Kehidupan kampus Anya yang monoton dan tanpa emosi mendadak runtuh ketika mahasiswa pindahan bernama Devan muncul. Sikap dingin Devan, tatapan penuh kebencian sekaligus kerinduan, dan rahasia kelam tentang kecelakaan masa lalu Anya yang terlupakan, perlahan menyeret gadis itu ke dalam realitas bahwa hidupnya selama ini adalah sebuah kebohongan yang dirancang rapi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mysterious_Man, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 6: Melompat ke Dalam Kegelapan
Tangan Devan terasa seperti satu-satunya benda padat di dunia yang tiba-tiba mencair ini. Telapak tangannya kasar, dipenuhi jaringan parut tipis yang tidak kukenal, namun hangatnya menembus kulitku yang sedingin es, mengirimkan getaran elektrik yang membakar sisa-sisa keraguanku. Di bawah sana, sepuluh lantai di bawah pijakan kaki kami, lampu sirene polisi membelah kegelapan subuh, memantul pada kaca-kaca gedung apartemen seperti kilatan predator yang sedang mengepung mangsanya.
"Anya, jangan melihat ke bawah. Lihat aku," suara Devan rendah, namun ada otoritas yang tak terbantahkan di sana.
Aku mendongak, menatap matanya. Di tengah hiruk-pikuk suara sirene dan deru angin yang semakin kencang, mata Devan adalah pusat badai yang tenang. Tidak ada keraguan di sana. Hanya ada sebuah janji yang sudah berusia tiga tahun, yang kini menagih untuk ditepati.
Aku melangkahkan kakiku melewati pagar balkon. Rasa takut akan ketinggian—acrophobia yang selama ini Ayah katakan sebagai bagian dari kelemahanku—tiba-tiba terasa tidak relevan. Bagaimana aku bisa takut jatuh ke aspal, sementara aku sedang berdiri di tepi jurang kebohongan yang jauh lebih dalam? Devan menarikku melewati sekat kaca. Tubuhku terasa ringan, seolah beban ribuan miligram pil putih yang selama ini mengendap di darahku telah menguap dalam satu tarikan napas adrenalin.
Begitu kakiku mendarat di balkon unit 1002, Devan tidak membuang waktu. Ia menarikku masuk ke dalam ruangannya yang gelap. Berbeda dengan unitku yang beraroma lavender dan penuh furnitur mewah, ruangan Devan terasa kosong dan dingin. Hanya ada sebuah ransel hitam di atas meja dan beberapa kertas yang berserakan.
"Lewat pintu depan sudah terlambat. Mereka sudah ada di koridor," bisik Devan. Ia meraih ranselnya, menyampirkannya ke bahu, lalu mengeluarkan sebuah pistol kecil berwarna hitam dari balik jaketnya.
Jantungku berdegup kencang hingga terasa menyakitkan di tulang rusuk. "Pistol? Devan, apa yang akan kau lakukan?"
"Hanya untuk perlindungan," jawabnya singkat. Ia mematikan lampu satu-satunya di ruangan itu. "Mereka tidak akan membiarkanmu pergi dengan cara baik-baik, Anya. Di mata ayahmu, kau adalah aset yang sedang mencoba melakukan sabotase pada dirinya sendiri."
Tepat saat itu, terdengar suara hantaman keras dari arah koridor. Bukan di pintu Devan, melainkan di pintuku. Unit 1001.
BRAKK!
"ANYA! BUKA PINTUNYA!"
Itu suara Ayah. Suaranya tidak lagi hangat atau penuh kasih sayang seperti saat ia membujukku minum obat. Itu adalah suara seorang penguasa yang sedang kehilangan kendali. Suara yang penuh dengan amarah destruktif.
"Neng Anya! Tolong buka, Neng! Tuan Hendra sudah datang!" teriak Bi Minah, suaranya melengking penuh kepanikan.
Aku gemetar hebat, menyandarkan punggungku di dinding ruang tamu Devan yang dingin. "Mereka... mereka akan mendobraknya."
"Dan mereka akan menemukan balkon yang kosong," Devan meraih tanganku lagi. "Ayo, lewat jalur tangga darurat sektor C. Aku sudah merusak kuncinya tadi sore."
Kami keluar dari unit 1002 dengan gerakan yang sangat hati-hati. Koridor apartemen Griya Kencana yang biasanya sunyi kini dipenuhi dengan suara teriakan dan langkah kaki yang berat. Aku bisa melihat siluet beberapa petugas keamanan apartemen yang sedang berlari menuju unitku. Mereka tidak menyadari keberadaan kami yang menyelinap ke arah yang berlawanan.
