WARNING! Sebelum mulai membaca, tolong baca tagar dahulu. Karena di sini area bebas JULID, dilarang mengomel hanya karena keinginan Anda tak sejalan dengan pemikiran Author.
•
Cinta itu menuntun dirinya untuk membuat keputusan paling kejam, memilih satu diantara dua wanita. Di antara tangis dan perih dua wanita yang lain, ia tetap mempertahankan wanita yang ia cinta.
Setelah keinginan diraih, takdir kembali lancang menuliskan jalannya tanpa permisi. Sekali lagi ia kehilangan, tapi kali ini untuk selamanya.
Terombang ambing dalam amarah, serta sempat menjauh dari-Nya. Tapi sepasang tangan kecil tetap meraih dirinya penuh cinta, tulus tanpa berharap imbalan jasa.
Apakah tangan kecil itu mampu menuntun Firza kembali ke jalan-Nya?
Lantas bagaimana dengan dua wanita yang pernah disakiti olehnya?
Mampukah Firza memantapkan hatinya pada cinta yang selama ini terabai oleh keegoisannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon moon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#34
#34
Brak!
Suara gebrakan meja kembali terdengar di ruangan rapat, penyebabnya adalah kemarahan atasan mereka.
“Ini proyek sudah kita mulai tiga bulan yang lalu, kenapa sampai sekarang belum ada kemajuan! Apa saja yang kalian kerjakan!” teriak Firza di tengah heningnya suasana rapat.
Satu minggu terakhir ini, hidup Firza amat sangat kacau, datang ke tempat kerja sesuka hati, lalu tiba-tiba menghilang tanpa permisi.
Kesedihan, kehilangan, serta patah hati hebat, membuatnya hilang arah, seperti tak punya tujuan. Hidupnya yang semula penuh keteraturan, mulai berantakan satu persatu, seperti ada potongan puzzle yang yang hilang dari hidupnya. Dan satu potong itu mampu mengendalikan segalanya.
Sedikit senggolan saja, mampu menjadi pemantik hingga membuat emosinya meledak tak terkendali. Sejujurnya ia sedang marah, tapi tak tahu hendak ditujukan pada siapa.
Pada dirinya?
Pada Ersha yang telah memulai hidup barunya?
Pada dunia?
Pada nasib?
Atau pada takdir kejam, yang menariknya hingga terjun ke dasar jurang terdalam. Tersesat hingga buta arah dan buta mata hatinya.
“Begini, Pak. Bulan lalu ada bencana di beberapa titik lokasi yang hendak kami survey, jadi warga sekitar pun, kehilangan beberapa dokumentasi contoh motif kain yang tersimpan di dalam arsip mereka.” Sang koordinator lapangan yang biasa mengkoordinir tugas lapangan, angkat bicara. Meski suara dan bahasa tubuhnya terlihat gemetar.
“Butuh waktu sedikit lebih lama, karena mereka harus menggambarnya dari awal.”
“Bukan alasan! Masih ada PEMDA, kalian bisa ke sana dan bertanya pada badan arsip daerah,” bantah Firza.
“Itu masalah lain lagi, Pak. Karena ada motif-motif yang belum terdaftar di badan arsip daerah.”
Firza membuang nafasnya kasar, kepalanya berdenyut, belakangan ini suasana kerja begitu menyiksa baginya. Ia pun jadi malas menyelesaikan masalah yang seharusnya mudah.
“Rapat selesai, silahkan lanjutkan pekerjaan kalian.”
Ucapan Firza membuat semua peserta rapat bernafas lega, karena terbebas dari amukan sang atasan yang belakangan ini semakin mengerikan.
Karena Firza yang dulu mereka kenal sebagai sosok yang ramah dan berdedikasi, mendadak berganti seperti Firza yang tak bisa mengendalikan emosi. Ternyata ketiadaan Ersha begitu besar pengaruhnya, kenapa ia terlambat menyadarinya, bahwa wanita yang selama ini terabaikan olehnya, telah bersemayam begitu erat di lubuk hati terdalamnya.
Di luar ruangan rapat, Biru berdiri mematung, sudah lama pria itu berdiri di sana, hingga mendengar semua yang terjadi di ruangan rapat.
Orang-orang yang baru keluar dari ruangan rapat, memberi hormat ketika berjalan melewati direktur utama mereka. “Hasan, ikut aku.”
“Baik, Pak.”
Keduanya berbincang di ruangan Biru. “Kenapa? Apakah ada kendala serius?”
Hasan menghela nafas, “Sebenarnya, serius, sih, tidak, Pak. Karena proyek ini tidak dikejar deadline, jika siap, maka kapanpun bisa kita luncurkan. Tapi, saya merasa, Pak Firza sedang ada masalah berat, hingga emosinya begitu kacau.”
Biru memeriksa berkas dan proposal proyek yang ada di tangan Hasan.
Proyek bertajuk NADI NUSANTARA, adalah gagasan Firza yang ingin mengangkat motif dan corak batik, tenun atau songket asli yang selama ini masih tersembunyi di pelosok pedalaman nusantara.
Tujuannya adalah, memperkenalkan pada dunia keindahan dan keeksotisannya, sekaligus mematenkan motif-motif tersebut, sebagai warisan budaya nusantara.
