Aira Putri Manggala tidak tahu arti kata menyerah. Sudah 99 kali ia menyatakan cinta, dan 99 kali pula Leonel menolaknya tanpa ragu.
Cowok paling cuek di sekolah itu seperti tembok es. Sulit didekati, mustahil ditaklukkan.
Tapi Aira bukan tipe gadis yang mundur hanya karena ditolak.
Bagi Aira, cinta bukan soal harga diri. Ini soal perjuangan.
Seluruh sekolah mengenal obsesinya. Sebagian menertawakan, sebagian menunggu keajaiban.
Yang tidak pernah mereka tahu…
AIRA-LEONEL DI SINI!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HaluBerkarya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35. Dua pilihan.
Tak!
Kertas putih itu dilemparkan oleh Daddy William dengan kasar ke arah Leonel. "Baca kembali jika kamu sudah lupa! Jadi laki-laki itu yang dipegang adalah omongannya! Jangan jadi pengecut yang mengingkari janji, Leonel Bimantara!" tegas pria dewasa itu dengan suara yang menggelegar.
Pandangan kedua orang itu kini bertumpu pada kertas putih yang tergeletak di atas meja. Leonel menatapnya dengan mata yang mulai berkaca-kaca sementara tangannya terkepal kuat di bawah meja untuk meredam gejolak di hatinya. Di sisi lain Daddy William hanya menatapnya datar sambil menunggu Leonel mengambil kertas itu dan membacanya sekali lagi.
"Tidak! Ini tidak benar. Apa yang sebenarnya Daddy ragukan dari perasaan Leonel? Obsesi? Ini adalah cinta dan bukan obsesi! Aku melakukan itu semua atas dasar cinta. Alasan aku memilih untuk tidak mendekat dulu adalah karena aku berpikir bahwa saat itu aku hanya boleh menjaganya dari jauh. Tapi saat sudah SMA aku rasa ini bukan lagi waktunya untuk terus menjadi pengagum rahasia. Aku harus bisa lebih berani untuk mendekat. Tapi kenapa Daddy selalu saja menghalangiku? Kenapa Daddy setidakpercaya itu kepadaku? Kenapa?" tanya Leonel dengan suara yang mulai bergetar karena emosi yang meluap di dadanya.
Emosi yang selama ini tertahan karena ia merasa tidak pernah bisa lepas dari cengkraman pria di depannya kini meledak seketika. Leonel tidak menangis namun ia benar-benar sedang dikuasai oleh rasa marah yang luar biasa.
"Kenapa?" ulang Daddy William dengan kekeh rendah yang terdengar meremehkan. Ia menatap lekat manik mata Leonel dan bisa merasakan kobaran amarah pemuda itu namun ia sama sekali tidak peduli dan tetap pada pendiriannya yang kaku. "Karena aku tidak mau kalian pacaran sebelum benar-benar lulus sekolah. Hal sesederhana itu saja kamu tidak paham?" ujar Daddy William dengan nada dingin.
"Itu bukan jawaban yang masuk akal! Masa pacaran saja tidak diperbolehkan? Ayolah Daddy. Aku tidak meminta untuk menikahinya sekarang. Cukup izinkan aku untuk bisa mengekspresikan perasaanku pada Aira secara terbuka. Dia terus bertanya-tanya dan aku harus menjawabnya bagaimana lagi? Haruskah aku terus berpura-pura? Tidak bisa! Sudah cukup Daddy. Ini bukan lagi zaman dulu. Daddy tidak ingin aku menyakiti Aira tapi Daddy sadar tidak kalau sekarang sakit yang Aira rasakan justru lebih banyak berasal dari kebohonganku!" ujar Leonel dengan emosi yang meluap.
Kini sebutir cairan bening lolos dari matanya. Setetes air mata itu cukup untuk membuat Daddy William sempat bergeming sejenak di posisinya.
"Itu terjadi karena kamu beberapa hari ini memperlihatkan perasaanmu yang sesungguhnya hingga Aira menyadarinya!" balas Daddy William tidak mau kalah.
"Karena aku tidak bisa lagi menahannya! Paham tidak Daddy? Sial! Daddy mungkin tidak tahu bagaimana rasanya menahan perasaan dan menahan rasa cemburu yang bisa meledak kapan saja. Arghhh!" Leonel menggigit bibir bawahnya sekuat tenaga untuk menahan getaran agar tidak benar-benar melepaskan tangisnya di sana. Ia tidak peduli jika harus dianggap sebagai cowok cengeng karena ini adalah bentuk pemberontakan yang sudah bertahun-tahun ingin ia lakukan namun terus tertahan oleh pilihan yang berat.
"Sudah cukup,Dad. Aku akan menghamili Aira saja jika dengan cara itu aku bisa mengikatnya," gumam Leonel dengan suara kecil namun sangat jelas di telinga Daddy William.
Seketika itu juga rahang pria mengeras dengan tatapan mata yang seolah ingin menghancurkan apa pun yang ada di depannya.
...****************...
