NovelToon NovelToon
Owned By The Cold CEO

Owned By The Cold CEO

Status: tamat
Genre:CEO / Nikah Kontrak / Cinta Seiring Waktu / Tamat
Popularitas:6.7k
Nilai: 5
Nama Author: Jee Jee

"Satu malam untuk nyawa ibuku. Itu saja."

Bagi Kalea, cinta adalah sebuah kebohongan besar yang menghancurkan keluarganya. Ia tumbuh dengan kebencian pada pria setelah melihat ibunya ditinggalkan sang ayah demi kekuasaan. Namun, saat ibunya butuh operasi darurat dengan biaya yang mustahil ia jangkau, Kalea terpaksa menjual satu-satunya hal yang tersisa: kehormatannya.
Ia menyerahkan segalanya kepada Liam Jionel, sang penguasa bisnis berdarah dingin yang memandang manusia tak lebih dari sekadar angka dan aset.

Kalea mengira ia hanya menjual satu malam, namun ternyata ia telah menyerahkan seluruh sisa hidupnya ke tangan seorang iblis berwajah malaikat.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jee Jee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

33

....

Udara di Pelabuhan Sunda Kelapa terasa sangat berat, campuran antara bau garam laut yang menyengat, karat besi, dan aroma kayu busuk dari kapal-kapal pinisi yang bersandar bisu. Matahari Jakarta mulai tergelincir ke ufuk barat, meninggalkan warna oranye yang tampak seperti darah yang tumpah di cakrawala. Kalea turun dari taksi sekitar dua ratus meter dari titik koordinat yang dikirimkan Clarissa. Ia sengaja turun lebih jauh agar taksi itu tidak menarik perhatian pengawas Clarissa.

Jantung Kalea berdegup kencang, seolah-olah ingin melompat keluar dari dadanya. Di dalam tas kecilnya, ia menggenggam erat pisau lipat perak—satu-satunya senjata yang ia miliki. Ia mengenakan hoodie hitam besar milik Liam yang ia ambil terburu-buru tadi, menutupi kebaya mahalnya yang kini terasa menyesakkan.

"Aku bukan lagi gadis lemah yang bisa kau beli, Liam. Dan aku bukan lagi mangsa yang bisa kau bakar, Clarissa," bisik Kalea pada dirinya sendiri, mencoba menguatkan mentalnya yang nyaris runtuh.

Ia melangkah masuk ke area gudang logistik nomor 14. Bangunan itu tampak sangat tua, dengan atap seng yang sudah berlubang di sana-sini. Suasana di dalam sangat gelap, hanya diterangi oleh sisa-sisa cahaya sore yang masuk melalui celah dinding kayu. Begitu kakinya menginjak lantai semen yang berdebu, pintu besi besar di belakangnya tertutup dengan dentuman keras yang menggema di seluruh ruangan.

Brak!

"Selamat datang kembali di neraka, Nyonya Jionel," sebuah suara yang melengking dan penuh kegilaan terdengar dari lantai mezanin di atas.

Kalea mendongak. Di sana, berdiri seorang wanita yang nyaris tak ia kenali. Clarissa. Wajahnya yang dulu dipuja jutaan orang kini tampak mengerikan; sebagian kulit pipinya tertutup bekas luka bakar yang tidak tertangani dengan baik, dan matanya yang dulu indah kini hanya memancarkan kekosongan yang mematikan. Di sampingnya, Felicia duduk terikat di sebuah kursi besi, mulutnya dilakban, dan matanya membelalak ketakutan saat melihat kakaknya datang.

"Lepaskan Felicia, Clarissa! Urusanmu denganku, bukan dengan dia!" teriak Kalea, suaranya menggema di gudang yang hampa.

Clarissa tertawa, sebuah tawa kering yang terdengar seperti gesekan amplas. "Urusanku adalah dengan semua yang dicintai Liam! Dia menghancurkan hidupku, dia membuangku ke rumah sakit jiwa di Austria seperti sampah! Dan kau... kau mendapatkan segalanya! Kau mendapatkan cintanya, kau mendapatkan tahtanya, bahkan kau mendapatkan anak-anaknya!"

Clarissa menuruni tangga besi dengan perlahan, memegang sebuah pisau bedah yang berkilau tajam. "Kau tahu apa yang dilakukan Liam sekarang? Dia sedang berada di Puncak, menatap jurang kosong yang dipenuhi peledak. Dia pikir dia pahlawan, padahal dia hanya sedang menunggu ajalnya sendiri."

