NovelToon NovelToon
Long Hand

Long Hand

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Action / Fantasi
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Kaelits

Iago Verbal tiba di Citywon, ibu kota Cirland, dengan niat sederhana: mencari pekerjaan dan memulai hidup baru. Namun, kota megah yang awalnya menjanjikan ketenangan itu justru menyimpan bayang-bayang masa lalunya yang hilang.

Secara bertahap, kilasan ingatan yang terpecah-pecah kembali menghantuinya, diikuti kehadiran orang-orang misterius yang mengaku mengenalnya, termasuk putri kerajaan yang penuh curiga dan organisasi bawah tanah yang mengerikan.

Iago pun terseret dalam pusaran konspirasi dan kekerasan, memaksanya menyadari satu
kebenaran yang mengerikan: identitas aslinya bukanlah pemuda desa yang polos, dan kedatangannya ke kota ini mungkin bukanlah sebuah kebetulan, melainkan tahap terakhir dari rencana gelap yang bahkan ia sendiri sudah lupa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kaelits, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Terbuka

Pintu besar itu terbuka lebar. Lampu-lampu lilin yang tergantung di atap yang menjulang tinggi memancarkan cahaya kekuningan yang menari-nari dengan lembut di setiap sudut ruangan, menciptakan bayangan-bayangan yang hidup dan bergerak-gerak di dinding marmer yang dingin.

Meski cahaya matahari siang masih menyerbu masuk dengan gagahnya dari balik jendela kaca patri yang panjang dan berwarna-warni, lilin-lilin di sekitar tetap menyala.

Sebuah karpet merah tua membentang lebar di atas ubin bening. Karpet itu mengalir bak sungai darah dari ambang pintu utama menuju anak tangga marmer, dan di puncak anak tangga itu, bersemayam dengan angkuh kursi-kursi mewah bertahtakan emas murni. Masing-masing kursi dilapisi emas yang memantulkan cahaya kekuningan dari lilin-lilin di sekelilingnya.

"Mari kita sambut prajurit baru kita yang gagah berani!" Suara seorang pria tua menggema di seluruh ruangan. "Ini dia... STEVEEE!!!"

Para pelayan rendahan, biarawati muda, dan biarawan tua berjejer rapi di sepanjang sisi karpet merah yang membentang. Mereka menundukkan kepala dengan hormat, sementara senyuman-senyuman ramah merekah di wajah mereka.

Tidak hanya mereka; para prajurit elit gereja, yang kini berjumlah lima orang dengan zirah mengilap, juga hadir memenuhi panggilan. Mereka berdiri dengan postur tegap, tangan bersedekap dengan disiplin di depan dada, memberikan penghormatan yang pantas untuk seorang ksatria baru yang akan bergabung dalam barisan mereka.

Otto akhirnya melangkah masuk dengan mantap.

Tubuhnya tegak, langkahnya teratur, setiap hentakan kakinya di atas karpet merah tebal menghasilkan desisan pelan yang nyaris tak terdengar. Rambut peraknya yang semakin panjang bergoyang lembut mengikuti setiap gerakan tubuhnya, kontras yang tajam dengan jubah cokelat lusuh dan topeng kelinci putih yang masih setia ia gunakan.

Di lantai atas, tersembunyi di balik bayangan, Iago menuruni anak tangga dengan langkah senyap. Ia bersembunyi di balik pilar marmer yang besar dan dingin, mengintip ke ruangan utama dari balik dinding yang kokoh. Matanya langsung menyapu ruangan dengan cepat, mencari.

Dan ia menemukannya.

Biarawan tua yang mengurusinya di kamar tadi sudah berdiri rapi di barisan paling depan, sedikit menundukkan kepala seperti yang lain, menunjukkan hormat yang sempurna. Senyum tipisnya masih terukir dengan setia di wajahnya. Matanya yang abu-abu pucat menyambut Otto dengan kehangatan yang terasa begitu ramah.

Melihat biarawan tua itu untuk kedua kalinya, sesuatu di dalam dada Iago meluap dengan kekuatan yang tak tertahankan. Tangannya mengepal dengan kekuatan penuh. Lalu, tanpa bisa ditahan lagi oleh akal sehat, tinjunya yang gemetar menghantam dinding marmer di sampingnya dengan sekuat tenaga.

BUMP!

