Berawal dari pertemuan di sebuah pernikahan menjadi kisah cinta yang rumit. Kisah antara Devika Nala Arutala dengan Raditya Arya Wijaya. Bagi Arya, Nala bukan hanya masa kini namun juga masa lalu. Masa lalu yang tak mungkin bisa ia lupakan begitu saja.
Berawal dari pertemuan tanpa sengaja di sebuah pernikahan. Sekian lama kembali bertemu, Arya mengetahui sebuah rahasia tentang kisah mereka di masa lalu, membuat tekadnya yang padam menjadi membara.
Pertemuan mereka bukanlah hanya sebuah kebetulan, namun takdir. Bertemu kembali, mengulang kisah. Jika dahulu berakhir menyedihkan, maka kini haruslah indah. Air mata yang dulu tumpah haruslah berganti menjadi pelangi.
Waktu mungkin saja berjalan, namun hati selalu tahu tempat mereka pulang. Bunga yang layu mampu kembali mekar, sama seperti manusia. Ada saatnya kita layu untuk merenung dan mekar untuk bersinar. Cinta sejati tidak pernah benar-benar mati, ia hanya layu untuk mengajarkan kita cara merawatnya dengan lebih baik.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anyelir 02, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 24 - Alto
Hari Pemotretan
Di ruang rias, para model berias disesuaikan dengan tema dan pakaian yang akan mereka kenakan. Beberapa model adalah pendatang baru yang masih meniti karier dan ajang ini menjadi awal yang diberikan oleh manajemen untuk mereka. Para model itu melihat ke arah Arbela Gardenia Kalingga, kerap dipanggil dengan nama Ara. Dia adalah seorang model ternama dengan garis keluarga yang mumpuni. Berasal dari keluarga Kalingga menjadikannya model dengan latar belakang yang kuat.
Kalingga, sebuah nama dari keluarga besar yang cukup kuat dalam dunia bisnis. Perusahaan mereka bergerak dalam bidang perhotelan itu selalu saja berhasil membangun hotel dengan begitu mewah. Tak hanya itu, omset per tahunnya sangat besar.
Latar belakang yang dimilikinya membuat Ara merasa berada di atas. Sombong, itulah citra yang selalu ia tunjukkan. Dia selalu meremehkan model-model yang lain. Jika latar belakang keluarganya dibawahnya, dia merasa mereka akan setara meskipun seterkenal apapun lawannya.
“Hei Zara, lama tak jumpa!” Nada meremehkan, itulah setiap kali Zara dengar saat Ara menyapanya. Zara tau, Ara meremehkannya karena latar belakangnya sebagai anak panti asuhan. Ara selalu membicarakan betapa beruntungnya Zara karena berhasil mencapai puncak tertinggi dan menjadi seterkenal saat ini. Apalagi kabar Zara menikah dengan Arsyad Kaivan Wijaya, keturunan dari keluarga Wijaya yang memiliki harta yang tak akan habis hingga 7 turunan.
“Nona Ara, lama tak jumpa!” meskipun tak ingin menyapa, sebagai bentuk kesopanan Zara mana mungkin tak berbalas sapa. Lagipula, Zara sudah sangat khatam dengan tabiat Ara. Jika dia membalas perlakuannya akan menjadi masalah besar nantinya. Contohnya seperti pembatalan pemotretan hari ini.
“Bagaimana rasanya menjadi Nyonya Wijaya? Pasti menyenangkan bukan? Hidupmu pasti berubah drastis setelah keluar dari tempat... ah, maksudku panti asuhan itu,” Ara tersenyum tipis, mengetuk-ngetuk kuku marmernya yang berkilau di atas meja rias. Di matanya, kilat iri terbungkus rapi oleh keangkuhan.
Tenang, itulah sikap yang Zara ambil. Dengan gerakan halus, Zara menghentikan gerakan kuas makeup di tangannya sejenak. Dia tidak goyah. Senyum profesional yang biasa ia tunjukkan di depan kamera kini terkembang sempurna di bibirnya.
