Satria tidak pernah meminta hidup yang mudah.*
> *Ia hanya ingin satu hal sederhana: dicintai dan dihargai.*
> *Tapi di hari ia datang melamar perempuan yang ia cintai,*
> *yang ia dapat bukan jawaban…*
> *melainkan ludah di kakinya dan tawa yang merobek harga dirinya.*
>
> *Dari situlah semuanya dimulai.*
> *Ia bangkit. Membangun hidup dari nol dengan gerobak cilok dan tangan yang kapalan.*
> *Sampai akhirnya ia bertemu perempuan yang ia kira adalah jawaban dari doanya.*
> *Ternyata… itu awal dari penjara.*
>
> *Enam tahun hidup dalam hinaan.*
> *Enam tahun menahan luka yang tidak terlihat.*
> *Enam tahun bertahan — bukan karena kuat,*
> *tapi karena ada satu anak kecil yang setiap hari berkata:*
> *"Ayah jangan sedih… Aini sayang Ayah."*
>
> *Karena pada akhirnya, bukan soal seberapa lama kita bertahan —*
> *tapi untuk siapa kita memilih untuk tetap hidup.*
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Widianti dia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23. Teras Dan Rokok.
Malam itu aku duduk di teras.
Tidak ada alasan khusus kenapa di teras dan bukan di dalam. Cuma di dalam itu sesak. Di dalam ada suara televisi Bimo yang keras dan ada Nirmala yang tidak melihatku dan ada dinding-dinding yang terlalu dekat satu sama lain.
Di teras setidaknya ada langit.
Pipi kiriku masih berdenyut. Sudah aku lihat di kaca kamar mandi tadi, birunya sudah keluar dengan bagus sekali, ungu kebiruan yang tidak bisa disembunyikan besok kalau ada yang mau iseng bertanya.
Ponselku bergetar di tangan.
Imam.
Aku angkat video call-nya. Layar ponselku retak di pojok kiri atas jadi wajah Imam sedikit terpotong di sana, tapi masih kelihatan jelas.
"Bro." Imam langsung menatapku. Satu detik. "Muka lo kenapa anjrit?"
Aku sudah siap.
"Kejedot."
"Kejedot apaan?"
"Anu... pintu. Gue lagi buru-buru tadi, gak lihat, kejedot kusen."
Imam diam.
Menatapku dengan cara yang aku kenal dari dua puluh tahun pertemanan. Cara yang bilang dia tidak percaya tapi sedang menimbang apakah akan memaksa atau tidak.
"Lo beneran baik-baik aja?"
"Gue baik-baik aja, Man. Cuma capek. Pandemi ini berat, lo tau sendiri kan."
"Tria."
"Apa."
"Lo bisa cerita kalau ada apa-apa."
"Iya gue tau." Aku tersenyum. Senyum yang aku tidak tahu seperti apa kelihatannya dari layar retak di sisinya, tapi aku usahakan biasa. "Gak ada apa-apa. Serius."
Imam menatapku beberapa detik lagi.
Lalu mengangguk pelan. "Oke. Kalau lo butuh apa-apa kabarin gue ya."
"Iya."
Panggilan ditutup.
Aku menatap layar yang kembali gelap.
Di dalam dadaku ada sesuatu yang hampir keluar waktu Imam bilang "lo bisa cerita." Hampir. Sudah sampai di tenggorokan, sudah mau terbentuk jadi kata-kata, sudah mau bilang: Man, tolong. Aku tenggelam. Aku tidak tahu sampai kapan aku bisa tahan ini. Tadi anak gue hampir mati, pipi gue dipukul sampai biru, dan gue duduk di teras sendiri karena di dalam gue gak punya tempat.
Tapi tidak jadi.
Malu. Atau bukan malu, lebih ke... takut. Takut kalau diucapkan jadi nyata dengan cara yang berbeda. Takut kelihatan lemah. Padahal lemah. Sudah lama lemah, cuma belum ada yang tahu.
Aku memasukkan ponsel ke saku.
Di saku satunya ada sebungkus rokok.
Kebiasaan baru yang mulai aku bangun diam-diam sejak beberapa bulan lalu. Bukan karena ingin. Tapi karena ada momen-momen tertentu di mana tubuh ini butuh sesuatu untuk dipegang, sesuatu yang memberi alasan untuk diam sebentar, untuk keluar sebentar, untuk bernapas meskipun cara bernapasnya salah.
Aku nyalakan satu.
Asapnya keluar pelan ke udara malam.
Bukan kebanggaan. Aku tahu Bapak tidak akan suka kalau tahu. Aku tahu Ibu akan langsung menegur. Tapi mereka tidak di sini malam ini, dan di teras ini tidak ada yang menegur, tidak ada yang melihat, tidak ada yang peduli.
Itu yang paling menyedihkan sebetulnya.
Tidak ada yang peduli.
Pintu depan terbuka.
