NovelToon NovelToon
ART Yang Diremehkan Itu Ternyata Pewaris Konglomerat

ART Yang Diremehkan Itu Ternyata Pewaris Konglomerat

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Crazy Rich/Konglomerat / Romansa Fantasi
Popularitas:5k
Nilai: 5
Nama Author: ThiaSulaiman

Selama dua tahun, Elara Vasiliev bekerja sebagai ART di rumah keluarga Moretti. Diam, patuh, dan selalu menerima hinaan, ia dianggap hanya wanita miskin yang tak punya harga diri. Tidak seorang pun tahu bahwa Elara menyimpan rahasia besar tentang jati dirinya.
Saat Madam Seraphina Moretti menuduhnya mencuri kalung berlian dan mengusirnya di depan semua orang, deretan mobil mewah tiba di depan gerbang mansion keluarga itu. Seorang pria tua turun, membungkuk hormat, lalu berkata,
“Nona Elara, Tuan Octavian menjemput Anda. Seluruh Vasiliev Group menunggu pewaris sahnya.”
Keluarga Moretti seketika pucat. Wanita yang selama ini mereka hina ternyata cucu tunggal pemilik kerajaan bisnis terbesar di Eropa.
Kini Elara kembali… bukan sebagai pelayan, melainkan wanita berkuasa yang siap membuat semua orang yang meremehkannya menyesal. Namun di tengah balas dendamnya, Damian Moretti—pria dingin yang dulu tak pernah membelanya—mulai mengejar cinta yang telah ia sia-siakan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ThiaSulaiman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 23 Rapat Pertama yang Mengejutkan

Pagi itu, gedung pusat Vasiliev Group terlihat lebih sibuk dari biasanya.

Para staf berjalan cepat.

Asisten keluar masuk ruang direksi sambil membawa dokumen.

Beberapa manajer bahkan sudah datang sebelum matahari benar-benar tinggi.

Karena hari ini…

Elara Vasiliev akan memimpin rapat eksekutif pertamanya secara resmi.

Bukan sebagai pewaris.

Bukan sebagai simbol keluarga.

Tapi sebagai orang yang benar-benar memegang kendali.

Dan banyak orang datang dengan satu harapan yang sama:

melihatnya gagal.

Di lantai paling atas gedung utama, ruang rapat eksekutif sudah dipenuhi beberapa direktur senior.

Harold duduk sambil menyeruput kopi dengan ekspresi dingin.

Di sebelahnya, dua direktur lain berbisik pelan.

“Apa dia benar-benar siap?”

“Kita lihat saja. Teori selalu mudah sebelum tekanan datang.”

“Anak muda terlalu cepat naik biasanya terlalu cepat jatuh.”

Mereka tertawa kecil.

Namun begitu pintu ruang rapat terbuka…

suasana langsung berubah.

Elara masuk bersama Viktor.

Langkahnya tenang.

Tatapannya lurus.

Tak ada usaha untuk terlihat mengintimidasi.

Namun entah kenapa, kehadirannya membuat percakapan langsung mati.

Ia duduk di kursi utama tanpa banyak bicara.

Posisi yang dulu bahkan tidak mungkin ia sentuh.

Viktor membagikan dokumen rapat.

“Agenda hari ini mencakup restrukturisasi operasional, evaluasi proyek pelabuhan timur, dan laporan internal divisi investasi.”

Harold mengangkat alis.

“Langsung tiga agenda besar?”

Elara membuka mapnya.

“Kalau masalahnya besar, waktunya tidak boleh kecil.”

Jawaban singkat itu membuat beberapa orang langsung diam.

Rapat dimulai.

Direktur investasi mulai menjelaskan laporan kuartal.

Awalnya semua berjalan normal.

Sampai Elara tiba-tiba memotong.

“Slide keempat.”

Pria itu berhenti.

“Maaf?”

“Slide keempat. Kembali.”

Ruangan sedikit bingung.

Slide ditampilkan kembali.

Grafik keuntungan regional muncul di layar besar.

Elara menatap beberapa detik.

Lalu berkata tenang,

“Angka ini dimanipulasi.”

Sunyi.

Seluruh ruangan langsung menoleh.