“Sangat menyenangkan, Nona Ara,” jawab Zara dengan nada yang teramat tenang, hampir seperti desau angin sore. “Berada di lingkaran Wijaya membuat saya belajar banyak hal baru. Terutama... tentang bagaimana orang-orang dengan kelas sosial yang sesungguhnya memperlakukan sesama.”
Alis Ara bertaut samar. “Oh, ya?”
“Benar,” Zara memutar tubuhnya sedikit, menatap Ara langsung melalui pantulan cermin besar di depan mereka. “Saya baru tahu kalau di kalangan atas, mereka yang benar-benar berkuasa justru cenderung tidak suka kebisingan. Mereka tidak perlu membicarakan dari mana mereka berasal atau berapa omset perhotelan mereka per tahun, karena... dunia sudah tahu tanpa perlu mereka sebutkan berulang kali.”
Sindiran itu mendarat telak pada bisnis besar Keluarga Kalingga yang selalu Ara banggakan. Beberapa model pendatang baru di sudut ruangan mendadak menahan napas, pura-pura sibuk dengan ponsel mereka.
Ara memperketat rahangnya, namun segera memaksakan tawa renyah yang terdengar hambar. “Tentu saja. Tapi bagaimanapun, latar belakang dan darah itu tidak bisa dibeli dengan pernikahan, Zara. Kadang, gaun semahal apa pun tetap terlihat longgar jika dipakai oleh orang yang dipaksakan masuk ke dalamnya.
Zara terkekeh pelan, seolah Ara baru saja menceritakan sebuah lelucon kecil yang menghibur.
“Nona Ara benar sekali soal pakaian,” Zara berdiri, merapikan sedikit blazer kasualnya dengan gerakan yang sangat anggun. “Sama seperti tema pemotretan kita hari ini, 'The Crimson Tie'. Ini tentang takdir yang mengikat, bukan tentang siapa yang paling keras mencoba mencocokkan diri. Menariknya, dalam urusan pakaian, saya selalu percaya kalau baju yang paling mewah sekalipun akan kehilangan pesonanya jika sang model terlalu sibuk melihat ke cermin orang lain.”
Zara melangkah mendekat ke arah meja Ara, lalu menunduk sedikit untuk berbisik dengan nada yang teramat ramah namun dingin.
“Oh ya, ngomong-ngomong soal Wijaya... suamiku, Arsyad, baru saja memesan salah satu penthouse terbaik di hotel utama Kalingga untuk kolega internasionalnya bulan depan. Dia bilang, pelayanan di sana cukup bagus untuk standar hotel lokal. Semoga bisnis keluarga Anda selalu lancar ya, Nona Ara.”
Setelah memberikan senyuman termanisnya, Zara berbalik dengan anggun dan berjalan menuju area fitting, meninggalkan Ara yang membeku di kursinya dengan wajah yang menahan geram. Di posisi ini, Ara sadar, menyenggol Zara sekarang sama saja dengan menyenggol taring finansial Keluarga Wijaya yang bisa menenggelamkan bisnis hotel keluarganya dalam sekejap.
...****************...
Sesi pemotretan untuk edisi 'The Crimson Tie' akhirnya dimulai. Di atas panggung studio yang megah dengan latar belakang pencahayaan yang dramatis, Ara dan Zara berdiri berdampingan dalam satu bingkai kamera untuk memamerkan koleksi gaun bersama. Namun, suasana hangat dari obrolan bersama Hari dan Tania beberapa saat lalu seketika menguap, digantikan oleh ketegangan dingin yang tak kasat mata.
Ara yang masih menyimpan dendam dan rasa pening dari ruang rias mulai melancarkan aksi liciknya di depan kamera. Setiap kali fotografer bersiap mengambil jepretan, Ara sengaja melakukan gerakan taktis. Ia sengaja mengambil posisi setengah langkah lebih maju agar tubuhnya menghalangi sudut pandang kamera ke arah Zara. Tak hanya itu, ia sengaja memutar gaun mengembangnya dengan sentakan berlebih, menutupi arah datangnya cahaya utama yang seharusnya jatuh di wajah Zara.
