NovelToon NovelToon
Fake Boyfriend Real Husband

Fake Boyfriend Real Husband

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / BTS
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Fitri Septiayani

bertemu dengan pria yang super duper nyebelin udah mah dia yang di tabrak ke mobil sekarang dia yang harus ganti rugi

itu yang di alami Ara bertemu dengan yoga pria yang paling nyebelin versi dia

ehh harus bertemu lagi dengan pria nyebelin dalam ikatan pacar(sewaan)

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitri Septiayani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

mimpi

Malam semakin larut.

Di kamar sederhana itu, Bella akhirnya tertidur.

Tubuhnya memang lelah… tapi hatinya masih penuh luka.

Tangisnya tadi seolah menguras semua tenaga yang ia punya.

Ia terbaring di atas ranjang, memeluk bantal, dengan wajah yang masih menyisakan bekas air mata.

Namun—

di dalam tidurnya…

ia tidak benar-benar tenang.

 

Bella berdiri di sebuah tempat yang asing.

Sebuah taman.

Indah.

Sangat indah.

Rumput hijau terbentang luas, bunga-bunga bermekaran dengan warna yang lembut, dan angin berhembus pelan menenangkan.

Langitnya cerah… tapi terasa sunyi.

Tidak ada siapa-siapa.

Hanya Bella.

Ia menoleh ke kanan.

Ke kiri.

“Ini… di mana…” gumamnya pelan.

Langkahnya berjalan perlahan menyusuri taman itu.

Namun hatinya terasa aneh.

Sepi.

Kosong.

Seolah ia sedang mencari sesuatu…

atau seseorang.

“Bella…”

Suara itu.

Bella langsung berhenti.

Matanya membesar.

Ia mengenali suara itu.

Pelan… ia menoleh ke belakang.

“Yoga?”

Tidak ada siapa-siapa.

Hanya angin yang berhembus.

“Bella…”

Suara itu terdengar lagi.

Lebih jelas.

Lebih dekat.

Bella mulai panik.

“Yoga?! Kamu di mana?!”

Ia berputar, mencoba mencari sumber suara.

Dan kali ini—

ia melihatnya.

Di kejauhan.

Sosok itu berdiri.

Samar.

Seolah tertutup kabut tipis.

“Yoga…” bisiknya.

Bella langsung berlari.

Namun anehnya—

semakin ia berlari…

jaraknya tidak pernah berkurang.

“Yoga tunggu!” teriaknya.

Namun sosok itu tetap di sana.

Tidak mendekat.

Tidak juga menjauh.

Hanya berdiri.

Menatapnya.

Suara Yoga kembali terdengar.

Tenang… tapi terasa berat.

“Itu cuma salah paham…”

Bella terdiam di tempatnya.

Napasnya tersengal.

“Salah paham…” ulangnya pelan.

“Jangan pergi…” suara Yoga kembali terdengar.

Kali ini… lebih dalam.

Lebih memohon.

“Aku nggak sanggup kalau kamu nggak ada…”

Mata Bella mulai berkaca-kaca.

“Aku butuh kamu…”

Angin di taman itu tiba-tiba terasa lebih dingin.

“Temenin aku… berjuang…”

Bella menggeleng pelan.

“Berjuang?” suaranya bergetar.

“Kamu kenapa…”

Namun sosok Yoga itu justru terlihat semakin samar.

Seperti memudar.

“Yoga!” Bella berteriak.

Ia mencoba berlari lagi.

Namun kakinya terasa berat.

Seolah tertahan.

“Yoga jangan pergi!”

Suaranya mulai pecah.

“Kamu mau ke mana?!”

Namun tidak ada jawaban lagi.

Hanya angin.

Dan taman yang tiba-tiba terasa sepi.

Sangat sepi.

“Yoga…” bisiknya lirih.

Dan dalam sekejap—

semua menghilang.

 

Bella terbangun.

Napasnya terengah.

Matanya langsung terbuka lebar.

