Aisha Prameswari adalah seorang ibu rumah tangga yang kehidupannya sempurna Dimata dunia.ia memiliki suami ideal Arka Dirgantara,seorang arsitek ternama dan seorang putra semata wayang,baskara,yang ia cintai lebih dari hidupnya sendiri
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon KEONG_BALAP, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 9: Kebenaran yang Tertimbun
Aisha memegang amplop itu dengan tangan gemetar. Foto Mia—wajah yang sama dengan foto yang kemarin dilihatnya di kantor Arka—kini menatapnya dari selembar kertas usang. Tapi yang membuat bulu kuduknya berdiri bukanlah foto itu. Melainkan tulisan di belakangnya.
“Mia tidak mati karena leukemia. Tanyakan pada Arka apa yang sebenarnya terjadi.”
Aisha membaca ulang kalimat itu berkali-kali, seolah dengan membacanya lebih banyak, kalimat itu akan berubah menjadi lelucon buruk. Tapi tidak. Tinta merah itu tetap merah, huruf-hurufnya tetap tegas, seolah sengaja ditulis dengan kemarahan.
Siapa yang menaruh amplop ini? Ren? Atau seseorang yang lain?
Ia melihat sekeliling koridor apartemen. Sepi. Kamera CCTV di ujung lorong mungkin merekam, tapi Aisha tidak punya waktu untuk mengecek. Ia kembali masuk ke apartemen, menutup pintu, dan bersandar di balik pintu itu dengan napas tersengal.
Mia tidak mati karena leukemia. Lalu karena apa? Dan apa maksudnya “Tanyakan pada Arka apa yang sebenarnya terjadi”? Apakah Arka berbohong? Apakah ada bagian dari cerita kemarin yang tidak ia sampaikan?
Aisha mencoba menenangkan diri. Ia duduk di sofa, meletakkan foto itu di atas meja kopi, dan menatapnya lama. Wajah Mia—muda, mungkin baru berusia awal dua puluhan dalam foto itu. Senyumnya lebar, matanya berbinar, sama sekali tidak tampak seperti seseorang yang menderita penyakit mematikan.
Atau mungkin foto ini diambil sebelum Mia sakit. Mungkin tulisan itu hanya taktik Ren untuk semakin menghancurkan kepercayaan Aisha pada Arka.
Tapi mengapa Ren tahu tentang Mia? Arka bilang hanya Ren yang tahu masa lalunya. Tapi apakah mungkin Ren tahu lebih dari yang Arka kira? Dan apakah mungkin Ren terlibat dalam kematian Mia?
Pikiran itu membuat Aisha merinding. Ia segera menghubungi Arka. Panggilan pertama tidak dijawab. Panggilan kedua juga. Pada panggilan ketiga, Arka mengangkat dengan suara serak, seperti baru bangun tidur meski sudah pukul sembilan pagi.
“Aisha? Ada apa? Ini masih pagi.”
“Arka, aku harus bertemu denganmu. Sekarang.”
“Aku sedang tidak enak badan. Mungkin flu.”
“Ini penting. Tentang Mia.”
Diam. Lalu suara Arka berubah, lebih waspada. “Apa tentang Mia?”
“Aku akan ke apartemenmu dalam setengah jam. Kita bicara di sana.”
Aisha tidak memberi kesempatan Arka menolak. Ia menutup telepon, berganti pakaian, dan melesat keluar.
Perjalanan ke apartemen Arka terasa seperti perjalanan terpanjang dalam hidup Aisha. Lampu merah di setiap persimpangan terasa seperti siksaan. Ia mematikan radio, tidak ingin mendengar suara apa pun selain pikirannya sendiri.
Ia mencoba menyusun pertanyaan. Apa yang ingin ia tanyakan pada Arka? Apakah ia percaya pada tulisan di amplop itu? Apakah ia siap jika jawaban Arka lebih buruk dari yang ia bayangkan?
Mobilnya berbelok ke area parkir basement. Aisha turun, berjalan cepat menuju lift, menekan tombol lantai 27. Di dalam lift, ia melihat pantulan dirinya di dinding cermin. Wajahnya pucat, matanya sembab, rambutnya acak-acakan. Ia terlihat seperti orang yang akan menghadiri pemakaman, bukan pertemuan biasa.
