Di jantung kota Sisilia yang kelam, Kaivan Vittorio, sang "Re Re Nero" (Raja Hitam) yang memimpin sindikat mafia paling ditakuti di Italia, hidup dalam bayang-bayang dendam masa lalu. Ia dingin, kejam, dan tidak percaya pada hal tak kasat mata. Namun, wibawanya runtuh seketika saat ia bertemu Gendis, gadis asal Indonesia yang sedang bepergian ala backpacker ke Italia.
Gendis bukan gadis biasa; dia adalah indigo "semprul" yang hobi memarahi hantu penunggu kastil Kaivan karena berisik saat ia sedang makan mi instan. Pertemuan mereka dimulai dari salah paham maut: Gendis mengira Kaivan adalah cosplayer "om-om galak" dan menawari jasa pembersihan aura karena melihat ribuan arwah korban Kaivan sedang mengantre minta maaf. Di balik komedi situasi yang absurd, ada benang merah dendam yang ternyata menyatukan masa lalu keluarga mereka. Kaivan yang terbiasa memegang senjata, kini harus belajar memegang kemenyan dan sabar menghadapi tingkah ajaib Gendis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ry_chan04, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ciuman Pertama yang Mengejutkan
Suasana di balkon utama mansion Vittorio malam itu terasa sangat berbeda. Hujan baru saja reda, menyisakan aroma tanah basah dan kesegaran dari kebun zaitun yang tertiup angin malam. Ketegangan setelah serentetan serangan gaib dan diplomasi antar geng seolah menguap, digantikan oleh kesunyian yang intim.
Gendis berdiri di tepi balkon, menyandarkan sikunya pada pagar marmer yang dingin. Ia mengenakan piyama satin pemberian Kaivan—yang meskipun bukan daster batik kesayangannya, terasa sangat lembut di kulit. Matanya menatap kejauhan, ke arah lampu-lampu kota Palermo yang berkelap-kelip seperti taburan berlian di atas kain beludru hitam.
"Belum tidur?" suara berat itu memecah kesunyian.
Kaivan melangkah mendekat. Ia sudah melepaskan jas dan dasinya. Kemeja putihnya dibiarkan terbuka di bagian kerah, dan lengan kemejanya digulung hingga siku. Penampilannya malam ini tidak terlihat seperti seorang Don yang ditakuti, melainkan seperti pria biasa yang sedang membawa beban berat di pundaknya.
"Lagi liat 'mereka', Kak," jawab Gendis tanpa menoleh. "Malam ini mereka tenang banget. Nggak ada yang teriak, nggak ada yang minta tolong. Cuma ada arwah sepasang kekasih tua yang lagi berdansa di bawah pohon zaitun itu."
Kaivan berdiri di samping Gendis, ikut menatap ke arah kegelapan taman. Ia tidak melihat apa pun, tapi ia bisa merasakan kedamaian yang dibicarakan Gendis. "Mungkin mereka tahu kalau malam ini adalah malam yang aman."
Kaivan memutar tubuhnya, menatap profil samping wajah Gendis. Di bawah cahaya bulan sabit, kulit Gendis tampak bercahaya. Ada sesuatu yang berbeda malam ini. Tidak ada kacamata batin, tidak ada sapu lidi, tidak ada bau kemenyan. Yang ada hanyalah Gendis—gadis polos dari Timur yang telah menjungkirbalikkan hidupnya.
"Gendis," panggil Kaivan lembut.
Gendis menoleh, matanya yang besar dan jernih bertemu dengan mata abu-abu Kaivan yang tajam namun penuh kerinduan. "Ya, Kak?"
"Terima kasih sudah tetap di sini. Setelah semua kegilaan ini... setelah melihat sisi gelapku, sisi masa laluku, dan bahaya yang mengikutiku... kau tidak pergi."
Gendis tersenyum tipis, sebuah senyuman yang membuat jantung Kaivan berdegup lebih kencang dari saat ia berada di tengah baku tembak. "Saya kan sudah bilang, Kak. Saya ini 'lem' buat Kakak. Kalau saya pergi, nanti Kakak hancur berantakan siapa yang mau mungutin?"
Kaivan tertawa kecil, namun matanya tidak lepas dari bibir Gendis yang kemerahan. Keheningan kembali menyelimuti mereka, tapi kali ini terasa lebih berat, dipenuhi oleh ketegangan listrik yang kasat mata.
Kaivan melangkah satu tahap lebih dekat, memangkas jarak di antara mereka hingga Gendis bisa mencium aroma kayu cendana dan sedikit sisa brandy dari napas pria itu. Tangan Kaivan yang besar dan hangat perlahan naik, membelai pipi Gendis dengan ibu jarinya.
Gendis terpaku. Napasnya tertahan. Ia bisa merasakan aura Kaivan yang biasanya dingin dan kokoh, kini berubah menjadi sangat hangat dan penuh proteksi—namun ada sesuatu yang lain di sana, sebuah keinginan yang murni.
"Kak..." bisik Gendis, suaranya nyaris hilang ditiup angin.
"Aku selalu melindungi apa yang menjadi milikku, Gendis," gumam Kaivan, suaranya merendah hingga ke nada yang paling dalam. "Tapi malam ini, aku menyadari bahwa aku tidak hanya ingin melindungimu. Aku ingin memilikimu seutuhnya."
Tanpa memberikan kesempatan bagi Gendis untuk menjawab dengan candaan "semprul"-nya, Kaivan menundukkan kepalanya.
