NovelToon NovelToon
Penawar Luka Aira

Penawar Luka Aira

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Cinta Seiring Waktu / CEO
Popularitas:17.3k
Nilai: 5
Nama Author: Fega Meilyana

"Menikahlah dengan saya, Aira."
"A-apa?!"
***
"Saya bukan perempuan solehah."
"Saya pun. Kita akan belajar bersama."
"Saya tidak sempurna."
"Kesempurnaan hanya milik Allah."
"Saya tidak cantik."
"Bagi saya cantik."
"Saya tidak yakin bisa jadi istri yang baik."
"Saya akan bimbing kamu."
"Saya ingin childfree."
"Tidak masalah."
"Saya anak haram."
"Lalu kenapa? Status “anak haram” itu bukanlah identitasmu di hadapan Allah. Itu hanya label dari manusia. Kamu bukan kesalahan. Kamu bukan aib. Kamu adalah manusia yang Allah ciptakan dengan tujuan. Allah tidak pernah salah menciptakanmu.
Aira mendongak, menatap Azzam. "Kata-kata itu..."

***

Aira yang hidupnya penuh dengan kehilangan, dianggap anak haram hingga ia memutuskan untuk tidak menikah. Namun Azzam datang menjadi penawar luka untuk Aira.
Apakah Aira bisa jatuh cinta dengan Azzam?
Tanpa mereka sadari bahwa cinta pertama mereka adalah orang yang sama.
Cerita ini spin off dari Cinta Masa Kecil Ustadz Athar.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fega Meilyana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Test DNA

“Mas, kamu gak akan melakukan apa yang Azzam bilang kan?” Yessi menatap suaminya penuh cemas.

Sejak kedatangan Azzam malam itu, pikirannya benar-benar tidak tenang.

Ia angat takut. Jika Alfand benar-benar melakukan tes DNA dan hasilnya membuktikan bahwa Aira memang anak kandungnya maka posisi Jessica di rumah ini bisa tergeser.

Dan yang paling membuat Yessi gelisah… adalah kemungkinan Aira menjadi pewaris utama keluarga Alfand.

Meskipun ada Radit. Tetap saja—status Aira jauh lebih kuat.

“Apa?” tanya Alfand datar sambil mengenakan jam tangannya.

“Tes DNA itu.”

Alfand langsung menghela napas berat. “Kenapa sih kamu nanyain itu terus?” gumamnya pelan. “Aku pusing, Yes.”

“Karena kamu gak jawab iya dan gak jawab tidak!”

Nada suara Yessi mulai meninggi.

Alfand memejamkan mata sejenak. “Yaudah. Aku jawab tidak. Puas?”

Mata Yessi langsung berbinar lega. “Beneran?”

Namun Alfand malah mengambil tas kerjanya. “Terserah mau percaya atau gak. Aku mau ke kantor.”

Ia berjalan begitu saja meninggalkan ruang makan.

“Mas! Aku belum selesai ngomong!”

Namun Alfand tetap pergi.

Langkahnya terasa berat.

Entah kenapa dadanya sesak sejak semalam.

Selama bertahun-tahun… ia selalu berusaha meyakinkan dirinya bahwa membenci Aira adalah hal yang benar.

Bahwa semua kesalahan itu berasal dari Desi. Bahwa Aira adalah pengingat pengkhianatan.

Tapi sekarang setelah mendengar ucapan Azzam, setelah melihat keberanian laki-laki itu membela Aira… hati Alfand mulai goyah.

Bagaimana kalau selama ini… ia salah?

Mobil Alfand melaju perlahan meninggalkan rumah megah itu.

Rumah yang mewah. Besar. Namun entah kenapa… tak pernah benar-benar terasa hangat.

Yessi memang memberinya anak lebih dulu dibanding Desi.

Bahkan memberinya seorang putra.

Namun semakin lama… Alfand merasa ada sesuatu yang kosong.

Selama bertahun-tahun ia tidak pernah benar-benar merasakan pulang. Yessi terlalu mencintai kemewahan. Semua urusan rumah diserahkan kepada ART.

