NovelToon NovelToon
DITALAK SESAAT SETELAH AKAD

DITALAK SESAAT SETELAH AKAD

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami
Popularitas:108.3k
Nilai: 5
Nama Author: Barra Ayazzio

Raya Aprillia Safitri tidak pernah membayangkan bahwa hari yang seharusnya menjadi awal kebahagiaannya justru berubah menjadi awal dari kehancurannya.

Demi baktinya kepada sang ayah, Raya menerima perjodohan dengan seorang pria bernama Kamil. Ia menekan segala keraguan, meyakinkan dirinya bahwa pernikahan bisa tumbuh seiring waktu. Namun, takdir berkata lain.

Baru saja ijab kabul dinyatakan sah, belum sempat Raya menghela napas lega sebagai seorang istri, satu kata menghancurkan segalanya.

Talak.

Di hadapan saksi. Di detik yang sama ketika statusnya berubah menjadi seorang istri, ia juga sekaligus menjadi wanita yang diceraikan.

Lebih menyakitkan lagi, ayah yang begitu ia cintai tumbang saat itu juga, tak kuat menahan kenyataan pahit yang terjadi di depan matanya… dan menghembuskan napas terakhirnya.

Di tengah duka dan kehancuran, Raya hanya bisa terpaku… sementara Kamil berdiri dengan senyum penuh kemenangan, seolah semua ini adalah bagian dari rencana yang telah lama ia susun.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Barra Ayazzio, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

17. Bukan Siapa-siapa

Kamil masih berdiri di depan pintu apartemen itu, ponsel menempel di telinganya. Jantungnya belum juga tenang sejak suara itu terdengar.

"Di dalam… ada siapa, Mand?” tanyanya lagi, kali ini lebih tegas, meski suaranya tetap tertahan.

Di seberang sana, Amanda terdengar menarik napas.

"Aku… aku lagi nggak di apartemen, Mil,” jawabnya cepat.

Alis Kamil langsung berkerut. Ia refleks menatap pintu di depannya—jelas-jelas ia berdiri di sini, dan suara tadi… terlalu nyata untuk sekadar kesalahan.

"Nggak di apartemen?” ulangnya pelan, nadanya mulai berubah. “Terus… tadi suara siapa, Mand?”

Hening sejenak.

"Aku… itu…” Amanda terdengar gelagapan, seperti mencari-cari jawaban. Kamil mengepalkan tangannya.

"Siapa laki-laki yang manggil kamu ‘sayang’?” kali ini suaranya lebih dalam, penuh tekanan yang tak bisa lagi ia sembunyikan.

Di ujung telepon, Amanda belum sempat menjawab.

Tiba-tiba suara laki-laki itu kembali terdengar. Kali ini lebih jelas. Lebih dekat. Seolah sengaja ingin didengar.

"Sayang, kenapa mesti dirahasiakan?” suaranya santai, bahkan terdengar ringan. “Bilang aja aku kekasihmu.”

Deg.

Kata-kata itu seperti menghantam tepat di dada Kamil. Belum sempat Kamil mencerna semuanya, terdengar suara langkah mendekat, lalu—

"Mana sini,” ujar laki-laki itu lagi. Suara gesekan pelan terdengar, seolah ponsel itu berpindah tangan. Dan detik berikutnya, suara asing itu berbicara langsung ke telinga Kamil.

"Iya, gue yang bareng Amanda sekarang.”

Dunia Kamil seakan runtuh dalam satu tarikan napas.

Tangannya melemas, tapi ponsel itu masih ia genggam erat. Tatapannya kosong menatap pintu di depannya—pintu yang kini terasa seperti batas antara kebodohan masa lalu… dan kenyataan yang begitu pahit.

Semua bayangan indah di sepanjang perjalanan tadi… hancur, tanpa sisa.

Napasnya memburu, emosinya sudah di ujung batas. Tangannya mencengkeram ponsel begitu kuat, seolah itu satu-satunya hal yang menahannya agar tidak benar-benar kehilangan kendali.

"Keluar lu!” bentaknya tiba-tiba. Suaranya keras, bergetar oleh amarah yang selama ini ia tahan. "Gue mau lihat lu sekarang!”

Di dalam, terdengar sedikit keributan. Amanda panik, suaranya terdengar gemetar, mencoba menenangkan keadaan.

"Mil… jangan begini, tolong—”sepertinya ponsel sudah di tangan Amanda kembali.

"Suruh dia keluar!” ulang Kamil lebih keras, kali ini hampir seperti teriak.

Beberapa detik kemudian, pintu di depannya akhirnya terbuka.

Seorang laki-laki keluar dengan langkah santai, mengenakan kaos rumahan, wajahnya tanpa rasa bersalah. Ia menatap Kamil dari ujung kepala sampai kaki, lalu mengernyit.

"Lo siapa?” tanyanya datar.

Pertanyaan itu seperti menyulut api yang sudah menyala di dada Kamil.

Namun sebelum Kamil sempat menjawab, laki-laki itu tiba-tiba menyipitkan mata, seperti baru menyadari sesuatu.

