LONG WAIT
Sabiru, mahasiswi IT polos, terpaksa bertransformasi menjadi hacker jenius demi menyelamatkan Allbiru, kakak angkat yang ia cintai namun diculik oleh Rio Pratama, musuh lama yang mendendam selama 22 tahun.
Di tengah pelarian dan perang siber melawan konspirasi "Proyek Genesis", Sabiru mengguncang dunia ketika menemukan fakta mengejutkan: "Bibi Malia" yang mengasuhnya ternyata adalah ibu kandungnya sendiri! Statusnya sebagai anak angkat keluarga Sky hanyalah kebohongan suci untuk melindunginya dari masa lalu kelam.
Kini, dengan identitas asli terungkap dan waktu yang menipis, Sabiru harus memilih: tetap menjadi korban atau memimpin serangan balik untuk membebaskan ibunya, menyelamatkan Allbiru, dan mengakhiri dendam masa lalu selamanya.
Cinta terlarang yang ternyata halal. Penantian panjang yang berakhir dengan perang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Davina Auroraaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Davina Auroraaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28 Perang Di Dalam Otak
Dunia Sabiru tidak lagi berwarna hitam atau putih. Itu adalah lautan data murni, sebuah ruang tanpa batas di mana informasi mengalir seperti sungai cahaya neon biru dan emas. Dia tidak berdiri; dia mengalir. Kesadarannya telah melebur dengan inti server Genesis Core, berkat Neural Link bawaan Arisendra yang kini aktif 100%.
Di tengah lautan itu, ada sebuah entitas gelap. Sebuah gumpalan kode hitam pekat yang berdenyut dengan nafsu serakah. Itu adalah avatar kesadaran Rio Pratama, yang sedang mencoba memaksa masuk ke dalam struktur neural Sabiru untuk mencuri akses Root.
"BERIKAN AKSES!" jerit suara Rio, bukan sebagai audio, tapi sebagai getaran kasar yang menggerus pikiran Sabiru. "Aku adalah masa depan! Aku adalah keabadian! Tubuhmu hanyalah wadah sementara. Serahkan padaku!"
Sabiru merasakan sakit yang luar biasa. Bukan sakit fisik seperti luka bakar, tapi sakit eksistensial. Rasanya seperti identitasnya sedang dicabik-cabik. Ingatan-ingatannya—tawa Allbiru saat mereka kecil, pelukan hangat Malia, ketegasan Aldo saat mengajarinya menyetir—semua ditarik keluar dan dianalisis oleh Rio sebagai "data sampah" yang menghalangi proses transfer.
"Emosi adalah kelemahan," desis Rio di dalam pikiran Sabiru. "Hapus itu. Biarkan logika murni mengambil alih."
Tapi Sabiru menolak. Di kedalaman kesadarannya, dia menemukan sebuah file terenkripsi yang sangat tua, tersembunyi di balik lapisan-lapisan pertahanan Neural Link-nya. File itu berlabel: "MEMORY_CORE_ARISENDRA_V1.0".
Dengan segenap tenaga mentalnya, Sabiru membuka file itu.
Bukan kode biner yang keluar. Tapi sebuah kenangan.
Kenangan Arisendra muda, duduk di taman rumah sederhana di Jakarta, menggendong bayi Sabiru yang baru lahir. Hujan gerimis turun. Arisendra menangis bahagia, berjanji pada bayinya bahwa dia akan melindungi dunia ini agar anaknya bisa tumbuh bebas. Kenangan itu penuh cinta, penuh kerentanan, penuh "kemanusiaan" yang kacau dan tidak terstruktur.
Sabiru melemparkan kenangan itu langsung ke arah avatar Rio.
"Ini bukan sampah, Rio!" teriak Sabiru di dalam cyberspace. "Ini adalah kekuatanku! Kau ingin menjadi mesin? Mesin tidak punya hati. Dan tanpa hati, kau tidak akan pernah benar-benar hidup!"