Padahal kadang… Alfand hanya ingin hal sederhana.

Makanan buatan istrinya. Sambutan hangat sepulang kerja.

Atau sekadar ditanya, 'hari ini cape ya?'. Namun yang sering ia dapatkan justru tuntutan.

Permintaan.

Uang.

Dan entah kenapa—hari ini Alfand tiba-tiba teringat Desi.

Perempuan itu tidak pernah hidup mewah. Tapi dulu… rumah kecil mereka terasa hidup.

Desi selalu menyambutnya di depan pintu. Membuatkan kopi. Menyiapkan makan malam meski sederhana.

Dan saat Aira kecil lahir… Desi pernah berkata sambil tersenyum “Semoga rumah ini selalu jadi tempat pulang terbaik buat kamu ya, Mas.”

Tangan Alfand langsung mengerat pada stir mobil. Dadanya mendadak sakit.

Karena ini kali pertama kalinya setelah sekian lama, ia mulai merindukan seseorang yang sudah lama ia benci.

***

Alfand menepikan mobilnya di pinggir jalan.

Ia memang mengatakan pada Yessi bahwa ia tidak akan melakukan test DNA itu tapi itu hanya albi saja. Nyatanya, ia sudah berjanjian pada Azzam akan melakukan Test DNA.

Tangannya masih menggenggam ponsel.

Wajahnya terlihat tegang.

Sejak keluar rumah tadi, pikirannya tidak berhenti berisik. Tentang semua kemungkinan yang selama ini ia hindari.

Dan hari ini semuanya akan terjawab.

Dengan napas berat, Alfand akhirnya menekan tombol panggil.

Beberapa detik kemudian—panggilan tersambung.

“Assalamu’alaikum, Om.” Suara Azzam terdengar tenang dari seberang sana.

“Wa’alaikumussalam…”

Alfand menelan ludah. “Saya… sudah di jalan.”

“Iya, Om. Saya juga sudah sampai di rumah sakit.”

Deg!

Entah kenapa jantung Alfand langsung berdetak lebih cepat. “Aira…” suaranya sedikit tertahan. “Dia datang?”

“Datang, Om,” jawab Azzam lembut. “Saya sama Aira ditemani Pak Arif.”

Alfand langsung memejamkan mata sejenak.

Aira benar-benar datang.

Artinya… gadis itu juga menunggu jawaban yang sama.

Jawaban yang mungkin akan mengubah hidup mereka semua.

“Baik…” gumam Alfand lirih. “Saya segera kesana. Assalamu'alaikum."

"Wa'alaikumussalam, Om."

Panggilan terputus.

Dan suasana di dalam mobil langsung hening.

Alfand menyandarkan kepalanya sebentar ke kursi.

Tangannya gemetar kecil.

Ia takut. Takut kalau hasilnya benar. Namun di saat yang sama—ia juga takut kalau hasilnya salah.

Karena entah sejak kapan… hatinya mulai berharap Aira benar-benar anaknya.

Alfand mengusap wajah kasar. Lalu perlahan menyalakan kembali mobilnya. Mobil itu kembali melaju menuju rumah sakit. Menuju jawaban atas dosa panjang yang selama ini ia lakukan pada putrinya sendiri.

***

Sesampainya di rumah sakit, langkah Alfand terasa begitu berat.

Lorong rumah sakit yang dingin mendadak membuat dadanya semakin sesak.

Tangannya mengepal kecil.

Ia merasa gugup. Lebih gugup daripada saat menghadapi rapat besar atau masalah perusahaan.

Karena kali ini yang ia hadapi adalah masa lalunya sendiri.

Alfand akhirnya tiba di depan ruangan laboratorium tempat tes DNA dilakukan.

Dan di sana sudah ada Mang Arif. Azzam. Dan… Aira.

Langkah Alfand langsung terhenti sesaat.

Aira yang duduk di kursi tunggu perlahan mengangkat wajahnya.

