"Hanya karena aku miskin, kau membuangku seperti sampah?"
Andra, seorang kurir yang bekerja keras 14 jam sehari, baru saja diusir dari kontrakannya dan diputuskan oleh kekasihnya demi pria bermobil mewah. Namun, di saat titik terendah hidupnya, sebuah suara mekanis bergema di kepalanya:
[Ding! Sistem Saldo Tak Terbatas Diaktifkan!]
[Level 1: Menghasilkan Rp 1.000 setiap detik secara otomatis.]
[Saldo saat ini: Rp 1.000... Rp 2.000...]
Dalam satu menit, ia mendapatkan Rp 60.000. Dalam satu jam, jutaan rupiah masuk ke rekeningnya tanpa melakukan apa pun. Dunia yang dulu menghinanya kini harus bersiap. Siapa pun yang pernah memandangnya rendah akan bersujud di bawah kakinya.
Bagi Andra, satu-satunya masalah sekarang bukan lagi cara mencari uang, tapi bagaimana cara menghabiskannya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ruang_Magenta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14: Menjadi Sang Arsitek Dunia
Andra berdiri di atas balkon sebuah vila pribadi yang bertengger di tebing Danau Jenewa. Pemandangan air yang tenang dan biru itu seharusnya memberikan kedamaian, namun pikiran Andra sedang bergerak secepat jutaan transaksi perbankan yang ia kendalikan. Di telinganya, suara sistem tidak lagi berdenting, melainkan bergema dengan nada yang lebih dalam dan berat, menandakan ia hampir mencapai evolusi akhir.
[Status: World Monitor (Level 5)] [Saldo Berjalan: Rp 120.450.000.000.000... Rp 120.455.500.000...] [Peringatan: Inang telah menguasai 40% likuiditas pasar Eropa. Target akhir: Bank Sentral Global.]
"Tuan," Sang Jagal mendekat dengan langkah hati-hati. Wajah pria garang itu kini dipenuhi kekaguman yang bercampur rasa takut. "Para menteri keuangan dari tujuh negara besar sudah berkumpul di ruang konferensi bawah tanah. Mereka panik. Mata uang mereka mulai mengalami devaluasi secara misterius sejak Anda mulai menekan pasar pagi ini."
Andra tidak berbalik. Ia tetap menatap cakrawala. "Mereka panik karena mereka mengira ini adalah krisis ekonomi biasa. Mereka tidak tahu bahwa ini adalah proses pengambilalihan. Uang bukan lagi sekadar alat tukar, Jagal. Uang adalah bahasa yang aku ciptakan."
Andra melangkah masuk ke ruang konferensi yang telah disulap menjadi pusat kendali teknologi tinggi. Di layar raksasa, grafik bursa efek dunia tampak seperti detak jantung yang sedang mengalami aritmia. Garis-garis merah menurun tajam, sementara garis emas—yang mewakili aset pribadi Andra—melonjak tegak lurus ke atas.
"Sistem, aktifkan Protokol 'Sovereign Debt Buyout'," perintah Andra dingin.
[Ding! Menjalankan Pembelian Hutang Negara Skala Besar.] [Negara Target: 12 Negara Maju dengan Rasio Hutang Tertinggi.] [Status: 65% Hutang Dunia kini berada di bawah kendali tunggal Inang.]
"Selesai," bisik Andra.
Dengan satu kalimat itu, ia baru saja menjadi "pemilik" dari negara-negara tersebut. Tanpa perlu meluncurkan satu peluru pun, ia telah menaklukkan mereka melalui angka-angka di layar. Para pemimpin dunia itu kini tidak lebih dari sekadar penyewa di tanah mereka sendiri, dan Andra adalah tuan tanahnya.
Tiba-tiba, layar hologram utama berkedip. Wajah Baron von Rothschild muncul, namun kali ini ia tidak duduk di meja makan yang mewah. Ia tampak berada di sebuah bunker rahasia, wajahnya terlihat sepuluh tahun lebih tua.
