Nayra Lovarisa, 32 tahun, seorang influencer sukses dengan kehidupan yang sudah sempurna, karier mapan, bisnis berkembang, dan memiliki putra yang menjadi dunianya.
Selama empat tahun, hanya mereka berdua. Tanpa kekurangan, sampai sosok Om Rara muncul menjadi penolong baik hingga tanpa sadar membuat anaknya menyukainya.
Awalnya Nayra tidak terganggu malah terbantu dengan sang tetangga sampai kemudian anaknya punya harapan lebih, ingin menjadikan pria itu sebagai ayah sambungnya.
Bagaimana kisah ini selanjutnya? Nayra yang punya banyak pertimbangan, Rayyan yang tidak menyerah menjodohkan sang Mama dan Om Rara yang menyadari perasaannya apa mampu meluluhkan hati janda satu anak itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Larasa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29. Penenang
Nayra berusaha untuk tetap tenang selama anak-anak itu menjelaskan semuanya. Di sini tak sepenuhnya salah Rayyan, tapi karna Rayyan ada di tempat kejadian juga sempat memancing keributan lain karna tidak terima sahabat-sahabatnya di perlakukan buruk jadi terseret masalah.
Rayyan bersama dua sahabatnya memberikan penjelasan mereka, dari sisi manapun salah karna sudah mengejek penyakit Raffa, teman sekelasnya.
Gama selaku adik Raffa yang masih SD mengetahui kakaknya di perlakukan dengan buruk sengaja bolos dari sekolah untuk masuk ke lingkungan SMP, lalu begitu melihat keberadaan si pelaku tanpa basa-basi lagi, Gama mengambil tong sampah dan menumpahkannya ke atas kepala Septian.
Tak cukup sampai di situ saja, saat mereka masih kaget, tiba-tiba saja Gama melakukan hal yang sama pada Alvin. Sementara putranya yang tak ikut mengejek Raffa, tapi sering kali diam atau ikut tertawa atas semua yang di lakukan sahabat-sahabatnya, terpancing emosi lalu terjadilah pertengkaran antara tiga anak SMP dan satu anak SD yang untungnya cepat di pisahkan.
Di sini Rayyan terlihat sebagai korban, tapi menurut keterangan putranya sendiri kalau dia juga bersalah. Nayra tentu saja kecewa, tapi tak mungkin memarahi anaknya di depan banyak yang sudah sekarang pulang bersama anak-anak setelah di nasehati oleh Guru seperti yang terjadi pada mereka.
"Lain kali kalau lihat yang kayak gitu kamu cepat lapor ke ibu ya, nak. Kalau saja Raffa bisa milih, dia juga mau hidup sehat kayak kita." Nasehat Guru pada Rayyan yang mengangguk saja tanpa berani mengangkat pandangannya. "Untuk Papa Mama, jangan terlalu keras sama Rayyan, nasehati pelan-pelan aja biar kejadian ini jadi pelajaran buat dia."
Nayra melirik Gatra yang berdeham sambil menahan senyumnya, ibu dari Rayyan itu menggeleng pelan lalu menatap Sastia, Guru, di depannya. "Baik, Bu. Terima kasih atas nasehatnya, sepertinya saya juga harus mendatangi rumah orang tua Gama dan Raffa untuk minta maaf secara pribadi."
"Lebih baik memang seperti itu, Bu. Tapi usahakan agar tidak ada masalah lain lagi ya. Kasihan anak-anak soalnya."
Nayra menangguk sambil bangkit dari tempat duduknya. "Yasudah kalau gitu saya pamit pulang dulu, Bu." Nayra berusaha terlihat baik-baik sambil melirik putranya lalu bersalaman dengan Guru yang bertugas menyelesaikan masalah yang di buat para murid sebelum di serahkan pada kepala sekolah.
Gatra yang ada di antara mereka menyimak nasehat Guru hanya diam lalu mengikuti yang Namanya lakukan sebelum keluar dari sana dengan menunduk.
"Aku ngga pernah ngajarin kamu kayak gitu, Ray." Kata Nayra sambil berjalan menelusuri lorong sekolah. "Kamu pikir kamu hebat karna bisa kayak gitu? Kamu pikir juga kalau masalahnya bisa kamu selesaikan–"
"Nay," sela Gatra. "Bukan mau ikut campur, tapi takutnya nanti di dengar orang lain jadi tambah bikin Rayyan malu, mendingan di apartemen saja kalau mau marahnya."