Pintu lift terbuka. Aisha berjalan menyusuri koridor, berhenti di depan pintu apartemen Arka. Ia menekan bel. Tidak ada jawaban. Ia menekan sekali lagi, lebih lama.
Pintu terbuka.
Arka berdiri di ambang pintu dengan kaus oblong kusut dan rambut berantakan. Matanya merah, bukan karena menangis tapi karena kurang tidur. Lingkaran hitam di bawah matanya menunjukkan bahwa pria itu memang sedang tidak sehat.
“Masuklah,” katanya lirih, lalu berbalik masuk.
Aisha mengikutinya. Apartemen itu berantakan—bantal dan selimut bergelimpangan di sofa, piring kotor di meja makan, TV menyala tanpa suara. Arka duduk di sofa, menunduk, kedua tangannya menggenggam erat di pangkuan.
“Apa yang ingin kau bicarakan?” tanyanya tanpa menatap Aisha.
Aisha duduk di kursi di hadapannya. Ia mengeluarkan amplop itu dari tasnya, meletakkannya di atas meja.
“Aku menemukan ini di depan pintu apartemenku pagi ini.”
Arka mengambil amplop itu, mengeluarkan foto, membaliknya. Wajahnya berubah drastis. Dari lelah menjadi pucat pasi, dari datar menjadi panik. Tangannya gemetar memegang foto itu.
“Siapa yang memberi ini?” suaranya nyaris berbisik.
“Aku tidak tahu. Tapi kau lihat tulisannya? 'Mia tidak mati karena leukemia.' Arka, kemarin kau bilang Mia meninggal karena leukemia. Mana yang benar?”
Arka tidak menjawab. Ia hanya menatap foto Mia, jari-jarinya mengusap permukaan foto itu seolah ingin menembus waktu.
“Arka, jawab aku!”
“Aku tidak bisa,” suara Arka patah. “Aku tidak bisa, Aisha.”
“Tidak bisa atau tidak mau?” Aisha menaikkan nada. “Kau bilang kemarin kita tidak boleh punya rahasia lagi. Tapi kau sendiri masih menyembunyikan sesuatu. Apa lagi yang tidak kau katakan tentang Mia?”
“Kau tidak akan mengerti.”
“Coba aku!”
Arka mengangkat wajahnya. Matanya basah, tapi tidak ada air mata yang jatuh. Ada kemarahan di sana—bukan pada Aisha, tapi pada dirinya sendiri.
“Baik. Kau ingin tahu? Mia memang tidak mati karena leukemia. Itu bohong. Tapi aku tidak bisa cerita semuanya karena itu bukan hanya rahasiaku.”
“Lalu rahasia siapa?”
Arka berdiri. Ia berjalan ke jendela, membuka tirai dengan kasar. Matahari pagi menyorot masuk, tapi tidak menghangatkan ruangan itu.
“Keluarga angkatku—keluarga ayah kandungku—tidak hanya melarangku bertemu Mia. Mereka juga... mereka melakukan sesuatu pada Mia. Sesuatu yang membuatnya hilang.”
Aisha merasakan hawa dingin menjalari punggungnya. “Apa maksudmu 'hilang'?”
“Mia tidak ada di panti asuhan ketika aku datang mencarinya delapan tahun lalu. Panti bilang Mia diambil oleh seseorang atas nama keluarga angkatku. Tapi ketika aku tanyakan pada keluarga angkatku, mereka bilang Mia sudah meninggal karena leukemia. Aku tidak punya bukti untuk menyangkal. Aku hanya punya surat kematian palsu yang mereka buat.”
“Kau pikir Mia masih hidup?”
Arka menutup matanya. “Aku tidak tahu. Tapi aku tidak pernah percaya dia mati. Hati kecilku bilang dia masih ada di suatu tempat. Hanya saja... aku tidak pernah bisa menemukannya.”
Aisha berdiri, berjalan mendekat. “Lalu bagaimana Ren tahu tentang semua ini?”
“Karena Ren membantu pencarianku dulu. Ketika kami masih berteman baik, sebelum dia... berubah. Ren tahu tentang surat kematian palsu itu. Dia tahu tentang kecurigaanku. Tapi setelah kami berseteru, dia menggunakan semua itu sebagai senjata.”