Suara tumpul itu tenggelam seketika oleh gemuruh tepuk tangan yang bergema di bawah. "Sial..." desisnya pelan. "Aku malah terjebak di sini!"

Otto terus berjalan dengan langkah mantap. Matanya yang tersembunyi di balik topeng fokus lurus ke depan, ke arah dua belas kursi mewah bertahtakan emas di ujung ruangan. Namun dari dua belas kursi megah itu, hanya lima yang terisi oleh tubuh manusia. Tujuh kursi lainnya kosong.

Di balik postur tubuhnya yang tegak sempurna dan ketenangan yang ia tampilkan, tangan Otto gemetar di dalam lipatan jubahnya yang longgar. Jari-jarinya yang dingin dan berkeringat saling meremas dengan panik.

Sementara di ruangan megah itu gemuruh tepuk tangan dan sorak-sorai masih bergema meriah menyambut Otto, di lorong-lorong kotor dan gelap Citywon yang jauh dari kemegahan, suara lain terdengar. Suara yang seperti meminta tolong namun pada akhirnya tak terdengar oleh siapa pun, ditelan dan dihancurkan oleh kesibukan dunia yang acuh tak acuh.

Cebar... Cebar... Cebar...

Suara napas seorang pria botak menggema di seluruh gang sempit yang gelap, bersamaan dengan derap langkah kakinya yang tak beraturan. Air kotor yang menggenang di jalanan berbatu itu terciprat ke mana-mana. Ia berusaha sekuat tenaga, mendorong tubuhnya yang mulai kehabisan tenaga dengan putus asa untuk terus berlari.

"TOLONGG!!!" teriaknya dengan suara serak dan pecah. "SIAPA PUN... TOLONG AKU, AKU MOHON!!!"

Jubah putihnya yang dulu menjadi simbol kesucian dan otoritas mutlak, kini kusut, kotor, dan penuh dengan noda-noda merah gelap yang merembes keluar dari tubuhnya sendiri, dari luka-luka yang menganga di sana-sini.

Wajahnya adalah kanvas kekerasan yang masih basah oleh darah segar. Kulit kepalanya yang botak kini dihiasi lecet-lecet merah keunguan yang mengerikan di sana-sini. Dari satu luka menganga yang dalam di pelipis kirinya, darah masih merembes dengan lambat, membentuk aliran kecil yang berkelok-kelok melewati pelipis, mengaliri rahang yang gemetar, sebelum akhirnya menetes jatuh dari ujung dagunya.

Matanya adalah jendela yang paling mengerikan untuk melihat ke dalam jiwanya yang hancur. Kedua kelopaknya yang lebam nyaris tertutup sepenuhnya oleh bengkak kehitaman yang mengerikan, hanya menyisakan celah-celah sempit yang menyedihkan. Namun dari celah-celah sempit itulah, pijar ketakutan yang begitu pekat merembes keluar. Bola matanya yang sembab dan merah bergerak-gerak gelisah tanpa henti, mencari jalan keluar, mencari belas kasihan, mencari apa pun yang bisa menyelamatkan nyawanya.

Namun langkahnya yang tergesa-gesa, ditambah jalanan yang licin oleh air dan lumut hijau, membuatnya kehilangan keseimbangan di saat yang paling kritis. Kakinya yang gemetar terseret, tubuhnya yang berat terpelanting ke depan tanpa bisa dicegah.

BRUAK!

Dagunya yang keras menghantam jalanan berbatu dengan kekuatan penuh. "ARGHHH!!!" Jubah putihnya yang sudah kotor dan berlumuran darah kini basah kuyup sepenuhnya oleh genangan air kotor berwarna kecokelatan. Warna putih sucinya memudar seketika, berubah menjadi cokelat lumpur yang menjijikkan. "TOLONGG!!! KENAPA TAK ADA YANG MENDENGARKU, KENAPA?!!!"

Cibak... Cibak... Cibak...

Tiba-tiba, di tengah kepanikannya yang memuncak, suara lain terdengar dengan jelas. Suara langkah kaki. Pelan.

Pria botak itu ternganga, mulutnya terbuka lebar tanpa suara. Sekujur tubuhnya menjadi kaku membatu, beku oleh hawa dingin yang tiba-tiba merayap naik dari tengkuknya hingga ke ubun-ubun. Dengan perlahan, sambil masih terkapar tak berdaya di genangan air kotor, dia memutar kepalanya yang berat ke belakang. Matanya yang nyaris tertutup rapat berusaha sekuat tenaga untuk melebar.