Kami masuk ke dalam tangga darurat. Udara di sini terasa pengap dan berbau semen. Kami menuruni anak tangga dengan kecepatan yang membuat kakiku terasa lemas. Setiap langkah sepatuku yang beradu dengan beton seolah menjadi hitungan mundur menuju kebebasan atau kehancuran.
"Kenapa kau melakukan ini, Devan?" bisikku di tengah napas yang tersengal. "Kau bisa kembali ke penjara jika tertangkap membawaku lari."
Devan berhenti sejenak di bordes lantai tujuh. Ia berbalik, menatapku dengan tatapan yang sulit diartikan. Dalam keremangan lampu darurat yang berkedip-kedip, wajahnya terlihat sangat lelah namun bertekad baja.
"Karena tiga tahun yang lalu, aku melepaskan tanganmu saat mereka menyeretku," bisiknya, suaranya bergetar oleh emosi yang selama ini ia tekan. "Dan aku menghabiskan setiap malam di dalam sel untuk mengutuk diriku sendiri karena hal itu. Aku tidak akan mengulanginya, Anya. Biarpun aku harus membakar seluruh kota ini, aku akan membawamu keluar."
Kalimat itu menghantamku lebih keras daripada kenyataan amnesiaku. Cintanya... cintanya bukan sekadar romansa masa SMA yang manis. Ini adalah obsesi yang lahir dari rasa sakit dan penebusan dosa. Sebuah dedikasi yang menakutkan namun sekaligus menjadi satu-satunya pelabuhan yang bisa kupercaya.
Kami melanjutkan perjalanan menuruni tangga. Saat mencapai lantai dasar, Devan tidak langsung membuka pintu menuju lobi. Ia mengintip melalui celah pintu besi yang berat itu.
"Lobi sudah dijaga. Ada dua mobil SUV hitam di depan. Orang-orang ayahmu," Devan mengutuk pelan. Ia memeriksa magasin pistolnya. "Kita harus lewat ruang mesin bawah tanah. Ada pintu keluar yang menuju ke gang belakang pasar."
"Tapi itu pasti terkunci, Devan."
"Tidak ada kunci yang tidak bisa dibuka oleh rasa putus asa, Nya."
Kami merangkak masuk ke dalam ruang utilitas yang dipenuhi pipa-pipa raksasa dan suara dengung mesin yang memekakkan telinga. Pakaianku mulai kotor oleh debu dan oli, namun aku tidak peduli. Aku merasa lebih hidup di dalam ruang mesin yang kotor ini daripada di dalam kamar mandiku yang berlapis marmer.
Tiba-tiba, pintu di belakang kami terbuka dengan dentuman keras.
"DI SANA! MEREKA DI SANA!"
Lampu senter yang sangat terang menyapu ruangan, menyilaukan mataku. Aku melihat dua orang petugas keamanan dan satu orang pria bertubuh tegap dengan setelan jas hitam—salah satu pengawal pribadi Ayah yang paling sering kulihat, Pak Tarjo.
"Nona Anya, tolong menjauh dari pemuda itu! Dia berbahaya!" teriak Pak Tarjo, ia sudah memegang sebuah alat kejut listrik di tangannya.
Devan menarikku ke belakang punggungnya. Ia tidak mengarahkan pistolnya ke arah mereka, ia justru mengarahkannya ke atas, ke arah pipa uap panas yang melintang tepat di depan para pengejar kami.
"Jangan mendekat!" gertak Devan.
"Lepaskan dia, Mahendra! Kau hanya akan menambah masa hukumanmu!" Pak Tarjo melangkah maju dengan penuh percaya diri.
DOR!
Suara letusan itu memekakkan telingaku. Aku menjerit tertahan, menutup telinga dengan kedua tangan. Peluru Devan menghantam katup pipa uap. Dalam sekejap, ruangan itu dipenuhi oleh kabut uap panas yang menyembur dengan suara mendesis yang sangat keras.
"ARGHH! SIALAN!" teriakan para pengejar kami tertelan oleh kabut putih yang membutakan.
"Lari, Anya! Sekarang!"
Devan menarikku menerobos uap panas itu. Kulitku terasa tersengat, namun aku terus berlari. Kami mencapai sebuah pintu besi kecil di ujung ruangan. Devan menendangnya sekuat tenaga hingga engselnya yang sudah berkarat itu jebol.
