Tak selamanya pertemuan antara dua trauma berakhir dengan trauma baru. Bisa jadi, merekalah yang paling paham cara merawat luka satu sama lain.
Apa yang lebih menyakitkan daripada pengkhianatan?
Apa lagi kalau bukan kenyataan bahwa pria yang selama ini kita cintai sama sekali tidak pernah merasa bersalah, bahkan berani bilang kalau itu hal yang wajar dan mencoba menutupi semua luka itu dengan istilah 'Nafkah'.
DI hotel malam itu, Vandini melihat sosok suaminya sedang bersama wanita lain, dan ia hanya mendapat makian.
"Kamu nggak seharusnya ada di sini, Van. Ini bukan tempatmu."
Keterkejutannya pun berganti menjadi amarah yang membuncah. "Aku istrimu, Satura! Aku harusnya ada di mana pun kamu berada. Kamu itu yang gak seharusnya ada di tempat kayak gini!"
"Kamu nggak ngerti, Van. Ini... ini nggak ada hubungannya sama kita."
"Oh, begitu ya?" Vandini tertawa getir. "Terus ini apa? Jelasin dong! Gimana maksudnya ketemu suami sendiri lagi ngamar sama wanita lain, hahh?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon phiiiew, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kembali Hangatkan Suasana
Sesampainya di rumah orang tua Satura, Dannur sudah menunggu di garasi. Wajah lelaki itu langsung berseri-seri begitu melihat cucu-cucunya datang.
"Ehhh ... Ada dia, teman kesayangan Kakek!" seru Dannur sambil mengangkat tubuh Connan dan mengacak-acak rambutnya.
Cia langsung merentangkan tangan sambil tertawa. Dannur pun memeluknya dan mengecup kening gadis kecil itu dengan sayang.
Satura tersenyum melihat interaksi ayahnya dengan anak-anak. Walaupun punya banyak kekurangan, Dannur adalah kakek yang sangat penyayang. Satura merasa bersyukur karenanya.
Di dalam rumah, mereka berkumpul di dapur. Dannur sibuk mengobrol dengan Connan, sementara Maria menata biskuit di atas piring.
"Gini ya, Connan," kata Dannur sambil mencondongkan badan dengan tatapan antusias. "Kapan nih kamu mau mulai bantu Papa? Sudah waktunya diajari jadi laki-laki tangguh, berani kotor-kotoran dikit."
Connan mendongak, wajahnya tampak ragu-ragu. Ia melirik ke arah Satura, yang langsung mengangguk pelan memberi semangat.
"Ehm... Aku lagi belajar matematika, Kek," jawab Connan pelan. "Terus kadang juga bantu Ibu masak. Minggu lalu aku bikin spageti lho."
Dannur terkekeh pelan lalu menggeleng-gelengkan kepala. "Masak-masak? Kan itu biasanya cewek-cewek, kamu nggak mau kan? Kamu kan mau jadi cowok kuat kayak Kakek dan Papa, kan?"
Senyum Satura perlahan hilang. Ia melangkah maju dan meletakkan tangannya di bahu putranya.
"Sebenarnya, Pak," ucap Satura berusaha tetap tenang tapi tegas. "Connan itu lagi belajar banyak hal. Mulai dari masak, matematika, sampai olahraga. Biarkan saja dia cari tahu apa yang dia suka."
Dannur tampak sedikit terkejut, lalu mengangguk-angguk sambil melambaikan tangan seakan menganggap hal itu sepele.
"Iya, iya," sahutnya seakan ingin mengakhiri topik itu. "Cuma aku nggak mau tuh anak jadi cowok yang lembek, gitu lho."
Satura merasa jengkel, namun ia berusaha menahan diri. Tidak mau bertengkar di depan anak-anak.
"Connan itu kuat kok, dengan caranya sendiri. Nggak perlu ikutin standar orang lain buat buktiin itu."
Maria yang sedari tadi diam, kini melirik sekilas. Ekspresinya agak kaku, namun ia mengangguk kecil memberi dukungan pada Satura.
"Biskuit ... semua suka, kan?" ucapnya lembut, berusaha mengalihkan pembicaraan. "Mending kita nikmati ini saja dulu."
Cia langsung bertepuk tangan dan meraih satu biskuit. Melihat itu, wajah Dannur kembali melembut dan tersenyum.
"Kamu benar," katanya lembut. "Mana ada yang bisa nolak biskuit?"
Satura akhirnya bisa bernapas lega. Ia tahu Dannur tidak bermaksud jahat, itu hanya punya pola pikir lama yang sulit diubah. Namun melihat wajah Connan yang tadi bingung, Satura sadar betapa pentingnya ia menjadi sosok yang berbeda.
