"Ayah, bawa boneka matanya besar ya? Kinaya nggak mau tidur sendirian!"
Janji itu hancur bersama truk kontainer di perempatan maut. Haidar terbangun di Niskala, dimensi sunyi tanpa manusia. Satu-satunya cara bicara pada dunianya hanya lewat coretan dinding yang muncul secara misterius di depan putrinya, Kinaya.
Namun, Haidar diburu "Penjaga" kegelapan. Ada rahasia kelam di balik boneka itu yang mulai terungkap. Haidar harus berjuang kembali atau terjebak selamanya sebagai gema. Karena batas antara kasih sayang dan kutukan hanyalah setipis hembusan napas.
"Aku tidak mati, Kinaya. Aku hanya tertinggal di balik sunyimu."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AKSARA NISKALA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 25: RADIASI BIRU DAN TUNGKU PENYIKSAAN
Lift barang yang membawa Haidar dan Sersan berhenti dengan sebuah sentakan keras yang nyaris melempar keseimbangan mereka. Suara logam yang beradu di dasar poros lift bergema seperti lonceng kematian. Pintu besi yang berkarat itu terbuka perlahan, mengeluarkan suara derit panjang yang memuakkan, seolah-olah seluruh menara ini sedang merintih karena kehadiran dua entitas asing yang mencoba menantang takdir. Di hadapan mereka, Lantai 2 Menara Welder membentang lebih luas, lebih dingin secara atmosfer, namun nampak lebih mengerikan daripada lantai dasar tadi.
Jika di lantai bawah hanyalah tempat persiapan material kasar, di lantai ini, Haidar dihadapkan pada Sektor Perakitan Inti. Suhu udara di sini tidak lagi lembap, melainkan kering dan menusuk tulang, membawa aroma ozon yang kuat akibat aktivitas listrik yang masif. Di langit-langit yang tinggi, ribuan lengan robot otomatis bergerak lincah seperti kaki laba-laba raksasa, melakukan pengelasan pada kerangka-kerangka logam yang terus berjalan di atas rel udara tanpa henti.
Percikan api biru dari las listrik menghujani ruangan layaknya kembang api maut, menciptakan siluet-siluet ganjil yang menari-nari di dinding beton yang kusam. Haidar melangkah keluar dari lift, dan seketika itu juga Mata Niskala Birunya berdenyut hebat. Cahaya biru kristal di pupilnya memindai setiap sudut, mengirimkan gelombang informasi yang jauh lebih padat dan kompleks daripada sebelumnya ke dalam saraf otaknya.
"Sektor ini lebih terorganisir," bisik Haidar. Uap putih pekat keluar dari mulutnya setiap kali ia bicara, tanda bahwa suhu tubuhnya mulai merosot drastis akibat Cryo-Core. "Aku bisa melihat jalur listriknya. Semuanya bermuara pada satu pusat kendali di ujung sana."
Sersan tidak langsung menjawab. Ia berdiri di samping Haidar, tangannya sudah menggenggam gagang pedang merahnya. Matanya yang tajam menatap ke arah rel udara yang membawa blok mesin berukuran besar. "Hati-hati, Haidar. Di lantai ini, The Welder tidak lagi menggunakan budak mesin yang lambat dan bodoh. Dia mengerahkan The Automaton Sentinels. Mereka tidak punya sisa jiwa manusia di dalamnya. Mereka adalah murni mesin pembunuh yang dirancang hanya untuk presisi dan efisiensi."
Baru saja Sersan menyelesaikan kalimatnya, suara mesin yang menderu keras terdengar dari balik tumpukan kontainer besi yang disusun acak. Tiga sosok ramping dengan tinggi dua meter muncul dari kegelapan. Mereka tidak memiliki kaki untuk berjalan; tubuh mereka melayang stabil menggunakan pendorong magnetik yang memancarkan pendar cahaya keunguan di bagian bawah. Tangan mereka bukan lagi jemari, melainkan bilah gergaji bundar yang berputar dengan kecepatan ribuan RPM, mengeluarkan suara bising yang sanggup memekakkan telinga siapa pun yang mendengarnya.
"Analisis, sekarang!" perintah Sersan dengan nada tegas.
Haidar memfokuskan pandangannya, membiarkan frekuensi matanya menyatu dengan denyut menara. Di pandangan birunya, dunia berubah menjadi spektrum transparan. Ia bisa melihat rotasi gergaji itu, ia melihat akumulasi suhu panas yang terkumpul di bagian mesin pendorong magnetik mereka. Namun, di antara banjir data itu, sebuah gangguan frekuensi kembali menyusup masuk ke dalam otaknya secara paksa.
“Tolong... jangan biarkan dia pergi...”
