NovelToon NovelToon
TEMAN SEKAMAR

TEMAN SEKAMAR

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Misteri / Kutukan
Popularitas:8.4k
Nilai: 5
Nama Author: tanty rahayu bahari

Sejak kecil, Luna hidup terkutuk dengan kemampuan melihat hantu. Hidupnya melelahkan, sepi, dan penuh ketakutan. Hingga suatu hari, roh Nando, pengusaha muda angkuh yang koma akibat kecelakaan misterius, tiba-tiba muncul dan bersikeras tinggal di kosannya. Keanehan terjadi: saat Nando di dekatnya, roh-roh jahat menghilang. Bersama, mereka menyelidiki kecelakaan Nando yang ternyata percobaan pembunuhan. Namun, perjalanan ini justru membuka tabir kematian mengerikan orang tua Luna. Di antara teror mistis dan bahaya fisik, benih cinta tumbuh di antara dua dunia yang berbeda.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tanty rahayu bahari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 34: Reuni di Ruang VVIP

Di Rumah Sakit Medika Utama, lantai delapan kembali menjadi zona steril yang sunyi. Di dalam Ruang VVIP Anggrek 01, Nando Pratama sedang berjuang melawan musuh terbesarnya saat ini: gravitasi bumi.

Pria itu duduk bersandar di ranjang rumah sakit yang telah dinaikkan bagian kepalanya. Infus menancap di punggung tangan kirinya. Ia mencoba mengangkat tangan kanannya untuk meraih segelas air di meja nakas. Tangannya bergetar hebat. Otot-ototnya yang tidak digunakan selama berminggu-minggu terasa seperti jeli yang kehilangan elastisitasnya.

"Sialan," umpat Nando pelan, napasnya tersengal hanya karena usaha kecil itu.

Dulu, saat ia menjadi roh, ia bisa terbang menembus lantai beton dan meledakkan makhluk halus dengan satu jentikan energi. Sekarang? Ia bahkan tidak sanggup mengangkat gelas kaca berisi air putih. Tubuh manusianya terasa seperti penjara yang sangat sempit dan menyakitkan.

Pintu kamarnya terbuka. Bara masuk dengan senyum ramah yang memuakkan, diikuti oleh seorang perawat yang membawa nampan obat.

"Malam, Kawan," sapa Bara santai, duduk di sofa kulit seberang ranjang. Ia menyilangkan kakinya dengan gaya elegan. "Kau terlihat lebih baik malam ini. Dokter bilang kau sudah bisa mulai fisioterapi besok."

Nando menekan amarah yang mendidih di dadanya. Ia memaksakan otot wajahnya untuk rileks, memainkan peran sebagai pasien yang lemah dan tidak berdaya. "Ya. Tubuhku rasanya seperti baru digilas traktor. Aku bahkan tidak ingat bagaimana kecelakaan itu terjadi, Bara. Semua terasa gelap."

Nando sengaja memancingnya. Ia ingin melihat reaksi pria itu.

Dan benar saja, kilat kelegaan yang sangat tipis—hampir tak terlihat—melintas di mata Bara. Bara mencondongkan tubuhnya ke depan, menampakkan simpati palsu. "Jangan dipaksakan, Nando. Polisi bilang mobilmu oleng dan menabrak pembatas jalan tol. Cuaca memang sedang buruk malam itu. Yang penting sekarang kau sudah bangun. Jangan pikirkan soal kantor dulu."

"Tentu," jawab Nando datar, matanya menatap tajam ke mata Bara. "Tapi anehnya, selama aku koma, aku bermimpi sangat panjang, Bara. Mimpi yang sangat nyata."

Tangan Bara yang sedang merapikan lengan kemejanya sedikit terhenti. "Oh ya? Mimpi apa?"

"Aku bermimpi... ada sesuatu yang busuk di sekitarku. Sesuatu yang berusaha mencekik leherku di atas ranjang ini," Nando sengaja menurunkan nada suaranya menjadi bisikan dingin. Ia bisa melihat jakun Bara naik turun. "Tapi mungkin itu hanya efek obat penenang, kan?"

