NovelToon NovelToon
Love In Chaos

Love In Chaos

Status: tamat
Genre:Cinta Seiring Waktu / CEO / Tamat
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Ry_chan04

Adrian Alfarezel adalah CEO yang menderita germaphobia ringan dan sangat gila keteraturan. Hidupnya yang membosankan berubah total saat ia bertemu Zevanya (Zeva), seorang gadis pengantar paket yang hobi motoran, bicaranya ceplas-ceplos, dan tidak takut pada siapa pun—termasuk Adrian.
​Pertemuan mereka dimulai dari insiden "helm melayang" yang mengenai mobil mewah Adrian, berlanjut ke skema "pacar kontrak" untuk menghindari perjodohan kolot kakek Adrian.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ry_chan04, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Badai di Atas Meja Makan

Kemenangan atas dokumen rahasia di dalam Mercedes Pullman ternyata tidak membuat hidup Zevanya menjadi lebih tenang. Justru sebaliknya, jabatan barunya sebagai Direktur Operasional Strategis membuatnya terjebak di antara dua dunia yang saling tarik-menarik: dunia korporat yang kaku dan dunia keibuan yang penuh drama popok bayi.

Pagi itu, meja makan di penthouse Alfarezel tampak seperti medan perang. Di satu sisi, ada tumpukan tablet yang menampilkan grafik logistik pelabuhan yang sedang memerah karena blokade baru dari pihak Blackwood di London. Di sisi lain, ada botol susu, biskuit bayi yang sudah hancur, dan Kenzo yang sedang berusaha keras meraih dasi sutra Adrian untuk dimasukkan ke mulutnya.

"Adrian, sumpah ya, kalau Lord Julian kirim pengacara lagi ke kantor, gue bakal suruh Ujang pasang knalpot brong di depan mobil mereka," gerutu Zeva sambil mencoba menyuapi Kenzo bubur brokoli yang lebih banyak mendarat di pipi sang bayi daripada di mulutnya.

Zeva mengenakan kemeja putih mahal—pilihan Mama Martha—tapi lengannya digulung kasar hingga siku, memperlihatkan tato kecil berbentuk kunci inggris di pergelangan tangannya.

Adrian, yang sedang mencoba membetulkan dasinya yang sudah basah oleh air liur Kenzo, menghela napas. "Jangan gunakan cara jalanan dulu, Zeva. Julian sedang mencoba memancing kita melakukan kesalahan legal. Dia menggugat keabsahan dokumen yang kita temukan di mobil Pullman itu dengan alasan 'penemuan yang tidak sengaja'."

"Nggak sengaja gundulmu! Gue sampe hampir kena timpuk kunci inggris pas penyergapan kemarin, dia bilang nggak sengaja?!" Zeva meletakkan sendok bayinya dengan denting keras. "Kenzo, liat tuh Papahmu, terlalu banyak mikir hukum sampe lupa kalau kadang orang butuh digas dikit biar tahu diri."

Mama Martha masuk ke ruangan dengan keanggunan yang selalu berhasil membuat Zeva merasa seperti mekanik magang. "Zevanya, kendalikan emosimu. Dalam bisnis tingkat global, amarah adalah oli yang bocor; itu membuatmu tergelincir, bukan melaju kencang."

Meskipun Martha menyarankan ketenangan, Zeva tahu bahwa Blackwood sedang melakukan manuver di bawah meja. Siska melaporkan bahwa beberapa mandor di pelabuhan Merak mulai "dibeli" untuk melakukan mogok kerja secara halus.

"Adrian, lu urus pengacara-pengacara itu di kantor pusat. Biar gue yang turun ke Merak hari ini," ujar Zeva sambil menyambar jaket kulitnya yang kini selalu ia bawa, bahkan saat memakai baju kantor.

"Zeva, kau baru saja menjabat. Dewan komisaris akan mengawasi setiap langkahmu," peringat Adrian.

