Laura Hiraya yang baru berusia 20 tahun harus rela di jodohkan dengan putra konglomerat. Keputusan egois keluarganya menjadikan ia alat tukar di dalam bisnis. Keluarga konglomerat itu menjanjikan sebuah kerjasama bisnis, dan sebagai imbalannya mereka menginginkan calon istri untuk putra mereka, Gaharu Gardapati.
Gaharu, pria cacat yang sialnya sangat tampan. Kecelakaan tragis 2 tahun lalu membuatnya harus terduduk di atas kursi roda. Ia kehilangan kedua fungsi kakinya. Itu, bersifat sementara. Ia masih menjalani perawatan.
Lalu.. bagaimana kisah rumah tangga si gadis ceria dan aktif seperti Laura Hiraya yang di hadapkan dengan Gaharu Gardapati si pria arogan yang pemarah?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vanesa Dintiani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
29. Pindah kamar
“Lihat? Orang lincah tidak akan ceroboh seperti ini, Nyonya.” Ujarnya sambil menunjukan siku Laura yang berdarah.
Laura berdecih pelan, mulutnya komat-kamit seakan meledek perkataan Arlo.
“Laura kamu benar-benar nakal,”
Suara itu sukses mengalihkan perhatian mereka berdua ke arah sumber suara. Arlo dengan wajah yang sudah pucat pasi dan Laura yang tertegun dengan otak yang mulai bekerja untuk memberikan alasan logis.
.
.
Laura duduk di sofa dengan tenang. Di depannya ada seorang dokter yang sedang mengobati lukanya. Agak berlebihan menurut Laura. Ini hanya luka kecil, tidak perlu sampai memanggil dokter. Lagipula luka di lututnya sudah di obati oleh Arlo tadi, hanya tinggal lengan sikunya saja. Luka biasa, namun Adeline menganggap luka itu adalah luka serius.
“Ibu, ini hanya luka kecil, kenapa memanggil dokter?”
Adeline menghela napas panjang, melipat kedua tangannya di dada sambil menatap Laura dengan pandangan bercampur antara cemas dan jengkel.
“Hanya luka kecil?” Adeline melangkah mendekat, suaranya terdengar tenang namun penuh penekanan. “Jika hanya luka kecil, darahnya tidak akan terus keluar. Lihat kakimu, walaupun sudah di obati oleh pengawalmu, darahnya masih keluar. Kamu ingin masa liburmu di perpanjang?”
Laura menunduk untuk melihat lututnya yang sedang di bersihkan kembali oleh dokter. Gadis itu meringis saat kain kasa menempel pada lukanya. Benar, darahnya memang merembes. Tapi tidak banyak kok...
“I-itu.. itu karena banyak bergerak tadi, jadi lukanya terbuka lagi,” elak Laura membela diri.
“Alasan, pokoknya liburmu di perpanjang satu hari. Kamu besok diam di rumah, jangan kemana-mana. Apalagi sampai lompat lagi dari balkon. Kamu ini benar-benar nakal sekali. Beruntung kamu tinggal di lantai satu, coba saja jika di lantai dua, masih mau melompat, iya?”
Adeline berkacak pinggang menatap menantunya yang diam mengerucutkan bibir. Mengomeli menantu yang kelakuannya benar-benar ajaib.
“Aku nggak bakal lompat kalo nggak ada pot tanaman kaktus di balkon,” ucapnya.
“Jadi kalo semisalnya tidak ada tanaman dan kamar kamu pindah ke lantai atas, kamu bakal tetep loncat, gitu?”
“Iya,” balas Laura tanda sadar.
“APA?”
Laura, Arlo yang berada di sudut ruangan dan juga dokter yang sedang menangani Laura terperanjat kaget saat mendengar suara keras Adeline.
“Eh—Eh Ibu nggak.” Laura menggeleng panik.
“Maksudku... bukan begitu, Ibu! Maksudku, kalau di lantai atas kan tinggi, jadi aku ya nggak mungkin berani loncat!” Laura mengibas-ngibaskan tangannya di udara, mencoba meluruskan kalimatnya.
