NovelToon NovelToon
Cinta Yang Ku Beli Dengan Air Mata.

Cinta Yang Ku Beli Dengan Air Mata.

Status: sedang berlangsung
Genre:Bapak rumah tangga / Keluarga / Cerai
Popularitas:873
Nilai: 5
Nama Author: Widianti dia

Satria tidak pernah meminta hidup yang mudah.*
> *Ia hanya ingin satu hal sederhana: dicintai dan dihargai.*
> *Tapi di hari ia datang melamar perempuan yang ia cintai,*
> *yang ia dapat bukan jawaban…*
> *melainkan ludah di kakinya dan tawa yang merobek harga dirinya.*
>
> *Dari situlah semuanya dimulai.*
> *Ia bangkit. Membangun hidup dari nol dengan gerobak cilok dan tangan yang kapalan.*
> *Sampai akhirnya ia bertemu perempuan yang ia kira adalah jawaban dari doanya.*
> *Ternyata… itu awal dari penjara.*
>
> *Enam tahun hidup dalam hinaan.*
> *Enam tahun menahan luka yang tidak terlihat.*
> *Enam tahun bertahan — bukan karena kuat,*
> *tapi karena ada satu anak kecil yang setiap hari berkata:*
> *"Ayah jangan sedih… Aini sayang Ayah."*
>
> *Karena pada akhirnya, bukan soal seberapa lama kita bertahan —*
> *tapi untuk siapa kita memilih untuk tetap hidup.*

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Widianti dia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 30. Epat Gol Dan Satu Nama.

Lapak tutup jam dua kurang sedikit.

Bukan karena dagangan habis, tapi karena aku lihat jam dan langsung sadar kalau tidak berangkat sekarang, pertandingan pertamaku sudah setengah jalan tanpa aku di sana. Aku bereskan cepat-cepat, kompor dimatikan, panci tutup, gerobak dikunci, motor langsung gas.

Sampai di lapangan, Pak Rudi sudah berdiri di pinggir dengan peluit di leher dan ekspresi orang yang sudah menghitung menit.

"Cepetan cok, udah mau mulai nih."

"Maaf Pak, lapak baru tutup."

"Iya iya, ganti baju sana."

Dari pinggir lapangan, suara yang sudah sangat aku kenal.

"BANGBANG DATENG. BANGBANG UDAH DATEEENG."

Boby. Berdiri di tribun kecil, tangannya diangkat semua, teriak sekeras orang yang nonton final piala dunia padahal ini cuma kompetisi antar kecamatan di lapangan yang rumputnya masih gundul di beberapa titik.

"Inget ya Bangbang, gue support lo."

"Namaku Satria." Aku bilang ke arahnya sambil jalan ke ruang ganti.

"IYA BANGBANG."

Aku menyerah.

Pertandingan dimulai.

Dan sesuatu yang tidak aku sangka terjadi sejak menit pertama. Tubuhku ingat. Kaki ini ingat cara berlari di antara orang, ingat cara baca celah, ingat timing yang tidak bisa dipelajari dari buku atau video, sesuatu yang hanya bisa dimiliki dari ratusan jam main di lapangan kampung waktu masih bocah.

Gol pertama menit dua belas. Umpan dari sayap kanan, aku masuk ke kotak penalti dari sisi buta bek lawan, satu sentuhan.

Pak Rudi berteriak sesuatu dari pinggir yang tidak aku dengar jelas karena terlalu fokus.

Gol kedua menit dua puluh tujuh. Bola pantul dari tiang, aku yang paling cepat sampai.

Gol ketiga, gol keempat. Keduanya dari situasi yang berbeda tapi dari tempat yang sama, dari kaki kanan yang ternyata masih bisa dipercaya meskipun sehari-harinya lebih sering menguleni adonan daripada menendang bola.

Peluit panjang.