"Eh…” ia mendekat sedikit, memperhatikan wajah Kamil. Lalu sudut bibirnya terangkat tipis.

"Gue kenal lo.” Kamil diam, rahangnya mengeras.

"Lo yang lagi viral itu, kan?” lanjutnya, nada suaranya berubah menjadi sinis. “Yang nyera—”

Belum sempat kalimat itu selesai—

BUGH!

Tinju Kamil mendarat keras di wajah laki-laki itu.

Seketika semuanya berubah kacau.

Kamil seperti kehilangan kendali. Amarah, sakit hati, rasa dikhianati—semuanya meledak dalam satu waktu. Ia terus menghantam, berkali-kali, tanpa memberi kesempatan lawannya untuk bangkit.

"Kurang ajar lo!” teriaknya, setiap pukulan seolah meluapkan semua yang ia rasakan.

"Berani-beraninya—!”

Laki-laki itu terhuyung, lalu jatuh. Tubuhnya akhirnya terkapar di lantai, tak berdaya.

Amanda berlari keluar, wajahnya panik, matanya membesar melihat kejadian itu.

"KAMIIIIL! STOP! STOP!!” jeritnya histeris.

Ia mencoba mendekat, tapi justru berdiri di antara Kamil dan laki-laki itu, melindunginya.

Air matanya jatuh tanpa tertahan.

"Gue gak akan maafin lo kalau terjadi apa-apa sama cowok gue!” teriaknya, suaranya pecah.

Kamil langsung terdiam sesaat.

Kata itu…

Cowok gue.

Seperti ada sesuatu yang ditarik paksa dari dalam dadanya.

Namun sebelum ia bisa benar-benar mencerna, Amanda kembali berteriak, penuh emosi.

"Kenapa lo mukulin cowok gue? Apa salah dia?” suaranya meninggi, penuh amarah.

Kata-kata itu justru semakin membakar amarah Kamil.

Suasana semakin ricuh. Beberapa penghuni mulai keluar, melihat keributan yang terjadi.

Tak lama, dua orang security datang berlari.

"Pak! Pak! Berhenti!” mereka langsung menarik Kamil yang masih berusaha mendekat.

"Lepasin gue!” Kamil meronta, napasnya berat, matanya merah. “Gue belum selesai—”

"Sudah, Pak! Cukup!” tegas salah satu security.

Laki-laki itu masih terkapar di lantai, wajahnya memar. Amanda berlutut di sampingnya, menangis sambil memegang tangannya.

Sementara itu, Kamil terus ditahan. Dengan susah payah, security akhirnya berhasil menjauhkan Kamil dari sana.

"Bapak ikut kami ke kantor!” ujar salah satu dari mereka tegas.

Kamil masih berusaha melawan, tapi tenaganya mulai habis. Emosi yang tadi meledak kini berubah menjadi sesuatu yang lebih sunyi… lebih kosong.

Saat ia digiring pergi, pandangannya sempat kembali ke arah Amanda. Namun perempuan itu… tidak lagi melihatnya. Ia hanya sibuk dengan laki-laki itu.

Dan di saat itulah, Kamil benar-benar sadar—

yang hancur pagi ini… bukan cuma harapannya.

Kamil duduk di kursi ruang security dengan napas yang masih belum sepenuhnya stabil. Dadanya naik turun, sisa emosi tadi masih terasa jelas, meski kini mulai bercampur dengan sesuatu yang lebih berat… kesadaran.

Dua orang petugas berdiri di depannya, sementara satu lainnya duduk sambil mencatat.

"Pak, bisa dijelaskan?” tanya salah satu security dengan nada tegas namun masih terkendali.

"Kenapa sampai terjadi pemukulan seperti itu?”

Kamil mengusap wajahnya kasar, lalu menghela napas panjang.

"Dia…” Kamil berhenti sejenak, rahangnya mengeras. “Dia sama Amanda.”

"Siapa Amanda?” tanya petugas itu lagi.

Kamil terdiam.

Pertanyaan sederhana itu justru terasa menampar.

"Dia…” Kamil kembali mencoba menjawab, tapi suaranya melemah. “Dia orang yang gue kenal.”

Salah satu security saling pandang dengan temannya.

"Pacar, Pak?” tanya yang lain, kali ini lebih santai. Kamil menunduk. Beberapa detik berlalu sebelum akhirnya ia menggeleng pelan.

"…bukan.”

"Bukan?” ulang petugas itu, alisnya terangkat.

Kamil menarik napas dalam, lalu berkata pelan, hampir seperti pengakuan yang terpaksa keluar.

"Gue… cuma lagi berusaha deketin dia.”

Hening sejenak.

Lalu—

Terdengar tawa kecil.

Satu orang security menutup mulutnya, tapi tetap tidak bisa menyembunyikan ekspresinya. Yang lain ikut tersenyum tipis, bahkan ada yang menggeleng pelan.

"Jadi…” salah satu dari mereka berkata sambil menahan tawa, “bukan siapa-siapa, tapi marah sampai mukul orang?”

Kamil mengepalkan tangannya di atas paha. Malu, marah, dan hancur bercampur jadi satu.