“Nona Ara, tolong geser sedikit ke kanan. Posisi Anda terlalu menutup Zara,” tegur fotografer dari balik lensa kameranya untuk yang ketiga kali.
“Ah, maaf ya,” sahut Ara dengan nada manja yang dibuat-buat, sembari melempar senyum palsu ke arah kru. “Gaun Kalingga ini terlalu megah dan mengembang, jadi agak sulit mengontrol ruang gerak saya.”
Ara melirik Zara dari sudut matanya, menanti ekspresi kesal, panik, atau frustrasi dari wajah wanita asal panti asuhan itu. Ia ingin merusak ketenangan Zara. Ia ingin membuktikan bahwa di depan kamera, dirinyalah yang memegang kendali penuh.
Namun, Zara sama sekali tidak terpancing. Ia tidak membalas dengan tatapan ketus, tidak pula mencoba mendesak maju untuk berebut ruang.
Pada detik itu, Zara justru teringat akan sebuah obrolan santai di masa lalu bersama Nala. Sebagai seorang psikiater, Nala pernah memberi tahu Zara sebuah trik kecil tentang menghadapi orang-orang dengan tingkat narsistik tinggi yang kerap menutupi kecemasan mereka dengan kesombongan.
“Orang yang selalu berusaha keras mendominasi dan menginjak orang lain di depan publik, sebenarnya adalah orang yang paling ketakutan di dalam hatinya, Zara. Mereka takut tidak terlihat. Cara terbaik meruntuhkan pertahanan mereka bukanlah dengan kemarahan, tapi dengan memberikan apa yang paling mereka takuti: ketenangan yang tidak terpengaruh.”
Mengingat kata-kata sahabatnya itu, Zara menarik napas dalam-dalam. Alih-alih melawan gerakan Ara, Zara justru dengan sangat anggun melakukan fluid movement—gerakan mengalir yang sangat halus. Ia sengaja mundur setengah langkah, membiarkan Ara menguasai bagian depan panggung dengan pose kaku yang terlalu dipaksakan.
Zara memanfaatkan bayangan dan sisa ruang cahaya yang ada. Ia menegakkan punggungnya, mencondongkan tubuhnya dengan sudut yang sangat estetis, lalu melemparkan tatapan mata yang sangat tenang, dingin, namun teramat tajam tepat ke arah lensa kamera. Itu adalah tatapan penuh empati yang bercampur dengan keanggunan mutlak—sebuah tatapan yang seolah berkata langsung pada Ara: Aku tahu kamu sedang ketakutan dan tidak percaya diri.
Cekrek! Cekrek!
Bunyi rana kamera terdengar beruntun, kali ini diikuti oleh seruan puas dari sang fotografer.
"Luar biasa! Perfect! Zara, pertahankan posisi itu!" puji fotografer dengan mata berbinar. "Kontrasnya sangat mahal! Nona Ara tampak terlalu 'berusaha keras', sementara Zara memberikan kesan elegan yang tanpa beban. Ini baru namanya karya kelas tinggi!"
Beberapa kru di balik layar monitor berbisik kagum melihat hasil gambar yang langsung muncul di layar digital. Di sana terlihat jelas, pose Ara yang narsis justru terlihat seperti latar belakang yang kaku, sementara ketenangan Zara menjadikannya sebagai pusat perhatian utama yang bersinar tanpa harus berebut tempat.
Mendengar pujian itu, senyum di wajah Ara seketika membeku. Rahangnya memperketat menahan malu. Tatapan "kasihan" yang sempat Zara berikan padanya lewat pantulan lensa tadi benar-benar merusak konsentrasi dan mengguncang egonya hingga ke dasar.
Tepat saat Ara bersiap memprotes jalannya sesi foto, perhatian seluruh isi ruangan mendadak teralihkan sepenuhnya. Pintu masuk studio yang besar terbuka lebar, diiringi oleh langkah kaki yang tegas dan berwibawa yang menggema di seluruh ruangan. Suasana studio yang tadinya riuh mendadak sunyi dan membeku. Kehadiran seseorang mampu menghebohkan area pemotretan.