Bara tertawa canggung, tawa yang sama sekali tidak mencapai matanya. "Hahaha, tentu saja, Kawan. Otak manusia memang sering menciptakan halusinasi saat trauma. Sudahlah, aku harus kembali ke apartemen. Ada beberapa berkas tender yang harus kuperiksa."

Bara berdiri, menepuk kaki Nando dari luar selimut. "Istirahatlah. Aku sudah menyewa dua bodyguard tambahan di depan pintu kamarmu untuk memastikan tidak ada wartawan yang mengganggumu."

"Terima kasih atas 'perhatianmu', Bara," ucap Nando dengan senyum miring yang penuh arti.

Begitu Bara keluar dari ruangan, raut wajah Nando berubah menjadi kebencian murni. Keparat itu benar-benar mengurungnya. Bodyguard di luar bukan untuk menahan wartawan, melainkan untuk mengawasi siapa saja yang masuk dan memastikan Nando tidak bisa menghubungi pihak luar secara diam-diam. Bara tahu ada yang tidak beres karena buhul-nya dihancurkan, dan dia sedang waspada tingkat tinggi.

Nando memejamkan mata, kepalanya berdenyut nyeri. Ia butuh sekutunya. Ia butuh gadis bermasker hitam itu.

"Luna... kau di mana?" bisik Nando dalam keheningan. Ingatannya tentang dimensi astral tidak pudar sedikit pun. Rasa takut saat melihat iblis kelabang, rasa panas saat menahan Banaspati, dan sentuhan hangat Luna yang tak masuk akal di pipinya... semuanya tercetak jelas di otaknya melebihi laporan keuangan mana pun.

Tapi bagaimana caranya ia menemukan Luna? Jakarta sangat luas. Ia bahkan tidak tahu nama belakang gadis itu, hanya tahu bahwa ia bekerja di minimarket entah di mana. Nando terjebak di ruangan ini tanpa ponsel, tanpa akses internet.

Tiba-tiba, suara keributan kecil terdengar dari lorong luar.

"Maaf, Sus, jadwal kunjungan sudah habis. Pak Nando butuh istirahat," terdengar suara berat salah satu bodyguard Bara.

"Saya cuma mau ganti cairan infusnya, Pak. Ini perintah Dokter Hermawan," balas sebuah suara perempuan. Suaranya sedikit diredam, seolah memakai masker.

Jantung Nando seakan berhenti berdetak selama satu detik. Matanya membelalak lebar. Frekuensi suara itu. Nada sedikit ketus namun gemetar itu. Nando mengenalinya bahkan jika ia berada di tengah badai sekalipun.

Itu suara Luna.

"Biarkan dia masuk!" teriak Nando dari dalam, suaranya serak namun dipenuhi otoritas mutlak yang membuat para bodyguard di luar tersentak.

Pintu kayu ek itu terbuka perlahan.

Masuklah seorang perawat berpostur mungil, mengenakan seragam hijau rumah sakit yang ukurannya kebesaran, lengkap dengan masker bedah yang menutupi separuh wajahnya dan topi perawat yang menutupi rambutnya. Ia mendorong troli obat kecil dengan tangan yang sedikit gemetar.

Dua bodyguard berjas hitam mengintip dari ambang pintu. "Tuan Nando, kami hanya menjalankan prosedur keamanan—"

"Tutup pintunya," potong Nando dingin, matanya tak berkedip menatap perawat tersebut. "Kecuali kalian ingin aku menelepon direktur rumah sakit ini besok pagi untuk memecat perusahaan keamanan kalian karena menghalangi perawatan medisku."

Para bodyguard itu saling pandang, lalu akhirnya mengalah dan menutup pintu rapat-rapat. Bunyi klik dari kunci otomatis terdengar memisahkan ruangan itu dari dunia luar.

Kini, hanya ada mereka berdua di Ruang VVIP Anggrek 01.

Luna berdiri kaku di dekat troli obat. Napasnya memburu. Ia menatap pria yang terbaring di atas ranjang itu. Pria itu tidak lagi berpendar biru. Wajahnya pucat, ada perban tebal di pelipis kirinya, dan tubuhnya terlihat lebih kurus. Namun, sepasang mata tajam yang menatapnya saat ini adalah mata yang sama yang telah membakar ratusan bayangan hitam di kosannya.