"Kamu berani?" tanya Daddy William dengan sorot mata yang seolah ingin membunuh saat itu juga. "Sebelum kamu melakukan itu maka aku tidak menjamin nyawamu akan aman! Dan lebih dari itu sebelum kamu benar-benar berani melakukannya berarti kamu sudah siap kehilangan Aira! Ingat Leonel. Peringatanku dulu yang memintamu memilih untuk tetap menahan perasaan setidaknya sampai kalian lulus bersama atau Aira harus aku pindahkan ke luar negeri. Simpelnya kamu memilih yang mana? Jauh dari Aira atau putriku tetap berada di sekitarmu tapi kamu harus tetap pada perjanjian itu? Jangan pacaran sebelum kalian berdua lulus!" tegas Daddy William sekali lagi dengan penuh penekanan.
Perjanjian itu. Sialan! Sebenarnya itu sama sekali bukan sebuah janji melainkan sebuah pemaksaan terhadap Leonel sekitar dua tahun yang lalu. Saat itu pria otoriter di depannya memberikan pilihan yang dua-duanya tidak pernah terlintas dalam pikiran Leonel sebelumnya.
Pilihan yang menjerat lehernya hingga ia harus berpura-pura menjadi orang asing bagi gadis yang paling ia cintai. Leonel hanya bisa mengepalkan tinjunya kuat-kuat di balik meja hingga buku-buku jarinya memutih karena menahan amarah yang hampir meledak.
Ya, Daddy William tahu segalanya. Layaknya seorang ayah yang terus memantau keseharian putrinya bahkan lingkup keluarganya, Daddy William menyadari ada seorang bocah yang terus mengawasi putrinya sejak dulu. Sejak Aira masih kecil Leonel tumbuh bersama gadis itu baik di sekolah maupun di luar saat ia sering menginap di rumah Oma Sofia. Pertemuan pertamanya dengan gadis berusia sekitar enam tahun kala itu terjadi saat Aira sedang mengikuti Oma Alisia arisan. Yang Leonel lihat saat itu adalah seorang gadis kecil yang sangat berani karena menolong adiknya Arel saat sedang bermain di halaman. Awalnya ia mengira itu hanya rasa kagum anak kecil biasa namun yang tidak pernah ia sangka adalah perasaan itu justru terus tumbuh seiring pertambahan usia mereka.
Aira adalah miliknya bagi seorang Leonel. Gadis itu adalah bagian dari dirinya hingga ia diam-diam terus memantau setiap gerak-gerik Aira bahkan kamera kecilnya selalu ia bawa ke mana pun.
Namun bagi orang lain hal itu dipandang berbeda terutama bagi sosok Daddy William yang sangat protektif. Awalnya ia hanya menganggap ketertarikan itu sebagai hal biasa pada anak kecil namun seiring berjalannya waktu perasaan Leonel mulai terbaca jelas saat memasuki masa SMP dan SMA. Di situlah Daddy William mulai memberikan peringatan keras kepadanya. Apalagi saat Aira mulai ganti mengejar Leonel secara terang-terangan yang membuat pria itu merasa seperti melihat dejavu dari sikap agresif adiknya dahulu.
Peringatan pria itu kepada Leonel terdengar sangat mutlak dan tidak bisa diganggu gugat. Leonel harus memilih salah satu di antara dua opsi yang sama-sama menyakitkan baginya. Pilihan pertama adalah Aira akan segera dipindahkan ke luar negeri jauh dari jangkauannya atau pilihan kedua yaitu Aira tetap di sini asalkan Leonel sanggup menahan seluruh perasaannya rapat-rapat.
Daddy William memberikan syarat yang sangat berat bagi pemuda itu. Ia hanya mengizinkan putrinya tetap berada di sekitar Leonel jika Leonel bisa menjamin tidak akan ada hubungan asmara di antara mereka sebelum kelulusan tiba. Sebuah perjanjian yang memaksa Leonel untuk terus memakai topeng kedinginan meski hatinya sedang terbakar hebat oleh rasa cemburu dan rindu yang mendalam.
"Sebentar lagi Leonel. Sebentar lagi kalian lulus. Daddy hanya ingin yang terbaik untuk kalian berdua dan hanya kamu cowok yang Daddy percaya untuk menjaganya. Tidak ada yang lain!" lanjut Daddy William dengan nada yang akhirnya melunak karena merasa tidak tega melihat penderitaan pemuda di depannya.
Leonel menghela napas kasar dan jelas sekali ia masih tidak bisa menerima alasan itu sepenuhnya. Sebentar lagi katanya padahal jelas masih tersisa sekitar enam bulan sebelum mereka benar-benar tamat sekolah. Ia merasa sepertinya tidak akan pernah sanggup lagi untuk terus berbohong apalagi sekarang Aira sudah tahu bagaimana perasaan yang sesungguhnya. Enam bulan ke depan akan terasa seperti siksaan neraka baginya jika ia harus kembali memasang topeng kedinginan yang membosankan itu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...