Adeline mengembuskan napas berat, memijat pelipisnya yang mendadak berdenyut nyeri. Ia menatap menantunya itu dengan gelengan kepala tidak percaya.
“Laura... kamu ini menantu di rumah ini, bukan pemain akrobat,” ujar Adeline dengan nada suara yang sengaja ditekankan pada setiap kata. “Bisa-bisanya kamu berpikir untuk melompat dari balkon hanya karena menghindari pot kaktus? Kenapa tidak lewat pintu seperti orang normal pada umumnya?”
Laura mencibir di dalam hati. Dia kan di larang keluar kamar, harus istirahat total. Lagipula di depan pintu kamarnya ada dua pengawal. Gimana mau keluar coba?
“Aku nggak mungkin tiba-tiba loncat dari balkon kalo aja aku nggak di larang keluar kamar.”
“Ibu melarang kamu keluar kamar karena kamu sedang masa pemulihan, Laura.”
“Tuhkan, Ibu aja pasti melarang lewat pintu kamar. Jadi aku loncat aja biar bisa keluar. Kalo nggak ada tanaman kaktus pasti lebih gampang loncatnya.”
Adeline tertegun sejenak, menatap Laura dengan pandangan tidak percaya. Untuk beberapa detik, ruangan itu mendadak hening, hanya terdengar suara gemerisik pelan dari peralatan medis yang sedang dirapikan oleh dokter.
“Kamu...” Adeline menunjuk Laura dengan jari telunjuknya yang sedikit bergetar, kehabisan kata-kata oleh logika magis menantunya itu. “Kamu melompat dari balkon... meloloskan diri seperti buronan... hanya karena Ibu menyuruhmu istirahat?”
Laura langsung mengatupkan bibirnya rapat-rapat. Aduh, keceplosan lagi! rutuknya dalam hati. Ia melirik Arlo di sudut ruangan, berharap pengawal bertubuh tegap itu setidaknya batuk atau melakukan sesuatu untuk memecah ketegangan. Namun, Arlo justru berdiri sekaku patung dengan tatapan lurus ke depan, pura-pura tidak mendengar agar tidak ikut terseret ke dalam pusaran amarah sang Nyonya Besar.
“Bukan meloloskan diri, Ibu... aku hanya mencari udara segar,” cicit Laura dengan nada sesopan mungkin, mencoba tersenyum manis yang malah terlihat seperti ringisan.
“Mencari udara segar dengan cara mengorbankan lutut dan sikumu?” suara Adeline kembali meninggi, membuat dokter yang baru saja menutup tas medisnya refleks mempercepat gerakannya.
“Aku terpeleset Ibu, kursinya tiba-tiba goyang.”
“Alasan apalagi ini? Kamu loncat dan berniat mendarat di kursi, begitu? Kamu benar-benar nakal!”
“Nggak, Ibu! Bukan gitu maksudnya!” Laura panik sendiri, meratapi mulutnya yang hari ini benar-benar tidak bisa diajak bekerja sama. “Maksudku... kursinya itu buat pijakan, bukan buat target pendaratan. Tapi kursinya malah goyang, terus aku oleng, terus ya... gitu jadi nempel di rumput.”
Mendengar kejujuran Laura yang kelewat polos sekaligus konyol itu, sang dokter buru-buru mengatupkan bibirnya rapat-rapat. Dia buru-buru menyampirkan tas medisnya ke bahu, berdeham pelan untuk memecah ketegangan.
“Nyonya Besar,” dokter itu menyela dengan sopan sambil membungkuk kecil. “Pengobatan Nyonya Laura sudah selesai. Lukanya sudah dibersihkan dan dibalut ulang. Saya sudah meletakkan salep anti-inflamasi di meja. Mohon pastikan Nona Laura tidak banyak melakukan... gerakan ekstrem untuk beberapa hari ke depan.” Dokter itu sengaja menekankan kata 'gerakan ekstrem' sambil melirik Laura penuh arti.
“Terima kasih, Dokter. Biar pelayan yang mengantar Anda ke depan,” jawab Adeline, berusaha meredam kekesalannya demi menjaga sopan santun.
