NovelToon NovelToon
Terimakasih Cinta

Terimakasih Cinta

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta pada Pandangan Pertama / CEO Amnesia
Popularitas:861
Nilai: 5
Nama Author: Erny Su

"Tidak peduli apa yang akan terjadi nanti, selamanya kita akan tetap bersama" kata-kata itu terus terngiang dalam pikiran seorang gadis cantik yang berasal dari pinggiran kota.

Dan tempat itu menjadi saksi sejarah dari janji yang pria tampan itu ucapkan.

Dia yang sempat tinggal disana karena sebuah kecelakaan yang merenggut ingatannya, hingga ia ditampung oleh salah satu keluarga dengan kedua putri cantik yang selama ini selalu membantu kedua orang tuanya merawat pria yang entah berasal dari mana.

"Kalau penasaran silahkan ikuti kisahnya 🙏

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erny Su, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 29

Dian tidak membalas perkataan Alex yang kini terus menatap pergerakannya yang kini tengah bersiap untuk bersih-bersih terlebih dahulu untuk kemudian menunaikan shalat nya.

Sementara Alex kini memeriksa putrinya yang tampak masih terlelap dalam tidurnya, dia terjaga haya beberapa kali dalam semalam, itupun karena haus. Setelah itu ia tidur lagi.

Dia tidak rewel meskipun di kamar itu tidak ada AC ataupun perlengkapan yang lengkap seperti di rumah nya sendiri.

Mungkin Aline benar-benar berjodoh dengan Dian yang selama ini hidup dalam kesederhanaan.

Alex pun mengusap lembut pipi gembul putrinya itu, sambil berkata "Daddy akan pulang dulu ke rumah kita, kamu disini dengan mommy, ingat jangan rewel dan tetap baik-baik agar mommy tidak kesulitan saat menjaga mu okey princess"ujar Alex yang kini membungkuk untuk mengecup putrinya itu.

"Sementara itu di luar kamar kehebohan sedang terjadi karena Renata terjaga saat ini. Dia berteriak kencang saat dia tau bahwa dirinya saat ini tidur di tempat yang semalam ditempati oleh Darel.

"Ini tidak mungkin!! Siapa yang pindahin aku kesini?"ujar Renata.

"Heh, pagi-pagi sudah gaduh seharusnya kamu tanya dirimu sendiri kenapa bisa tidur di tempat asisten pribadi ku"ujar Alex ketus.

"Tapi pak guru, semalam saya tidur sama kak Diandra, dan bagaimana bisa anda keluar dari dalam kamar itu?"ujar Renata.

"itu bukan urusan mu, lagipula aku tidur dimanapun di rumah ini, ini adalah rumah calon istriku"ujar Alex yang terlihat tak suka dengan pertanyaan gadis itu.

"Renata, sebaiknya kamu bersiap untuk sekolah, dan jangan salahkan orang lain yang tidak berbuat salah, kamu sendiri tidur sambil berjalan"ujar Dian yang kini ingin mengakhiri keributan.

"Ya nona, kau tidur sambil berjalan dan mengambil tempat saya, untung saya baik hati dan membiarkan anda disana. Kalau tidak mungkin saya sudah lempar anda keluar"ujar Darel yang kini tampak sudah siap dengan pakaian formal yang biasa dia gunakan setiap harinya.

"Ada apa ribut-ribut, ganggu ketenangan saja?"ujar Miranda.

"Bersiaplah kita akan pulang hari ini"ujar Alex yang kini berjalan menuju kamar yang tadi malam ditempati oleh Darel.

Miranda pun kembali ke kamar tamu, dan Darel pergi ke dapur untuk menyiapkan sarapan pagi untuk mereka bertiga karena untuk Dian, Darel tidak tau seleranya seperti apa.

Alex pun memasuki kamar mandi, dia bergegas mandi sementara Dian menyiapkan pakaian formal milik Alex dan juga memasukkan barang-barang pribadi Alex sebagian yaitu laptop handphone dompet ke dalam tas masing-masing seperti sebelumnya.

Setelah semua siap dia pun kembali ke luar untuk menyiapkan sarapan pagi untuk mereka semua. Saat Dian tiba di dapur, Dian melihat Darel tengah membuat kopi.