"T-tunggu..." bisiknya, suaranya nyaris tak terdengar, hanya hembusan napas.

Cibak... Cibak... Cibak...

Bayangan seorang manusia semakin mendekat dari balik kegelapan lorong yang pekat. Siluetnya semakin lama semakin jelas, menutupi sepenuhnya seluruh tubuh si pria botak yang gemetaran hebat di tanah.

"Ku-kumohon, jangan..." Pria botak itu merangkak mundur dengan menggunakan siku dan tangannya yang gemetar tak terkendali. "Aku... aku akan melakukan apa saja yang kau mau. Apa saja! Aku akan memberikan segalanya! Hanya... hanya jangan bunuh aku!"

Saat akhirnya cahaya matahari senja yang redup menerpa wajah orang yang mendekat itu, si pria botak semakin bingung dan ketakutan. Bukan karena wajah itu asing baginya—tapi justru karena ia mengenalnya dengan sangat baik.

"Aku... harus membunuhmu, Yang Mulia. Aku tak punya pilihan lain." Suara seorang pria berambut cokelat bergetar hebat. Wajahnya juga dipenuhi oleh ketakutan yang nyata. Tangannya yang memegang erat kapak gemetar begitu hebat. "Aku harus membunuhmu, aku terpaksa."

"K-kenapa, untuk apa—"

"Jika tidak..." potongnya dengan suara yang tiba-tiba naik menjadi histeris, pecah oleh tekanan yang tak tertahankan. Ia mulai memegang gagang kapak dengan kedua tangannya yang gemetar, lalu mengangkatnya tinggi-tinggi ke atas kepala. Di ujung kapak yang berkilat itu, cahaya senja yang memudar menari sebentar sebelum lenyap ditelan kegelapan. "Jika tidak... A-akulah yang akan mati!!!"

Pria botak itu sempat membuka mulutnya lebar-lebar untuk berteriak sekeras-kerasnya—tapi tidak ada suara yang keluar. Hanya udara kosong yang keluar dari tenggorokannya yang tercekat.

CRAAKKK!

Kapak itu turun dengan kekuatan penuh. Darah segar muncrat ke segala arah dengan deras, membasahi dinding-dinding lorong yang kotor, membasahi seluruh wajah dan tubuh si pembunuh.

Kepala yang terpenggal itu menggelinding beberapa kali di atas batu-batu basah sebelum akhirnya berhenti dengan tenang di genangan air yang perlahan berubah menjadi merah pekat. Bau anyir darah yang tajam dan memuakkan seketika memenuhi seluruh gang sempit, menusuk hidung dan tenggorokan.

Matahari yang perlahan turun di ufuk barat seakan-akan enggan untuk menyaksikan pemandangan mengerikan ini. Cahaya oranye yang hangat memudar, menarik diri perlahan dari lorong itu, meninggalkannya dalam senja yang kelabu dan suram.

Si pembunuh terengah-engah, napasnya memburu. Bajunya basah kuyup oleh darah—darah di mana-mana: di kapak yang masih tergenggam erat, di kedua tangannya yang gemetar, di kakinya yang lemas, di sepatunya yang licin. Lututnya yang tak lagi kuat tertekuk dan ia ambruk dengan keras di genangan merah yang masih hangat itu.

Lalu, ia menangis tersedu-sedu.

Air mata bening bercampur darah segar di wajahnya yang kuyu, menetes satu per satu ke genangan di bawahnya, menciptakan riak-riak kecil yang menyebar di permukaan merah. "Ma-maafkan aku..." isaknya dengan suara pecah berkeping-keping. "Maafkan aku, Yang Mulia... Maafkan aku, Tuhan... Aku tidak punya pilihan..."

Tiba-tiba, matanya yang basah membelalak lebar. Sebuah bayangan hitam melintas cepat di benaknya: seorang pria tua. Rambut putih panjang yang bersih. Mata abu-abu pucat yang terlihat dingin. Senyum tipis yang tak pernah pudar dari bibirnya.