Adeline yang lemah lembut, kali ini harus banyak-banyak menelan sabar karena tingkah laku menantunya yang di luar dugaan. Awalnya ia pikir Laura itu anak kalem, tapi setelah melihat kejadian ini ia menarik pemikiran tersebut.
Begitu pintu besar kediaman itu tertutup, ruangan kembali hening. Adeline memejamkan matanya, berusaha tenang. Menarik nafas dalam-dalam lalu mengeluarkannya secara perlahan.
“Laura,” panggil Adeline lembut.
Gadis itu mendongak menatap Ibu mertuanya.
“Iya, ibu.”
“Ibu sudah memutuskan..” ucapnya. Adeline menggantung kalimatnya, tersenyum manis namun bagi Laura senyum itu terasa berbeda.
“... mulai malam ini, kamu akan satu kamar dengan putra Ibu. Tentu saja, Gaharu akan menyetujui perihal hal itu, benar begitu, Nak?” Adeline melemparkan pandangannya ke arah belakang tubuh Laura.
Laura membulatkan matanya. Ia berbalik dengan cepat dan tepat saat ia berbalik, ia melihat Gaharu berada di belakangnya.
'Sejak kapan pria datar itu di sana? Astaga matilah aku.'
“Ada apa, Ibu?”
Gaharu menjalankan kursi rodanya mendekat. Pria itu menatap Adeline dan juga Laura secara bergantian.
“Ibu ingin memberitahumu bahwa mulai malam ini, Laura akan pindah ke kamarmu. Ibu tidak bisa tenang membiarkannya sendirian di kamarnya lagi.”
Gaharu terdiam sejenak. Mata tajamnya langsung tertuju pada lutut dan siku Laura yang kini terbalut perban. Pria itu menaikkan satu alisnya, lalu beralih menatap Arlo yang sudah berkeringat dingin di sudut ruangan.
“Pindah kamar?” suara Gaharu terdengar berat dan datar, tanpa emosi. “Memangnya apa yang sudah dilakukan oleh... istriku ini, Ibu?”
Mendengar penekanan pada kata 'istriku', Laura mendadak menelan ludah dengan susah payah.
“Dia mencoba menjadi pemain sirkus, Gaharu,” sahut Adeline, menggelengkan kepala dramatis. “Istrimu melompat dari balkon kamarnya hanya karena Ibu menyuruhnya istirahat. Menggunakan kursi sebagai pijakan, lalu mendarat di rumput sampai luka-luka. Bagaimana Ibu bisa tenang kalau dia dibiarkan tanpa pengawasan ketat?”
Pria itu terdiam, ia kembali menatap Laura yang kini memberikan cengiran paling canggung seumur hidupnya, berharap suaminya itu mau sedikit berbelas kasih. Namun, alih-alih bersimpati, sudut bibir Gaharu justru terangkat tipis.
“Melompat dari balkon?” ulang Gaharu, nadanya terdengar seperti sedang mengejek. “Luar biasa lincah. Ternyata aku menikahi seorang buronan, bukan wanita biasa.”
“Suami! Aku hanya mencari udara segar.” Protesnya tidak terima.
“Mencari udara segar tidak akan sampai berakhir jatuh di atas rumput, Laura.” sindir Gaharu telak. Pria itu kemudian mendongak menatap Adeline, raut wajahnya kembali formal. “Aku menyetujuinya, minta para pelayan untuk memindahkan semua barang-barangnya.”
“Tunggu, tidak bisa begitu! Aku—”
“Pelayan Kim!” potong Adeline tanpa mendengarkan protesan berlebih dari menantunya.
“Iya, Nyonya?”
“Pindahkan semua barang Laura ke kamar Gaharu. Sore ini harus sudah selesai. Panggil pelayan yang lain untuk membantu. Arlo, kamu ikut membantu.”
Pelayan Kim dan Arlo mengangguk patuh dan langsung saja bergegas untuk memindahkan semua barang milik Nyonya mudanya.
Di tempatnya, Laura menyandarkan punggungnya dengan lesu. Ah.. kenapa jadi seperti ini?
***
Sabtu, 16 Mei 2026
Published : Sabtu, 16 Mei 2026