NovelToon NovelToon
MAHAR 1 MILIAR: AKU JUAL DIRI, TAPI AKU TIDAK JUAL HARGADIRI

MAHAR 1 MILIAR: AKU JUAL DIRI, TAPI AKU TIDAK JUAL HARGADIRI

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Romantis / Aksi
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: wiwi

Saat keluarganya menjualnya demi uang, Lin Qingyan diselamatkan oleh pria misterius bernama Gu Beichen dan dipaksa menikah dengannya.
Ia mengira itu hanya pernikahan palsu.
Sampai ia tahu suaminya adalah pria paling berbahaya di dunia.
Ketika putri mereka lahir membawa darah kuno yang diincar seluruh dunia, perang besar pun dimulai.
Dan siapa pun yang berani menyentuh keluarganya... akan lenyap.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wiwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Nama Mereka Ada di Daftar Kematian

📖 BAB 34: Nama Mereka Ada di Daftar Kematian

Suasana di ruang tengah rumah aman membeku.

Di layar laptop, judul file itu menyala dingin:

PROJECT DUAL HEIRS – TERMINATION PROTOCOL

Tak seorang pun bergerak beberapa detik.

Han menelan ludah.

“Baik. Saya berubah pikiran. Mari kita lari ke desa dan beternak ayam.”

“Buka filenya,” kata Beichen.

Nada suaranya datar, tapi terlalu tenang.

Jenis tenang yang selalu datang sebelum kekacauan.

Han menatap keyboard.

“Kalau saya buka dan ternyata kutukan digital, saya akan marah.”

“Buka.”

“Baik.”

Ia menekan enter.

---

File terenkripsi terbuka perlahan. Beberapa halaman penuh simbol teknis, bagan genetik, transaksi keuangan, dan memo internal.

Mira membaca cepat.

“Ini proyek jangka panjang.”

Xue bersandar di sofa.

“Yang kaya memang suka masalah mahal.”

Han memperbesar halaman terakhir.

Lalu semua orang terdiam.

Di sana ada dua foto masa kecil.

Qingyan, usia sekitar tiga tahun.

Liora, usia dua tahun.

Di bawah masing-masing foto tertulis:

SUBJEK Q – PRIORITAS PENGAWASAN

SUBJEK L – PRIORITAS PENGAWASAN

Dan satu kalimat merah tebal di bawahnya:

Jika aktivasi tak dapat dikendalikan, eliminasi keduanya.

Qingyan merasa udara di paru-parunya hilang.

“Apa ini…”

Liora tertawa pendek.

Humor pahit.

“Aku bilang kita diciptakan untuk sesuatu.”

Han memandang layar.

“Saya semakin suka ayam.”

---

Qingyan menoleh ke Beichen.

“Keluargamu membuat daftar kematian untuk kami?”

Beichen menatap layar tanpa ekspresi.

“Aku tidak tahu file ini ada.”

“Itu bukan jawaban.”

“Itu jawaban yang benar.”

“Kau selalu punya jawaban rapi.”

“Kau selalu bertanya saat marah.”

“Karena hidupku sedang dibongkar!”

Liora berdiri.

“Berhenti.”

Semua menoleh.

Ia menatap Qingyan.

“Marah padanya nanti. Sekarang pahami dulu isi file.”

Untuk pertama kali, nada suaranya bukan tajam.

Melainkan letih.

“Aku diburu sejak umur enam belas.”

---

📁 Isi Masa Lalu yang Busuk

Han membuka folder berikutnya.

Rekaman kamera lama.

Laboratorium bawah tanah.

Tanggal dua puluh tahun lalu.

Seorang wanita dibawa masuk dengan tangan terikat.

Elena Qin.

Qingyan langsung mendekat ke layar.

Wajah ibunya pucat, tubuh kurus, namun masih tegak.

Di sisi layar, seorang pria berdiri membelakangi kamera.

Postur tinggi.

Tegas.

Jas hitam.

Gu Zhengyuan.

Tak perlu melihat wajah untuk tahu.

Qingyan menoleh pelan ke Beichen.

Ia tetap diam.

Video berlanjut.

Tak ada suara jelas, hanya gerakan.

Elena berteriak.

Pria itu membalas dingin.

Lalu ia melempar sesuatu ke meja.

Dua gelang identitas bayi.

Qingyan menggenggam meja.

“Dia memisahkan kami…”

Liora memejamkan mata.

“Aku ingat gelang itu.”

Semua menoleh.

“Kau ingat?”

Sedikit.

Aku masih sangat kecil. Ada lampu putih. Suara wanita menangis. Dan seseorang bilang… pilih satu dulu.”

Ruangan terasa semakin dingin.

---

🩸 Pengakuan Beichen

Qingyan berjalan ke jendela.

Punggungnya menegang.

“Kenapa ayahmu melakukan ini?”

“Aku belum tahu.”

“Kau selalu bilang belum tahu.”

“Karena aku tidak akan bohong hanya untuk menenangkanmu.”

Ia berdiri lalu mendekat beberapa langkah.

“Ayahku membangun kerajaan dengan mengorbankan banyak hal. Tapi bahkan untukku… ini baru.”

Qingyan menoleh cepat.

“Aku harus percaya?”

“Tidak harus.”

“Bagus.”

Beichen menatapnya lama.

“Tapi aku tetap akan menghentikannya.”

---

☕ Di Dapur – Percakapan Dua Saudari

Beberapa menit kemudian, Qingyan berdiri sendiri di dapur, mencoba menuang air panas tanpa menjatuhkan teko.

Tangannya masih gemetar.

Liora datang diam-diam dan membuka lemari.

“Kau mencari apa?” tanya Qingyan.

“Biskuit.”

“Kita baru hampir dibunuh.”

“Dan aku stres.”