Direktur investasi tertawa kecil.

“Maaf?”

“Keuntungan cabang utara dinaikkan.”

Pria itu mulai terlihat tegang.

“Itu tuduhan serius.”

Elara mengangguk.

“Karena saya tidak suka membuat tuduhan ringan.”

Ia berdiri.

Berjalan mendekati layar.

“Pengeluaran distribusi sengaja dipindahkan ke kuartal berikutnya agar laporan terlihat stabil.”

Ruangan mulai gaduh.

“Itu tidak benar!”

“Benarkah?”

Elara menoleh pada Viktor.

Dokumen baru langsung dibagikan.

Data internal.

Transfer biaya.

Tanggal.

Persetujuan digital.

Lengkap.

Dan nama direktur investasi itu muncul di beberapa dokumen.

Wajah pria itu langsung berubah pucat.

Harold menatap tajam.

“Dari mana Anda mendapatkan data ini?”

Elara menjawab tanpa ragu.

“Dari sistem perusahaan yang seharusnya kalian awasi.”

Tak ada yang bicara.

Karena tidak ada yang menyangka…

Elara sudah memeriksa sedalam itu.

Direktur investasi mencoba bangkit.

“Ini hanya penyesuaian laporan!”

“Manipulasi tetap manipulasi,” kata Elara dingin.

“Kami hanya menjaga stabilitas pasar!”

“Elara menatap lurus.”

“Kalau perusahaan harus berbohong untuk terlihat stabil…”

ia berhenti sejenak,

“…berarti perusahaan itu sudah mulai rapuh.”

Suasana semakin tegang.

Salah satu direktur senior akhirnya bicara.

“Kalau Anda membuka ini sekarang, harga saham bisa terguncang.”

Elara kembali duduk.

“Kita tidak sedang membangun sandiwara.”

“Tapi pasar—”

“Pasar lebih memaafkan kesalahan daripada kebohongan.”

Jawaban itu membuat ruangan kembali sunyi.

Harold mulai menyadari sesuatu.

Wanita ini berbahaya.

Bukan karena emosinya.

Tapi karena ketenangannya.

Orang emosional masih bisa dipancing.

Tapi Elara…

terlalu sulit dibaca.

Direktur investasi mulai kehilangan kendali.

“Anda belum cukup lama di sini untuk mengerti cara kerja dunia bisnis!”

Elara menatapnya beberapa detik.

Lalu berkata pelan,

“Dan Anda sudah terlalu lama di sini sampai lupa bedanya strategi dan kecurangan.”

Pria itu membanting meja.

“Ini penghinaan!”

“Tidak,” jawab Elara tenang.

“Ini rapat.”

Cassian yang sejak tadi diam akhirnya tersenyum kecil.

“Menarik.”

Harold langsung menoleh kesal.

“Kau menikmati ini?”

Cassian menyandarkan tubuh santai.

“Sudah lama rapat di perusahaan ini tidak hidup.”

Elara membuka dokumen berikutnya.

“Mulai hari ini, semua laporan keuangan akan diaudit ulang oleh tim independen.”

Ruangan langsung ricuh.

“Mustahil!”

“Itu akan memperlambat proyek!”

“Karyawan bisa panik!”

Elara membiarkan mereka bicara.

Satu menit.

Dua menit.

Lalu—

ia mengetuk meja sekali.

Tidak keras.

Tapi cukup membuat ruangan diam.

“Kalau transparansi membuat kalian panik…”

tatapannya menyapu seluruh ruangan,

“…mungkin masalahnya memang lebih besar dari yang saya kira.”

Tak ada yang bisa menjawab.

Rapat belum selesai.

Dan suasana sudah seperti medan perang.

Viktor bahkan mulai memahami kenapa Octavian memilih Elara.

Karena wanita itu tidak hanya pintar.

Ia berani menyentuh bagian yang selama ini dihindari semua orang.

Harold akhirnya berdiri.

“Saya keberatan.”

Elara menatapnya.

“Atas audit?”

“Atas cara Anda memimpin.”

Ruangan langsung menegang lagi.

Harold melanjutkan,

“Perusahaan besar tidak dijalankan dengan membongkar semua masalah sekaligus.”