Luna tidak berani membuka suara. Rasa takut tiba-tiba menyerangnya. Bagaimana jika Nando hanya mengenalinya sebagai perawat? Bagaimana jika teriakannya tadi murni karena ia butuh infusnya diganti?

Perlahan, Luna menundukkan kepalanya, mendekati tiang infus. "Permisi, Pak Nando. Saya... saya mau mengecek cairan infus Anda," ucapnya dengan suara formal yang dipaksakan.

Nando tidak menjawab. Ia hanya terus menatap Luna, mengikuti setiap gerak-gerik gadis itu dengan matanya seperti burung elang yang mengunci mangsanya.

Saat tangan Luna terulur untuk mengatur katup selang infus, sebuah tangan besar yang pucat dan sedikit gemetar tiba-tiba bergerak naik dari atas selimut. Tangan Nando meraih pergelangan tangan Luna.

Luna tersentak, nyaris menjatuhkan kantong infus yang baru. Sentuhan itu... sangat berbeda dengan sensasi di dunia astral. Ini adalah sentuhan kulit yang hangat, kasar, dan nyata. Denyut nadi Nando terasa berpacu cepat di bawah telapak tangan Luna.

Luna membeku, matanya terpaku pada tangan yang menggenggam pergelangannya, lalu perlahan naik menatap wajah Nando.

Nando menarik napas panjang, sudut bibirnya yang kering tertarik membentuk senyum yang selama ini dirindukan Luna. Senyum arogan, menjengkelkan, namun dipenuhi dengan kehangatan yang meluluhkan hati.

"Seragam perawat kebesaran ini tidak cocok untukmu, Nona Ghostbuster," suara Nando serak, namun nada ejekannya sangat familiar. "Kau terlihat seperti anak magang yang sedang tersesat. Di mana seragam biru minimarket dan masker hitam andalanmu itu?"

Bibir Luna bergetar di balik maskernya. Pertahanan emosionalnya runtuh seketika. Air mata yang sedari tadi ia tahan di kereta, di kosan, dan di sepanjang lorong rumah sakit akhirnya tumpah ruah membasahi pipinya.

"Kau ingat," bisik Luna terisak, suaranya pecah. Ia menurunkan masker bedahnya, membiarkan Nando melihat wajah aslinya yang sembap dan penuh air mata kebahagiaan. "Kau benar-benar mengingatku, Nando."

Nando terkekeh pelan, meski kekehan itu membuatnya sedikit meringis menahan sakit di dadanya. Ia tidak melepaskan genggamannya pada pergelangan tangan Luna, melainkan menariknya sedikit lebih dekat.

"Sudah kubilang, Luna. Aku ini CEO. Daya ingatku di atas rata-rata," ucap Nando dengan kelembutan yang kontras dengan kata-katanya. Matanya menyusuri wajah Luna, seolah memastikan bahwa gadis di depannya ini benar-benar nyata, bukan sekadar halusinasi dari sisa-sisa komanya.

Tatapan Nando kemudian jatuh pada lengan kiri Luna yang tertutup seragam perawat lengan panjang. Ingatannya tentang altar darah di Alas Roban kembali muncul. Dengan hati-hati, Nando menyingsingkan sedikit lengan baju seragam hijau itu, memperlihatkan balutan perban kasar buatan Tarjo yang ada di baliknya.

Rahang Nando mengeras. Rasa bersalah yang mendalam menekan dadanya. Di dunia astral, ia adalah pelindung gadis ini. Namun di saat-saat terakhir yang paling mematikan, ia tidak berdaya, membiarkan gadis ini terluka parah sendirian.

"Iblis itu melukaimu," bisik Nando, ibu jarinya mengusap lembut tepi perban tersebut dengan sangat hati-hati, seolah takut menyakiti Luna lebih jauh. "Sakit?"

Luna menggeleng cepat, mengusap air matanya dengan tangan kirinya yang bebas. "Tidak sesakit melihatmu meredup dan menghilang di atas altar itu. Aku... aku benar-benar mengira aku kehilanganmu."