“Yoga!”

Ia langsung bangkit dari tempat tidur.

Keringat dingin membasahi tubuhnya.

Dadanya berdegup sangat kencang.

Perasaannya…

tidak tenang.

Sangat tidak tenang.

Seolah sesuatu yang buruk sedang terjadi.

Tangannya refleks meraih ponsel di sampingnya.

Ia menatap layar itu.

Kosong.

Namun hatinya semakin gelisah.

“Ada apa…” bisiknya.

Ia memegang dadanya.

Degupnya tidak beraturan.

Kata-kata dalam mimpi itu terus terngiang.

“Temenin aku… berjuang…”

Bella menggeleng pelan.

Air matanya mulai jatuh lagi.

“Kenapa aku ngerasa… kamu kenapa-kenapa…”

Ia menggenggam ponsel itu erat.

Tanpa sadar—

rasa ragu yang tadi memenuhi hatinya…

mulai berubah.

Menjadi sesuatu yang lain.

Kekhawatiran.

Yang sangat dalam.

Dan untuk pertama kalinya sejak ia pergi—

Bella tidak lagi marah.

Ia hanya…

takut.

...----------------...

Bella masih duduk di atas ranjang, napasnya belum sepenuhnya teratur setelah mimpi itu.

Perasaannya… kacau.

Tanpa pikir panjang, ia langsung meraih tasnya dan mengambil kartu SIM yang tadi ia lepas.

Tangannya gemetar saat memasangnya kembali ke ponsel.

“Cepat… cepat…” gumamnya panik.

Begitu ponsel menyala—

layar langsung penuh notifikasi.

Panggilan tak terjawab.

Puluhan.

Semua dari nama-nama yang ia kenal.

Ibu Yoga.

Ayah Yoga.

Kania.

Rafi.

Andre.

Jantung Bella langsung berdegup kencang.

Lebih kencang dari sebelumnya.

“Ada apa ini…” suaranya bergetar.

Perasaan buruk yang tadi hanya samar…

sekarang terasa nyata.

Tanpa menunggu lagi, Bella langsung menekan nama Kania.

Panggilan tersambung.

Beberapa detik.

“Hallo?! Kak Bella?!” suara Kania langsung terdengar panik dari seberang.

Bella hampir tidak bisa bicara. “Kania… ada apa…? Kenapa banyak banget telpon…?”

Hening sesaat.

Seolah Kania menahan sesuatu.

Lalu—

suaranya pecah.

“Kak Yoga kecelakaan…”

Dunia Bella seperti berhenti.

“…apa?” suaranya sangat pelan.

“Habis dari Bandung… dia nyetir sendiri… mau ke Jakarta… katanya mau nyari Kak Bella…”

Setiap kata itu…

seperti menusuk langsung ke dadanya.

“Mobilnya… nabrak, Kak…”

Bella langsung menutup mulutnya.

Air mata jatuh begitu saja.

“Sekarang dia di rumah sakit… kondisinya kritis…”

Deg.

Seolah ada sesuatu yang benar-benar menghantam jantungnya.

“Enggak…” Bella menggeleng cepat.

“Enggak… nggak mungkin…”

Tangannya gemetar hebat.

Napasnya tidak beraturan.

“Dia… dia tadi…” Bella tidak sanggup melanjutkan.

Suara Kania di seberang juga penuh tangis.

“Kak… kita semua panik… dari tadi nyari Kak Bella…”

Bella langsung berdiri.

“Di mana rumah sakitnya?!”

Suaranya berubah.

Tegas.

Panik.

Dan penuh ketakutan.

“Kania, jawab!”

“Di… di Rumah Sakit pusat di Jakarta… Kak…”

Bella tidak menunggu lagi.

“Iya… aku ke sana sekarang…”

Ia langsung mematikan telepon.

Tangannya gemetar saat mengambil jaket.

Air matanya tidak berhenti.

“Bodoh…” bisiknya sambil menangis.

