Siapa sangka pernikahan pura-pura antara Jeevan dan Valerie membuat mereka berdua benar-benar merasakan jatuh cinta sama lain. Dimulai Jeevan meminta Valerie untuk berpura-pura menjadi Maura calon istrinya yang akan dikenalkan kepada keluarganya, namun di saat yang bersamaan Maura pergi meninggalkan Jeevan keluar negri.
Situasi yang salah paham membuat Valerie terjebak di antara keluarga Jeevan dan terpaksa membuat kesepakatan bersama Jeevan untuk menjadi calon istrinya.
Namun ada satu alasan Valerie menerima pernikahan pura-pura, agar dirinya putus dengan Nathaniel kekasihnya saat itu. Sejak pertama bertemu, Jeevan sudah jatuh hati pada Valerie. Apalagi ketika tahu jika Valerie adalah cinta pertamanya sejak SMP. Mulai saat itu Jeevan terus mencoba membuat Valerie jatuh cinta kepadanya, sampai bisa menjadi miliknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Snow White, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Salah Paham
Tubuhnya membeku, napasnya terasa sesak dan hatinya begitu kecewa mendengar apa yang baru saja diucapkan oleh Jeevan. Jadi memang benar jika Jeevan mendekatinya hanyalah ilusi semata. Entah kenapa Vale merasa kecewa dan sedih saat tahu Jeevan membuatnya jatuh cinta hanya untuk bisa mempunyai anak?
Padahal Valerie tahu jika Jeevan tidak pernah mempunyai perasaan kepadanya, begitu juga dengan dirinya kepada Jeevan. Apa ucapannya mulai mengganggu Valerie? Saat Valerie hendak pergi meninggalkan ruangan Jeevan, tiba-tiba saja ia berpapasan dengan seorang office boy yang hendak ke ruangan Jeevan membawa dua cangkir kopi milik Jeevan dan Kenzie.
Saat hendak berbalik Valerie kaget bukan main melihat office boy sudah ada di dekatnya, begitu juga dengan OB tersebut yang melihat Valerie hanya berdiri saja di depan pintu tanpa masuk ke dalam.
"Maaf, Bu." OB tersebut telah membuat Valerie kaget namun Valerie hanya tersenyum getir membalas ucapan OB itu.
"Ibu nggak masuk?" tanyanya penasaran saat Valerie hendak melangkahkan kakinya meninggalkan ruangan Jeevan dengan wajah muram.
"Nggak," jawab Valerie dengan suara terdengar parau dan pergi meninggalkannya OB sendirian.
Tidak lama kemudian OB tersebut masuk ke dalam ruangan Jeevan dan meletakan kopi di meja tamu ruangan itu, Jeevan dan Kenzie yang masih berbicara sepertinya tidak mengetahui kehadiran Valerie di luar sana.
"Ini kopinya, Pak," kata OB setelah meletakan kopi di atas meja.
"Makasih Pak," balas Kenzie yang saat itu sedang memeriksa ponselnya.
"Sama-sama, Pak," timpalnya ramah.
Setelah meletakan kopi di atas meja OB tersebut tidak segera pergi meninggalkan ruangan, ada rasa ragu di hatinya untuk memberitahu kepada Jeevan tentang apa yang baru saja dilihat olehnya tadi di luar sana. Tapi OB tersebut tidak yakin apakah harus memberitahukan Jeevan atau tidak.
Melihat OB belum juga keluar membuat Kenzie heran dan penasaran, apalagi wajahnya terlihat kebingungan seperti ada yang sedang disembunyikan olehnya. Begitu juga dengan Jeevan yang sadar akan kehadiran OB yang masih di ruangannya padahal ia sudah menyuruhnya untuk kembali ke tempatnya.
"Ada apa lagi, Pak?" tanya Jeevan dengan nada tegas menatap OB yang sedikit menundukkan kepalanya.
"Anu, Pak. Tadi aku lihat ada Ibu di depan pintu tapi dia nggak masuk dan langsung pergi," jawabnya sedikit ragu takut salah bicara.
Spontan kedua lelaki tampan yang tadinya sedang sibuk dengan pekerjaannya mendadak menoleh ke arah OB secara bersamaan. Ibu siapa yang dimaksudkan olehnya? Jeevan berpikir keras mencari tahu siapa dia.
"Ibu? Ibu siapa?" Jeevan semakin penasaran.
"Istrinya Pak Jeevan."
Bagai disambar petir telinga Jeevan disiang bolong mendengar saat tahu Valerie ada di depan ruangannya. Jeevan dan Kenzie saling menatap satu sama lain, apa benar jika Vale ada di depan ruangannya tadi, jika memang benar berarti dia sudah mendengar semua percakapan antara Jeevan dan Kenzie.