"Andra... apa yang kamu lakukan?!" suara Baron bergetar. "Kamu menghancurkan sistem yang sudah kami bangun selama tiga ratus tahun! Jika kamu menarik likuiditas ini, seluruh peradaban akan runtuh! Orang-orang akan kelaparan di jalanan!"
"Sistem kalian sudah usang, Baron," jawab Andra sambil duduk di kursi kebesarannya. "Kalian membangun kekayaan di atas penderitaan orang lain, termasuk aku. Kalian menciptakan kemiskinan agar kalian bisa terlihat kaya. Sekarang, aku akan mengganti sistem itu dengan sistemku sendiri."
"Kamu ingin menjadi diktator?!"
"Bukan," sela Andra. "Aku ingin menjadi Arsitek. Aku akan menghapus inflasi, aku akan menghapus bunga bank yang menjerat orang miskin, dan aku akan memastikan setiap detik nyawa manusia memiliki nilai yang nyata, sama seperti sistem yang memberiku kekuatan ini."
Andra memutuskan sambungan secara sepihak. Ia tidak butuh nasihat dari orang-orang yang hampir ia singkirkan.
"Sistem, lakukan langkah terakhir," perintahnya. "Satukan seluruh peredaran uang dunia ke dalam satu blockchain yang aku kendalikan secara absolut. Berikan setiap orang di bumi pendapatan dasar yang adil, tapi cabut semua akses bagi mereka yang pernah menyalahgunakan kekuasaan."
[Ding! Memulai Integrasi Global...] [Peringatan: Proses ini akan menghabiskan 90% saldo Inang saat ini.]
"Lakukan saja," jawab Andra tanpa ragu. "Uang hanyalah angka. Kekuasaan untuk mengubah dunia adalah tujuannya."
[Proses Integrasi: 10%... 45%... 80%...]
Seketika, seluruh perangkat elektronik di dunia—mulai dari ponsel di Jakarta hingga papan iklan di Times Square—menampilkan satu simbol yang sama: Huruf "A" emas di dalam lingkaran hitam. Seluruh kartu kredit tidak bisa digunakan, seluruh mesin ATM mengeluarkan struk bertuliskan: "Zaman Lama Telah Berakhir. Tuan Tanah Baru Telah Tiba."
Di sebuah sudut Jakarta yang kumuh, Siska dan Erwin yang kini hidup sebagai pemulung plastik, menatap layar televisi rusak di sebuah warung. Mereka melihat wajah Andra terpampang di sana, bukan sebagai kurir, melainkan sebagai sosok yang kini disebut sebagai "Pemilik Dunia".
Erwin jatuh terduduk di tumpukan sampah, menangis meraung-raung. Siska hanya bisa diam mematung, menyadari bahwa pria yang dulu ia ludahi karena tidak bisa membeli sepatu mahal, kini adalah pria yang menentukan apakah ia bisa makan besok atau tidak. Penyesalan mereka sudah mencapai tahap di mana kematian pun terasa lebih manis daripada kenyataan ini.
Andra di Swiss memejamkan matanya saat sistem mengeluarkan suara final yang sangat merdu.
[Ding! Evolusi Selesai!] [Status Baru: THE SUPREME ENTITY.] [Saldo: UNLIMITED.] [Selamat\, Tuan Andra. Anda adalah Dewa di Dunia Baru ini.]
Andra berdiri dan berjalan menuju jendela. Ia melihat matahari terbenam dengan warna yang luar biasa indah. Ia bukan lagi Andra sang kurir, bukan lagi Andra sang pengusaha. Ia adalah pusat dari segalanya.
"Jagal," panggil Andra pelan.
"Iya, Tuan Agung?" Sang Jagal kini bersujud, benar-benar tunduk pada aura yang dipancarkan Andra.
"Pastikan Siska dan Erwin melihat ini setiap hari melalui layar-layar besar di kota. Aku ingin mereka hidup selamanya hanya untuk menyaksikan kejayaanku yang tidak akan pernah berakhir."
"Perintah dilaksanakan, Tuan."
Andra tersenyum. Neraka yang pernah ia lalui telah ia ubah menjadi surga pribadinya. Dan di surga ini, hanya ada satu hukum: Andra adalah Segalanya.