Suara itu sangat lirih. Suara seorang gadis kecil yang terdengar sangat jauh, seolah-olah berasal dari balik tembok kaca yang tebal, namun terasa sangat nyata dan intim di dalam kepalanya. Haidar memegangi kepalanya yang mendadak pening. Pandangannya bergoyang, spektrum datanya menjadi distorsi yang kacau.
"Haidar! Fokus! Mereka menyerang!" Sersan berteriak sambil melompat tinggi ke udara, menghindari tebasan gergaji pertama yang nyaris membelah lantai besi tempat mereka berdiri hanya dalam satu ayunan.
Haidar menggertakkan gigi, memaksakan kedinginan di nadinya untuk menekan rasa pening itu. Ia menghunuskan belati hitamnya yang kini telah dilapisi embun beku yang tajam. Begitu salah satu Sentinel meluncur ke arahnya dengan kecepatan tinggi, Haidar tidak mundur. Ia justru maju satu langkah, menggunakan momentum pendorong musuhnya sendiri sebagai senjata. Dengan perhitungan presisi yang kembali stabil dari Mata Birunya, ia menyelipkan bilah belatinya ke celah kecil di antara piringan gergaji yang sedang berputar.
KRAAK!
Es dari Cryo-Core merambat secepat kilat melalui bilah belati, menyumbat poros mesin gergaji tersebut secara instan. Suara logam yang beradu dengan es yang membeku keras terdengar sangat nyaring, diikuti oleh suara gesekan mesin yang macet total. Dalam hitungan detik, robot itu mengalami overheat dan meledak menjadi serpihan baja. Haidar tidak berhenti di situ. Ia berputar, menendang sisa badan robot yang hancur itu tepat ke arah Sentinel kedua, menciptakan tabrakan logam yang masif dan memberikan celah serangan.
"Koordinat pendorong mereka, Sersan! Tepat di bawah pelat hitam di bagian perut!" teriak Haidar.
Sersan, yang sedang beradu pedang dengan Sentinel ketiga, langsung melakukan manuver putar di udara. Ia menebas bagian bawah robot itu sesuai dengan arahan koordinat Haidar. Robot itu kehilangan stabilitas magnetiknya, terhempas keras ke lantai, dan langsung dihujani oleh tusukan bertubi-tubi dari pedang merah Sersan hingga sirkuitnya hangus.
Pertarungan itu singkat namun sangat menguras energi frekuensi mereka. Haidar terengah-engah, namun anehnya, ia merasa tubuhnya semakin ringan. Kedinginan di nadinya seolah memberinya kekuatan lebih, namun di saat yang sama, ia merasa semakin jauh dari dirinya yang dulu—pria yang pernah tertawa dan memiliki rasa takut.
"Kau semakin cepat, Haidar," ucap Sersan sambil membersihkan bercak oli dari pedangnya. "Tapi kau juga semakin jarang berkedip. Jangan biarkan mata itu mengambil alih seluruh kesadaranmu. Jika kau kehilangan kemanusiaanmu, kau hanya akan menjadi mesin lain di menara ini."
"Aku harus sampai ke atas, Sersan. Hanya itu yang ada di pikiranku sekarang," jawab Haidar dengan suara datar, tanpa sedikit pun emosi.
Mereka melanjutkan perjalanan melewati lorong yang dipenuhi oleh percikan las yang terus berjatuhan. Haidar tiba-tiba berhenti sejenak di depan sebuah meja kerja besar yang terbengkalai di pojok sektor perakitan. Di atas meja itu, berserakan berbagai macam alat pertukangan yang nampak sudah sangat tua; obeng yang karatan, kunci pas yang penyok, dan sebuah karburator yang sudah dibongkar total.
Haidar terpaku. Karburator itu... itu adalah model yang sama persis dengan yang ada pada motor kesayangannya di dunia nyata. Seketika, memori lama menghantamnya tanpa ampun. Ia teringat suatu malam di bengkel bawah tanah yang sempit, di mana ia bekerja sampai larut malam di bawah cahaya lampu redup hanya untuk memperbaiki mesin motornya agar prima. Ia ingin memastikan motor itu tidak mogok saat ia menjemput Kinaya esok harinya. Ia ingat bagaimana bau bensin di tangannya sulit hilang bahkan setelah dicuci berkali-kali—bau yang menandakan kerja keras seorang Ayah.
"Ini... bukan sekadar pabrik," gumam Haidar, menyentuh permukaan dingin karburator itu. "Ini adalah memori tentang semua usahaku untuk pulang tepat waktu."
Tiba-tiba, meja kerja itu bergetar hebat. Dari tumpukan alat-alat pertukangan itu, muncul proyeksi cahaya biru yang tidak stabil. Haidar melihat bayangan dirinya sendiri di dunia nyata—sosok pria lelah yang sedang duduk di lantai bengkel sambil tersenyum menatap sebuah foto kecil Kinaya yang ditempel di dinding.