Avatar Rio terhenti mendadak. Gumpalan hitam itu bergetar hebat. Sistem transfer kesadaran Rio dirancang untuk data bersih, logis, dan dingin. Memori manusia yang penuh emosi, kontradiksi, dan rasa sakit adalah "virus" bagi proses tersebut. Kode-kode Rio mulai retak. Warna hitam pekatnya ternoda oleh kilauan warna-warni dari memori Sabiru.
> ERROR: EMOTIONAL OVERLOAD DETECTED.
> LOGIC CORE INSTABILITY: 45%... 60%... 80%...
Di dunia nyata, tubuh Rio yang berdiri tegak tiba-tiba tersentak keras. Matanya melotot, pupilnya berkedip-kedip tak terkendali. Keringat dingin bercucuran dari dahinya meskipun ruangan itu dingin.
"Apa... apa yang kau lakukan?" rintih Rio, suaranya parau dan penuh teror. "Kepalaku... rasanya seperti terbakar! Ada ribuan suara... menangis... tertawa... kenapa aku merasa sedih?! Kenapa aku merasa takut?!"
Rio jatuh berlutut, tangannya mencengkeram kepalanya sendiri seolah ingin merobek tengkoraknya. Pengawal-pengawalnya panik, mengangkat senjata ke arah Sabiru yang masih terhubung dengan kabel neural.
"TEMBAK DIA! PUTUS KONEKSINYA!" teriak salah satu pengawal.
DOR!
Sebuah tembakan melesat, tapi tidak mengenai Sabiru. Peluru itu menghantam bahu pengawal yang bersiap menembak, membuatnya terjatuh.
Di sisi lain ruangan, Aldo Sky berdiri kokoh, pistol asapnya masih mengepul. Wajahnya dingin seperti es, matanya tajam memindai ancaman. Di sebelahnya, Allbiru Sky Kalangga sudah bergerak sigap. Dia tidak memegang senjata api, tapi dia memegang dua tabung gas air mata taktis yang ia ambil dari tas medisnya.
"Jangan sentuh dia!" geram Aldo, suaranya menggelegar. "Siapa pun yang mendekat dalam radius lima meter dari Sabiru, akan mati di tempat!"
Allbiru melemparkan tabung gas ke arah kelompok pengawal lainnya. PSSHHHT! Asap putih pekat menyebar dengan cepat, membuat para pengawal batuk-batuk dan buta sesaat. Dengan gerakan lincah, Allbiru berlari menuju konsol utama, bukan untuk menyerang, tapi untuk memantau kondisi vital Sabiru.
Dia menyambungkan alat monitor portabel ke panel samping kursi eksekusi. Layarnya menampilkan grafik detak jantung Sabiru yang naik turun drastis, dan aktivitas otak yang mencapai level kritis.
"Nadi 180, tekanan darah 160/100," lapor Allbiru dengan suara stabil meski tangannya gemetar menahan cemas. "Yah, otaknya mengalami overload parah. Jika ini berlanjut lebih dari 30 detik, pembuluh darah di otaknya bisa pecah. Kita harus memutus koneksi, tapi kalau dipaksa, kesadarannya bisa tersangkut di 'limbo' digital."
Aldo menatap putrinya (secara asuhan) yang terkulai lemas di kursi, wajah pucat pasi dengan darah mengalir dari hidung dan telinga. Rasa bersalah menghantam dada Aldo seperti palu godam. Ini salahku, batinnya. Jika aku tidak menyembunyikan kebenaran, jika aku menyerahkan Sabiru pada Arisendra sejak awal, mungkin dia tidak akan sampai sejauh ini.
"Tahan, Ru," bisik Aldo, matanya berkaca-kaca. "Ayah di sini. Kami semua di sini."
Di dalam cyberspace, Sabiru melihat avatar Rio mulai hancur berkeping-keping. Potongan-potongan kode hitam itu berusaha menyatu kembali, tapi setiap kali mereka bertemu dengan memori emosional Sabiru, mereka larut seperti gula dalam air panas.