"Ti-tidak! BUKAN AKU!" jeritnya dengan histeris, tubuhnya tersentak mundur dengan keras hingga pundaknya yang basah membentur dinding gang yang dingin dan kasar. "A-aku tidak membunuhnya, bukan aku! Aku... aku hanya menyelamatkan diriku sendiri! AKU TAK PUNYA PILIHAN!!!" Kedua tangannya yang berlumuran darah terangkat, menjambak rambutnya sendiri. Tubuhnya meringkuk menjadi bola di samping mayat yang masih hangat, di antara genangan darah yang perlahan-lahan mulai membeku dan mengental.

Langit di atas semakin gelap tanpa ampun. Malam yang dingin merayap masuk perlahan, menyelimuti lorong kotor itu dengan kegelapan yang pekat. Dan ia masih di sana, tak bergerak, gemetar dan menjambak rambutnya sendiri tanpa henti, di samping kepala yang terpenggal dengan mata terbuka lebar dan tubuh yang sudah tak bernyawa.

Sementara di luar sana kekacauan dan kematian merayap diam-diam di lorong-lorong gelap yang tak tersentuh cahaya, di dalam Gereja Cahaya yang megah, sorak-sorai dan tepuk tangan masih bergema dengan riang. Mereka merayakan dengan meriah penyambutan Otto ke dalam barisan suci.

"Steve." Suara Lyrian yang berat memecah keramaian. Ia duduk di kursi tertinggi di antara lima kursi yang terisi hari itu. "Kami hanya berlima hari ini, hadir mewakili saudara-saudara kami yang lain. Namun dengan sepenuh hati, kami menerimamu sebagai bagian dari keluarga besar Gereja Cahaya. Apa kau ingin kami memperkenalkan diri satu per satu, agar kau lebih mengenal kami?"

Otto berlutut dengan sempurna, satu kaki di atas karpet merah yang lembut, kepalanya menunduk dalam-dalam. "Ya, Yang Mulia. Saya akan sangat berterima kasih atas kehormatan itu."

"Baiklah. Aku Lyrian." Ia kemudian menunjuk ke kursi di samping kanannya. Seorang pria berbadan besar dan kekar duduk di sana. Wajah perseginya yang keras menunjukkan rahang yang tegas. Alisnya yang tebal dan hitam tertata rapi di atas sepasang mata yang sangat waspada. "Dia Cassian. Bekas panglima perang kerajaan sebelum mengabdikan diri sepenuhnya kepada gereja."

Jari Lyrian yang keriput bergerak ke kursi berikutnya. Seorang pria tua dengan mata sipit dan tubuh yang membungkuk berat oleh beban usia, namun sorot matanya yang redup masih menyimpan kewaspadaan. "Lalu dia Orion. Ahli strategi dan taktik. Otak di balik banyak kemenangan kita."

Selanjutnya, ia menunjuk ke dua pria di kursi paling ujung barisan. Yang pertama adalah pria dengan wajah penuh bekas luka yang mengerikan. "Yang penuh luka itu namanya Gideon. Ya, dia memang suka bertarung sejak muda."

Yang terakhir adalah sosok misterius yang selalu memakai tudung merah tua, wajahnya hampir selalu tersembunyi dalam bayangan yang dalam, hanya sedikit ujung hidung dan dagu yang terlihat. "Dan yang ini Zacharias. Dia lebih suka diam dan mendengarkan daripada berbicara. Tapi percayalah, dia mendengar semuanya."

Otto mengangguk dalam-dalam sekali lagi, masih berlutut. "Senang berkenalan dengan kalian, Yang Mulia. Saya akan menyerahkan segenap hati, jiwa, dan raga saya untuk melayani Gereja Cahaya."

Masih bersembunyi di balik pilar marmer yang dingin, Iago terus mengintip. Matanya menyapu ruangan dengan teliti, mengamati kelima penasihat yang hadir itu satu per satu, mencerna setiap detail. Namun saat pandangannya bergeser sedikit ke samping—ke arah kursi-kursi kosong yang melompong di belakang mereka—sesuatu terjadi di dalam dirinya.

Sorot matanya tiba-tiba tertambat dan membeku pada sesuatu.

Ukiran-ukiran di kursi-kursi emas kosong itu. Detail-detail rumit yang membentuk pola-pola tertentu. Pola yang... begitu familiar di matanya. Yang... menusuk kesadarannya seperti belati.

Tiba-tiba, tanpa peringatan, suara keriuhan ruangan yang meriah itu memudar dengan cepat, tenggelam dalam dengung aneh yang memenuhi telinganya. Dunia di sekelilingnya seolah-olah menarik diri dengan paksa, meninggalkannya sendirian, terisolasi, hanya dengan ukiran-ukiran kursi yang mematikan itu.