Kami muncul di sebuah gang sempit yang gelap dan becek. Udara dingin subuh kembali menyambut kami. Di ujung gang, sebuah motor besar berwarna hitam sudah terparkir dengan mesin yang menyala pelan.
"Naik!"
Aku melompat ke boncengan motor itu, melingkarkan lenganku di pinggang Devan seolah-olah ia adalah satu-satunya pelampung di tengah samudra yang mengamuk. Devan memacu motornya dengan kecepatan gila-gilaan, melesat keluar dari gang, melewati trotoar, dan membelah jalan raya yang masih sepi.
Melalui kaca spion, aku melihat apartemen Griya Kencana menjauh. Aku melihat lampu-lampu biru polisi yang mulai mengecil. Dan aku melihat sosok Ayah yang berdiri di depan lobi, menatap ke arah kami dengan tangan terkepal.
Di detik itu, aku menyadari bahwa aku bukan lagi Anya yang penurut. Aku telah melakukan tindakan pengkhianatan terbesar dalam hidupku. Dan anehnya, aku tidak merasa bersalah. Aku merasa bebas.
Perjalanan itu memakan waktu hampir satu jam. Kami meninggalkan pusat kota yang penuh dengan kamera pengawas, bergerak menuju pinggiran kota yang lebih kumuh dan berdebu. Pemandangan gedung pencakar langit berganti menjadi deretan gudang tua dan rumah-rumah semipermanen yang dipenuhi tumpukan barang rongsokan.
Devan menghentikan motornya di depan sebuah bangunan beton berlantai dua yang terlihat setengah jadi. Dindingnya tidak dicat, jendela-jendelanya hanya ditutupi oleh terpal biru yang berkibar tertiup angin.
"Turunlah. Ini tempat yang paling aman untuk sementara," ujar Devan, suaranya terdengar sangat lelah.
Aku turun dari motor, kakiku sedikit gemetar saat menyentuh tanah. Aku melepas masker medisku yang sudah lembap oleh keringat. Aku menatap bangunan di depanku dengan ragu. "Ini... rumahmu?"
"Tempat persembunyianku," koreksi Devan. Ia menstandarkan motornya, lalu berjalan menuju pintu depan yang terbuat dari kayu lapuk. Ia membukanya, memberiku isyarat untuk masuk.
Bagian dalam bangunan itu tidak jauh berbeda dengan luarnya. Dingin, pengap, dan hanya diisi oleh furnitur seadanya. Sebuah sofa usang, meja kayu kecil dengan tumpukan peta dan foto, serta sebuah kasur tipis di sudut ruangan. Namun, ada sesuatu yang menarik perhatianku di tengah ruangan itu.
Sebuah papan investigasi raksasa.
Papan itu dipenuhi oleh ribuan foto, potongan koran, dan benang-benang merah yang menghubungkan satu poin ke poin lainnya. Di tengah-tengah papan itu, ada sebuah foto besar diriku. Foto itu diambil secara diam-diam saat aku sedang duduk di kantin kampus, saat aku sedang berjalan di perpustakaan, bahkan foto saat aku sedang tidur di kursi belakang mobil Ayah.
Aku melangkah mendekat ke papan itu, tanganku gemetar menyentuh permukaan foto-foto itu. "Kau... kau mengawasiku selama ini?"
Devan meletakkan ranselnya di lantai, ia duduk di sofa usang itu, menyandarkan kepalanya ke belakang. "Aku tidak punya pilihan lain, Anya. Ayahmu menghapus keberadaanku dari ingatanmu, tapi dia tidak bisa menghapusku dari dunia ini. Aku harus tahu apa yang dia lakukan padamu. Aku harus tahu dosis obat apa yang diberikan Dokter Frans setiap harinya."
Ia menunjuk ke sebuah dokumen yang tertempel di papan itu. "Itu adalah catatan medis Dokter Frans. Aku meretas server kliniknya enam bulan lalu. Kau tidak sedang diobati, Anya. Kau sedang dihancurkan secara perlahan. Obat-obatan itu dirancang untuk membuat sistem saraf pusatmu tetap dalam kondisi 'statis'. Agar kau tidak bisa memproses memori baru yang bertentangan dengan narasi ayahmu."