“Jadi tulisan di foto ini mungkin dari Ren?”
“Atau dari seseorang yang dikirim Ren. Atau...” Arka berhenti. Sesuatu muncul di matanya. “Atau dari Mia sendiri.”
Aisha tersentak. “Apa?”
“Pikirkan, Aisha. Siapa lagi yang tahu tentang foto ini? Foto ini hanya aku yang punya. Aku menyimpannya di brankas kantor. Tidak mungkin ada yang mengambilnya kecuali...”
“Kecuali seseorang yang tahu kode brankasmu.”
Arka mengangguk pelan. “Aku tidak pernah memberi tahu siapa pun kode itu. Bahkan kau tidak tahu. Tapi ada satu orang yang mungkin bisa menebaknya.”
“Siapa?”
“Mia. Karena kode itu adalah tanggal lahirnya.”
Ruangan itu terasa berputar. Aisha meraih sandaran kursi untuk menahan keseimbangan.
“Kau pikir Mia yang menaruh amplop ini di depan apartemenku?”
“Aku tidak tahu. Mungkin. Mungkin tidak. Tapi jika Mia masih hidup dan dia yang melakukan ini... kenapa dia tidak menghubungiku langsung? Kenapa dia memilihmu?”
Aisha tidak bisa menjawab. Terlalu banyak pertanyaan, terlalu sedikit jawaban.
Sepanjang siang, mereka berdua duduk di apartemen itu, mencoba menyusun potongan-potongan teka-teki. Arka menceritakan lebih detail tentang pencariannya selama bertahun-tahun. Ia pernah menyewa detektif swasta, tapi selalu menemui jalan buntu. Ia pernah datang ke panti asuhan itu berkali-kali, tapi selalu ditolak. Ia bahkan pernah melaporkan keluarga angkatnya ke polisi, tapi karena tidak ada bukti kuat, kasusnya ditutup.
“Aku sudah menyerah beberapa tahun lalu,” kata Arka, suaranya lirih. “Aku pikir mungkin memang sudah takdirku tidak akan pernah tahu kebenaran. Tapi sekarang... dengan foto ini...”
“Kita harus mencari tahu,” sambung Aisha. “Untuk Mia. Dan untuk Baskara. Dia berhak tahu tentang bibinya.”
“Baskara,” Arka menghela napas. “Aku belum bicara padanya tentang Mia. Aku takut.”
“Kita bicara bersama. Saat dia pulang nanti.”
Arka mengangguk. Untuk pertama kalinya dalam beberapa minggu, ada sedikit semangat di matanya. Bukan kebahagiaan, tapi tekad.
Sore harinya, Aisha pulang ke apartemennya. Ia membawa foto Mia—Arka memintanya menyimpan foto itu untuk sementara, karena takut sesuatu terjadi jika foto itu tetap di kantornya.
Di perjalanan, ponsel Aisha berdering. Baskara.
“Bu!” suara Baskara ceria, berbeda dengan beberapa hari lalu. “Nenek belikan aku sepeda baru! Aku sudah bisa naik sendiri!”
Aisha tersenyum mendengar kegembiraan di suara anaknya. “Bagus, Nak. Ibu senang kamu senang.”
“Bu, kapan Ibu ke sini? Aku mau tunjukkin sepedaku.”
“Ibu belum bisa, Nak. Ibu masih ada urusan di Jakarta. Tapi Ibu janji akan ke sana secepatnya.”
“Ibu jangan lama-lama. Aku kangen.”
“Ibu juga kangen, Nak. Ibu sayang kamu.”
Mereka berbincang sebentar, lalu Baskara pamit karena diajak neneknya makan malam. Aisha menutup telepon dengan perasaan hangat di dadanya. Setidaknya Baskara mulai pulih. Itu yang terpenting.
Sesampainya di apartemen, Aisha meletakkan tasnya di meja ruang tamu. Ia hendak ke kamar mandi ketika matanya menangkap sesuatu di lantai dekat pintu balkon.
Sebuah amplop putih. Sama seperti yang pagi.