"Sejak kapan dia di sana?" Jeevan semakin penasaran.
"Sepertinya sudah lama dia berdiri di depan pintu ruangan ini, dan ketika aku membawakan kopi dia sudah berdiri. Tapi tidak lama dia pergi tanpa masuk."
Tapa berpikir panjang akhirnya Jeevan pergi meninggalkan ruangannya untuk mencari Valerie, pasti dia masih berada di dalam kantor ini tidak jauh dari ruangannya. Langkah kaki Jeevan begitu cepat sedikit berlari menuju lift berharap bertemu dengan Valerie. Dan rasa ketakutan Jeevan adalah jika Valerie mendengarkan semua ucapannya.
Sial, Jeevan tidak bisa menemukan Valerie meskipun sudah berada di lobi. Kedua bola matanya terus menyisir seisi ruangan tapi sayang tidak juga terlihat batang hidungnya. Ketika Jeevan sudah terlihat sangat frustasi, tiba-tiba saja sebuah suara mengagetkannya.
"Kamu cari siapa?" tanya seseorang mengagetkannya dan betapa terkejutnya Jeevan saat mengenali suaranya.
Jeevan menoleh secepat kilat dan melihat Valerie sudah berdiri di belakangnya, tatapannya dingin namun terlihat sangat tajam. Apakah Valerie mendengar semuanya? Sikap Jeevan mendadak gugup dan kebingungan apa yang harus dikatakan kepadanya.
"Cari kamu. Katanya tadi kamu ke ruanganku tapi nggak masuk," jawab Jeevan berusaha mencoba terlihat biasa saja meskipun sebenarnya ia merasa sangat gugup dan ketakutan.
"Iya, aku rasa kamu lagi sibuk," tebak Valerie menduga dengan sikap yang terlihat biasa saja seolah tidak terjadi sesuatu.
Melihat sikap Valerie yang biasa saja membuat Jeevan sedikit bingung, sepertinya Valerie tidak mendengar apa yang seharusnya tidak didengar. Ataukah dia pura-pura tidak tahu dengan apa yang baru saja didengarnya tadi.
"Nggak kok. Aku nggak sibuk, tadi cuma lagi diskusi aja sama Kenzie," jawab Jeevan berbohong.
Tatapan mata Valerie tiba-tiba saja menyipit seperti menghardik ke arahnya, seolah tidak percaya dengan apa yang baru saja Jeevan ucapkan. Melihat reaksi Valerie membuat Jeevan sedikit ketakutan. Andai saja Jeevan tahu bagaimana isi hati Valerie saat ini, sangat berkecamuk begitu tak tertahankan. Ingin rasanya Valerie memaki Jeevan, tapi ia harus bisa menahan semua emosinya.
"Yakin lagi diskusi?" sindir Valerie mencoba memancing ucapan Jeevan.
Detak jantung Jeevan berdegup sangat cepat, sepertinya Valerie sedang menguji dirinya dan sudah tahu percakapan antara Kenzie dengannya. Apa yang harus Jeevan lakukan saat ini? Pasti jika berkata jujur kembali ada gesekan antara mereka berdua.
"Iya," jawab Jeevan berbohong sambil menghela napas panjang dan berat. Rasanya Jeevan sudah pasrah apa yang akan terjadi.
"Kamu mau apa datang ke sini? Tumben, nggak biasanya?" tanya Jeevan mengalihkan pembicaraan mencoba terlihat biasa saja.
"Cuma mau kasih tau kamu, kalau aku bawa surat perjanjian pernikahan kita."
"Perjanjian pernikahan?" kata Jeevan dalam hati menatap Valerie lekat.
"Aku nggak mau kamu banyak mencampuri kehidupan pribadiku, dan aku mau kamu tahu batasan selama kita menikah sampai waktunya nanti kita bercerai," jelas Valerie dengan tegas membuat Jeevan kaget bukan main.
Apa ini balasan dari apa yang sudah diucapkan olehnya tadi, sepertinya memang Valerie sudah mendengar semuanya tapi pura-pura seolah tidak terjadi sesuatu.
"Apa? Perjanjian pernikahan?" Jeevan mengulang ucapan Valerie dan perempuan cantik itu hanya mengangguk dengan senyum getirnya.
Jeevan tidak mau menerima syarat apapun dari Valerie, baginya permukaan ini adalah nyata dan tidak ada pernikahan kontrak atau sekedar perjanjian, meskipun sebenarnya awalnya seperti itu. Tapi setelah mengetahui siapa Valerie sebenarnya membuat Jeevan ingin menjadikan pernikahan ini nyata, walupun ia tahu jika bukan dirinya yang dicintai oleh Valerie. Cukup egois kedengarannya tapi Jeevan tidak mau kehilangannya lagi.