Aku merasa mual. Realitas ini jauh lebih mengerikan daripada mimpi buruk mana pun. "Kenapa dia melakukan ini, Devan? Jika dia mencintaiku, kenapa dia ingin menghancurkanku?"
Devan mendongak, menatapku dengan mata yang memerah karena kurang tidur. "Karena dia tidak mencintaimu sebagai manusia, Anya. Dia mencintaimu sebagai properti. Kau adalah simbol kesempurnaannya. Putri tunggal konglomerat Hendra Kusuma yang tanpa cacat. Dan baginya, hubungan kita adalah sebuah cacat yang harus dihilangkan."
Ia bangkit berdiri, berjalan mendekatiku. Ia berdiri tepat di belakangku, napasnya yang hangat menerpa leherku.
"Malam kecelakaan itu... kita sedang membawa bukti korupsi perusahaan ayahmu. Proyek Sudirman yang runtuh dan menewaskan belasan pekerja? Itu semua karena ayahmu menggunakan material murah demi keuntungan pribadi. Kita memegang dokumen aslinya di dalam laptop itu. Itulah sebabnya dia mengejar kita. Itulah sebabnya dia lebih baik melihatmu kehilangan ingatan daripada melihatmu mengungkap kebenaran."
Aku berbalik, menatap matanya. "Lalu di mana dokumen itu sekarang?"
Devan menggeleng. "Sudah lama dihancurkan oleh orang-orang ayahmu saat aku tertangkap. Tapi ingatannya masih ada di sini," ia menyentuh pelipisnya. "Dan sekarang, ingatan itu juga mulai kembali ke kepalamu, kan?"
Aku tidak menjawab. Pening itu kembali lagi, kali ini disertai dengan kilasan-kilasan wajah orang-orang yang menangis di reruntuhan bangunan. Suara debuman semen yang jatuh. Bau kematian yang bercampur dengan debu konstruksi.
Tiba-tiba, suara ketukan keras terdengar di pintu depan.
TOK! TOK! TOK!
"DEVAN! AKU TAHU KAU DI DALAM! BAWA DIA KELUAR ATAU KAMI BAKAR TEMPAT INI!"
Aku terkesiap, mundur mendekati papan investigasi. "Mereka menemukan kita?"
Devan tidak terlihat panik. Ia justru tersenyum miring—sebuah senyum yang penuh dengan amarah yang dingin. Ia meraih pistolnya kembali. "Mereka bergerak lebih cepat dari dugaanku. Tapi mereka lupa satu hal."
Ia menatapku, matanya berkilat penuh tekad. "Di sini, aku tidak lagi dibatasi oleh aturan apartemen mewahmu. Di sini, ini adalah teritoriku."
Ia mematikan lampu, menyisakan kami dalam kegelapan yang pekat, hanya diterangi oleh cahaya bulan yang pucat dari celah terpal.
[KILAS BALIK SINEMATIK]
FADE IN:
INT. RUANG KERJA HENDRA KUSUMA - MALAM HARI (3 TAHUN LALU)
Suasana ruangan sangat tegang. HENDRA (Ayah Anya) berdiri di depan jendela kaca besar, menatap ke arah hujan badai di luar. Di belakangnya, PAK TARJO berdiri dengan kepala tertunduk.
PAK TARJO
"Mereka sudah menuju ke arah perbatasan, Tuan. Devan mengemudi seperti orang gila. Anya membawa folder merah itu."
HENDRA
(Suaranya sangat dingin, tanpa emosi)
"Lakukan apa pun untuk menghentikan mereka. Tabrak mereka jika perlu. Aku tidak peduli pada anak montir itu. Tapi pastikan putriku selamat."
PAK TARJO
"Tapi Tuan... itu sangat berisiko bagi Nona Anya."
Hendra berbalik, wajahnya terlihat seperti monster di bawah cahaya lampu meja yang redup.
HENDRA
"Lebih baik dia mati di tanganku daripada hidup untuk menghancurkan namaku, Tarjo. Tapi aku punya rencana yang lebih baik. Jika dia selamat namun jiwanya rusak... kita bisa membangun kembali jiwanya sesuai dengan keinginan kita."
Kamera fokus pada sebuah botol obat tanpa label di atas meja Hendra—regimen pertama dari Dokter Frans.
Suara tabrakan mobil yang mengerikan tiba-tiba menggema di latar belakang.
Layar menjadi merah darah, lalu perlahan memudar menjadi hitam pekat.
FADE OUT.
apa ayah Devan yg membunuh ibu Anya ??