perhatian.”
Nayra langsung menggeleng. “Terlalu cepat.”
“Situasinya juga nggak biasa,” balas Sinta santai.
Nayra terdiam lagi. Tangannya perlahan menyentuh perutnya. Refleks yang kini semakin sering ia lakukan. “Aku takut…”
Sinta langsung menatapnya. “Takut apa?”
Nayra menelan ludah. “Kalau aku mulai terbiasa… Terus tiba-tiba semuanya berubah lagi.”
Suasana mendadak sunyi.
Sinta menghela napas panjang. “Na… semua orang juga takut disakitin.”
Nayra menatapnya.
“Tapi nggak semua orang lari dari kemungkinan itu.”
Nayra tidak menjawab. Namun kata-kata itu… masuk.
Malam semakin larut. Lampu dimatikan. Sinta sudah tertidur.
Namun Nayra— Masih terjaga. Ponselnya ada di tangan. Layar menyala. Pesan terakhir masih terbuka.
“Jangan telat makan.” Dan— “Udah makan?”
Nayra menatapnya lama. Jari-jarinya bergerak. Ragu. Berhenti. Lalu— Mengetik. Pelan.
“Makasih tadi.”
Ia menatap pesan itu. Beberapa detik. Lalu—
Menekan kirim. Jantungnya langsung berdebar. Lebih cepat dari sebelumnya.
Seolah menunggu sesuatu. Tidak sampai satu menit— Balasan datang.
“Untuk apa?”
Nayra mengerutkan kening. “Dia nanya balik…”
gumamnya. Ia mengetik lagi.
“Udah anter.”
Beberapa detik. Balasan lagi.
“Itu wajar.”
Nayra terdiam. “Wajar…” Ia tersenyum tipis.
Namun ada sesuatu yang hangat di dadanya.
“Tetap makasih.” Ia kirim lagi.
Kali ini— Balasannya sedikit lebih lama. Namun ketika datang—
“Jangan sungkan.”
Sederhana. Tapi… Berbeda. Nayra menatap layar. Lama. Lalu mematikan ponselnya. Dan untuk pertama kalinya— Ia tidur dengan perasaan yang tidak terlalu berat.
Keesokan paginya— Kampus kembali ramai. Suasana seperti biasa. Namun bagi Nayra—
Tidak sepenuhnya sama.
“Kamu keliatan beda,” kata Sinta saat mereka berjalan.
Nayra mengernyit. “Beda gimana?”
“Lebih… ringan.”
Nayra tersenyum kecil. “Mungkin.”
Saat mereka melewati koridor— Beberapa mahasiswa masih melirik. Bisikan kecil masih ada. Namun kali ini— Nayra tidak terlalu peduli.
“Rina lihat ke sini,” bisik Sinta.
Nayra melirik.
Rina berdiri di ujung koridor. Menatap mereka. Namun tidak mendekat.
Nayra menarik napas pelan. “Aku harus ngomong sama dia nanti.”
Sinta mengangguk. “Iya. Biar jelas.”
Jam istirahat— Nayra duduk di taman.
Sendirian. Sinta sedang ke kantin.
Langkah kaki mendekat. “Na.”
Nayra menoleh.
Suasana langsung berubah. Sedikit tegang.
“Boleh duduk?” tanya Rina.
Nayra mengangguk. “Iya.”
Rina duduk di sampingnya. Beberapa detik hening.
“Aku nggak cerita ke siapa-siapa,” ucap Rina pelan.
Nayra menatapnya. “Kenapa?”
Rina menghela napas. “Karena itu bukan hak ku.”
Nayra sedikit terkejut. Namun juga lega.
“Makasih…”
Rina menatapnya. “Tapi aku khawatir.”
Nayra tersenyum tipis. “Aku juga.”
Beberapa detik.
“Dia siapa?” tanya Rina.
Nayra terdiam. Lalu menjawab pelan—
“Udah bukan orang asing lagi.”
Rina mengernyit. “Kamu kenal sekarang?”
Nayra mengangguk. “Iya…”
“Dan?” desak Rina.
Nayra menatap ke depan. “Dia mau tanggung jawab.”
Rina terdiam. “Terus kamu?”
Nayra menghela napas. “Aku belum tahu…”
Di luar kampus— Mobil hitam itu kembali terparkir. Namun kali ini— Arsen tidak langsung menatap ke arah taman. Ia duduk diam. Seolah memberi ruang.
“Pak, nggak turun?” tanya Raka.
Arsen menggeleng. “Belum.”
Namun matanya— Tetap mencari. Dan di taman—
Nayra tanpa sadar menoleh ke arah jalan. Perasaan itu datang lagi. Ia tidak melihat siapa-siapa. Namun— Ia tahu.
To be continued 🙂🙂🙂