"Iya. Aku harap kamu membacanya."
"Nggak. Aku nggak mau!" Tolak Jeevan mentah-mentah dengan nada tegas.
Penolakan Jeevan membuat Valerie semakin kesal dibuatnya, andai saja hanya dirinya bedua di sana pasti ia sudah menyumpahi Jeevan dengan kata-kata kasarnya, tapi Valerie harus pura-pura tidak tahu.
"Terserah kamu, yang jelas aku nggak pernah menganggap pernikahan ini nyata," kata terakhir Valerie sambil pergi meninggalkan Jeevan.
Belum sempat Valerie melangkahkan kakinya lebih jauh lagi, Jeevan menariknya dan membawa ke sebuah ruangan yang sangat sepi hanya untuk bicara antara mereka berdua. Sontak Valerie kaget bukan main melihat Jeevan tiba-tiba saja menarik tangannya dan membawanya dengan paksa. Sebisa mungkin ia mencoba melepaskan genggaman tangannya dari Jeevan, tapi sayang tenang Jeevan lebih kuat darinya.
"Lepasin aku!" Teriak Valerie sambil mencoba melepaskan genggaman tangan Jeevan darinya yang begitu kuat.
Valerie berhasil melepaskan genggaman tangan Jeevan dari tangannya, meski sedikit terasa sakit. Tatapan mata Jeevan kini berubah menjadi sorot yang tajam menghardiknya. Tapi tidak membuat Valerie merasa ketakutan karena ia juga mempunyai alasan yang sama kenapa sikapnya seperti ini.
"Aku nggak suka sama sikap kasar kamu!" Valerie mulai melupakan emosinya yang dipendam saat di depan pintu ruangan kerja Jeevan.
"Apa selama ini aku kasar sama kamu?" Jeevan balik bertanya dengan nada tidak kalah tegas dan ketus dengan sorot mata yang tajam.
Deg, Valerie mulai ketakutan melihat Jeevan yang mulai emosi. Baru kali ini ia melihat Jeevan marah, sebelumya tidak pernah menampakan emosinya seperti ini. Sorot matanya yang sendu berubah menjadi tajam dan menakutkan. Senyuman manisnya yang selalu terlihat oleh Valerie berubah menjadi datar dan kaku. Apa Valerie sudah menyinggung perasaannya?
"Kenapa diam?" tanya Jeevan saat melihat Valerie hanya terdiam tak bisa berkata-kata.
Kenapa Valerie menjadi merasa bersalah karena sudah membuat Jeevan marah, seharusnya dirinya yang marah dengan ucapan Jeevan yang baru saja didengarnya tadi.
"Ingat! Jangan pernah berharap kalau pernikahan kita nyata, karena hanya satu tahun kita bersama!" Tegas Valerie to the poin mengingatkan.
"Aku nggak mau. Meskipun harus berdarah-darah, aku nggak akan pernah melepaskan mu. Paham!" Balas Jeevan tidak kalah tegas membuat Valerie kesal.
"Memang kamu pikir aku apa!" Teriak Valerie histeris dengan air mata yang mulai memenuhi pelupuk matanya sehingga buliran bening setetes jatuh mulai membasahi pipinya.
Tangis Valerie membuat hati Jeevan sedih dan hancur karena merasa jahat sudah membuatnya menangis, sebenarnya bukan maksud Jeevan membuat Valerie seperti ini. Ia hanya ingin menjelaskan apa yang sudah terjadi. Tapi sepertinya Valerie tidak ingin mendengarkannya.
"Apa yang kamu dengar di sana nggak sama kaya yang kamu bayangkan," kelas Jeevan dengan nada bicara melembut agar Valerie tidak semakin menangis.
"Aku nggak dengar apa yang kamu ucapkan sama Kenzie. Dan aku juga nggak paham sama apa yang lagi kamu bicarakan," kata Valerie berbohong malas untuk membahas tentang apa yang sudah didengarnya sambil menahan air mata agar tidak semakin jatuh menetas ke pipinya.
"Asal kamu tahu, aku memang nggak selalu benar. Tapi harus kamu tahu bahwa perasaanku sama kamu itu nyata," ucap Jeevan membuat hati Valerie campur aduk tidak karuan.
Ucapan Jeevan membuat Valerie kebingungan antara benar atau tidak, Valerie tidak bisa membedakan apakah Jeevan sedang berbohong kepadanya atau tidak. Ia hanya selalu mengingat apa yang didengarnya tadi, dan memang sudah jelas jika Jeevan melakukan pernikahan ini untuk mendapatkan perusahaan yang seharusnya menjadi miliknya. Tidak pernah ada cinta di dalamnya.