Aisha berjalan mendekat, memungutnya dengan hati-hati. Amplop itu tidak tertutup rapat. Ia mengeluarkan isinya.
Bukan foto kali ini. Tapi secarik kertas dengan tulisan tangan yang sama dengan tulisan di foto Mia.
“Aisha, jika kau membaca ini, berarti kau sudah bicara dengan Arka. Tapi apakah dia menceritakan semuanya? Tanyakan padanya tentang api. Tentang malam ketika rumah kontrakan Mia terbakar. Arka tahu lebih dari yang ia katakan. - M”
Aisha memegang kertas itu, jari-jarinya gemetar hebat. Api? Rumah kontrakan terbakar? Arka tidak pernah menyebutkan itu.
Ia segera mengambil ponsel, menekan nomor Arka. Panggilan tidak dijawab. Ia coba lagi. Tetap tidak ada jawaban.
Aisha memutuskan untuk kembali ke apartemen Arka. Ia berlari keluar, masuk ke mobil, dan melaju kencang. Di tengah perjalanan, ponselnya berdering. Bukan Arka. Nomor tidak dikenal.
Ia mengangkat dengan ragu. “Halo?”
“Aisha,” suara Ren. “Kau sudah menerima amplop kedua?”
“Ren, apa yang kau lakukan? Apa kau yang mengirim semua ini?”
Ren tertawa kecil. “Aku hanya pengantar, Aisha. Yang mengirim surat-surat itu bukan aku.”
“Lalu siapa?”
“Mia. Mia yang masih hidup. Dan dia ingin Arka tahu bahwa dia tidak akan pernah memaafkan kakaknya yang telah meninggalkannya.”
Panggilan terputus.
Aisha mematikan panggilan itu, mencerna kata-kata Ren. Mia masih hidup. Mia yang mengirim surat-surat itu. Mia yang ingin Arka tahu kebenaran.
Tapi mengapa Mia tidak menghubungi Arka langsung? Mengapa melalui Aisha? Dan apa yang dimaksud dengan malam ketika rumah kontrakan Mia terbakar?
Aisha tiba di apartemen Arka. Ia menekan bel berulang kali. Tidak ada jawaban. Ia mencoba menghubungi Arka lagi. Panggilan tidak dijawab.
Kepanikan mulai merayap. Aisha berlari ke kantor keamanan, meminta petugas membukakan pintu apartemen Arka dengan kunci cadangan.
“Maaf, Bu, tidak bisa sembarangan. Harus seizin penghuni.”
“Ini darurat! Suami saya—mantan suami saya—mungkin dalam bahaya!”
Petugas itu ragu, tapi akhirnya mengizinkan Aisha masuk dengan didampingi satpam.
Pintu apartemen Arka terbuka. Ruangan itu gelap, sunyi. Aisha masuk, menyalakan lampu.
Arka tidak ada di ruang tamu. Tidak di kamar tidur. Tidak di kamar mandi.
Tapi di lantai ruang kerja, Aisha menemukan ponsel Arka tergeletak di dekat kursi. Layarnya retak, seolah diinjak atau dilempar.
Dan di atas meja kerja, sebuah amplop putih lain terbuka, berisi foto yang sama dengan foto Mia, tapi kali ini foto itu telah disobek menjadi dua.
Aisha memungut sobekan foto itu. Di belakang salah satu sobekan, tertulis:
“Aku akan mengambil apa yang paling berharga darimu, sama seperti kau mengambil hidupku.”
Aisha merasakan dunia runtuh. Ia segera menghubungi polisi, lalu mencoba menelepon Surabaya—ke rumah ibu Arka.
Telepon dijawab oleh seorang wanita tua dengan suara cemas.
“Bu, Baskara baik-baik saja?” tanya Aisha panik.
“Baskara? Dia sedang bermain sepeda di halaman belakang. Ada apa, Aisha?”
“Tidak ada, Bu. Tolong jaga Baskara baik-baik. Jangan biarkan dia keluar rumah sendirian. Saya akan ke sana secepatnya.”
Aisha menutup telepon. Ia berlari keluar apartemen, masuk ke mobil, dan melaju menuju bandara.
