NovelToon NovelToon
Dalang Di Balik Pembunuhan

Dalang Di Balik Pembunuhan

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Balas Dendam / Action
Popularitas:109
Nilai: 5
Nama Author: Dian umar

Kayla, Alfian, Joy, dan Jenny berusaha memecahkan dalang di balik penculikan dan pembunuhan. Puzzle demi puzzle mereka susun, hingga membentuk sebuah petunjuk, bahwa Seseorang yang sangat dekat dengan mereka adalah pelakunya. Lalu tindakan apa yang akan mereka ambil? Dan apa motifnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dian umar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15

(Rumah Joy)

Disebuah ruangan yang didominasi oleh warna coklat keemasan, Joy duduk disalah satu kursi. Dia terlihat lesu dan tampak tidak semangat sama sekali.

Berbagai makanan mewah tersaji di meja makan yang cukup luas dan panjang ini. Namun, Joy sama sekali belum memakan satu pun makanan yang disajikan.

Dari arah depan muncul Pria yang berumur 57 tahun. Walaupun usianya sudah terbilang tua, tapi dia masih terlihat sangat kuat gagah dan tampan. Kedatangannya membuat seluruh ruangan menjadi dingin. Auranya mampu menekan siapa saja yang berada di dekatnya.

"Bagaimana keadaannya? Apakah sudah membaik? Atau... Malah makin buruk?" Tanya Joy datar tanpa berniat menatap seseorang yang baru datang itu.

Gavin segera menarik kursi lalu duduk. Ia segera memberikan kode kepada para pengawal untuk meninggalkannya berdua dengan Joy.

Mereka meninggalkan ruangan dengan sangat hati-hati. Sehingga tak ada suara bising yang terdengar dari langkah mereka.

"Kau menuduhku? Jangan kurang ngajar!" Ucapnya tegas seraya menatap Joy dengan tatapan tajam seolah ingin memangsanya.

Joy membalas tatapan tajam dengan tatapan yang malas. Hatinya tak gentar, ia terlihat tidak takut sama sekali.

 "Kalau saja kau tidak seperti ini... Mungkin dia tidak akan berakhir di rumah sakit jiwa!"

Syutt!

Gavin segera melemparkan pisau dengan kecepatan yang luar biasa. Benda tajam itu hampir mengenai matanya. Kalau saja dia tidak cepat bereaksi, mungkin bukan pipinya yang terluka melainkan matanya.

Tang!

Setelah berhasil menggores pipinya Joy, pisau itu jatuh ke lantai. Seketika suara nyaring dari pisau menggema di ruangan yang hening ini.

"Kau harus hormat kepada orang tua! Terlebih ibumu! Jangan memanggilnya seolah-olah dia adalah orang asing!" Ucap Gavin tegas.

Gavin segera mengambil rendang dan mulai memakannya. Ia makan dengan sangat tenang seolah-olah kejadian tadi itu tidak pernah ada.

Joy menatap Gavin dengan tatapan yang sulit diartikan, matanya seolah-olah menyimpan luka yang sangat dalam dan menusuk.Bibirnya seakan kaku, namun ia tetap berusaha untuk berbicara.

"Apakah kalian pantas?"

Pertanyaan itu kembali membuat Gavin emosi. Ia segera menghempaskan alas meja dengan kuat. Sehingga makanan yang berada di atasnya ikut melayang dan jatuh.

Krakk! Krakk! Ting!

Suara peralatan makan yang jatuh itu menimbulkan suara yang lebih keras dari suara pisau tadi.

 Setelah suara itu mereda, kini ruangan kembali hening. Suasananya pun berubah drastis. Gavin terlihat lebih dingin dan menyeramkan.

Pria itu segera melompat dengan cepat ke meja yang diatasnya sudah tidak ada makanan.

Melihat Gavin yang sedang mengamuk tidak membuat Joy merasa takut. Ia malah menatap Gavin dengan tajam dan sedikit tersenyum.

Apa yang dilakukan Joy seolah seolah sedang menurunkan harga dirinya. Baginya, rasa takut yang ditampilkan oleh seseorang membuat harga dirinya naik. Namun, bagi mereka yang terlihat biasa saja dan malah menantang seolah sedang menurunkan harga dirinya.

Dengan emosi yang tidak terbendung lagi, Gavin melompat dan menerjang tubuh Joy. Saat tubuhnya menghimpit tubuh Joy, ia segera melayangkan pukulan.

Bugh!

Bugh!

Bugh!

Bugh!

Bugh!

Setiap pukulan yang dilayangkan menimbulkan nyeri yang luar biasa. Namun, Joy sama sekali tidak menghindari pukulan itu, ia malah terlihat pasrah. Joy menerima rasa sakit yang diberikan Gavin tanpa melakukan perlawanan sedikitpun.