"Justru itu. Gue mau tunjukin ke mereka gimana cara Direktur Operasional kerja yang sebenernya. Bukan cuma duduk manis depan laptop," Zeva menggendong Kenzo sebentar, mencium pipinya yang tembem. "Kenzo, titip sama Nenek dulu ya. Ibu mau pergi nge-reset mesin-mesin yang macet."

Zeva tidak pergi dengan Rolls-Royce. Ia memanggil Ujang dan meminta motor kustomnya disiapkan. Ia butuh merasakan getaran mesin di bawah kakinya untuk menjernihkan pikirannya.

Sesampainya di Merak, suasana terasa berat. Beberapa truk kontainer terhenti di tengah jalur evakuasi, dan para buruh pelabuhan tampak duduk-duduk malas, tidak seperti biasanya yang penuh semangat.

Zeva turun dari motornya, membuka helm, dan langsung berjalan menuju kerumunan mandor.

"Woy! Ini pelabuhan apa kuburan?! Kenapa mesin crane pada mati semua?!" teriak Zeva, suaranya menggelegar di antara deru angin laut.

Seorang mandor baru bernama Surya—yang kabarnya dibawa masuk oleh faksi Blackwood sebelum dokumen Pullman ditemukan—maju dengan wajah sombong. "Izin operasional sedang ditinjau ulang oleh pusat, Nona Direktur. Kami tidak mau kerja kalau nanti gaji kami nggak jelas siapa yang bayar."

Zeva menyeringai, sebuah seringai yang membuat Ujang di belakangnya langsung mundur perlahan karena tahu akan ada badai.

"Gaji nggak jelas? Lu denger ya, Surya. Selama nama Alfarezel masih nempel di gerbang ini, gaji lu urusan gue. Tapi kalau lu lebih milih makan duit haram dari orang Inggris yang bahkan nggak tahu cara cebok pake gayung, lu silakan cabut sekarang!"

Zeva berjalan menuju salah satu crane raksasa yang dikabarkan "rusak teknis". Ia memanjat tangga besi itu dengan kelincahan yang mengejutkan bagi para buruh. Di atas kabin operator, ia membuka panel kontrol.

"Surya! Lu bilang ini rusak?! Ini kabel bypass-nya sengaja dicabut!" Zeva berteriak dari atas. Ia menyambungkan kembali kabel tersebut dengan gerakan cepat dan sekali putar... mesin crane menderu hidup, mengangkat peti kemas besar dengan suara hidrolik yang mantap.

Para buruh di bawah terdiam. Mereka melihat pemimpin baru mereka, seorang wanita berkelas direktur, tapi tangannya hitam oleh oli dan nyalinya setinggi langit.

Zeva turun dari crane, menghampiri Surya yang mulai pucat. Ia merogoh saku Surya dan menarik sebuah ponsel mahal yang jelas bukan milik seorang mandor biasa.

"Ini ponsel siapa, Sur? Bagus ya. Ada pesan masuk tuh, pake bahasa Inggris. Mau gue bacain?" Zeva merebut ponsel itu. Di layarnya, terpampang pesan dari anak buah Julian yang menjanjikan bonus jika operasional Merak lumpuh selama tiga jam.

Zeva menoleh ke arah buruh-buruh lainnya. "Kalian dapet apa dari dia? Janji kosong? Liat nih, bos kalian yang ini cuma mau jadiin kalian tumbal!"

Bang Bewok dan para mandor lama langsung merangsek maju. "Nona, sori... kami sempet ragu karena denger isu Nona bakal jual pelabuhan ini."

"Gue jual? Yang bener aja! Gue bangun ini bareng Bapak gue dari zaman aspalnya masih bolong-bolong! Gue nggak bakal jual masa depan Kenzo buat orang asing!" tegas Zeva.

