Di usianya yang menginjak 30 tahun, Arini hanya ingin fokus pada kariernya sebagai Manajer Pemasaran dan menghindari drama kehidupan. Namun, ketenangannya terusik sejak kedatangan Rian (24 tahun), staf baru dari generasi Gen Z di timnya.
Berbeda dengan anak muda lain, Rian adalah cowok yang efisien: kerjanya selalu satset, santai, hasilnya rapi, tapi sikapnya super dingin dan kaku kepada Arini. Rian bahkan secara terang-terangan menunjukkan prinsip hidupnya yang kaku: "Not love at work"—baginya, mencampuradukkan pekerjaan dan perasaan adalah hal konyol.
Sikap dingin dan misterius Rian justru membuat Arini penasaran setengah mati. Arini tidak tahu bahwa di balik wajah datarnya, Rian sengaja membangun benteng tinggi demi menutupi debaran jantungnya setiap kali berdekatan dengan sang manajer. Rian tahu risiko profesional di kantor mereka, namun pesona dewasa Arini perlahan meruntuhkan logikanya.
Akankah Rian melanggar prinsipnya demi Arini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Danisa Danish, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Amarah di Mobil dan Lose Streak di Warmindo
"Gila ya si Adrian, narsisnya belum sembuh-sembuh!" cerocos Dian sambil memutar kemudi mobilnya dengan bertenaga, membelah kemacetan Jakarta sore itu. "Bisa-bisanya dia pasang muka sok ganteng di lobi kantor orang, melambai-lambai kayak pangeran berkuda putih. Dia pikir lo bakal lari-lari kecil terus meluk dia apa?"
Arini yang duduk di kursi penumpang di sebelahnya tidak menyahut. Wanita itu bersandar lesu pada kaca jendela mobil, menatap deretan lampu merah dari kendaraan di depan mereka yang merayap seperti siput. Pikirannya sama sekali tidak tertinggal pada Adrian yang tadi ia tinggalkan begitu saja di lobi. Otak Arini justru terkunci pada satu bayangan: tatapan mata Rian dari balik pilar kaca lobi.
"Rin! Lo dengerin gue gak sih?" Dian menyenggol lengan Arini di lampu merah. "Lo tadi keren banget pas nolak dia. Tapi muka lo sekarang kok malah kayak orang abis kalah judi? Kenapa sih?"
Arini menghela napas panjang, mengubah posisi duduknya menjadi tegak lalu memijat pelipisnya yang terasa berdenyut tegang. "Dian... tadi Rian lihat."
"Hah? Rian lihat apa? Lihat lo nolak Adrian?"
"Iya," jawab Arini lirih, ada nada frustrasi yang kentara dari suaranya. "Dia berdiri di balik pilar lobi pas gue lagi ngomong sama Adrian. Pas gue balik badan, mata kita sempet ketemu. Tapi dia langsung buang muka dan pergi ke basemen gitu aja. Jalannya cepet banget, Dian. Gue... gue tahu dia pasti salah paham lagi."
Dian terdiam sejenak, lalu embusan napas panjang keluar dari mulutnya. "Ya wajar lah dia salah paham, Rin. Kemarin dapet telepon cowok pas apartemen kebakaran, terus siang-siang ada kiriman bunga lili raksasa sama cokelat mahal, eh sorenya dia lihat sendiri cowok itu jemput lo pake sedan mewah. Cowok mana yang gak bakal ngerasa ciut? Di mata Rian, si Adrian itu saingan berat yang speknya jauh di atas dia."
"Tapi kan gue nolak Adrian, Dian! Gue gak ada rasa lagi sama dia!" seru Arini gemas, meluapkan kekesalannya yang dipendam sejak tadi. "Kenapa sih si Rian gak nanya langsung aja ke gue? Kenapa dia harus pasang muka terluka kayak gitu terus malah kabur? Sifat kekanak-kanakannya itu bikin gue emosi tahu gak!"
Dian tertawa kecil, kembali menginjak pedal gas saat lampu berubah hijau. "Rin, sadar. Status lo itu Kepala Staf. Atasan langsungnya dia. Mana berani staf biasa datengin bosnya terus nanya, 'Bu, itu cowok semalam siapa ya? Kok jemput Ibu?'. Yang ada dia dikira lancang. Lagian, makin dia kabur dan pasang muka cemburu kayak gitu, bukannya itu bukti kalau dia beneran punya rasa sama lo? Tinggal lo sekarang, mau terus-terusan pelihara gengsi milenial lo, atau lo yang kasih dia kejelasan?"
Arini tertegun. Kalimat Dian menohok ego dan gengsinya dengan telak, meninggalkannya dalam keheningan panjang di sepanjang sisa perjalanan pulang.
Sementara itu, di sudut kota yang lain, atmosfer hangat dan bising khas anak muda memenuhi sebuah Warmindo (Warung Makan Indomie). Aroma mie instan goreng bercampur kornet dan telur beradu dengan kepulan asap rokok. Di salah satu meja pojok dekat colokan listrik, Rian dan Bagas sedang duduk bersila, masing-back memegang ponsel mereka dengan posisi horizontal.