HudaTex akan menjembatani, dengan cara memproduksi motif-motif batik tersebut, agar semakin dikenal luas di kancah dunia.
Tak lupa bekerja sama dengan para desainer muda Indonesia untuk membuat satu karya busana atau apa saja, dengan salah satu motif-motif tersebut.
“Baiklah, aku mengerti, sekarang kembalilah, semoga emosi Firza bisa kembali stabil.”
“Saya permisi, Pak,” pamit Hasan yang diangguki oleh Biru.
•••
Pyar!
Suara pecahan itu terdengar nyaring, menggema di seluruh penjuru rumah besar dan mewah itu.
Ersha dan Mbok Sari tergopoh-gopoh keluar dari arah belakang, sementara Abizar masih berdiri mematung dengan wajahnya yang masih polos tanpa dosa.
Dari balik pintu taman samping, Bu Laksmi pun datang, kedua matanya terbelalak melihat vas besar kesayangannya hancur berserakan.
Abizar kembali melanjutkan langkahnya, dengan kepolosannya bocah itu memungut bola yang sejak tadi menjadi teman bermainnya.
“Sudah kubilang jaga anakmu dengan benar!” ucap Bu Laksmi penuh penekanan.
Sejak melihat keberadaan anak-anak di rumahnya, ia nyaris tak bisa duduk diam dengan tenang, karena ada saja tingkah aktif Abizar yang membuat emosinya tersulut.
Sebenarnya wajar, namanya anak sedang dalam masa aktif, berlari mengejar mainan, main air dan tanah, serta bersuara nyaring, kadang menangis bila moodnya sedang buruk. Tapi, masalahnya ada pada Bu Laksmi yang tak suka ketenangannya terusik, apalagi jika barang-barang koleksinya sampai rusak seperti saat ini.
“M-maaf, Bu,” ucap Ersha tanpa ragu, wanita itu langsung maju dan meraih Abizar ke pelukannya. Insting alaminya bekerja, yaitu melindungi sang buah hati dari segala ancaman yang akan membahayakan fisik serta mentalnya.
Mbok Sari segera bergerak dengan cepat, “Ini salah saya, Nyonya. Tadi saya lengah sebentar saat menjaga Abizar, mau cuci tangan di dapur.”
Ersha tercengang, ini bukan salah Mbok Sari, dirinya yang salah karena tadi meninggalkan Abizar sejenak, untuk cuci tangan dan meletakkan bekas piring makan, setelah selesai menyuapi bocah itu.
“Kalau begitu, gajimu akan aku potong selama lima bulan!” Bu Laksmi langsung menjatuhkan Vonis, tanpa mendengar alasan, atau bantahan. Wanita itu melengos pergi begitu saja, melanjutkan aktivitas bermalas-malasan seperti biasa bila tidak ada acara arisan.
Kali ini Mbok Sari yang terbelalak tak percaya, apakah harus setegas itu aturannya? Padahal selama ini yang menggaji dan mempekerjakannya adalah Ahtar. Dan pria itu tak pernah pelit dengan gaji yang selalu ditambahkan bonus hampir setiap bulan.
Air mata menetes membasahi pipi Ersha, ia merasa tak enak pada Mbok Sari, tapi juga tak berani bicara pada sang suami perihal sikap Bu Laksmi sejak kedatangannya ke rumah ini sebagai istri sah Ahtar.
“Mbok, maaf,” ucap Ersha sedih. “Nanti, aku tambahkan kekurangan gaji Mbok, ya. Maafkan aku.”
“Non Ersha tak perlu sedih begitu, sebenarnya, gaji Mbok di bayar langsung sama Den Ahtar, jadi tak perlu takut ada pengurangan.”
“Ah, yang benar, Mbok?”
“Benar, Non. Sudah, jangan terlalu dipikirkan. Lebih baik ajak Den Abi bermain, agar ia tak perlu mendengar omelan Nyonya Laksmi.”
“Sekali lagi, maaf, ya, Mbok.”
Meski Mbok Sari mengangguk, tapi Ersha tetap merasa tak nyaman, karena Mbok Sari yang bertanggung jawab atas kelalaiannya menjaga Abizar.
Sebenarnya tak hanya sikap Bu Laksmi saja yang membuat Ersha kurang nyaman tinggal di rumah ini, tapi sikap kedua adik tiri Ahtat pun tak kalah menyeramkan.
Bayu, kelihatannya diam, tapi Ersha merasa risih bila ada pria itu di dekatnya. Meski sudah berpakaian longgar dan serba tertutup, tapi tetap saja, ia merasa sedang dikuliti oleh tatapan tajam pria itu.
Sementara Citra, lebih mirip Bu Laksmi, dingin dan tak suka anak-anak. Pakaiannya serba modis, make upnya tebal dan selalu berwarna smokey atau gelap, kuku-kukunya panjang semakin menambah aura seram dalam diri wanita itu.
Tapi, sekali lagi, Ersha hanya bisa bersabar sementara, karena pencarian rumah masih terus berjalan. Ahtar benar-benar selektif memilih, dan memastikan hunian paling nyaman untuk mereka kelak.
Yayah lagi sakit, Abi main sama mama dulu.