Belum selesai sampai di situ, salah satu security yang sejak tadi memperhatikan wajah Kamil tiba-tiba menyipitkan mata.

"Eh… bentar,” katanya, lalu menunjuk sedikit. "Saya kayaknya kenal Bapak.”

Kamil langsung mengangkat wajahnya, sedikit waspada.

Petugas itu terkekeh pelan.

"Bapak ini yang lagi viral itu, kan?” ujarnya santai. “Yang… habis akad langsung ceraiin istrinya?”

Suasana mendadak berubah. Beberapa petugas lain ikut menoleh, lalu tersenyum dengan ekspresi yang sulit diartikan—antara heran dan seperti menemukan bahan obrolan.

"Wah…” salah satu dari mereka berkomentar, setengah berbisik tapi masih terdengar jelas. "Lengkap ya, Pak ceritanya.”

Tawa kecil kembali terdengar. Kali ini, Kamil tidak bereaksi. Ia hanya diam.

Tangannya masih mengepal, tapi kini bukan karena ingin memukul siapa pun. Melainkan karena menahan sesuatu di dalam dirinya… yang terasa jauh lebih menyakitkan dari pukulan tadi.

Untuk pertama kalinya pagi itu, Kamil benar-benar tidak punya jawaban. Bukan untuk mereka. Tapi untuk dirinya sendiri.

1
Rini Hasmira
keren thor
sunaryati jarum
Ananda benar-benar benar tidak punya malu,jika Andra masih mau menerima Ananda berarti dia nggak punya harga diri , hanya sebagai ban serep
sunaryati jarum
Nah gitu Nak Dokter jadi emak terus lanjutin kisah ini,jawabanmu langsung menohok,jika masih punya urat malu segera menyingkir percaya dirimu terjun bebas
sunaryati jarum
Jika sampai Andra jatuh karena godaan Ananda emak berhenti mengikuti kisah Raya
Ma Em
Andra kalau kamu mau balikan sama Ananda berarti kamu bodoh Andra mau saja dipake cadangan , setelah Ananda dibuang sama cinta pertamanya mau kembali pada Andra enak di Ananda bodoh di Andra , kalau emang Andra blm bisa melupakan Ananda jgn dekati Raya karena kasihan Raya nanti akan sakit hati lagi untuk yg kedua kalinya .
falea sezi
masak sama jalang aja. gamon😒
Lee Mba Young
Raya cm pelarian, Dan Andra masih blm move on.
krn Cinta nya Andra sdh hbis pd Ananda Dan sisa nya kl dia sm Raya itu cm melanjutkan hidup atau skedar pelarian 🤣.
Nana Geulise
kakak adik(ananda n amanda) ga ada malunya.urat malunya dah putus.🫢🫢🫢...kok bisa ya kakak adik kelakuannya sama🤔...owh...kan cuma ada di dunia halu😁..mungkin ada x nya🤔.semanggat Author💪
Djuaningsih: lg seru banget brenti
total 1 replies
sunaryati jarum
Agar nanti jika ada ulet bulu nekat kamu jadi tamengnya Ray agar tak bisa menyerang dokter Andra.Sepertinya mantan tidak punya urat malu mau datang..Awas jika Dokter Andra memberikan kesempatan emak berhenti mengikuti kisahmu Ray.Emak tetap berharap kalian berjodoh.Amanah sebagai direktur Nisraya berhasil.
sunaryati jarum
Waah meetingnya diselingi dengan lamaran terselubung ya Dok,semoga memang kalian berjodoh
Lee Mba Young
kl Andra mau balik an ya bodoh lah masak masih mau ma bekas orang lain.
kcuali janda baik baik ok ae, ini dulu masih gadis nyampak an masak sekarang dah bekas pake 4th mau balik an di terima iuhhh jijik banget lah.
falea sezi
klo. tergoda ma ananda🤣 berarti Andra goblok🤣 ada berlian kayak raya malah milih kerikil bekas
Arieee
Andra jangan mau sama sodara nya Mak lampir ya🤧
Ma Em
Andra jgn sampai tergoda lagi sama Ananda ingat Andra dulu sdh dicampa kan sama Ananda cuekin saja Ananda dan pura2 Andra tdk kenal Ananda .
Lee Mba Young: 🤣 kl mau balik an ya bodoh masa dulu jls di campak kan trus sekarang dah bekas pake mau balik an di terima iya ogah lah kl Dr Andra Pinter. kcuali blm move on walau bekas ya masih mau 😄
total 1 replies
Mahmudah Mahmudah178
lanjut thro
Ester Natalia
suka ceritanya
Ester Natalia
ditunggu up nya
Isabela Devi
syukurlah raya bisa pegang butiknya srndiri💪
Ma Em
Alhamdulillah Raya sekarang sdh naik jabatan dari direktur utama , semoga amanah Raya menjalaninya dan makin sukses butik nya .
Ma Em
Semoga Dr Andra segera jadian dgn Rayyan , Thor jgn sampai Ananda yg akan dijadikan model oleh Raya .
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!