Nirmala keluar dengan ekspresi yang sudah aku kenali polanya dari jauh sebelum dia membuka mulut. Ada sesuatu yang mau diminta. Aku bisa tahu dari cara dia berdiri, dari cara tangannya memegang ponsel agak lebih erat dari biasanya.
"Lo belum tidur?"
"Belum."
Dia duduk di kursi plastik di sebelahku. Tidak karena mau menemani. Lebih ke karena membutuhkan posisi yang setara untuk bilang sesuatu yang sudah disiapkan.
"Gue mau Wida masuk SMP swasta."
Aku tidak langsung menjawab. Menunggu kalimat berikutnya.
"Yang di Jalan Sudirman itu. Yang ada seragam pramuka warnanya beda. Temen-temennya pada daftar sana."
"Berapa biayanya?"
"Dua juta lebih. Sekarang lagi buka pendaftaran, harus bayar uang pangkal sebelum minggu depan."
Aku mematikan rokok di tepi pot bunga yang sudah lama tidak berisi tanaman.
"Nir." Aku bicara pelan. "Wida bisa masuk SMP negeri. Gratis. Pemerintah ada program, tidak ada uang pangkal, tidak ada SPP, dan kualitasnya—"
"Sekolah negeri?"
Nada itu.
"Iya. Kualitasnya tidak kalah, banyak yang—"
"Lo ngomongin serius?" Nirmala menatapku. "Sekolah negeri itu levelnya beda. Gue gak mau Wida sama anak-anak yang gak jelas."
"Ini bukan soal level, Nir. Ini soal bagaimana anak belajar. Lingkungan yang baik bisa ada di mana saja, tidak harus mahal. Yang penting gurunya, metodenya, pergaulannya—"
"Pergaulan." Dia mengulang kata itu dengan nada yang aku tidak suka. "Lo pikir gue mau anak gue bergaul sama anak-anak pasar?"
"Wida bukan lebih tinggi dari anak-anak lain hanya karena sekolahnya mahal."
"Anak gue berhak yang terbaik."
"Sekolah negeri bukan yang terburuk. Dan dua juta sekarang, mendadak, Nir, aku tidak punya itu sekarang. Pandemi baru selesai, tabungan habis, aku baru mulai—"
"KALO LO GAK SANGGUP BILANG AJA SIALAN."
Suaranya meledak ke udara malam yang tadi sunyi.
Dari dalam rumah, ada suara Bimo yang bergumam sesuatu, mungkin terbangun, mungkin mendengar.
Aku tidak menjawab.
Duduk di kursi plastik itu, menatap taman kecil di depan rumah yang sudah lama tidak diurus, rerumputan yang tumbuh sendiri karena tidak ada yang ingat untuk memotong.
"Dua juta," kata Nirmala lagi, lebih rendah tapi tidak lebih lembut. "Minggu depan."
Dia berdiri. Masuk ke dalam. Pintu ditutup.
Aku sendiri lagi di teras.
Malam, udara, dan sisa asap rokok yang sudah mati.
Dua juta mendadak. Dari mana. Dari hasil jualan yang baru mulai pulih. Dari sisa yang ada setelah bayar ini itu. Dari tangan yang sudah kapalan dari menguleni adonan jam tiga pagi di teras dalam dingin karena tidak boleh berisik di dalam.
Aku mengambil rokok kedua.
Tidak langsung menyalakannya. Cuma memegangnya. Merasakan tekstur kertasnya di antara jari telunjuk dan jari tengah.
Di dalam kamar, Aini sedang tidur.
Dengan lehernya yang tadi merah bekas cekikan. Dengan napas yang tadi megap-megap seperti ikan yang diangkat dari air. Dengan tubuh kecilnya yang tadi lunglai di dadaku dan aku hampir kehilangan segalanya dalam satu momen yang tidak ada yang mau mengakui betapa seriusnya.
Tidak ada yang bilang maaf hari ini.
Tidak Wida. Tidak Bimo. Tidak Nirmala.
Tidak ada.
Aku menyalakan rokok itu.
Asapnya naik ke udara malam yang diam, lurus, sampai angin kecil membelokkannya ke kanan dan lenyap.
Di dalam dadaku ada sesuatu yang sangat lelah.
Bukan lelah yang bisa sembuh dengan tidur. Lelah yang sudah terlalu dalam, yang sudah meresap ke tempat-tempat yang tidak bisa dijangkau dengan istirahat biasa.
Tapi besok masih ada adonan yang harus diuleni.
Masih ada gerobak yang harus didorong.
Masih ada Aini yang pagi-pagi akan bangun dan mencari wajahku.
Jadi aku duduk di teras itu sampai rokoknya habis.
Lalu masuk.
Lalu tidur.
Seperti biasa.
pesan buat author tetap berkarya jangan buat lelaki lemah.. lelaki harus istiqomah dan kuat pentingkan perasaaan sendiri bukan orang lain