"Anda ingin sarapan apa tuan, biar saya siapkan?"ujar Dian yang kini membuat Darel menoleh kearah Dian.

"Sandwich saja kakak ipar"ucap Darel.

"Ah baiklah,"ujar Dian yang kini terlihat bingung karena tidak ada bahan untuk membuat sandwich disana.

"Ada apa kakak ipar, biar saya saja jika anda tidak bisa"ujar Darel.

"Maaf tuan, bukan saya tidak bisa, tapi disini tidak ada bahan untuk membuat makanan seperti itu. Bagaimana kalau nasi goreng seafood saja?"ujar Dian.

"Wow, itu sangat lezat, baiklah jika tidak merepotkan"ujar Darel yang kini membawa dua cangkir kopi ke arah meja makan.

Dian pun langsung mengambil nasi sisa semalam lalu mengulek bumbu untuk nasi goreng, setelah itu dia mengambil udang yang memang sudah dikupas, lalu dia rebus sebentar untuk menghilangkan bau amis, sebelum nanti disatukan dengan nasi goreng.

Setelah semua bahan siap Dian langsung mengeksekusi nya hingga akhirnya nasi goreng seafood pun jadi dan penampilannya begitu menggugah selera.

Dian pun menghidangkan nasi goreng tersebut kedalam lima piring kosong, dan saat ini Darel mempertanyakan satu piring penuh nasi goreng lainnya.

"Kita hanya berempat, lalu itu?"ujar Darel yang kini dibalas senyuman oleh Dian.

"Ini untuk Afifah dan ibu"ujar Dian yang kini selesai menghidangkan semuanya termasuk susu untuk Renata, dan kopi untuk Alex yang sudah ditata diatas meja makan.

"Saya titip nona kecil ya jika dia bangun saat saya mengantar ini ke rumah ibu"ujar Dian.

"Honey apa tidak sebaiknya nanti saja, lagipula ini masih sangat pagi"ujar Alex yang tidak ingin ditinggal pergi oleh Dian saat dia akan sarapan pagi.

"Saya hanya sebentar,"lirih Dian.

Alex pun duduk dengan malas di hadapan Darel. "Bos, jangan buat kakak ipar marah, lagipula kita masih memiliki waktu dua jam lagi sebelum pergi," ujar Darel yang kini di tatap malas oleh Alex.

"Aku tidak tau ulah apa lagi yang dibuat oleh pria tua itu?"ujar Alex.

"Saya tidak tau," ujar Darel.

"Kau seharusnya lebih tau dariku, bukankah selama ini perusahaan cabang itu sepenuhnya berada dalam kendali mu?"ujar Alex.

"Saya tidak mungkin melawan beliau yang lebih berkuasa dibanding saya yang hanya asisten pribadi anda"ujar Darel yang kini kembali ke mode serius.

"Kamu benar, seharusnya aku memberikan tanggung jawab itu sepenuhnya padamu agar orang tua itu tidak bisa berulah lagi"ujar Alex.

" Tidak hanya perusahaan cabang yang terkena imbasnya tuan, perusahaan pusat pun kini dalam masalah"ujar Darel yang kini memperlihatkan laporan asisten Darel yang saat ini melaporkan apa yang terjadi pada perusahaan milik Alex tersebut.

"Kurang ajar apa maunya?"ujar Alex yang kini mengepalkan tangannya.

"Perjodohan,"ujar Darel yang kini membuat langkah Dian terhenti.

Meskipun lirih, Dian masih bisa mendengar obrolan mereka karena suasana pagi yang masih sangat sepi.

"Aku tidak akan pernah mengikuti keinginannya lagi meskipun aku harus melihat dia sekarat"ujar Alex yang kini mencengkram gelas yang berisi kopi panas hingga hampir pecah.

" Bos hati-hati"ujar Darel yang kini mengambil alih gelas yang retak yang membuat isinya merembes keluar.

"Ada apa? Apa kopinya terlalu panas hingga gelasnya retak, atau gelas nya yang terlalu murah"ujar Dian yang langsung menghampiri mereka dan meraih lap untuk membersihkan meja yang terkena kopi itu.