Masuk akal.

Liora menemukan sekotak wafer dan duduk di meja.

Ia mendorong satu ke arah Qingyan.

Qingyan menerimanya.

Mereka makan dalam diam.

Aneh.

Namun tak canggung.

Lalu Liora berkata pelan,

“Aku iri padamu dulu.”

Qingyan menoleh.

“Kenapa?”

“Kau punya nama. Rumah. Sekolah. Kehidupan.”

“Kau pikir hidupku mudah?”

“Tidak.”

Liora menggigit wafer.

“Tapi kau setidaknya tahu siapa dirimu.”

Qingyan terdiam.

Karena bahkan itu tidak sepenuhnya benar.

---

📞 Panggilan Kedua

Han berteriak dari ruang tengah.

“Kita punya tamu digital!”

Semua kembali ke layar.

Monitor utama menyala sendiri.

Wajah Gu Zhengyuan muncul lewat koneksi terenkripsi.

Usianya di atas enam puluh, namun tatapannya masih tajam seperti pisau lama.

Ia menatap ruangan seolah sudah berada di dalamnya.

“Qingyan.”

Suara pria itu tenang.

Mengganggu karena terlalu tenang.

“Kita belum pernah bicara.”

Qingyan berdiri tegak.

“Dan semoga tetap begitu.”

“Sayang. Kau mewarisi mulut ibumu.”

“Aku harap bukan seleranya pada pria tua bermasalah.”

Han menutup mulut agar tak tertawa.

Beichen tidak bergerak.

Namun sudut bibirnya nyaris berubah.

Nyaris.

---

Gu Zhengyuan menatap putranya.

“Kau gagal membawa mereka.”

“Aku tidak mencoba.”

“Kesalahan.”

“Tidak.”

Pria tua itu kembali menatap Qingyan.

“Dengarkan baik-baik. File yang kalian lihat hanya potongan. Jika musuh-musuh lama mengetahui kalian hidup bersama, perang lama akan dimulai lagi.”

“Kenapa kami penting?”

“Karena ibumu menyimpan sesuatu yang tak pernah ditemukan.”

“Dan kau ingin kami membukanya?”

“Aku ingin kalian hidup.”

Liora mendengus.

“Aku hampir dibunuh tiga kali bulan ini.”

“Bukan olehku.”

“Kau lucu,” kata Liora datar.

---

Qingyan melangkah mendekat ke layar.

“Jawab satu hal. Apa ibuku mati karena ulahmu?”

Ruangan sunyi.

Gu Zhengyuan menatapnya lama.

Lalu berkata,

“Tidak.”

“Bohong,” bisik Qingyan.

“Yang membunuh ibumu bukan aku.”

“Lalu siapa?”

Pria tua itu tak menjawab.

Sebaliknya ia berkata:

“Lihat folder bernama ORCHID.”

Layar mati.

---

🌸 Folder ORCHID

Han membuka folder itu dengan tangan gemetar dramatis.

“Saya benci keluarga kaya.”

File pertama berisi laporan medis.

Subjek Elena Qin

Keracunan bertahap. Paparan zat mikro selama 11 bulan.

Qingyan membeku.

“Diracun?”

Mira membaca halaman lain.

“Bukan sekali. Pelan-pelan. Sistematis.”

Xue bersiul pelan.

“Kejam.”

Han membuka lampiran terakhir.

Daftar pengunjung rumah aman Elena di tahun terakhir hidupnya.

Nama-nama muncul.

Dokter.

Pengawal.

Kurir.

Satu nama diulang paling sering.

Madam Qin

Qingyan merasa lututnya lemas.

“Nenek…”

Liora menatap layar tajam.

“Wanita tua itu?”

Han menelan ludah.

“Jika ini benar… ibumu diracun oleh ibunya sendiri.”

Tak ada yang bicara.

Qingyan mundur satu langkah.

Lalu dua.

Dunia berputar terlalu cepat.

Semua kebencian yang ia simpan selama bertahun-tahun pada nasib, pada keluarga, pada masa lalu—tiba-tiba mendapat wajah baru.

Madam Qin.

---

🌧️ Balkon Rumah Aman

Qingyan berdiri di balkon dalam udara dingin Praha.

Ia tak menangis.

Justru itu lebih buruk.

Beichen datang membawa mantel tambahan.

Ia meletakkannya di pundaknya tanpa bicara.

Beberapa saat kemudian ia berkata,

“Jika file itu asli, aku akan bantu menjatuhkan siapa pun.”

Qingyan tertawa kecil.

Suara kosong.

“Aku bahkan tak tahu harus merasa apa.”

“Marah dulu. Itu sederhana.”

Ia menoleh padanya.

“Kau selalu menyelesaikan masalah dengan perang?”

“Tidak.”

“Lalu?”

“Kadang dengan menunggu orang siap bicara.”

Angin menerpa rambutnya.

Qingyan memandang kota tua yang basah oleh hujan tipis.

“Aku ingin pulang.”

“Ke mana?”

Ia terdiam.

Lalu menjawab pelan.

“Untuk pertama kali… aku tidak tahu.”

Beichen menatapnya.

“Kalau begitu, tinggal di sisiku dulu.”

Jantungnya berdenyut keras.

Ia membenci efek pria ini.

Sebelum ia sempat menjawab, alarm di dalam rumah berbunyi nyaring.

Han berteriak:

“SEMUA MASUK SEKARANG!”

Mereka berlari ke ruang tengah.

Di layar utama muncul siaran berita internasional.

Foto Qingyan.

Foto Liora.

Foto Beichen.

Judul besar di bawahnya:

DUA PEWARIS HELIOS DICARI. HADIAH 500 JUTA EURO. HIDUP ATAU MATI.

BERSAMBUNG

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!