Hatinya terasa terbakar—bukan oleh api biasa, tapi oleh sesuatu yang jauh lebih dalam, lebih gelap, lebih menyakitkan daripada api. Sesuatu yang merobek jiwanya dari dalam. Tangannya yang sedari tadi gemetar kini bergetar hebat tak terkendali, tak bisa dihentikan.

"AAAAARRRRGGGGHHHHHHHHH!!!!"

Jeritan panjang itu meledak dengan kekuatan penuh dari dadanya yang sesak, memecah kemeriahan ruangan. Semua kepala yang hadir menoleh serempak ke arahnya dengan cepat. Wajah-wajah para pelayan yang tadinya ceria berubah menjadi panik seketika. Kelima penasihat yang tadinya duduk santai menegakkan tubuh dengan sigap, mata mereka menyipit tajam. Para prajurit elit langsung mengambil posisi siaga tempur dengan refleks terlatih, tangan meraih gagang pedang.

Master?! Otto membeku total di tempat, jantungnya yang tadinya berdebar normal berhenti berdetak sejenak. Kenapa, kenapa Master ada di sini?! Ini bukan bagian dari rencana!

Iago kini berlutut dengan tubuh tertekuk di lantai marmer yang dingin dan keras, seluruh tubuhnya gemetar hebat tak terkendali. Lehernya yang tadinya lentur menegang kaku, urat-urat biru di leher dan pelipisnya tampak menonjol dengan jelas di bawah kulit pucat. Kepalanya mendongak ke langit-langit yang tinggi dengan gerakan tersentak, matanya membelalak lebar, mulutnya terbuka lebar dalam jeritan panjang yang tak kunjung padam.

Di tengah kepanikan yang mulai melanda seluruh ruangan, di balik kerumunan yang mulai bergerak dan berteriak, seorang biarawan tua berambut perak tetap diam membatu di tempatnya berdiri. Tidak bergerak, tidak panik, tidak berteriak. Senyum tipisnya masih terukir dengan setia di wajahnya. Matanya yang abu-abu pucat menatap Iago dengan ketenangan yang sempurna.

1
kenzi moretti
saya senang karena membaca novel ini sebagai bacaan pertama di platform ini. novel ini sangat bagus. kalian mau baca novel dari segi apa? plot? character? worldbuilding? action? gaya bahasa yang bagus? semuanya ada di sini.

tapi karena di pf ini didominasi sama novel kultivasi atau fantim, novel ini jadi sepi. sayang sekali, padahal novel ini punya potensi besar.

novel ini saya kasih rating 9/10 lah. paling masalahnya itu pacing di 5 bab pertama. itu cukup lambat dan mungkin para pembaca ada yang langsung gak betah dan kabur.

tapi percayalah, kalau kalian sanggup membaca 5 bab pertama, kalian pasti akan ketagihan.
Kaelits: okay, kenzi. aku lg banyak tugas sekolah. cuma novel ini gak bakal nge gantung kok.
total 3 replies
kenzi moretti
wahh gak expectt...
kenzi moretti
bab ini gelap bgt. tapi bab ini akhirnya memberikan flashback keluarga iago. adegan di pegunungan yang muncul di bab 2 pun dilanjutkan. keren thor👍
Kaelits: makasihh
total 1 replies
kenzi moretti
siapa ini?? salah satu penasihat gereja cahaya kahh? hmm...
kenzi moretti
apakah klo iago menerimanya maka dirinya yang sekarang akan lenyap dan digantikan iago lama?🤔
rinn
pantas aja ayahnya stella gak kelihatan dari awal
rinn
gacorr otto🔥
rinn
gilaa plot twist-nyaaa
rinn
sumpah gelap bgt ceritanya thor/Cry/
rinn
kasian juga eliana
rinn
akhirnya mereka bertemu kembali🔥
rinn
hmm, apakah pria tua ini synel?
rinn
nyesek bgt baca bab ini/Sob/
rinn
huhuu/Cry/
rinn
aww gentle man bgt otto😍
rinn
ahahaha kasian otto
rinn
wah licik bgt gereja cahaya
kenzi moretti
🥶
kenzi moretti
kejam kali bab ini thor😢
kenzi moretti
astaga😔
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!