Kalea merasakan lututnya lemas mendengarnya, namun ia segera menetralkan emosinya. Ia tidak boleh terlihat goyah di depan psikopat ini. "Liam tidak sebodoh itu, Clarissa. Tim keamanannya akan menemukannya sebelum peledak itu aktif. Fokuslah padaku sekarang. Kau ingin aku mati, kan? Lakukan saja, tapi biarkan adikku pergi!"

"Adikmu?" Clarissa sampai di depan Kalea, ujung pisau bedahnya menyentuh dagu Kalea yang gemetar. "Oh, dia bukan sekadar adik, Kalea. Dia adalah bukti kegagalan keluarga Adiwinata. Tapi kau... kau adalah permata yang membuat Liam tetap bernapas. Jika aku menghancurkan permata ini, maka Liam akan mati perlahan-lahan dalam penyesalan."

Sementara itu, di sebuah tikungan tajam di kawasan Puncak, suasana jauh lebih mencekam. Tiga mobil SUV hitam milik Jionel Group berhenti mendadak di depan sebuah barikade batu besar. Liam Jionel melompat keluar, tangannya memegang senjata api dengan posisi siap tembak. Aris dan tim Alpha segera menyebar, mengepung area hutan di pinggir jurang.

"Tuan, sensor kami mendeteksi aktivitas panas di balik semak-semak itu. Tapi tunggu... ini aneh," Aris menatap tabletnya dengan kening berkerut. "Sinyal GPS Nona Kalea bergerak menjauh dari yayasan!"

Liam menoleh dengan wajah yang seketika memucat. "Apa maksudmu?! Bukankah dia di ruang aman?!"

"Beliau melarikan diri lewat jalur staf, Tuan! Koordinatnya... Pelabuhan Sunda Kelapa!" Aris berteriak panik.

Detik itu juga, Liam menyadari kesalahan fatalnya. "Sial! Puncak hanyalah pengalihan! Clarissa ingin memisahkanku darinya! Dia ingin menghabisi Kalea di tempat yang jauh dari pengawasanku!"

Tiba-tiba, suara tawa pecah dari sebuah speaker nirkabel yang disembunyikan di atas pohon. "Terlambat, Liam sayang! Saat kau sampai di pelabuhan nanti, kau hanya akan menemukan sisa-sisa abu dari istrimu yang tercinta. Selamat menikmati pemandangan jurangmu!"

BOOM!

Sebuah ledakan kecil terjadi di ujung jalan, meruntuhkan sebagian tebing dan menutup jalur kembali ke Jakarta. Liam menatap rongsokan batu yang menutupi jalanan dengan amarah yang meledak-ledak. "Aris! Panggil helikopter tempur! Sekarang! Aku tidak peduli soal izin terbang, bawa aku ke Sunda Kelapa dalam sepuluh menit atau aku sendiri yang akan meledakkan gedung otoritas bandara!"

Liam tidak peduli lagi pada protokol. Ia berlari menembus hutan, menuju area terbuka di mana helikopter bisa mendarat. Pikirannya hanya satu: Kalea. Ia tidak sanggup membayangkan jika ia kehilangan Kalea untuk kedua kalinya, dan kali ini secara permanen.

Kembali ke gudang Sunda Kelapa.

Clarissa mulai menyayat lengan baju hoodie Kalea, membiarkan mata pisau itu menggores kulit bahu Kalea sedikit hingga darah merembes. "Kau merasa sakit, Kalea? Ini belum seberapa dibanding rasa sakit saat Liam menciumku dulu... sebelum dia mengenalmu."

Kalea meringis kesakitan, namun ia justru menatap Clarissa dengan pandangan iba. "Dia tidak pernah mencintaimu, Clarissa. Dia hanya menganggapmu boneka panggung. Kau tahu itu jauh di dalam hatimu, itulah kenapa kau begitu terobsesi untuk menghancurkanku."

"DIAM!" Clarissa menjerit, ia mengangkat pisaunya tinggi-tinggi, siap menghujamkannya ke dada Kalea.

Namun, di saat kritis itu, Kalea menggunakan kemampuannya sebagai jurnalis yang sering meliput di daerah berbahaya. Ia menendang lutut Clarissa dengan kencang, membuat wanita itu terhuyung. Kalea segera mencabut pisau lipatnya dan memutus tali yang mengikat tangan Felicia dengan satu gerakan cepat.

"LARI, FELICIA! LARI KE PINTU BELAKANG!" teriak Kalea.

Felicia yang mulutnya masih terlakban segera meronta dan berlari menuju celah di tumpukan peti kemas. Clarissa yang marah segera berbalik mengejar Felicia, namun Kalea menerjang tubuh Clarissa hingga mereka berdua jatuh bergulingan di lantai semen yang kasar.