“Elara diam.”

“Anda terlalu agresif.”

Kini beberapa direksi mulai mengangguk setuju.

Akhirnya.

Mereka menemukan celah untuk menyerang balik.

Namun Elara justru tersenyum tipis.

“Bagus.”

Harold mengernyit.

“Bagus?”

“Artinya Anda mulai jujur.”

Ia menyilangkan tangan.

“Bukan audit yang membuat Anda marah.”

Tatapannya tajam.

“Bukan manipulasi data yang mengganggu Anda.”

Ruangan terasa semakin dingin.

“Anda hanya takut sistem lama mulai kehilangan perlindungan.”

Sunyi.

Telak.

Sangat telak.

Harold menatapnya dengan wajah keras.

“Kau pikir bisa membersihkan semuanya sendirian?”

Elara menjawab tenang,

“Saya tidak tertarik membersihkan semuanya.”

“Lalu?”

“Saya hanya ingin memastikan…”

ia berhenti sejenak,

“…orang-orang yang merusaknya tidak lagi nyaman.”

Kalimat itu membuat bahkan beberapa staf di belakang ruangan ikut merinding.

Rapat berlanjut hampir tiga jam.

Tegang.

Panas.

Penuh benturan.

Namun perlahan…

arah ruangan mulai berubah.

Beberapa direktur yang awalnya diam mulai mendukung audit.

Beberapa mulai membuka data tambahan.

Dan untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun…

ruang rapat itu benar-benar membahas masalah nyata.

Bukan sekadar formalitas.

Saat rapat hampir selesai, pintu ruang tiba-tiba terbuka.

Semua menoleh.

Octavian masuk.

Pria tua itu berjalan perlahan dengan tongkatnya.

Tatapannya menyapu ruangan.

“Lanjutkan,” katanya pendek.

Tak ada yang berani bicara.

Octavian duduk di kursi utama.

Lalu menatap satu per satu anggota direksi.

“Saya mendengar suara kalian sampai luar.”

Tak ada yang menjawab.

Pria tua itu lalu berkata,

“Bagus.”

Beberapa terlihat bingung.

“Perusahaan yang rapatnya terlalu tenang…”

tatapannya tajam,

“…biasanya penuh kebohongan.”

Ruangan langsung diam total.

Octavian menoleh pada Elara.

“Kau mengejutkan mereka.”

Elara menjawab tenang,

“Mereka hanya tidak terbiasa mendengar jawaban yang tidak aman.”

Sudut bibir Cassian terangkat.

Bahkan Harold tak bisa menyangkalnya.

Sebelum rapat ditutup, Octavian berkata satu kalimat yang langsung mengubah suasana:

“Mulai hari ini, keputusan audit berada di bawah kendali Elara penuh.”

Beberapa direksi langsung pucat.

Harold membeku.

Direktur investasi terlihat seperti kehilangan napas.

Karena itu artinya…

Elara kini punya kekuasaan nyata untuk membongkar semuanya.

Rapat akhirnya selesai.

Satu per satu orang keluar dengan wajah tegang.

Tak ada lagi yang menganggap Elara sekadar simbol keluarga.

Hari ini…

ia baru saja mengguncang seluruh struktur lama.

Di koridor luar, Viktor berjalan di sampingnya.

“Anda sadar setengah ruangan membenci Anda sekarang?”

Elara tersenyum kecil.

“Berarti setengahnya lagi mulai takut.”

“Anda menikmatinya?”

“Elara berhenti berjalan.”

Lalu berkata pelan,

“Tidak.”

Tatapannya lurus ke depan.

“Tapi kalau mereka nyaman…”

ia menarik napas pelan,

“…maka tidak ada yang berubah.”

Di sisi lain kota, Damian sedang menghadiri pertemuan investor ketika asistennya mendekat.

“Tuan, ada berita dari Vasiliev Group.”

Damian menerima tablet.

Judul berita bisnis langsung terpampang besar:

ELARA VASILIEV GUNCANG RAPAT DIREKSI PERTAMA

Ia membaca cepat.

Audit besar.

Manipulasi laporan.

Direktur senior ditekan.

Ruangan gaduh.