Pak Rudi langsung jalan ke lapangan ke arahku sambil geleng-geleng kepala. "Bro, lo dari mana aja selama ini. Empat gol, bro."

"Jualan cilok, Pak."

Dia ketawa. "Gila lo."

Dari tribun, Boby masih teriak-teriak hal yang tidak bisa sepenuhnya aku dengar tapi sudah bisa aku bayangkan isinya.

Aku duduk di pinggir lapangan, menarik napas, lutut sedikit pegal tapi pegal yang berbeda dari pegal mendorong gerobak. Pegal ini ada hangatnya.

Waktu aku angkat kepala, ada seseorang berdiri dua langkah di depanku.

Perempuan. Seragam SMA, kelas dua belas kira-kira dari lencana di bajunya. Rambut dikuncir satu ke samping. Tangannya mengulurkan botol air mineral.

Aku menatap botol itu, lalu wajahnya.

Dari tadi, aku sadar ada seseorang yang mengamati dari sisi tribun. Sempat aku lirik dua atau tiga kali waktu jeda, dan tiap kali aku lirik, pandangan itu belum berpindah. Waktu itu aku hanya berpikir satu hal dalam hati.

Pasti heran kenapa ada tukang cilok di sini.

Dan aku tidak bilang itu keras-keras.

"Makasih." Aku ambil botolnya.

"Nama abangnya Bangbang ya?"

Aku hampir tersedak air mineral yang baru saja masuk ke tenggorokan.

"Siapa yang bilang?"

Dia menoleh ke arah tribun. Ke arah Boby yang sedang pura-pura melihat ke langit dengan ekspresi sangat tidak meyakinkan.

"Itu." Dia tertawa kecil.

Aku menatap Boby. Boby langsung bersiul dan membuang muka. Anak itu.

"Namaku Satria." Aku luruskan. "Boby yang tidak bisa dipercaya itu yang bikin nama itu."

"Oh." Dia mengangguk tapi masih senyum. Lalu mengulurkan tangan. "Kenalin, Sonia."

Kami berjabat tangan. Tangannya kecil, tanganku masih sedikit berkeringat dari pertandingan tadi, dan ada sedetik canggung sebelum keduanya dilepas.

Lalu kami ngobrol.

Tidak tahu bagaimana mulainya. Tiba-tiba saja sudah ngobrol. Tentang pertandingan tadi, tentang lapangan ini yang katanya sudah lama tidak seramai ini waktu ada yang cetak empat gol, tentang sepak bola. Sonia ternyata penggemar Barcelona, bicara soal formasi dan nama pemain dengan cara orang yang benar-benar mengikuti bukan sekadar ikut-ikutan.

Aku lebih banyak mendengarkan.

Bukan karena tidak punya topik. Tapi karena ada sesuatu yang aneh dari situasi ini. Sesuatu yang ringan. Sesuatu yang sudah sangat lama tidak aku rasakan dalam percakapan, sesuatu yang namanya mungkin adalah ngobrol biasa tanpa ada yang menghitung uang di belakangnya.

Sonia bertanya aku kerja apa.

"Jualan cilok."

Dia tidak berubah ekspresinya. Tidak ada tatapan dari atas ke bawah. Tidak ada tawa kecil yang menyembunyikan sesuatu. Cuma, "Oh, di mana?"

"Depan SDN Empat, jam tujuh sampai jam dua."

"Pantesan, gue sering lewat situ." Dia mengangguk pelan. "Besok gue beli."

Dan di suatu titik dalam percakapan itu, aku sadar ada satu hal yang tidak aku ucapkan.

Bahwa aku sudah menikah.

Bukan disengaja. Atau, aku tidak bisa sepenuhnya bilang tidak disengaja. Lebih ke, tidak ada momen yang terasa pas untuk menyisipkan kalimat itu, dan percakapannya mengalir begitu saja tanpa aku arahkan ke sana, dan aku membiarkannya mengalir.

Bodohnya aku, aku membiarkannya mengalir.

