Di balik senyumnya yang tenang, Arumi menyimpan luka yang tak pernah benar-benar sembuh. Pernikahannya dengan Ardi hanya tinggal formalitas. Demi puteri kecilnya, Kayla, Arumi bertahan.
Segalanya berubah ketika ia bertemu seorang psikiater muda, Dimas, yang baru saja bekerja di klinik psikiatri Dokter Arisa langganannya.
Dimas yang tenang dan hangat selalu membuat Arumi merasa didengar. Di ruang konsultasi yang seharusnya penuh batas, justru tumbuh perasaan yang tak diundang.
Tanpa Arumi sadari Kayla, puteri kecilnya yang cerdas, melihat semuanya. Ia tahu ibunya tidak bahagia. Ia juga tahu, ada cahaya berbeda di mata ibunya setiap kali pulang dari pertemuan dengan Mas Dokter —panggilan akrab Kayla pada Dimas.
Apakah perasaan Arumi pada Dimas yang tumbuh di ruang konsultasi hanya sebatas pelarian? Ataukah rumah yang selama ini Arumi rindukan?
Simak kisah selengkapnya dalam Mengejar Cinta Mas Dokter untuk Mama
Tiktok: Purnamanisa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Purnamanisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mimpi Buruk vs Kenyataan
"Jadi, Angga udah make a move ke Mbak?" tanya Dinda, salah satu rekan kerja Arumi saat keduanya tengah mengawasi Kayla di playground sebuah mall.
Dinda merupakan senior di bimbel tempat Arumi bekerja. Meski usianya lima tahun di bawah Arumi, tapi aura kedewasaannya begitu kuat. Semenjak bekerja disana, Arumi terbilang dekat dan akrab dengan Dinda.
"Kamu tau darimana?" tanya Arumi pada Dinda, cukup terkejut dengan pertanyaan Dinda.
"Dari orangnya sendiri, Mbak. Trus katanya ternyata Mbak udah punya cowok?" tanya Dinda sambil tersenyum. Arumi menggelengkan kepalanya.
"Dia cuma... temen," jawab Arumi singkat. Dinda mengerutkan alisnya.
"Tapi, kata Angga..."
"Dia cuma bohong supaya Angga nggak deketin aku lagi," kata Arumi. Dinda manggut-manggut.
"Kek yang di ftv-ftv itu ya? Ngaku-ngaku cowoknya trus lama-lama jatuh cinta beneran," celetuk Dinda. Arumi hanya diam. Dinda menoleh ke arah Arumi.
"Eh? Jangan-jangan..." Dinda menyadari bahwa celetukannya mungkin benar.
"Waduh... Emang resiko jadi janda kembang ya Mbak," komentar Dinda.
"Janda kembang? Wanita kek aku gini mana bisa disebut janda kembang Dinda?" kata Arumi sambil tersenyum geli. Dinda tersenyum.
"Yaaa kan Mbak Arumi tuh cantik, trus pinter juga," kata Dinda. Arumi menggelengkan kepalanya.
"Kamu ini ada-ada aja,"
Keduanya diam, larut dalam pikiran masing-masing. Arumi menatap Kayla yang begitu menikmati waktu bermainnya.
"Kalo boleh tau, Mbak," kata Dinda setelah diam cukup lama.
"Kenapa Mbak cerai?" tanya Dinda tiba-tiba.
Arumi terdiam. Dia bukan tak ingin bercerita. Dia hanya tak ingin mengingatnya.
"Maaf, Mbak. Nggak usah dijawab nggak apa-apa. Soalnya menurut ku, Mbak Arumi itu baik banget. Dan sebelum cerai juga full ibu rumah tangga. Jadi, aku mikir, kenapa Mbak Arumi bisa cerai?" kata Dinda. Arumi tersenyum kikuk.
"Kadang, jadi wanita baik aja nggak cukup, Din," kata Arumi. Dinda menatap Arumi yang menatap ke arah Kayla.
"Kamu juga harus jadi wanita kuat dan berani mengambil tindakan saat diperlukan," lanjut Arumi.
"Perceraian ku bukan kesalahan sepihak," kata Arumi, mencoba menceritakan tentang perceraiannya tanpa harus mengumbar aib Ardi.
"Kalau saja aku lebih berani bicara, lebih berani bertanya. Mungkin semua bisa diperbaiki," kata Arumi.
"Aku hanya takut berdebat, takut di dalam rumah berisik, dan bisa mempengaruhi psikis Kayla," lanjut Arumi.
"Aku terlalu hati-hati dalam bersikap dan bicara pada mantan suami ku dulu, sehingga semua terlihat abu-abu, nggak jelas," kata Arumi.
"Sampai akhirnya datang sesuatu yang benar-benar menghancurkan kepercayaan ku pada mantan suami ku," lanjut Arumi. Dinda masih menyimak.
"Kami sama-sama salah tidak menggunakan waktu yang ada dengan sebaik mungkin untuk memperbaikinya, hingga sesuatu yang besar itu datang, menjadi ledakan yang tak bisa dihindarkan," tutup Arumi.
