NovelToon NovelToon
Ayah Balqis

Ayah Balqis

Status: tamat
Genre:Mengubah Takdir / Action / Penyelamat / Tamat
Popularitas:915
Nilai: 5
Nama Author: Ayah Balqis

Ini adalah kisah nyata Rudini, seorang ayah di Cirebon yang divonis stroke. Tidak ada uang, tidak ada pekerjaan, hanya ada seorang anak balita bernama Balqis yang menangis kelaparan di malam hari.

Di rumah yang sama, tinggal seorang nenek janda yang sudah tua dan tak berdaya. Dengan stok beras nol dan popok anak yang tinggal dua lembar, "Ayah Balqis" mencatat perjuangan seorang pria yang tubuhnya stroke, namun hatinya menolak menyerah demi senyum buah hatinya.

Bukan fiksi. Ini adalah teriakan harapan dari Desa Cilukrak. Sebuah catatan hariantentang lapar, sakit, doa, dan cinta seorang ayah yang tak terbatas.

Kisah ini ditulis sebagai bentuk ikhtiar dan doa agar Balqis bisa makan, Ayah bisa terapi, dan Ibu bisa tenang. Mohon doa dan dukungannya dari para pembaca.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayah Balqis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9: Kertas Gambar & Mimpi Balqis di Sekolah

Hari itu adalah hari yang ditunggu-tunggu Balqis. Di sekolahnya, SD Negeri dekat rumah, sedang diadakan lomba menggambar dengan tema "Keluargaku". Balqis sangat antusias sejak semalam. Ia menyiapkan pensil warna kesayangannya—yang sebagian sudah pendek karena sering dipakai—dan selembar kertas gambar bekas yang masih layak pakai.

"Ayah, doakan Balqis ya nanti siang," pintanya sambil memakai seragam putih merah yang sudah agak lusuh di bagian kerah, tapi tetap rapi.

Aku tersenyum, merapikan rambutnya yang sedikit berantakan. "Pasti, Nak. Ayah doakan Balqis menggambar dengan hati yang gembira. Menang atau kalah, itu urusan nanti. Yang penting, kamu sudah berani mencoba."

Balqis mengangguk mantap, lalu mencium tangan kiriku yang masih agak kaku sebelum berangkat sekolah. Aku memandangnya berjalan menjauh, langkah kecilnya penuh semangat. Di saat anak-anak lain mungkin diantar mobil atau motor, Balqis berjalan kaki bersama teman-teman sekampungnya. Tapi tidak pernah sekalipun ia mengeluh.

Siang harinya, aku duduk di teras rumah, menunggu kepulangannya. Tangan kananku gemetar memegang pulpen, mencoba mencatat beberapa ide cerita baru di notes kecilku. Namun, pikiranku lebih banyak tertuju pada Balqis. Apakah dia gugup? Apakah kertas gambarnya cukup? Apakah warnanya menarik?

Sekitar pukul dua siang, Balqis pulang dengan wajah berseri-seri. Tas sekolahnya digendong miring, dan di tangannya tergenggam erat sebuah kertas gambar yang dilipat rapi.

"Ayah! Ayah!" teriaknya dari pagar. "Balqis selesai gambar!"

Aku segera berdiri, meski lututku masih terasa lemah, dan menyambutnya di pintu. "Sudah, Nak? Ayo, Ayah lihat hasilnya."

Balqis membuka lipatannya dengan hati-hati. Di atas kertas itu, tergambar sosok seorang ayah yang sedang duduk di kursi kayu, tersenyum lebar. Di sampingnya, ada seorang gadis kecil dengan rambut diikat dua, sedang memegang buku. Di latar belakang, ada rumah sederhana dan matahari yang bersinar terang dengan warna kuning cerah.

Di pojok kanan bawah, tertulis tulisan anak-anak yang masih belum terlalu rapi: *Ayah dan Balqis*.

"Ini Ayah?" tanyaku, suaraku bergetar haru.

"Iya," jawab Balqis bangga. "Ini Ayah yang lagi nulis cerita. Ini Balqis yang lagi dengerin. Dan ini matahari, tanda kalau kita selalu senang walau cuma punya rumah kecil."

Air mataku langsung menetes. Tidak bisa kutahan. Gambar itu sederhana, tapi maknanya begitu dalam bagi kami. Bagi dunia, mungkin ini hanya coretan anak SD. Tapi bagiku, ini adalah mahakarya termahal. Ini adalah bukti bahwa di mata Balqis, ayahnya adalah pahlawan yang sedang bekerja keras, bukan orang sakit yang tak berdaya.

"Bagus sekali, Nak," bisikku sambil memeluknya erat. "Ini gambar terbaik yang pernah Ayah lihat. Lebih bagus dari lukisan-lukisan di galeri mahal."

Balqis tertawa renyah. "Nanti kalau menang, hadiahnya kita buat beli susu sama kertas buat Ayah nulis lagi, ya?"

Aku mengangguk kuat-kuat. "Iya, Nak. Kalau menang, kita rayakan. Kalau tidak menang, kita tetap rayakan karena kamu sudah hebat."

Malam itu, setelah Balqis tidur, aku menempelkan gambar itu di dinding kamarku, tepat di sebelah meja kerjaku. Setiap kali aku lelah mengetik, setiap kali kakiku sakit, atau setiap kali rasa putus asa datang, aku akan menatap gambar itu.

Gambar itu mengingatkanku mengapa aku harus terus menulis. Bukan untuk terkenal, bukan untuk kaya raya. Tapi agar senyum Balqis dalam gambar itu tetap nyata di dunia ini. Agar ia tahu bahwa ayahnya berjuang sampai titik darah penghabisan demi masa depannya.