"Kau tidak akan pernah kehilanganku, Luna. Hutangku padamu lebih besar dari seluruh nilai valuasiku," Nando menatap mata Luna, intensitas tatapannya membuat jantung Luna berdetak di luar kendali. "Kita berhasil, kan? Kau menghancurkan altar dukun keparat itu."

Luna mengangguk mantap. Ia memutar tubuhnya sedikit, merogoh saku dalam seragam perawatnya, dan mengeluarkan map kulit hitam yang telah ia lipat paksa agar muat. Ia meletakkannya di atas pangkuan Nando.

"Ini buktinya," lapor Luna, nada suaranya berubah menjadi serius, kembali menjadi partner tempur sang CEO. "Bara mentransfer miliaran rupiah ke rekening rahasia yang terhubung dengan Mbah Suro di Karang Mayit. Dan di sini ada salinan sengketa tanah dari lima belas tahun lalu. Bara adalah otak dari semuanya, Nando. Kutukanmu, dan kematian orang tuaku."

Nando membuka map tersebut dengan tangan kanannya yang masih sedikit gemetar. Matanya memindai angka-angka dan dokumen itu dengan kecepatan seorang analis profesional. Kemarahannya kembali tersulut, namun kali ini, ia memiliki senjata nyata untuk menghancurkan musuhnya.

"Bara tidak tahu aku mengingat segalanya," ucap Nando dingin, menutup map itu. "Dia menempatkan anjing-anjing penjaganya di luar untuk memastikanku terisolasi. Dia pasti berencana membuatku terlihat seperti orang tidak waras jika aku menuduhnya tanpa bukti. Tapi dengan dokumen ini... kita bisa memenjarakannya seumur hidup."

"Tapi bagaimana caranya kita memberikannya pada polisi tanpa ketahuan anak buah Bara?" tanya Luna cemas. "Mereka mencatat setiap orang yang masuk. Aku bahkan harus menyogok petugas kebersihan di lantai bawah untuk meminjam seragam ini."

Nando menyeringai misterius, otak bisnisnya telah sepenuhnya kembali beroperasi. "Kita tidak akan memberikannya pada polisi. Polisi bisa dibeli. Bara punya koneksi di mana-mana. Jika kita menyerahkan ini ke jalur hukum konvensional, dia akan menghilangkan buktinya sebelum sampai ke pengadilan."

"Lalu apa rencanamu?"

"Kita hancurkan dia di depan publik," mata Nando berkilat berbahaya. "Lusa adalah Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) NaturaGlow. Bara pasti akan memanfaatkannya untuk meyakinkan investor bahwa dia adalah pemimpin yang sah karena kondisiku masih dianggap tidak stabil. Kita akan hadir di rapat itu. Kita bongkar kebusukannya di depan seluruh dewan direksi dan media massa."

"Kita? Tapi kau masih sakit, Nando! Kau bahkan kesulitan memegang gelas," Luna menatapnya khawatir.

"Fisikku mungkin lemah, Luna. Tapi sukmaku baru saja kembali dari neraka. Aku tidak butuh otot untuk menghancurkan Bara," Nando menatap Luna dengan penuh arti. "Tapi aku tidak bisa keluar dari ruangan ini tanpa pengawalan Bara. Di situlah aku membutuhkanmu, Luna. Sekali lagi."

Luna menegakkan punggungnya, tekad yang sama kuatnya memancar dari matanya. "Katakan apa yang harus kulakukan, Tuan CEO."

Reuni mereka di ruang steril itu bukanlah akhir dari perjalanan. Itu adalah bunyi gong dimulainya perang babak kedua. Perang yang tidak lagi menggunakan cakar gaib dan keris pusaka, melainkan perang manipulasi, kekuasaan, dan kebenaran yang akan meruntuhkan kerajaan iblis berdasi yang dibangun oleh Bara.

Di luar ruangan, badai Jakarta mulai turun, membawa rintik hujan yang membasahi kaca jendela VVIP Anggrek 01. Gravitasi bumi mungkin telah mengikat tubuh Nando, namun bersama gadis bermasker hitam di sisinya, Nando tahu bahwa ia adalah pria paling berbahaya di dunia ini.