Dan satu kalimat yang dikutip media membuat Damian diam cukup lama:

“Pasar lebih memaafkan kesalahan daripada kebohongan.”

Damian tersenyum tipis.

Itu terdengar seperti Elara.

Tenang.

Namun menghantam tepat sasaran.

Investor di depannya bertanya,

“Ada masalah?”

Damian menutup tablet perlahan.

“Tidak.”

Tatapannya kembali pada layar hitam tablet itu beberapa detik.

“Justru seseorang akhirnya mulai memperbaiki masalah.”

Malam harinya, Elara berdiri sendirian di balkon kantor pusat.

Lampu kota menyala di bawahnya.

Hari ini ia memenangkan rapat.

Namun ia tahu…

itu baru permulaan.

Karena semakin banyak yang ia bongkar—

semakin banyak musuh yang akan muncul.

Dan jauh di dalam gedung yang mulai sunyi itu…

ada orang-orang yang sudah mulai merencanakan cara menjatuhkannya.

1
Noey Aprilia
Msih aja iri.... orng kl udh biasa jd psat prhtian,trs tiba2 d acuhkn psti mkin bnci....pdhl kn dia sndri yg slah.....
Noey Aprilia
Mga aja elara udh mnyiapkn blsan buat spa aja yg mngusiknya,kli nu jgn ksih ampun.....bsmi smp k akarnya biar ga tmbuh lg s msa dpn...
Himna Mohamad
notif yg ditunggu2
Noey Aprilia
Yg koar2 emng biasanya krna ktakutan,yg diam jstru lbh brbhya...
tu nnek lmpir blm kapok jg rupanya,stlh dlu ftnah elara skrng pun mlkukn hal yg sma....tp syangnya dia bkln apes kali ni....tnggu aja blasannya....
Noey Aprilia
Mngkn krna dia trbiasa brkuasa,saat sprti itu pun blm jg sdar....mskpn kl dia dtng buat mnta maaf sm elara,blm tntu jg d maafkn...tp mnimal dia tau lh apa kslahnnya....ni mlah mkin dndam.....cckk....
Noey Aprilia
Apa lg yg lbih mnyiksa slain pnyesalan yg trlambat....dan damian sdng mrsakannya.....so,slmt mnkmti....
Noey Aprilia
Mkin d rgukan,elara mkin smngt.....
biarlh wktu yg mmbuktikn sglanya,kl dia bnr2 mmpu jd pmimpin.....smngtttt....
Nurhartiningsih
seru
Noey Aprilia
Dlu elara bkrja krna pelarian,skrng smua orng brgntung sm dia......tp ykin bgt kl dia bkln jd pmimpin yg tgas dn sukses d msa dpn.....
Himna Mohamad
lanjut kk
Istia Ningsih
luar biasah
Istia Ningsih
terimakasih 😍🙏
Himna Mohamad
ditunggu notifnya kk
Istia Ningsih: siaaapp
total 1 replies
Noey Aprilia
Ank orng kya mnja,trnyta jd pncuri d rmhnya sndri.....alasannya btuh uang,plus cmburu.....jdilh elara yg jd krban....glirn fkta trungkap,nyesel brjmaah.....🙄🙄🙄
Noey Aprilia
Hmmmm......
jd pnsran....sbnrnya elara ada prsaan ga y sm damian????mskpn dia psti kcewa sih sm skpnya dlu yg sllu diam,tp htinya spa yg tau.....
Istia Ningsih: tetappp semangaat tungguin updatenya
total 1 replies
Himna Mohamad
lanjut kk
Noey Aprilia
Bgtulh mnusia.....
kl udh tau spa dia sbnrnya,bru mrsa brslah dn mnyesal....dlu kmna aja wooyyyyy.... 🙄🙄🙄
Himna Mohamad
kereeen kk👍👍👍👍👍
Istia Ningsih: alhamdulillah masya allah terimakasih
total 1 replies
Himna Mohamad
lanjut kk
Istia Ningsih: siap siap
total 1 replies
Noey Aprilia
Brsa lngsng kna tikam,tepat d jntung....mngkn bntr lg bkln ada yg pingsan.....😛😛😛
Istia Ningsih: nacep bner yaa kaa
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!