Saya harus menulis bab ini.

Saya harus merekam momen sederhana yang luar biasa ini.

Supaya dunia tahu, bahwa mimpi seorang anak adalah bahan bakar terbesar bagi orang tuanya.

Satu bab lagi selesai.

Sembilan bab sudah tayang (atau segera tayang).

Target 20 bab semakin dekat.

Aku tidak sendirian.

Kita tidak sendirian.

1
Mr. Han
Ayahku juga pernah bilang gini...
ELNARA: 🥺 "Terima kasih banyak ya Kak... Rasanya makin lega dan terharu banget denger kata-kata ini. Ternyata nggak cuma saya aja, banyak ayah di luar sana yang sama-sama berjuang, sama-sama punya rasa sayang sebesar ini ke anaknya. Makasih udah ngerti dan rasain apa yang saya tulis... 🤍🙏"
total 1 replies
T28J
Kamu tidak sendirian. /Rose/
ELNARA: Kalimat Mas ini bikin mata saya berkaca-kaca... 🥹🥀 Terima kasih banyak ya Mas... kata-kata ini sejuk banget masuk ke hati, rasanya beban di pundak jadi terasa lebih ringan.

Betul sekali... selama ada orang-orang baik seperti Mas yang peduli, mengerti, dan mendukung, saya dan Ayah Balqis memang tidak pernah sendirian. ❤️🙏 Kalimat ini bakal jadi penyemangat terbesar saya terus berkarya dan menceritakan perjuangan mereka sampai tamat nanti.

Terima kasih sudah jadi bagian dari perjalanan ini ya Mas. Kehadiran dan dukungan Mas berarti banget buat kami. 🥀✨ Semoga Mas selalu sehat dan bahagia bersama keluarga tercinta ya. Ditunggu terus kehadirannya di bab-bab selanjutnya ya... 🫂
total 1 replies
T28J
Saya paham, karena saya juga memiliki anak umur 2 tahun, masih lucu-lucunya ya kan.
Terima kasih sudah menyayangi Balqis. 👍
ELNARA: Terima kasih banyak ya komentarnya Mas! 🥰 Wah, berarti kita senasib sepenanggungan ya, sama-sama merasakan kebahagiaan punya anak kecil di umur segitu, masa-masa paling lucu dan berharga banget ya. 🥹❤️

Senang banget banget Mas bisa merasakan dan mengerti perasaan Ayah di cerita ini. Memang Balqis itu harta paling berharga, alasan terbesar buat berjuang dan bertahan. Terima kasih sudah ikut menyayangi Balqis dan perjuangan ayahnya ya! 🙏✨

Masih banyak perjalanan, ujian, dan kisah haru yang belum terungkap lho ke depannya. Semoga Mas tetap setia terus ikutin ceritanya sampai tamat ya. Dukungan, like, dan komentar dari Mas itu semangat paling besar buat aku terus berkarya dan bikin cerita yang makin bagus lagi. 🚀💪 Ditunggu terus kelanjutannya ya! 😊🙌
total 1 replies
ELNARA
Makasih banyak ya Kak Wawan 😄
Mawar merahnya sudah sampai untuk Balqis 🌹😊
Senang banget lihat Kakak menikmati cerita ini. Jangan bosan nemenin perjuangan Ayah dan Balqis ya 🙏
Wawan
Setangkai mawar merah untuk Balqis 😄
Alana kalista
lanjutkan 🥰
ELNARA: Halo Kak Alana! 🥰 Terima kasih sudah menunggu dari pagi buta ya! Doa dan semangat Kakak adalah bahan bakar utama kami. Tenang saja, 'Sekolah Mimpi Balqis' segera dimulai! Bab 111 akan rilis dalam hitungan menit ini. Siapkan tisu karena ada kejutan yang bikin haru! ✨🎒 #TimSekolahMimpi
total 1 replies
ELNARA
Halo Manusia Ikan 😊
Terima kasih banyak sudah meluangkan waktu baca "Ayah Balqis" dari bab pertama! Aku senang banget ada orang seperti kamu yang mau menyelami kisah Rudini & Balqis sampai ke akar-akarnya.

Kalau ada bagian yang bikin nangis, ketawa, atau bahkan marah… jangan ragu buat komen ya! Ceritanya bakal terus hidup kalau ada teman sepertimu yang ikut merasakan.

Semoga harimu sehangat pelukan Balqis untuk ayahnya ❤️
— Ray Penyu (penulis yang juga sedang belajar jadi ayah terbaik)
Wawan
Semangat ✍️
ELNARA: Terima kasih, Mas Wawan. Komentar "Semangat" dari Mas berarti banget buat saya. Cerita ini adalah kisah nyata saya — istri saya sedang disiksa di Malaysia, ayah saya baru meninggal, dan saya sakit stroke. Tapi saya terus menulis karena saya percaya Allah tidak meninggalkan hamba-Nya yang berjuang. Doakan istri saya selamat. Doakan saya kuat. Terima kasih sudah peduli. 🙏
total 1 replies
ELNARA
Siap, Kak Alana! 👍 Terima kasih sudah menemani sampai bab ini. Bab selanjutnya sedang dalam proses. Doakan lancar ya perjalanan Ayah Balqis ini. Salam hangat! ✨
Alana kalista
lanjut
ELNARA
baca sampai habis yah kak 🙏
Hasyim Syawal
Okeh Nice karya nya bagus sekali kak
ELNARA: makasih kak🙏
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!