Tubuhnya kini sudah tak berdaya, wajahnya babak belur, hidung dan mulutnya mengeluarkan darah.

Dalam kondisi yang seperti itu, justru Joy malah tersenyum manis. Seolah-olah ia sedang baik-baik saja.

Gavin segera bangkit, ia mulai mencoba mengontrol dirinya.

Brakk!

Entah setan apa yang merasuki Gavin sehingga ia menghantam punggung Joy dengan kursi yang berat. Serangan bruntun itu membuat Joy terkapar di lantai. Akhirnya ia pun tak sadarkan diri.

"Cepat bawa anak ini ke rumah sakit! Pastikan dia mendapatkan penanganan yang terbaik!" Ucap Gavin pada seseorang di balik telepon.

Hilang sudah wajahnya yang menyeramkan tadi. Kini Gavin terlihat cemas, terbukti dengan munculnya kerutan di dahi. Nafasnya naik-turun, ia sampai tak bisa diam karena mereka lama sekali.

"Cepat! Percepat langkah kalian!" Desak Gavin pada mereka yang sedang membopong tubuh Joy.

Gavin membuka pintu mobil yang akan membawa Joy ke rumah sakit. Ia segera duduk di kursi pengemudi.

"Aku yang akan menyetir." Ucapnya dingin menjawab tatapan para pengawalnya.

Gavin menyetir mobil karena dirinya kurang percaya sama kemampuan mereka. Lagian dia adalah pembalap senior, jadi untuk sampai di rumah sakit dengan kecepatan tinggi adalah hal yang mudah baginya.

Mereka yang berada dalam mobil merasa seperti sedang bermain-main dengan nyawa, rasanya seperti berada di ujung kematian. Beberapa kali mereka hampir menabrak truk dan pembatas jalan.

Sungguh, Gavin memang sedang bercanda dengan malaikat maut sekarang.

Protes mati! tidak protes juga ikut mati!

Inilah gambaran para pengawal Gavin. Joy yang sekarat, mereka juga ikut sekarat.

Akhirnya setelah melewati perjalanan yang cukup menyayat batin, akhirnya mereka sampai ke tujuan dengan selamat.

Setelah mobil berhenti, dengan cepat Gavin membuka pintu dan menyuruh mereka untuk memindahkan tubuh Joy ke punggungnya.

Gavin berlari dengan sangat cepat menuju tempat dimana Joy akan dirawat. Setelah sampai ia segera membaringkan tubuh Joy ke atas ranjang.

"Tangani dia sebaik mungkin!" Ucap Gavin sambil mencengkram bahu sang dokter dengan kukunya yang tajam.

Tok! Tok! Tok!

Gavin terus mengetuk pintu dengan sangat keras. Ia tidak sabar mendengar kondisi anaknya.

Hal itu membuat pengawalnya saling berpandangan, mereka seakan sedang bergosip tanpa suara.

"Kalian pikir aku tidak tahu?" Ucap Gavin pelan.

Suara dingin itu membuat semua pengawal berlutut dan memohon ampun. Mereka tidak ingin nasib mereka memburuk.

"Jaga pandangan kalian! Jangan sampai pandangan itu menjadi jalan kematian!" Ucapnya dingin.

Mereka masih berlutut, tubuh mereka langsung lemas. Gavin tak pernah main-main dengan ucapannya. Anaknya saja bisa sampai separah ini, apalagi mereka yang hanya sebagai pengawal?

"Berdiri! Aku bukan Dewa yang harus kalian sembah!" Ucapnya lagi.

Walaupun dalam keadaan lemas, mereka dengan cepat melaksanakan perintah Gavin.

Gavin tidak suka ada orang yang memohon kepadanya, karena dia merasa bukan Dewa yang harus disembah. Cukup memperlihatkan rasa takut sudah cukup untuknya.

Cleck!

"Bagaimana kondisinya? Apakah sudah membaik?" Tanya Gavin kepada dokter.

"Sudah membaik, tapi... Tulang punggungnya mengalami cedera yang serius, ini akibat dari benturan yang sangat keras." Jelas sang dokter.

"Berapa lama menyembuhkannya?" Tanya Gavin dengan nada yang sedikit santai.

"Butuh waktu selama 8 Minggu. Pada masa pengobatan, pasien belum boleh melakukan aktivitas yang berat."

Penjelasan dari dokter membuatnya lengah, ia kini duduk santai di kursi sambil menunggu Joy siuman.

Namun baru 20 menit ia duduk, teleponnya berdering.

"Oke! Aku akan kesana sekarang!"

Tut! Tut! Tut!

Gavin segera menutup teleponnya. Matanya kini menatap Joy dengan lekat dan sedikit kasihan.

"Maafkan aku Joy..." Ucapnya penuh penyesalan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!