"Kau pikir kau bisa menang?!" Clarissa mencengkeram rambut Kalea, membenturkan kepala Kalea ke lantai hingga pandangannya berkunang-kunang.

Kalea merasakan darah mengalir dari pelipisnya. Di tengah rasa pening yang luar biasa, ia melihat Clarissa mengangkat kembali pisau bedahnya. Kalea memejamkan mata, bersiap untuk yang terburuk.

Tiba-tiba, suara deru mesin helikopter yang sangat keras memecah kesunyian pelabuhan. Angin kencang dari baling-baling helikopter yang mendekat meniup debu di dalam gudang, membuat Clarissa terdistraksi sejenak.

PRANK!

Atap seng gudang hancur saat beberapa personil tim Alpha meluncur turun menggunakan tali, diikuti oleh sosok pria yang melompat tanpa ragu dari ketinggian lima meter.

Liam Jionel mendarat dengan dentuman keras, debu beterbangan di sekelilingnya. Matanya yang merah karena amarah langsung tertuju pada Clarissa yang sedang menindih Kalea. Tanpa ragu, Liam menembakkan senjatanya ke arah bahu Clarissa, membuat wanita itu terpental menjauh dari Kalea.

"JANGAN SENTUH DIA!" teriak Liam, suaranya seperti petir yang menggelegar.

Liam segera menghampiri Kalea, mengangkat tubuh istrinya yang berlumuran darah itu ke dalam pelukannya. "Kalea! Bangun, Sayang! Maafkan aku... maafkan aku datang terlambat!"

Kalea membuka matanya perlahan, melihat wajah Liam yang dipenuhi ketakutan yang nyata. Ia tersenyum tipis, tangannya yang bergetar menyentuh rahang Liam. "Aku... aku menyelamatkan Felicia, Liam. Aku tidak lemah lagi..."

Liam mencium kening Kalea dengan penuh rasa syukur, air matanya jatuh membasahi pipi Kalea. "Iya, Sayang. Kau adalah wanita paling berani yang pernah kukenal. Sekarang, biarkan aku mengurus sisanya."

Liam berdiri, menyerahkan Kalea pada tim medis yang baru saja mendarat. Ia berjalan menuju Clarissa yang sedang merangkak di lantai sambil memegang bahunya yang bersimbah darah. Clarissa menatap Liam dengan tawa gila yang tersisa.

"Kau menang lagi, Liam... tapi ingat, kau mencintai seorang wanita yang jiwanya sudah hancur karenamu..." desis Clarissa.

Liam menatap Clarissa dengan pandangan dingin yang paling mematikan. "Jiwa Kalea tidak hancur. Dia sembuh karena cintaku dan anak-anakku. Sedangkan kau? Kau hanyalah sisa sejarah yang menyedihkan."

Liam memberi isyarat pada kepolisian yang baru sampai. "Bawa dia ke sel isolasi internasional. Dan kali ini, pastikan tidak ada seorang pun yang bisa berbicara dengannya, bahkan pengacaranya sekalipun."

Saat Clarissa diseret keluar, Liam kembali ke sisi Kalea. Ia melihat Felicia yang sudah aman di pelukan Aris. Liam merangkul Kalea erat di bawah bisingnya helikopter yang siap membawa mereka kembali ke rumah.

Malam itu, di pelabuhan Sunda Kelapa, sebuah babak gelap benar-benar tertutup. Tapi Liam tahu, kepulangannya ke Jakarta baru saja dimulai. Musuh-musuh Jionel yang lain mulai bermunculan dari balik bayangan, dan ia harus memastikan bahwa kali ini, "permata"-nya tidak akan pernah tersentuh lagi.

"Kita pulang, Kalea," bisik Liam.

Kalea menyandarkan kepalanya di bahu Liam, menatap langit Jakarta yang kini sepenuhnya gelap. "Jangan lepaskan aku, Liam. Jangan pernah lagi."

"Selamanya, Nyonya Jionel. Selamanya."

Perang di Jakarta baru saja mencapai suhu puncaknya. Dan di tengah puing-puing gudang tua itu, cinta mereka teruji lebih kuat dari besi dan lebih tajam dari dendam. beb_

1
lia juliati
semoga hatinya selalu hangat oleh kalea
arilias
thor kpn cerita nya di lanjut?
arilias
masyaalloh cerita nya bagus bgt. awal awal bikin aku gregetan. dan sekarang cerita nya bikin aku penasaran sama bab selanjutnya.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!