Nayra menurut sebab merasa benar lalu diam sambil melewati lorong. Sementara Gatra masih tak habis pikir dengan yang sudah di lakukan sahabat-sahabat Rayyan, tapi lebih tak menyangka kalau anak yang mulai di sayangnya ini juga ikut-ikutan tapi dengan cara yang berbeda.
Harusnya Rayyan melarang kedua sahabatnya, tapi nasi sudah menjadi bubur. Semua yang di sampai Guru pada semua anak-anak di dalam ruangan ini benar, terutama Rayyan yang perlu di berikan sedikit pemahaman tentang rasa simpati dan menempatkan sikap.
Usia empat belas tahun bukanlah anak kecil lagi yang tak mengerti yang sudah di lakukan Alvin dan Septian itu salah. Harusnya Rayyan tak menikmati kelakuan sahabatnya tapi melarang mereka.
Sesekali Gatra menoleh pada Rayyan biasanya banyak bicara tapi saat ini hanya diam sambil menundukkan kepalanya. Gatra tiba-tiba merasa iba dengan nasib anak itu nantinya, tapi sebagai ibu Nayra juga tak mungkin diam saja atau berlebihan memarahinya.
"Kamu masuk duluan, Mama mau ngomong sebentar sama Om Gatra!" Perintah Nayra datar, membuat Rayyan menurut. Sementara Nayra memandang Gatra dengan berbagai emosi yang berusaha di tahannya. "Aku ngga tahu mau ngomong apa, tapi kamu pasti kaget banget tahu Rayyan kayak gini."
"Namanya juga anak-anak bisa salah, tapi sebagi orang tua kita harus bisa mengarahkan yang terbaik." Balas Gatra sambil tersenyum. "Nanti jangan terlalu keras marahin dia, kasihan, Nay. Ayo, masuk."
Nayra mengangguk lalu mendekati sisi lain mobil duduk di kursi samping Gatra. "Hari ini kamu ngga usah pergi les renang dulu," putus tanpa menunggu persetujuan Rayyan yang duduk di belakang.
"Ngga–"
"Setelah apa yang sudah kamu lakuin, kamu berani nolak, Ray?" Nayra menoleh pada anaknya.
"Tapi... aku suka re–"
"Nurut, Ray, jangan membantah karna kalaupun kamu nekad pergi kita kayaknya udah telat." Gatra sambil menyetir mengarahkan tangannya lebih tepatnya pergelangan tangan terdapat jam yang sudah menunjukkan pukul empat lewat tiga puluh sore.
"Yaudah deh," balas Rayyan lesu lalu memandangi jendela mobil.
Sementara Gatra fokus ke jalanan sesekali melirik Nayra atau Rayyan yang tak seceria biasanya. Pria itu menghela nafas pelan lalu memilih fokus dengan perjalanannya hingga sampai di kawasan unit apartemen.
Rayyan turun lebih dulu tanpa mengatakan apapun membuat kedua orang dewasa yang masih di dalam mobil saling berpandangan dengan heran.
"Gitu tuh kalau di marahin, dia bikin seolah kita yang salah." Keluh Nayra.
"Udah sabar aja, aku yakin Rayyan lagi takut makanya pergi duluan." Gatra berpikir positif agar Nayra tenang. "Aku ngga mau ikut campur, tapi kalau boleh kasih saran marahnya jangan terlalu keras ya. Kasihan Rayyan."
"Sejujurnya aku ngga pernah bisa marah kayak orang tua lain, paling cuma diamin dia aja." Ungkapnya karna tidak ada Rayyan di sekitarnya. " Kenakalan Rayyan ini... aku lebih suka dia bolos atau ngelakuin kenakalan lainnya yang normal di lakukan anak seusianya tanpa merugikan orang lain kayak gini, Mas."
"Sama ngga ada baiknya kalau gitu," sahut Gatra dengan nada biasa tanpa menyalahkan atau mengajarkan ibu dari anak di depannya. "Nanti Rayyan di nasehatin aja atau kalau butuh bantuan, bisa hubungi aku."