Dan itu terjadi.
Bibir Kaivan menyentuh bibir Gendis dalam sebuah ciuman yang lembut namun menuntut.
Bagi Gendis, ciuman itu bukan sekadar sentuhan fisik. Sebagai seorang indigo, setiap sentuhan emosional yang kuat selalu memicu reaksi di alam batinnya. Saat bibir mereka bertemu, Gendis merasa seolah-olah ada ledakan kembang api di dalam kepalanya.
Visi-visi melintas dengan cepat: ia melihat masa kecil Kaivan yang kesepian, ia melihat api kemarahan pria itu yang perlahan padam oleh air kesejukannya, dan ia melihat benang merah takdir yang melilit erat di antara jari-jari mereka, bersinar terang seolah-olah baru saja diperkuat oleh sumpah yang tak terucap.
Gendis yang awalnya terkejut, perlahan-lahan memejamkan matanya. Tangannya yang mungil merambat naik, mencengkeram kemeja putih Kaivan, mencari pegangan karena kakinya mendadak terasa lemas seperti jeli. Ia membalas ciuman itu dengan kepolosan yang justru membuat Kaivan semakin kehilangan kendali.
Ciuman itu tidak lagi terasa "tipis-tipis" seperti romansa di atas motor sport. Ini adalah pernyataan perang terhadap kesepian mereka masing-masing.
Setelah beberapa saat yang terasa seperti keabadian, Kaivan perlahan melepaskan tautan bibir mereka. Ia menyandarkan keningnya di kening Gendis, napas keduanya memburu di udara malam yang dingin.
Kaivan menatap Gendis, menanti reaksi gadis itu. Apakah dia akan marah? Apakah dia akan pingsan? Atau apakah dia akan memanggil arwah leluhur untuk memprotes?
Gendis membuka matanya, tampak sedikit linglung. Ia mengerjapkan matanya beberapa kali, lalu tiba-tiba ia memegang bibirnya sendiri dengan wajah kaget.
"Waduh..." ucap Gendis lirih.
"Waduh?" Kaivan mengerutkan kening, sedikit bingung dengan respons tersebut. "Hanya itu komentarmu?"
Gendis menatap Kaivan dengan mata membelalak. "Kak! Barusan itu... barusan itu ciuman pertama saya tahu! Dan... dan Kakak tahu nggak apa yang terjadi di 'sana' tadi?"
"Di mana? Di alam batinmu?"
"Iya! Pas Kakak cium tadi, arwah pengawal di gerbang depan langsung tepuk tangan! Terus Om Giovanni di gudang wine sampai menjatuhkan botol gara-gara kaget liat aura kita mendadak jadi warna pink nyala! Kakak malu-maluin saya di depan para hantu tahu!"
"Biarkan mereka bertepuk tangan, Gendis," ucap Kaivan setelah tawa mereda, sambil tetap mendekap Gendis erat. "Biarkan seluruh penghuni mansion ini—baik yang bernapas maupun yang tidak—tahu bahwa kau adalah tunanganku, dan tidak akan ada yang bisa mengubah itu."
Gendis menyandarkan kepalanya di dada Kaivan, mendengarkan detak jantung pria itu yang masih berpacu cepat. "Tapi Kak, serius... rasanya tadi kayak kesetrum listrik tegangan tinggi. Apa semua ciuman Mafia rasanya kayak gitu?"
Kaivan tersenyum nakal, ia mengangkat dagu Gendis agar kembali menatapnya. "Hanya ciuman dari pria yang benar-benar mencintaimu yang rasanya seperti itu. Mau coba tes sekali lagi untuk memastikan tegangannya?"
"Dih! Keenakan Kakak dong!" Gendis mencoba melepaskan diri, tapi wajahnya merah padam seperti kepiting rebus. "Udah ah, saya mau tidur! Mau komplain sama leluhur kenapa mereka nggak kasih peringatan lewat mimpi kalau malam ini bakal ada 'serangan bibir'!"
Gendis berlari masuk ke dalam kamar dengan terburu-buru, meninggalkan Kaivan yang masih berdiri di balkon.
Kaivan menyentuh bibirnya sendiri, menatap pintu kamar Gendis yang tertutup rapat dengan senyuman yang tidak kunjung hilang. Ciuman itu mengejutkan, bukan hanya bagi Gendis, tapi juga bagi dirinya sendiri. Ia menyadari bahwa perasaannya telah melampaui batas kewarasan seorang bos kriminal.
Di sudut balkon, ia seolah melihat bayangan ibunya tersenyum lembut sebelum menghilang menjadi butiran cahaya.
"Aku tahu, Bu," bisik Kaivan pada angin malam. "Dia adalah orangnya."
Malam itu, di bawah langit Sisilia yang menjadi saksi, sebuah ikatan baru telah terbentuk. Bukan karena kontrak bisnis, bukan karena aliansi politik, melainkan karena sebuah ciuman pertama yang mengejutkan—sebuah segel takdir yang memastikan bahwa sang Raja Mafia dan Gadis Indigo-nya kini benar-benar telah menjadi satu jiwa.
Dan di dalam kamarnya, Gendis membenamkan wajahnya di bawah bantal, mencoba meredam teriakan kecilnya yang bahagia, sementara gelang tridatu di tangannya bersinar dengan cahaya keemasan yang hangat sepanjang malam.
aku like banget
seribu jempol
aku like...