Dinda mengalihkan pandangannya ke arah Kayla. Dia berpikir, jika dua orang saling mencintai, cukup untuk menghabiskan seluruh hidup bersama.
'Pernikahan itu... tak sesederhana itu,'
***
Sore itu, Ardi mengendarai mobilnya melewati depan tempat kerja Arumi. Arumi pernah memberitahunya tentang pekerjaannya pada Ardi satu minggu setelah keluar dari rumahnya.
Biasanya dia menghindari rute itu. Tapi, entah mengapa, sore itu, dia sedikit berharap akan melihat Arumi di sekitar sana.
Ardi melajukan mobilnya perlahan. Tak ada tanda-tanda Arumi. Ardi menepikan mobilnya sedikit agak jauh dari bimbel Arumi. Dia melihat ke arah spion untuk memantau keadaan di sekitar bimbel itu.
Ardi berusaha menahan diri. Namun, setiap sudut rumahnya selalu mengingatkan dirinya pada Arumi hingga membuat hatinya merasakan rindu yang tak tertahan.
Setelah menunggu cukup lama, Ardi memutuskan untuk pulang. Ardi sudah menyalakan mesin mobilnya dan akan melajukan mobilnya saat dia menangkap sosok yang ditunggunya terpantul di kaca spion mobilnya.
Arumi yang mengenakan blouse warna ivory dengan rok selutut warna krem, terlihat begitu cantik dengan senyum yang terkembang di wajahnya. Senyum yang sudah lama sekali tak Ardi lihat dan cari.
Arumi terlihat sedang mengobrol dengan pria yang lebih muda darinya. Sesekali Arumi terlihat tertawa kecil. Ardi memperhatikan Arumi melalui pantulan kaca spionnya.
"Cantik," gumam Ardi membuatnya teringat pertama kali Ardi melihat Arumi di kampus bertahun-tahun yang lalu.
Ardi tertunduk. Penyesalan yang luar biasa menjalar ke dalam dirinya. Dia tak bisa lagi kembali pada Arumi atau membuat Arumi kembali padanya. Ardi kembali melihat ke arah spionnya. Kedua alisnya mengerut. Seorang pria terlihat turun dari mobil dan menghampiri Arumi.
"Bukannya itu... kembarannya Dira?" gumam Ardi.
Ardi kemudian mencoba mengingat. Dira pernah mengatakan kalau saudaranya seorang psikiater.
"Arumi pernah bilang dia ke psikiater. Jangan-jangan..." gumam Ardi sambil memikirkan kemungkinan-kemungkinan.
Ardi kembali melihat ke arah spionnya. Arumi terlihat akan masuk ke mobil Dimas. Ardi dengan cepat turun dari mobilnya dan berjalan cepat menuju Arumi dan Dimas.
"Rum," panggil Ardi saat Arumi hendak masuk ke mobil Dimas.
"Mas Ardi?"
Ardi menatap Dimas yang juga menatapnya.
"Aku mau ngomong sebentar," kata Ardi pada Arumi. Arumi berjalan mendekat ke arah Ardi.
"Ngomong apa ya, Mas? Kenapa nggak telepon aja?" tanya Arumi heran.
"Mmm... Kayla dimana?" tanya Ardi.
"Oh, Kay ada di daycare sekolah. Ini baru aku mau jemput seka..."
"Oh, mau kamu ajak pacaran sama dia?" tanya Ardi. Nada suaranya meninggi. Arumi mengerutkan kedua alisnya.
"Kamu kenapa, Mas?" tanya Arumi masih dengan nada tenang. Ardi menatap Arumi seolah tersadar apapun yang Arumi lakukan saat ini bukan menjadi urusannya.
Ardi melihat seorang anak kecil turun dari mobil Dimas. Arumi menoleh.
"Itu Gendhis, ponakannya Dokter Dimas. Kebetulan Mama Papanya lagi sibuk trus ngajakin Dokter Dimas buat main sama Kayla. Makanya Dokter Dimas jemput aku katanya sekalian jemput Kayla trus lanjut nganterin mereka main," kata Arumi.
"Sabtu besok aku coba ajak Kayla ke rumah ayah sama ibuk. Pasti kakek neneknya udah kangen," kata Arumi, terdengar seperti menenangkan Ardi. Ardi mengusap wajahnya, berusaha menghilangkan rasa malu dalam dirinya.
"Maaf," kata Ardi. Arumi tersenyum kikuk.
"Maaf udah ganggu waktu kamu. Have fun ya!" kata Ardi sambil menyunggingkan sedikit senyum kaku. Arumi tersenyum dan mengangguk lalu berjalan menuju mobil Dimas.
Ardi menatap Arumi yang masuk ke dalam mobil Dimas. Dimas terlihat mengangguk pada Ardi sebelum masuk mobil. Ardi menghela nafas panjang melihat mobil Dimas perlahan berlalu.
Dengan langkah gontai, Ardi kembali masuk ke dalam mobilnya. Dia memukul kemudi berkali-kali, meluapkan kemarahan dan penyesalan dalam dirinya.
'Berapa kali aku berharap semua ini hanya mimpi buruk. Namun, ini memang kenyataan hidup yang harus aku tanggung seumur hidup,'
***