Saat mereka pamit pulang, Maria memeluk Satura erat-erat. "Makasih ya sudah belain Connan tadi," bisik wanita itu tulus.
Satura hanya mengangguk dan membalasnya dengan senyum tipis.
Di dalam mobil, Satura melirik lewat kaca spion dan bertemu pandang dengan Connan.
"Hei," kata Satura lembut. "Kamu tahu kan kalau kamu boleh melakukan apa saja yang kamu suka? Mau masak, mau bikin-bikin barang, atau baca buku, itu semua nggak masalah. Jadi diri sendiri saja yang paling penting."
Wajah Connan langsung cerah dan ia mengangguk mantap, tampak jauh lebih tenang.
Saat mobil mulai menjauh, Satura merasa tekadnya semakin kuat. Ia berjanji akan memastikan anak-anaknya tumbuh dengan kebebasan yang dulu tidak pernah ia miliki.
...***...
Hari ini kedatangan Mama mereka.
Vandini memutar kunci pintu depan. Tubuhnya terasa sangat lelah, tapi ia lega akhirnya bisa pulang.
Aroma rumah langsung menyambut begitu ia masuk. Penat akibat perjalanan jauh seketika berkurang. Hari sudah larut, suasana rumah hening. Hanya terdengar suara dengungan kulkas dan detak jarum jam dari lorong.
Baru saja ia meletakkan tas, terdengar suara dari ruang tengah. Satura muncul di ambang pintu, dan wajahnya langsung berseri melihat Vandini.
"Hai," bisik Satura pelan, seakan takut mengganggu ketenangan. Ia melangkah maju dengan senyum lega yang hangat. "Kamu udah sampai."
Vandini membalas senyum itu. Ketegangan di tubuhnya perlahan hilang hanya dengan melihat wajah suaminya.
"Iya, nyampe juga," jawab Vandini lembut. Rasa capeknya langsung berkurang drastis. "Anak-anak gimana? Baik-baik aja kan?"
Satura mengangguk mantap, tatapannya teduh dan menenangkan.
"Connan sama Cia baik-baik aja kok. Kemarin mereka jalan-jalan ke rumah orang tua aku terus bikin spanduk 'Selamat Pulang' khusus buat kamu. Spanduknya ada di atas, mereka susah payah pasang biar lurus." Satura terkekeh kecil, terlihat senang melihat antusias anak-anak. "Mereka nanyain kamu terus seharian. Kangen banget sama kamu."
Hati Vandini terasa hangat mendengarnya. Ia bisa membayangkan anak-anak sibuk membuat hiasan itu dengan penuh kasih sayang.
Connan pasti sibuk menyuruh Cia fokus menggambar, sementara si kecil asyik mencoret-coret kertas. Itu hanya spanduk sederhana, tapi terasa sangat berarti bagi Vandini.
Satura semakin mendekat. Tangannya perlahan memegang punggung Vandini, membimbing istrinya duduk di sofa. Sentuhannya lembut dan menenangkan.
"Ayo, duduk sini," kata Satura. "Pasti capek banget kan?"
Vandini merebahkan tubuhnya ke bantal empuk dengan perasaan lega. Satura duduk di sebelahnya, lalu menyodorkan secangkir teh hangat yang sudah disiapkan sebelumnya.
Vandini menyesap teh itu perlahan. Hangatnya cairan menyebar ke seluruh tubuh, menenangkan sarafnya yang tegang seharian. Tatapan Satura tak lepas dari wajah Vandini. Matanya dipenuhi rasa syukur yang mendalam.
"Vandini," panggilnya pelan seraya mengulurkan tangan. "Makasih ya buat semua yang kamu lakuin. Buat mereka... buat kita berdua." Suaranya terdengar sangat tulus. "Bukan cuma anak-anak yang kangen, aku juga."
Vandini menatap tangan mereka yang saling menggenggam. Ibu jari Satura mengusap punggung tangannya dengan gerakan lambat. Anehnya, kali ini ia tidak merasakan rasa jijik atau ingin menjauh seperti biasanya.
Vandini mendongak, menatap mata suaminya. Ia terkejut menyadari bahwa sentuhan itu justru terasa nyaman di tubuhnya.
Gerakan sederhana itu, momen hening di antara mereka, ternyata mampu mengisi kekosongan di hatinya yang selama ini bahkan tak ia sadari.
Vandini membiarkan suasana itu tercipta di antara mereka, merasakan kedamaian yang jarang ia rasakan.
"Aku juga... kangen banget sama kalian," bisik Vandini pelan.