Sebelum berpisah, Sonia bilang, "Boleh minta nomor WA abang? Buat pesan cilok."

"Nomor gue jarang aktif, kuota sering habis."

"Oh." Dia mengambil ponselnya. Jari-jarinya bergerak sebentar di layar. "Sini ponselnya."

Aku menyerahkan sebelum sempat bertanya kenapa.

Dia kembalikan dua detik kemudian.

Di layar, notifikasi masuk. Kuota dua puluh ribu gigabyte sudah masuk ke nomorku.

Aku menatap layar itu.

"Sekarang aktif kan?" Sonia tersenyum dengan cara orang yang tidak merasa melakukan sesuatu yang besar padahal baru saja melakukan sesuatu tanpa minta izin dulu. "Nanti kabarin ya kalau buka lapak."

Dia pergi.

Aku berdiri di pinggir lapangan dengan ponsel di tangan dan kuota yang tidak aku minta dan nama baru di kepala yang tidak seharusnya aku simpan terlalu lama.

Dari tribun, Boby berjalan mendekat dengan senyum yang terlalu lebar.

"Bangbang dapat nomor cewek."

"Diam." Aku masukkan ponsel ke saku.

"Cantik kan Bang? Gue yang kasih tau nama lo tadi, sama bilang lo jomblo."

Aku berhenti.

"Kamu bilang apa?"

Boby mundur satu langkah. "Eh, maksud gue—"

"Pulang." Aku jalan ke motor.

Di jalan pulang, angin menghantam wajahku dari depan. Lima ratus ribu di kantong dari kontrak itu, empat gol tadi, dan satu nama yang tidak seharusnya jadi masalah tapi sesuatu di sudut kecil kepalaku bilang bahwa ini perlu aku jaga jarak darinya.

Aku tidak mendengarkan sudut kecil itu cukup keras.

Dan itu yang nanti menjadi sesuatu yang aku sesali.

1
ASASTA
😄😄
tria123
ruqiyah aja tad si nirmala setan nya banyak
tria123
kasih aku waktu... demi si toxic.. pertahankan aja si toxic
tria123
udah mending cerai, nikahi sonia dan lo nanti bisa nyanyi "kubuat pagar besi yang mengelilingi dirimu... "
tria123
saya mencium perselingkuhan nih
tria123
bang bang kalima-lima gobang bang
tria123
paling gak suka sama perilaku seperti itu, emangnya esok nya masalah selesai ketika lo mati bundir, enggaklah..
yang ada makin rumit
uang bisa di cari
tria123
kebiasaan warga Konoha nih, ekonomi sulit gaya elit akhirnya hutang melangit
tria123
bemo oh bemo... 🤣
tria123
peran pelawak nih si bemo
tria123
haji udin aja baik, masa istri sendiri pelit, udah lah ceraikan nirmala nikahi haji udin ehh... 🤣
tria123
dan kedepan nya lo gak dapat lagi rezeki, karena rezeki yang lo dapat gak di Terima secara ikhlas, liat aja hukum karma nya
tria123
dasar anak daj**, masih kecil udah bicara kayak gitu ampun generasi anak Konoha
tria123
istri macam apa kamu 🤭🤣
tria123
hahahahah, denger kalo mau makan enak yaudah lahiran di warteg atau di warung nasi padang, nama nya juga rumah sakit
tria123
makanya dengerin nasihat ibu, cerita ini ada makna dan nasihat tertentu tentang firasat seorang ibu
tria123
tolol🤣, firasat ibu gak salah, dengerin dia yang ngelahirin lo
tria123
cerita nya bagus.. drama kehidupan nya berasa nyata dan semoga satria bisa bangkit dan sukses jangan gampang nyerah

pesan buat author tetap berkarya jangan buat lelaki lemah.. lelaki harus istiqomah dan kuat pentingkan perasaaan sendiri bukan orang lain
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!