"Ayah...?"
Suara itu kembali lagi. Kali ini bukan lewat pendengaran, tapi seolah bergema di dalam setiap inci tulang rusuknya. Bayangan itu tiba-tiba berubah menjadi distorsi yang mengerikan. Meja kerja itu meleleh menjadi besi cair yang membara, dan suara mesin perakit di atas mereka berubah secara gaib menjadi suara klakson truk yang sangat panjang dan memekakkan telinga.
TIIIIIIIIIIIIIT!
Haidar jatuh berlutut, menutup telinganya dengan rapat, mencoba menghalau suara yang seolah menghancurkan jiwanya. "Hentikan! Sersan, matikan suara itu! Itu terlalu bising!"
Sersan mendekat, namun ia tidak membantu Haidar berdiri. Ia hanya berdiri tegap di sana, menatap Haidar dengan pandangan dingin yang seolah berasal dari dimensi lain. "Tidak ada suara selain bunyi mesin di menara ini, Haidar. Itu adalah frekuensi luar yang mencoba menarikmu kembali ke kegelapan. Jika kau menyerah pada suara itu sekarang, kau akan menjadi salah satu dari sekian banyak jiwa yang tenggelam di lantai ini selamanya."
Haidar mendongak, matanya yang biru kini bercucuran air mata yang secara ajaib langsung membeku menjadi kristal kecil di pipinya yang pucat. "Tapi itu suara Kinaya... dia memanggilku. Dia membutuhkanku!"
"Kinaya tidak ada di sini!" Sersan membentak, suaranya menggelegar seperti guntur di dalam ruangan tersebut. "Yang ada di sini hanyalah kau, aku, dan The Welder yang sedang menunggumu di puncak. Bangkit, atau kita berdua akan hancur menjadi rongsokan besi!"
Haidar mengepalkan tangannya kuat-kuat. Ia mencengkeram belatunya begitu keras hingga buku-buku jarinya memutih. Ia bangkit berdiri dengan napas yang memburu dan beruap pekat. Kedinginan di dalam tubuhnya kini terasa lebih tajam, lebih menggigit, seolah-olah es itu sedang mencoba membungkus hatinya dengan lapisan pelindung agar tidak lagi bisa merasakan getaran emosi yang melemahkan.
"Mari kita naik," ucap Haidar. Suaranya kini benar-benar dingin, nyaris tidak ada emosi yang tersisa di dalamnya.
Mereka bergerak maju menuju lift yang mengarah ke Lantai 3. Namun, tepat sebelum mereka mencapai pintu lift, sebuah guncangan hebat melanda seluruh menara, membuat beberapa pipa uap meledak. Di ujung lorong yang gelap, sebuah sosok raksasa muncul dari balik kobaran api biru yang membumbung tinggi. Bukan The Welder, melainkan salah satu jenderalnya yang paling ditakuti: The Overseer of Iron.
Sosok itu memiliki tubuh raksasa yang terbuat dari tumpukan blok mesin yang dipadukan secara paksa dengan kabel-kabel frekuensi yang menjuntai layaknya rambut yang terbakar. Di tangannya, ia memegang sebuah palu besar yang memancarkan energi panas yang sanggup melelehkan baja.
"Sepertinya kau tidak diizinkan untuk naik semudah itu, Eksekutor," ucap Sersan sambil bersiap dalam posisi tempur, pedangnya berpendar merah terang.
Haidar menatap raksasa di depannya itu. Di matanya yang biru, ia tidak lagi melihat sebuah ancaman yang menakutkan, melainkan hanya sekumpulan deretan data dan variabel yang harus ia hancurkan segera.
"Dia hanyalah rintangan yang menghalangi jalan pulang," ucap Haidar pendek, tanpa rasa ragu sedikit pun.
Tanpa menunggu instruksi lanjutan dari Sersan, Haidar melesat maju dengan kecepatan yang luar biasa. Jejak-jejak es kristal tertinggal di setiap langkah kakinya di atas lantai besi yang panas. Ia tidak lagi peduli dengan memori tentang bengkel, karburator motor, atau suara tangis Kinaya yang tadi sempat melemahkannya. Yang ia tahu hanyalah satu hal: siapa pun yang menghalangi langkahnya menuju puncak Menara Welder harus dibekukan selamanya.
Haidar melompat tinggi ke udara, menghindari ayunan palu sang Overseer. Belati hitamnya bersinar biru terang di tengah kegelapan yang pekat, siap menghujam tepat ke jantung mekanik sang raksasa besi. Di saat yang bersamaan, jauh di kedalaman frekuensi Niskala, suara detak jantung yang sangat lemah kembali berdenyut satu kali, beradu dengan suara dentuman besi yang membahana di seluruh menara.