Di tengah perjalanan, pikirannya hanya pada satu hal: Arka hilang. Dan Mia—atau seseorang yang mengaku Mia—mungkin telah menculiknya.
Tapi yang lebih menakutkan: jika Mia benar-benar masih hidup dan dendam pada Arka, apa yang akan terjadi pada Baskara?
Di bandara, Aisha nyaris kehilangan akal. Tiket pesawat ke Surabaya habis untuk hari ini. Ia harus menunggu hingga besok pagi.
Ia duduk di kursi plastik ruang tunggu, ponsel di tangan, mencoba menghubungi siapa pun yang bisa membantu. Arka tidak bisa dihubungi. Polisi mengatakan mereka akan mencari, tapi butuh waktu 24 jam untuk melaporkan orang hilang.
Aisha menangis dalam diam. Ia tidak tahu harus berbuat apa.
Lalu ponselnya berdering. Pesan masuk dari nomor yang sama.
“Jangan cari Arka. Dia akan kembali jika dia sudah membayar dosanya. Tapi kau, Aisha, kau juga punya dosa. Berselingkuh dari suami yang sudah mengkhianati adiknya sendiri. Kau pikir kau lebih baik darinya?”
Aisha membalas pesan itu dengan jari gemetar:
“Siapa kau? Apa yang kau inginkan?”
Balasan datang beberapa menit kemudian:
“Aku hanya ingin keadilan. Untuk Mia. Untuk semua yang hilang.”
Aisha menekan tombol panggil. Nomor itu tidak aktif.
Ia memejamkan mata, mencoba mengingat wajah Mia dari foto itu. Wajah yang familiar. Wajah yang memiliki mata yang mirip dengan mata Baskara.
Dan tiba-tiba, Aisha tersadar.
Mata itu. Senyum itu. Ia pernah melihat wajah itu di tempat lain. Bukan di foto, tapi secara langsung. Bertahun-tahun lalu, ketika ia masih baru menikah dengan Arka.
Seorang wanita muda dengan rambut panjang pernah datang ke rumah mereka. Wanita itu mengaku sebagai mantan teman kuliah Arka. Arka menyambutnya dengan dingin, bahkan hampir kasar. Aisha ingat Arka menyuruh wanita itu pergi dan tidak pernah kembali.
Wanita itu pergi dengan mata basah, tapi sebelum keluar, ia menatap Aisha dan berkata, “Kakak iparku yang baik, semoga kau tidak pernah tahu kebenaran tentang suamimu.”
Aisha tidak pernah memikirkan kejadian itu lagi. Sampai sekarang.
Wanita itu adalah Mia.
Mia pernah datang ke rumah mereka. Mia tahu Aisha. Dan Mia sudah memperingatkannya sejak awal.
Aisha membuka matanya. Di layar ponsel, pesan baru masuk dari nomor itu.
“Kau ingat sekarang, Aisha? Aku datang ke rumahmu dulu. Aku ingin Arka mengakui aku sebagai adiknya. Tapi dia mengusirku. Dia lebih memilih hidup mewahnya daripada aku. Dan sekarang, giliranku yang memilih. Aku memilih untuk menghancurkan hidupnya, sama seperti dia menghancurkan hidupku.”
Aisha mengetik balasan dengan tangan gemetar:
*“Mia, jika ini benar kau, tolong jangan sakiti Arka. Dia sudah menyesal. Dia mencari kau bertahun-tahun. Dia—”
Pesan itu tidak terkirim. Nomor itu sudah tidak aktif lagi.
Aisha memegang ponselnya erat-erat, menatap langit-langit bandara yang tinggi.
Arka hilang. Mia—atau seseorang yang mengaku Mia—mengincar keluarganya. Dan Baskara ada di Surabaya, sendirian dengan neneknya yang sudah tua.
Aisha mengambil keputusan. Ia tidak bisa menunggu sampai besok. Ia akan menyewa mobil dan menyetir ke Surabaya malam ini juga, apa pun yang terjadi.
Ia berlari keluar bandara, menuju lokasi rental mobil terdekat.
Di belakangnya, bayangan sesosok wanita dengan rambut panjang mengawasi dari kejauhan. Wanita itu tersenyum tipis, lalu menghilang di antara kerumunan.