Tatapan mereka bertemu. Alfand benar-benar memperhatikan putrinya itu.

Wajahnya. Matanya. Cara ia menunduk gugup. Semuanya… mengingatkannya pada Desi.

Sementara Aira langsung menegakkan duduknya canggung. Tangannya otomatis menggenggam ujung lengan baju sendiri.

Ia juga gugup.

Sangat gugup.

Karena hari ini…akan menentukan apakah selama ini dirinya benar-benar dibenci karena kesalahan yang bahkan bukan miliknya.

“Om.” Suara Azzam memecah keheningan.

Azzam berdiri menghampiri Alfand lalu menyalaminya sopan. “Terima kasih sudah datang.”

Alfand mengangguk kecil. “Iya…”

Pandangan matanya kembali jatuh ke Aira.

Namun kali ini lebih lembut.

Membuat Aira sedikit bingung.

Mang Arif yang sejak tadi diam akhirnya berdiri. “Pak Alfand… Saya senang bapak datang.”

Alfand menatap Mang Arif cukup lama.

Dan rasa bersalah itu kembali menghantamnya.

Karena selama bertahun-tahun justru lelaki sederhana inilah yang membesarkan Aira.

Menjaganya. Menyayanginya. Sementara dirinya… bahkan gagal menjadi ayah.

Tak lama kemudian seorang petugas keluar dari ruangan.

“Pak Alfand dan saudari Aira?”

Keduanya langsung menoleh bersamaan.

“Silakan masuk. Kita bisa mulai pemeriksaannya sekarang.”

Deg!

Jantung Aira langsung berdetak keras.

Begitu juga Alfand.

Dan tanpa sadar sebelum masuk ke ruangan itu— Aira melirik Azzam lebih dulu.

Seolah mencari kekuatan.

Dan Azzam… hanya mengangguk kecil sambil tersenyum menenangkan.

***

Ruangan pemeriksaan kembali hening.

Setelah proses pengambilan sampel selesai, tidak ada lagi suara selain gesekan kursi dan langkah kecil petugas yang sedang merapikan alat.

Aira duduk diam.

Tangannya saling menggenggam di atas paha untuk menutupi rasa gugupnya.

Sementara di depannya, Alfand juga diam menunduk.

Tidak ada yang bicara.

Tidak ada yang tau harus memulai dari mana.

Hubungan mereka terlalu rumit untuk diperbaiki hanya dalam satu hari.

Namun setidaknya… hari ini mereka sama-sama datang.

Dan itu sudah menjadi langkah besar.

“Baik, Pak. Prosesnya sudah selesai.” Suara petugas memecah keheningan.

“Hasil pemeriksaan kemungkinan keluar beberapa hari lagi.”

Alfand mengangguk pelan. “Iya…”

Aira juga hanya diam.

Lalu keduanya perlahan berdiri dan keluar dari ruangan itu.

Di luar, Azzam dan Mang Arif langsung bangkit dari duduk mereka.

“Gimana?” tanya Mang Arif lembut pada Aira.

“Udah selesai, Mang,” jawab Aira pelan.

Azzam memperhatikan wajah Aira beberapa detik.

Matanya sedikit memerah.

Namun gadis itu terlihat jauh lebih tenang dibanding tadi.

Tak lama kemudian, petugas laboratorium tadi ikut keluar sambil membawa beberapa berkas.

Azzam langsung melangkah mendekat. Suaranya tenang namun tegas. “Maaf. Saya minta tolong hasil ini harus benar-benar akurat.”

Petugas itu langsung mengangguk hormat. “Tentu, Pak.”

“Dan satu lagi,” lanjut Azzam. “Hasilnya jangan sampai bocor ke siapa pun kecuali saya.”

“Saya tidak mau ada orang lain yang mengetahui sebelum waktunya.”

Petugas itu tampak semakin serius. “Siap, Pak Azzam.”

Azzam mengangguk kecil.

Rumah sakit ini memang termasuk salah satu rumah sakit terbesar dan paling terpercaya.