"Rian! Back up gue, Yan! Itu naga di-lord! Lu ngapain malah muter-muter di hutan, astaga!" teriak Bagas heboh, jemarinya bergerak brutal di atas layar ponselnya.
"Sabar, Gas! Darah gue tipis! Ini jaringan gue nge-lag apa gimana sih, kampret banget!" balas Rian, suaranya naik satu oktav. Wajahnya merah padam, bukan karena panasnya kuah mie, melainkan karena amarah yang sudah menumpuk sejak di lobi kantor tadi sore.
"An ally has been slain."
"Enemy Double Kill!"
"DEFEAT!"
Suara robot wanita dari game Mobile Legends itu menggema dari speaker ponsel Rian, disusul dengan logo kekalahan berwarna merah besar yang terpampang nyata di layar.
"Gila! Lose streak lima kali berturut-turut! Bintang gue abis, anjir!" Rian membanting ponselnya ke atas meja kayu dengan kasar, membuat mangkuk mie-nya sedikit bergeser. Dia mengacak-acak rambutnya frustrasi, napasnya memburu naik turun.
Bagas ikut menaruh ponselnya dengan helaan napas pasrah, menatap Rian dengan tatapan menegur. "Yan, lu kalau main lagi ruwet pikirannya mending gak usah ngajak mabar deh. Gila ya, lu malam ini mainnya toxic banget. Biasanya lu jadi core paling bener, lah ini tadi lu hobi banget mukal (muka alay/mati konyol), maju sendirian terus mati dikeroyok. Lu tuh lagi emosi atau lagi pengen sedekah bintang ke musuh sih? Gue juga ikut turun tier nih akibat dines malem bareng lu!"
Rian tidak menyahut keluhan Bagas. Dia malah meraih gelas es teh manisnya dan meminumnya sampai tandas dalam beberapa tegukan besar, mencoba mendinginkan hatinya yang terasa gosong.
"Gue emang lagi emosi, Gas," aku Rian akhirnya dengan suara rendah, bersandar lesu pada dinding warung. "Gue... tadi lihat mantan Bu Arini jemput dia di lobi pake sedan mewah. Mobilnya mengilap banget, Gas. Si Adrian itu... ganteng, rapi, mapan. Pas mereka ngobrol di depan lobi, mereka kelihatan cocok banget. Satu level."
Bagas menghentikan suapan mie-nya, menatap sahabatnya dengan ekspresi yang melunak. "Dan lu langsung ngerasa kayak butiran debu kosan yang tertiup angin?"
Rian tersenyum kecut, matanya menatap kosong ke arah jalanan malam di luar warmindo. "Gue makin sadar diri, Gas. Niat gue kemarin yang sering main di radius apartemen dia, atau panik pas ada kebakaran... itu konyol banget. Gue terjebak di antara perasaan suka atau sekadar kagum, tapi realitanya... mau suka atau kagum pun, jarak di antara gue dan Bu Arini itu sejauh bumi dan langit. Dia punya dunianya sendiri yang setara sama cowok sedan mewah itu. Prinsip kerja gue emang udah bener dari awal; jangan pernah libatin perasaan sama atasan sendiri."
Bagas menghela napas panjang, menepuk bahu Rian dengan cukup keras hingga cowok itu sedikit tersentak.
"Yan, otak lu udah kebanyakan diasapi kalkulasi vendor sama aura singa kantor, makanya lu jadi overthinking akut kayak gini. Jiwa Gen Z lu ilang digerus beban hidup," ujar Bagas dengan gaya sok bijak. "Lu itu butuh healing, Bro. Pikiran lu butuh dibilas biar gak kusut."
Rian melirik malas. "Healing ke mana? Duit foya-foya kagak ada."
Bagas langsung menjentikkan jarinya, matanya berbinar cerah. "Tenang, ini pas banget buat kantong kita tapi tetep estetik dan Gen Z banget. Weekend nanti, kita camping ceria ke Puncak Guha di Garut!"
Rian mengernyitkan dahi. "Puncak Guha? Jauh amat sampai ke Garut Selatan?"
"Ih, dengerin dulu, Malih!" sela Bagas bersemangat. "Puncak Guha itu lagi hits banget di TikTok. Tempatnya itu tebing tinggi yang langsung menghadap ke laut lepas. Kita bisa diriin tenda di atas tebing, nyalain api unggun kecil, dengerin suara deburan ombak di bawah bawah, terus paginya bisa dapet sunrise yang pecah banget tanpa harus capek-capek mendaki gunung. Biayanya murah, cuma bayar tiket masuk sama sewa lahan tenda beberapa puluh ribu. Lu bisa teriak sepuasnya lepasin beban emosi lu ke laut lepas. Gimana? Cocok kan buat jiwa lu yang lagi sekarat?"
Rian terdiam sejenak, menimbang-nimbang usulan Bagas. Membayangkan dirinya berada di tempat terbuka, jauh dari dokumen kantor, lobi gedung, dan bayang-bayang pesona Arini yang membingungkan rasanya memang terdengar seperti opsi yang sangat ia butuhkan saat ini.
"Oke," jawab Rian akhirnya dengan helaan napas pelan. "Weekend nanti kita ke Garut. Gue bener-bener butuh ilang dari radar kantor buat beberapa hari."