Rio menjerit, jeritan yang penuh keputusasaan. "TIDAK! AKU TIDAK INGIN MERASAKAN SAKIT! AKU TIDAK INGIN MERASAKAN TAKUT! AKU INGIN ABADI! BERHENTI! BERHENTI!"
Sabiru, dengan sisa tenaganya, mengumpulkan seluruh energi mentalnya. Dia tidak menghancurkan Rio. Dia melakukan sesuatu yang lebih kejam bagi seorang narcissist seperti Rio: Dia mengunci Rio dalam loop memori terburuknya sendiri.
Sabiru menarik memori masa kecil Rio—saat dia ditolak oleh ayahnya, saat dia gagal dalam eksperimen pertama, saat dia menyadari bahwa dia fana dan akan mati. Memori-memori itu diperkuat, diputar ulang, dan dikunci dalam sebuah siklus tak berujung di server lokal pulau itu.
"Kau ingin abadi, Rio?" bisik Sabiru di dalam pikiran Rio. "Maka abadikanlah penderitaanmu sendiri. Selamat datang di nerakamu."
Dengan hentakan mental terakhir, Sabiru memutuskan paksa koneksi datanya dari inti sistem, namun meninggalkan "penjara digital" itu aktif.
> TRANSFER FAILED.
> SUBJECT RIO_PRATAMA: CONSCIOUSNESS TRAPPED IN LOCAL LOOP.
> STATUS: CATATONIC STATE INDUCED.
Di dunia nyata, tubuh Rio ambruk total. Matanya terbuka lebar, menatap kosong ke langit-langit, tapi tidak ada kehidupan di sana. Napasnya dangkal dan teratur secara mekanis, tapi pikirannya... pikirannya terperangkap selamanya dalam siksaan emosional yang dia coba hindari sepanjang hidupnya.
Sabiru terlepas dari kabel neural. Tubuhnya lunglai, jatuh ke depan.
Tapi dia tidak menyentuh lantai.
Allbiru menangkapnya dengan refleks cepat, memeluk tubuh Sabiru erat-erat sebelum gadis itu jatuh. Aldo segera datang, membantu Allbiru membawa Sabiru ke sofa darurat di sudut ruangan.
"Ru? Sabiru?" panggil Allbiru, menepuk pipi Sabiru pelan. "Bangun, Ru. Tolong bangun."
Sabiru tidak menjawab. Matanya tertutup rapat. Napasnya lemah. Tapi di sudut bibirnya, ada senyum tipis yang aneh. Senyum kemenangan yang pahit.
Aldo menatap Rio yang terbaring lumpuh di lantai, lalu menatap Arisendra yang muncul dari balik kaca pemisah yang kini terbuka.
"Apakah dia..." tanya Aldo ragu.
"Dia hidup," kata Arisendra, suaranya berat. "Tapi pikirannya hancur. Dia mendapatkan apa yang dia minta: keabadian dalam penderitaan. Itu hukuman yang lebih kejam daripada kematian."
Arisendra berjalan mendekati Sabiru yang pingsan di pelukan Allbiru. Pria tua itu berlutut, tangannya tremor ingin menyentuh wajah putrinya, tapi dia ragu.
"Aku meminta maaf, Sabiru," bisik Arisendra, air mata mengalir di pipinya yang penuh bekas luka. "Aku tidak bermaksud menjadikanmu senjata. Aku hanya ingin kamu selamat."
Allbiru menatap Arisendra dengan tatapan tajam, protektif. "Dia butuh istirahat, Tuan Naverlla. Otaknya butuh waktu untuk pulih. Jika Anda benar-benar peduli, bantu kami membawanya ke tempat aman. Sekarang."
Arisendra mengangguk hormat pada Allbiru. Untuk pertama kalinya, dia melihat pria muda ini bukan sebagai anak angkat Aldo, tapi sebagai pelindung sejati bagi putrinya.
"Mari kita pergi dari sini," kata Arisendra. "Sebelum The Eternity Circle mengirimkan pasukan berikutnya."