Air mata Valerie makin lama jatuh menetas membasahi pipinya, matanya mulai memerah dan sedikit sembab mendengar ucapan Jeevan. Tatapannya sendu seolah tidak percaya. Tapi apa yang diucapkan Jeevan itu benar tidak berbohong akan perasannya. Hanya saja Valerie yang sudah tidak percaya lagi dengan namanya cinta, karena sudah berapa kali dikecewakan.
Kehilangan cinta dari kedua orang tuanya, kehilangan cinta dari cinta pertamanya, kehilangan cinta dari Nathan. Dan ia tidak mau lagi kecewa dan kehilangan cinta dari Jeevan. Baginya tidak ada yang benar-benar mencintainya dengan tulus, semua lelaki yang ditemuinya hanya mencintainya dengan palsu.
"Kamu nggak usah merangkai kata-kata yang bisa buat aku tersentuh, karena aku nggak pernah punya perasaan sama kamu. Sampai kapanpun, karena semua di hatiku sudah nggak ada tempat lagi buat lelaki lain," kata terakhir Valerie sambil pergi meninggalkan Jeevan dengan tangisnya mulai pecah.
Sakit, hati Valerie begitu sakit bukan main merasakan kekecewaan karena cinta. Kenapa ia harus merasakan sakit lagi, sudah cukup akan Nathan dan sekarang karena Jeevan yang mulai mempermainkannya. Demi perusahaan apa Jeevan harus berbuat sejauh ini, mengorbankan perasaan orang lain demi kepentingannya?
Air mata Valerie jatuh semakin deras membuatnya tidak sanggup lagi untuk menahan tangisnya, di dalam mobil Valerie menangis sesenggukan seraya memegang dadanya yang terasa sangat sesak seperti ada lubang besar yang begitu dalam. Kenapa juga Valerie harus menangis padahal ia memang tidak memiliki perasaan kepada Jeevan, tapi kenapa ia harus merasa sangat sedih?
Valerie begitu sedih karena sejak dulu tidak pernah merasakan dan mendapatkan cinta yang tulus, baik dari kedua orang tuanya, cinta pertamanya, Nathan ataupun Jeevan sekaligus. Saat Valerie sedang menangis terdengar ponsel berbunyi, ternyata itu dari rumah sakit kanker yang sedang dikelola olehnya. Mereka memberitahu jika salah satu pasien yang sangat dekat dengannya mendadak kondisinya drop.
Hari sudah sampai tengah malam tapi Valerie belum juga pulang membuat Jeevan sangat khawatir, sepulang kerja ia tidak menemukan istrinya di apartemen. Sudah berulangkali Jeevan meneleponnya tapi tidak ada jawaban dan balasan pesan dari Valerie, seolah mengabaikannya. Sampai Jeevan tertidur di sofa ruang TV dan jam alarm berbunyi.
Jeevan yang masih memakai pakaian kerja sejak semalam karena belum sempat mengganti pakaiannya dan terbangun saat mendengar suara alaram. Sinar matahari mulai memasuki celah jendela apartemen membuat kedua matanya yang sedang terpejam menjadi terganggu.
Jeevan mencoba membuka kedua bola matanya yang masih terasa lengket dan mengantuk karena tidur larut malam. Tapi Jeevan belum juga melihat Valerie pagi itu di sana. Dicarinya Valerie seisi ruangan tetap hasilnya nihil.
Amarah Jeevan sepertinya semakin memuncak saat tahu Valerie tidak pulang semalam, ada di mana semalam tanpa menghubungi dirinya. Jeevan sempat bertanya kepada Rania tapi sahabat baiknya tidak mengetahui keberadaannya. Seperti orang gila Jeevan mencari keberadaan Valerie semalam, tapi ia tidak bisa menemukannya juga.
Suara alarm pintu apartemen berbunyi sepertinya Valerie baru pulang, Jeevan yang berada di ruang TV segera berjalan menuju pintu masuk apartemen dengan sikap dinginnya menyambut Valerie. Tatapan matanya tajam seolah memendam amarah yang siap meledak kapan saja. Valerie begitu kaget saat melihat Jeevan sudah berdiri lebih dulu menyambutnya.
"Dari mana kamu?" kalimat pertama yang didengar oleh Valerie saat baru saja melangkahkan kakinya masuk ke dalam apartemen.
maaf sebelumnya
narasinya itu di tiap chapter semuanya panjang
mungkin bisa dipecah untuk kenyamanan pembaca kak
sebagian pembaca ada yang sensitif liat narasi panjang satu blok penuh
cuma saran teknis aja kak 👍
semangat ya.
ku kasih bintang lima biar author nya tambah semangat lagi🤭💪