Kehadiran Dian dan pertanyaan itu tidak mampu mereka jawab saat ini keduanya hanya saling pandang karena ingin memastikan bahwa Dian tidak mendengar percakapan mereka berdua.

"Honey biar aku saja,"ujar Alex yang kini meraih tangan Dian hendak mengambil alih kain lap tersebut.

"Tidak usah,biar saya saja tuan, sebaiknya segera habiskan sarapan pagi nya, nanti anda terlambat untuk pulang"ujar Dian yang kini tidak menoleh kearah Alex yang tengah menatap kearahnya.

Dian pun langsung membuang gelas itu ke tong sampah, dia juga langsung membuat kopi yang baru, dan kali ini dia menggunakan gelas yang lebih baik dari sebelumnya.

"Semoga ini tidak retak lagi"ujar Dian yang kini meletakkan gelas dengan kopi yang masih mengeluarkan uap panas.

"Maaf honey, biar aku ganti nanti"ujar Alex.

"Tidak perlu, lagipula barang murahan tidak cocok untuk anda"ujar Dian sambil tersenyum kecil, sambil menyembunyikan rasa perih di hatinya.

...*****...

Sarapan pagi itu telah usai sejak satu jam yang lalu, tapi Alex tetap enggan pergi dari depan meja makan saat ini.

Bukan tanpa alasan, tapi itu karena Dian terus mengelak dari pertanyaan yang Alex berikan. salah satunya adalah tentang percakapan antara dirinya dengan Darel.

"Sepertinya nona kecil sudah bangun, saya akan siapkan air untuk dia mandi, anda bisa berangkat lebih awal agar tidak terlambat"ucap Dian yang kini masih menghindari tatapan mata Alex.

"Aku tidak akan pernah pergi jika kamu tetap seperti ini honey,"ujar Alex lirih.

"Tuan ayolah, apa anda masih tidak percaya dengan apa yang saya ucapkan, jika begitu percuma saja saya jadi pasangan anda, lebih baik kita putus saja"ujar Dian yang kini membuat Alex menatap tajam kearah Dian.

"Diandra, apa kamu sadar dengan ucapan mu saat ini?"ujar Alex.

"Saya bahkan sangat sadar tuan,"ujar Dian yang kini membalas tatapan mata Alex, tapi sedetik kemudian Dian kembali memalingkan pandangannya.

"Sampai aku mati pun, aku tidak akan pernah membiarkan mu pergi dariku"ujar Alex yang kini meraih dagu Dian agar gadis cantik itu menatap kearah nya.

"Tuan apa yang sebenarnya anda inginkan, kalau anda ingin pergi ya pergilah. Tapi saya hanya ingin memberitahu Anda jika lebih dari waktu yang ditentukan saya akan mengantar putri Anda ke tempat anda karena saya harus tetap melanjutkan hidup saya dengan bekerja"ujar Dian yang kini membuat Alex semakin marah.

"Tuan! tuan! Diandra aku ini calon suamimu jika kamu lupa itu?"ujar Alex yang kini menggebrak meja.

Dian sendiri langsung terpaku di tempatnya dia tidak bergeming sedikitpun sambil menundukkan pandangannya. Dian yang kini baru tau sikap Alex saat dia marah. Alex tidak lagi seperti yang dia kenal selama ini atau memang itu adalah sifat aslinya.

"Maafkan aku honey, aku tidak suka dengan itu, aku bukan tuan mu, tapi aku calon suami mu, jadi panggil aku selayaknya kamu memanggil pasangan mu"ujar Alex yang kini kembali berbicara dengan lembut.

"Saya hanya gadis desa tuan, rasanya sampai saat ini saya tidak pantas untuk bersanding dengan anda, apalagi untuk sebuah pernikahan yang sudah pasti akan banyak mengundang pro dan kontra, saya hanya tidak ingin membuat hidup Anda sulit, jadi lebih baik kita akhiri saja semuanya mumpung belum terlambat,"ucap Dian yang kini langsung berbalik pergi.

"Honey aku tidak terima dengan itu, aku tidak akan pernah melepaskan mu, apa kamu dengar aku honey tunggu!"ujar Alex yang kini terus mengejar Dian, tapi Dian langsung mengendarai motor yang tadi tengah dipanaskan, itu motor Afandi yang rencananya akan digunakan untuk mengantar Renata ke sekolah, karena Afifah masih melewati masa skorsing.