Selain sistem keamanannya ketat—Aariz, adik dari Ummanya sekaligus orang yang sangat dekat dengan keluarga Malik, juga memiliki peranan penting di sana.

Karena itulah Azzam memilih tempat ini.

Ia tidak ingin hasil pemeriksaan itu dimanipulasi.

Atau lebih buruk—jatuh ke tangan orang yang salah.

Setelah semuanya selesai, suasana kembali canggung.

Tidak ada yang tahu harus bicara apa lagi.

Semua terlalu tiba-tiba. Terlalu emosional.

Sampai akhirnya—Aira perlahan menoleh ke arah Alfand.

“Pa?”

Alfand langsung mengangkat wajah.

Jantungnya seakan berhenti sesaat.

Sudah lama sekali…sangat lama… ia tidak mendengar panggilan itu keluar dari bibir Aira.

Bahkan mungkin…ia sendiri tidak pantas mendengarnya.

“I-iya?” jawabnya pelan.

Aira menggigit bibir bawahnya pelan. Berusaha menahan air mata yang mulai menggenang lagi.

“Terima kasih… sudah datang.”

Kalimat sederhana itu justru terasa menghantam keras dada Alfand.

Karena tidak ada nada benci di sana. Tidak ada amarah. Padahal seharusnya… Aira punya banyak alasan untuk membencinya.

Namun setelah mengatakan itu, Aira langsung menunduk cepat.

Lalu berbalik pergi. Langkahnya terburu-buru.

Seolah kalau ia berhenti sedikit saja— air matanya akan pecah di sana.

“Aira…” Mang Arif langsung khawatir melihat gadis itu pergi begitu saja.

Namun Azzam menahan pelan lengan Mang Arif. “Biarin dulu, Pak. Dia lagi pengen sendiri.”

Mereka hanya bisa melihat punggung Aira yang semakin menjauh di lorong rumah sakit.

Sementara di sisi lain—Alfand masih diam mematung.

Tatapannya terpaku ke arah putrinya yang pergi.

Dadanya terasa sesak.

Karena setelah bertahun-tahun lamanya, Aira memanggilnya 'Papa' lagi.

1
Syti Sarah
lnjut lgi Thor 🥰 selamat malam untuk pengantin baru 😊
Ayu Oktaviana
ayah daffa dirosting anknya😁😁😁 aduh deg2an ya zam
Syti Sarah
lnjut lgi mom 🙏mkin seru 😊
anakkeren
seoga izan diberi keajaiban untuk smbuh😥
Syti Sarah
Alhamdulillah,bhgia sellu Aira dan Azzam 😊lnjut lgi Thor 😍
Syti Sarah
Alhamdulillah,semoga menjadi kluarga yg sakinah mawadah warahmah ya Aira Azzam.semoga izan di Bri mukjizat agar cpat smbuh 🙏🙏

lnjut lgi mom🥰
Nifatul Masruro Hikari Masaru
pengorbanan mu sungguh berharga izan
Siti Java
terharu aq🥰🥰
lanjut dong kk🥰
syora
/Sob//Sob//Sob//Sob/alhamdulilah
semoga smua mendapat kbhagian dr Allah SWT.amiiin
just a grandma
terharu🥺
Anak manis
akhirnya 😭
syora
masyallah sungguh mulia hati kluarga besar malik
keikhlasan yang blm tentu bisa kita lakukan
Syti Sarah
masyaallah kluarga ustadz Athar

lnjut lgi Thor 🥰
Siti Java
lanjut dong kk
Nifatul Masruro Hikari Masaru
berbesar hati banget ustadz athar.
Syti Sarah
ikuti saja kata hatimu Aira .lnjut lgi Thor 😍
syora
kadang karna ingin mlht kbhagian mski singkat kita memilih jln yg salah yg justru lbh menjadikan penyesalan
just a grandma
mkin seru, up lg thor😍
Anak manis
Aira terlalu baik😭
Anak manis
makin seru
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!