Demi menghindari perjodohan gila dengan rentenir tua pilihan ibu tirinya, Alana nekat menyewa seorang pria asing di pinggir jalan untuk menjadi suami pura-puranya dengan bayaran 5 juta sebulan. Pria itu tampak seperti pengangguran tampan yang sedang butuh tempat sembunyi.
Alana bekerja keras siang malam untuk menghidupi "suami miskinnya" itu. Ia bahkan rela membelikan pria itu kemeja obralan agar terlihat rapi saat menemaninya.
Namun, Alana tidak pernah tahu bahwa pria yang setiap malam tidur di sofa sempit apartemennya adalah Xander, pemimpin kartel mafia paling ditakuti sekaligus CEO triliuner yang kekayaannya tak berseri. Saat keluarga tiri Alana mencoba menginjak-injak hidup gadis itu, mereka tidak sadar bahwa mereka telah membangunkan iblis kejam yang sedang menyamar.
"Siapa pun yang berani menyentuh milikku, bersiaplah kehilangan nyawa." — Xander.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Orang_Cuman_Cerita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35: Runtuhnya Sang Musim Dingin
Dua naga air itu melesat membelah kegelapan Samudra Arktik, meninggalkan jejak buih seputih awan di tengah air yang sedingin kematian. Jarak dua ribu lima ratus meter tertempuh dalam hitungan detik.
Di dalam ruang kendali Leviathan, keheningan yang tegang menguasai atmosfer. Mata Xander tak berkedip menatap layar radar. Alana menahan napasnya, jemarinya bertaut erat.
Lalu, hantaman itu terjadi.
Meskipun mereka berada jauh di bawah air, gelombang kejut dari ledakan ganda itu terasa merambat melalui lautan, mengguncang pelan lambung baja Leviathan. Di layar sonar, pendaran cahaya merah terang meledak di lambung bawah The Red Winter, mengubah bentuk titik raksasa itu secara drastis.
"Hantaman langsung terkonfirmasi, Tuan Besar!" seru komando navigator dengan suara menggelegar penuh euforia. "Torpedo pertama menembus lambung kapal, torpedo kedua meledakkan ruang mesin utama mereka dari dalam! Reaktor nuklir musuh dipaksa masuk ke mode shutdown darurat untuk mencegah kebocoran radiasi."
Dante menyeringai lebar, mengabaikan nyeri di dadanya. "Mereka lumpuh total, Tuan. Monster baja itu tidak akan bisa bergerak ke mana-mana lagi selain turun ke dasar laut."
Xander menyipitkan matanya. Dendamnya belum tuntas hanya dengan melihat kapal itu terbakar. "Pindai frekuensi suara dari permukaan. Apa yang terjadi di atas sana?"
Prajurit di konsol komunikasi segera mengalihkan fungsi sonar aktif menjadi pendengar seismik dan akustik. Suara derak baja yang patah, alarm evakuasi yang melengking panik, dan teriakan-teriakan parau dalam bahasa Rusia mulai terdengar samar melalui pelantang kapal selam. Namun, ada satu suara lain yang tertangkap dengan sangat jelas.
Thwup-thwup-thwup-thwup!
"Ada getaran rotor berat di geladak penerbangan palka belakang musuh," lapor prajurit itu dengan raut wajah menegang. "Itu helikopter tempur kelas Kamov. Seseorang sedang berusaha melarikan diri."
Mata Xander berkilat dingin. Tentu saja, seekor tikus pengecut seperti Ivan Volkov akan memastikan dirinya menjadi orang pertama yang lari dari kapal yang tenggelam, meninggalkan anak buahnya untuk mati kedinginan.
"Dia pikir langit bisa menyelamatkannya dariku," desis Xander, nadanya setajam pedang yang baru diasah. Ia memutar tubuhnya, menghadap langsung ke arah kemudi utama. "Isi tangki udara! Sudut pendakian vertikal maksimal. Kita naik ke permukaan sekarang juga."
"Tuan Besar, es di atas kita tebalnya mencapai dua meter!" peringat Dante.
"Lambung menara Leviathan dirancang dari paduan titanium murni untuk merobek gletser, Dante. Hancurkan esnya."
Mesin propulsi Leviathan mengaum. Kapal selam siluman berwarna hitam pekat itu menukik tajam ke atas, melawan gravitasi dan tekanan air. Alana terpaksa berpegangan pada sandaran kursi navigator agar tidak terjatuh akibat sudut kemiringan yang ekstrem. Jantungnya bergemuruh liar menyambut pertempuran yang kini berada di depan mata.
Di permukaan Laut Barents, malam badai menyelimuti The Red Winter yang kini miring tiga puluh derajat. Api berkobar hebat dari lambung bawahnya yang robek. Di atas landasan helipad, Ivan Volkov baru saja melompat masuk ke dalam helikopter Kamov bersama koper berisi dokumen asetnya, mengumpat kasar kepada pilotnya agar segera lepas landas.
Helikopter itu baru saja terangkat sepuluh meter dari geladak.
KRAK! BOOOM!
Tepat lima puluh meter di sebelah kiri The Red Winter, hamparan es laut tiba-tiba meledak ke udara. Bongkahan es sebesar mobil terlempar ke segala arah. Menara hitam pekat milik Leviathan menembus lautan beku dengan brutal, menjulang angkuh di bawah siraman badai salju bagaikan monster mitologi yang bangkit dari neraka.
Dari dalam ruang kemudi, Xander menekan tombol otorisasi pada panel senjata anti-udara yang baru saja terbuka di menara kapal selam. Sistem pembidik laser langsung mengunci ekor helikopter Kamov yang sedang bersusah payah mencari keseimbangan di udara.
Sang dewa perang menatap targetnya melalui kamera inframerah, bibirnya menyunggingkan senyuman iblis.
"Selamat malam, Volkov."
WUSSH!
Satu rudal udara berukuran kecil namun mematikan melesat keluar dari tabung atas Leviathan, merobek kegelapan malam, dan menghantam tepat di baling-baling ekor helikopter musuh.
Ledakan di udara itu mengubah helikopter Kamov menjadi bola api yang kehilangan kendali, berputar liar, sebelum akhirnya terbanting keras kembali ke atas geladak The Red Winter yang sedang terbakar.
(Bersambung...)