"Diandra!"panggil Alex setengah berteriak memecah keheningan di pagi hari yang masih terlihat gelap di luar sana.

Dian tidak menggubris Alex, dia membawa motor itu dengan kecepatan tinggi hingga terdengar nyaring di kuping Alex dan yang lainnya saat ini.

"Bos, tuan besar ingin bicara,"ujar Darel yang kini ditolak oleh Alex. Tapi ponsel Alex kemudian terus bergetar menandakan panggilan masuk.

Alex yang kini tengah berada dalam dilema pun langsung menerima panggilan telefon tersebut tanpa melihat siapa yang tengah menghubungi nya.

"Gideon Daddy sudah cukup bersabar menghadapi kelakuan mu selama ini. Sudah cukup dengan waktu libur mu pastikan kau pulang saat ini juga dan bawa cucu daddy sebelum kamu menyesal,"ujar pria lanjut usia yang kini langsung menutup panggilan nya.

Alex bahkan melempar ponselnya ke dinding hingga layar nya retak seribu.

"Bajingan!!"teriak Alex yang kini membuat Darel terdiam di tempatnya karena takut membuat Alex semakin marah.

"Miranda, segera persiapkan Aline, pria tua itu benar-benar tidak bisa di biarkan"ujar Alex yang kini pergi meninggalkan mereka yang langsung bekerja sama menyiapkan semuanya.

Sementara Alex sendiri kini pergi dengan mobilnya hendak menyusul Dian meskipun dia sendiri tidak tau Dian saat ini berada dimana.

Sementara orang yang kini Alex cari tengah menangis sesenggukan sambil duduk bersandar pada motor Afandi sambil sesekali menatap keatas langit dimana disana terlihat masih mendung.

"Aku tidak pernah berharap bisa hidup mewah, atau menikah dengan pangeran berkuda putih seperti cerita dongeng. Tapi kenapa takdir justru mempertemukan ku dengan nya yang sudah jelas-jelas tidak mungkin aku miliki dan aku tidak pantas untuk nya. Fandi andaikan kamu masih ada mungkin jalan hidup ku tidak akan seperti saat ini.

"Dian,"ujar seseorang dari arah belakang.

"Ari,"lirih Dian yang kini mengusap air matanya dengan kasar lalu menoleh kearah sumber suara.

"Sepagi ini? Cerita padaku apa yang terjadi?"ujar Ari yang kini sudah siap dengan pakaian kerja nya.

"Ri, kamu mau kemana aku ikut"ujar Dian yang justru malah balik bertanya.

"Gudang padi Diandra, apa tuan Alex tidak bilang padamu bahwa hari ini kami sudah mulai bisa bekerja?"ujar Ari.

"Tidak, ah baiklah selamat bekerja, semoga sukses"ucap Dian yang kini membuat Ari tersenyum manis.

"Kau tau, untuk sukses orang seperti kita hanya ada dalam cerita dongeng, itu pun jika ada keajaiban seperti yang terjadi pada hidup mu"ucap Ari yang kini tidak tau bahwa Dian sedang menghindari keajaiban dunia yang teramat menyakitkan itu.

"Aku mundur ri, aku tidak akan sanggup dengan semua itu,"ujar Dian yang kini membuat Ari faham dengan apa yang sedang Dian alami.

"Tapi dia sangat mencintai mu Dian, bahkan aku bisa melihat cinta yang begitu besar dimatanya"ujar Ari.

"Cinta itu tidak harus memiliki ri, ada hal yang jauh lebih besar dari cinta itu sendiri yang mungkin tidak akan pernah mungkin bisa aku jalani. Kecuali jika aku siap untuk mati"ujar Dian yang kini membuat Ari kaget lalu mendekat pada Dian.

"Diandra, sepertinya ini serius ayo kita bicara tapi tidak disini"ujar Ari yang kini hendak naik ke motor Afandi tapi pergerakannya terhenti saat seseorang memanggil Dian.

"Honey....

1
Wati Anja
semoga Dian dan Alek bisa bersatu❤❤❤
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!