...****************...

...Bersambung.......

...Terima kasih telah membaca📖......

...Jangan lupa bantu like komen share dan Rate ya ❣️...

...****************...

1
🥀🥀Anggita.🥀🥀
Aahh aq jd ikutan 😭😭terharu.
Sebentar lg berita mereka bkl viral nih, apkh Kala ank mngenali Luna ya. 😃

lanjut thor.
Pappan Boquet
ayo kak up up up
🥀🥀Anggita.🥀🥀
Aahh jd ikut tegang
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘandiniandana☆⃝𝗧ꋬꋊ
gak sabar.. gak sabar pengen ikut menyaksikan..
up lagi kak Tanty 😍😍
Ai Emy Ningrum: yaa begitulah 😸 kebahagiaan tersendiri liyat jemuran kering 😚😚
total 5 replies
SeekarYaSeekar
kemarin lusa aku baca ini maraton sampai malam, dan sekarang harus nunggu update an rasanya luaamaaaa banget 😂😂
Semangat 💪💪 KK
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘandiniandana☆⃝𝗧ꋬꋊ
uhukk! udah masa depan kita bersama aja 🥳🥳🥳🤣
Ai Emy Ningrum: /Drool//Drool/
total 1 replies
🥀🥀Anggita.🥀🥀
Ayo Nando semangat, biar bisa meniti masa depan bersama Lunamu. ☺☺😍
lanjut thor. 😃😃
🥀🥀Anggita.🥀🥀
Syukur deh Luna tidak sulit menemui pak Dirman dan beliau juga tidak sombong mlihat penampilan Luna.
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘandiniandana☆⃝𝗧ꋬꋊ
syukurlah! selangkah eeeh tiga langkah lagi deh, done lu Bar Bar! 😋😋
Ai Emy Ningrum: /Casual//Casual//Casual/
total 7 replies
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘandiniandana☆⃝𝗧ꋬꋊ
kuat kuat kuat... semangat Luna /Determined/ dikiiitt lagi, semoga lancar pertemuan dgn Pak Dirman
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘandiniandana☆⃝𝗧ꋬꋊ: gimana gak buncit perut 😚😚
total 6 replies
🥀🥀Anggita.🥀🥀
Huuhhh huuhhh Ikut lega😌 hampir aja kmu ketangkep Luna andai kmu pulang.
Untung keberuntungan memihak pdmu mlm ini.
🥀🥀Anggita.🥀🥀
Smoga pak Dirman mau mmbantu ya. 😃
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘandiniandana☆⃝𝗧ꋬꋊ
Pak Dirman.. semoga kooperatif ya pak 🙏
Ai Emy Ningrum: siyap /Good//Good/
total 1 replies
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘandiniandana☆⃝𝗧ꋬꋊ
yeaaayyy kolaborasi lagi, setan dan dukun aja lewat, skrg giliran Bara yg dibabat /Scream//Panic//Angry/
Ai Emy Ningrum: /Scream//Scream//Scream//Scream/
total 1 replies
🥀🥀Anggita.🥀🥀
Smoga Luna bisa mmbantu Nando keluar dr RS ya.
🥀🥀Anggita.🥀🥀
Aahh othor mah suka sekali bikin orang penasaran. 😭😭
Blum juga smpai, udah abis aja.

Nando mngingat mu ko Luna tenang aja. 🥰😍
🥀🥀Anggita.🥀🥀: Udah tengah mlm bela belain baca tau😆
total 2 replies
Mymy Zizan
💪💪💪💪💪💪💪💪💪💪💪💪💪💪💪🙏🙏
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘandiniandana☆⃝𝗧ꋬꋊ
siapin tenaga ekstra Lun, karena pasti menguras emosi saat ketemu ceo itu 🤣🤣
tanty rahayu: karakteristik🤭
total 4 replies
Mymy Zizan
bagusssssssssss alurnya
Mymy Zizan
semangat kakak💪💪💪💪
tanty rahayu: makasih ka
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!