“Kenapa aku pergi…”

Ia hampir tidak bisa berpikir.

Yang ada di kepalanya sekarang hanya satu—

Yoga.

Dan kondisinya.

“Yoga… tunggu aku…” suaranya pecah.

Ia berlari keluar kamar.

Tanpa peduli apa pun lagi.

Tanpa memikirkan apa pun lagi.

Hanya satu tujuan—

mengejar seseorang yang hampir ia tinggalkan.

Dan kali ini—

bukan karena marah

Tapi karena takut kehilangan.

...----------------...

Bella berlari keluar kamar dengan napas tersengal, tangannya gemetar menggenggam ponsel. Air matanya belum berhenti sejak telepon dengan Kania tadi.

“Ibu!” suaranya panik.

Ibu Bella yang sedang di ruang tengah langsung menoleh kaget. “Bella? Mau ke mana lagi kamu? Baru juga sampai—”

“Ibu…” Bella mendekat cepat, suaranya bergetar. “Yoga… kecelakaan…”

Wajah ibu Bella langsung berubah. “Apa?”

“Dia… dia lagi kritis di rumah sakit… di Jakarta…” suara Bella pecah di tengah kalimat.

Ibu Bella terdiam beberapa detik, mencoba mencerna.

Bella menggenggam tangan ibunya erat. “Bu… aku harus ke sana sekarang… aku harus lihat dia…”

Air matanya jatuh lagi.

“Ibu… dia kecelakaan gara-gara aku… dia mau nyari aku…”

Kalimat itu membuat hati ibu Bella ikut hancur.

“Ya Allah…” bisiknya pelan.

Ia langsung memegang bahu Bella. “Sudah, jangan nangis dulu. Kita ke sana.”

Bella menggeleng cepat. “Aku pergi sekarang, Bu—”

“Kita,” potong ibu Bella tegas.

Bella terdiam.

“Ibu ikut kamu.”

“Bu… nggak usah, aku—”

“Ibu nggak akan biarin kamu sendiri dalam keadaan kayak gini.”

Nada suara ibunya lembut… tapi tidak bisa dibantah.

Bella akhirnya mengangguk lemah.

Beberapa menit kemudian, mereka sudah bersiap seadanya.

Tanpa banyak bicara.

Tanpa banyak pikir.

Yang ada hanya satu tujuan—

Jakarta.

 

Di dalam bus malam menuju Jakarta, suasana terasa sunyi.

Lampu redup.

Sebagian penumpang tertidur.

Namun tidak dengan Bella.

Ia duduk di dekat jendela, menatap keluar dengan mata sembab.

Tangannya saling menggenggam erat.

Bibirnya terus bergerak pelan.

Berdoa.

“Ya Allah… tolong jaga dia…”

Air matanya kembali jatuh.

“Jangan ambil dia… jangan sekarang…”

Ibu Bella di sampingnya mengelus punggungnya perlahan.

“Tenang, Nak… doakan yang baik…”

Bella mengangguk pelan.

Namun hatinya tetap bergetar hebat.

Pikirannya kembali ke mimpi tadi.

Taman itu.

Suara Yoga.

“Temenin aku… berjuang…”

Bella menutup wajahnya.

Tangisnya pecah lagi.

“Sekarang aku ngerti…” bisiknya lirih.

“Itu bukan mimpi biasa…”

Ia menatap ke depan dengan kosong.

“Itu kamu ya… yang manggil aku…”

Dadanya terasa sesak.

“Yoga… kamu harus kuat…”

Tangannya semakin erat menggenggam.

“Jangan tinggalin aku…”

Bus terus melaju di tengah malam.

Lampu-lampu jalan berlalu satu per satu.

Namun bagi Bella—

perjalanan itu terasa sangat lama.

Setiap detik terasa menyiksa.

Ia hanya bisa berdoa.

Berharap.

Dan memohon—

agar saat ia sampai nanti…

semuanya belum terlambat.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!