Dalam hitungan menit, suasana pelabuhan kembali hidup. Para buruh yang tadi mogok kini bekerja dua kali lebih cepat karena merasa malu dan sekaligus terinspirasi. Surya diserahkan ke tim keamanan internal untuk diinterogasi lebih lanjut.

Malam harinya, saat Zeva baru saja sampai di rumah dengan tubuh yang luar biasa lelah, Adrian menyambutnya dengan kabar yang lebih berat.

"Zeva, Helena melakukan langkah nekat. Dia mengajukan banding dari penjara dengan membawa saksi palsu yang mengklaim bahwa Kenzo bukan anak kandungku, melainkan hasil rekayasa untuk mengamankan saham," suara Adrian terdengar dingin dan tajam.

Zeva yang sedang minum air putih langsung tersedak. "Apa?! Itu nenek sihir bener-bener minta gue bongkar kepalanya ya?!"

"Dia mencoba melakukan tes DNA paksa melalui pengadilan internasional. Tujuannya hanya satu: memperlambat pengesahan kepemilikan saham yayasan dan membuat nama baikmu hancur di mata publik," lanjut Adrian.

Zeva terduduk di sofa, memijat keningnya. "Dia mau serang Kenzo. Itu batas terakhir gue, Adrian. Selama ini gue sabar dia main di saham atau pelabuhan. Tapi kalau dia udah berani bawa-bawa kehormatan anak gue..."

Mama Martha mendekat, meletakkan tangannya di bahu Zeva. "Zevanya, Helena tahu dia sudah kalah di lapangan. Sekarang dia mencoba bermain di ranah persepsi. Kita tidak boleh membiarkan tes DNA itu menjadi konsumsi publik."

"Gue punya ide," ujar Zeva tiba-tiba, matanya berkilat nakal. "Adrian, lu bilang dia mau tes DNA? Oke, kita kasih. Tapi bukan di pengadilan kaku yang penuh orang-orang bayarannya Julian. Kita bakal bikin konferensi pers paling gila yang pernah ada di sejarah Alfarezel."

Zeva merencanakan sebuah acara amal besar di panti asuhan tempat yayasannya bernaung. Ia akan membawa Kenzo, melakukan tes DNA secara terbuka dan live yang diawasi oleh tiga lembaga medis independen dari berbagai negara.

"Gue bakal tunjukin ke dunia, kalau Kenzo itu seratus persen Alfarezel dan seratus persen Sanjaya. Dan di acara itu juga, gue bakal buka semua bukti pengkhianatan Helena dan Blackwood yang selama ini kita simpan," ujar Zeva mantap.

Adrian tersenyum, kali ini senyum yang penuh kebanggaan. "Kau benar-benar Direktur Operasional Strategis yang paling semprul, Zeva."

"Strategi itu kayak mesin, Bos. Kalau cuma diservis pelan-pelan nggak bakal bener. Kadang emang harus dibongkar total biar ketahuan mana yang karatan," sahut Zeva sambil menyeringai.

Namun, di sebuah ruangan gelap di penjara wanita, Helena sedang tersenyum menatap televisi. Ia memegang sebuah foto tua Zevanya saat masih kecil. "Silakan, Zeva... lakukan pertunjukanmu. Kau tidak tahu bahwa rahasia terbesar bukanlah tentang siapa ayah Kenzo, tapi tentang siapa sebenarnya ayahmu sendiri."

Badai baru sedang terbentuk di ufuk timur, lebih besar dari apa yang pernah dibayangkan Zevanya.

1
Desy Bengkulu
hooo begitu rupanya
tapi kok bisa si kakek gak tau kalo zeva adlh anak dari sahabat nya
Desy Bengkulu
ceritanya bagus , awalnya kek membosankan tapi pas mulai masuk rasa penasaran semakin merota🤣🤣
aksi zevanya sungguh di luar nurul dan di luar prdiksi bmkg🤣🤣🤣

semngat kak tokoh cwek nya kuat badas gak menye menye , aku suka kk author mantan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!