Bagi Putra Mahesa Aditama 30 tahun, menikahi Citra Anindya 20 tahun, pramusaji muda yang cengeng dan centil, adalah kesalahan fatal. Ia bersikap dingin, kasar, dan tak menganggap Citra ada.
Namun, Citra tak menyerah. Dengan tingkah manja dan kesabaran seluas samudra, ia terus berusaha meluluhkan hati beku sang suami, meski seringkali harus menyeka air mata akibat ucapan pedas Putra yang merendahkannya setiap waktu.
Mampukah ketulusan Citra meruntuhkan arogansi Putra, ataukah pernikahan ini hanya akan berakhir dengan luka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon muliyana setia reza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 34
Tiga minggu terkurung di dalam rumah tanpa akses kartu kredit dan mobil nyatanya tidak membuat Putri dan Kinan merenungi kesalahan mereka. Sebaliknya, hukuman dari Pak Aditama justru menjadi bensin yang menyiram kobaran dendam di hati kedua gadis manja itu.
Bagi mereka, Citra bukan lagi sekadar benalu, melainkan ancaman nyata yang harus disingkirkan dengan cara apa pun. Jika menjebak Citra di dalam rumah selalu gagal karena keberadaan kamera dan pembelaan ayah mereka, maka solusinya hanya satu: menyingkirkan wanita itu di luar wilayah kekuasaan Mansion Aditama.
Suatu pagi di akhir pekan, saat Pak Aditama sedang pergi bermain golf dan Putra mengurung diri di ruang kerjanya, Putri dan Kinan melancarkan aksi mereka.
Citra sedang berdiri di dapur, menyeduh teh chamomile favoritnya, ketika dua saudara perempuan itu melangkah masuk. Tidak ada langkah kaki yang dihentakkan kasar, tidak ada raut angkuh, dan tidak ada kacamata hitam yang bertengger di wajah mereka.
Keduanya memakai dress selutut bergaya kasual, dan wajah mereka dipoles dengan riasan tipis yang membuat mereka terlihat lebih jinak.
"Mbak Citra..." panggil Putri dengan nada suara yang dibuat selembut mungkin, nyaris terdengar seperti rengekan anak anjing yang menyesal.
Citra menghentikan gerakannya mengaduk teh. Ia berbalik, menatap kedua adik iparnya dengan sorot mata sedatar pualam dan penuh kewaspadaan. Alarm bahaya di kepalanya langsung berdering nyaring. Ia tahu betul, senyum ramah dari dua iblis kecil ini jauh lebih mematikan daripada bentakan kasar mereka.
"Ada yang bisa saya bantu?" jawab Citra dingin.
Kinan melangkah maju satu tindak, meremas jemarinya sendiri seolah sedang gugup. "Kami... kami mau minta maaf lagi soal kejadian kalung bulan lalu, Mbak. Kami sadar kami sudah sangat keterlaluan. Hukuman dari Papa benar-benar bikin kami mikir."
"Iya, Mbak," timpal Putri, matanya menatap Citra dengan binar permohonan yang dilatih sempurna di depan cermin semalaman. "Sebagai tanda permintaan maaf yang tulus, kami mau ngajak Mbak Citra pergi berbelanja hari ini. Kami mau beliin Mbak Citra baju-baju yang bagus, tas, atau apa pun yang Mbak mau. Kami sudah minta izin khusus ke Papa, dan Papa bolehin kami keluar rumah asalkan Mbak Citra ikut menemani kami."
Citra tidak langsung menjawab. Matanya menyipit halus, menelanjangi sandiwara murahan di depannya. Tidak butuh gelar sarjana psikologi untuk tahu bahwa ajakan ini adalah sebuah jebakan.
"Terima kasih atas tawarannya," tolak Citra tegas dan tanpa basa-basi. Ia kembali berbalik untuk mengambil cangkirnya. "Tapi saya tidak butuh baju atau tas baru. Saya lebih suka di rumah. Kalian pergi saja, saya akan bilang pada Papa bahwa saya yang tidak mau ikut."
Melihat mangsanya menolak, Putri dan Kinan mulai panik. Namun mereka tidak menyerah. Putri memberanikan diri mendekat dan menyentuh lengan Citra dengan sangat hati-hati, seolah Citra adalah porselen rapuh.
"Tolonglah, Mbak Citra..." mohon Putri, kali ini matanya benar-benar berkaca-kaca sebuah kemampuan akting manipulatif yang mengerikan. "Kalau Mbak nggak ikut, Papa nggak akan kasih izin kami keluar pintu gerbang. Kami sudah mau mati kebosanan di rumah ini selama berminggu-minggu. Tolong temani kami, ya? Sekali ini saja. Kami janji nggak akan macam-macam. Kami cuma mau perbaiki hubungan kita sebagai saudara."
"Papa juga bilang, ini ujian buat kami untuk belajar menghargai Mbak Citra di luar rumah," Kinan menambahkan argumen pamungkasnya, membawa nama sang ayah mertua sebagai tameng.
Mendengar nama Pak Aditama dibawa-bawa, logika Citra mulai menimbang ulang posisinya. Jika ia terus-menerus menolak "niat baik" adik-adik iparnya yang sudah mendapat restu dari ayah mertuanya, Pak Aditama mungkin akan menilai Citra sebagai orang yang pendendam dan keras kepala. Posisi aman Citra di mata Pak Aditama adalah aset terbesarnya saat ini. Ia tidak boleh terlihat memusuhi keluarga suaminya jika mereka sudah mengulurkan tangan.
Citra menarik napas panjang. "Hanya menemani kalian belanja, dan langsung pulang?"
"Iya! Benar! Cuma keliling cari baju, makan siang sebentar, lalu kita langsung pulang!" seru Kinan cepat, wajahnya semringah menyembunyikan seringai iblis di baliknya.
"Baiklah. Beri saya waktu sepuluh menit untuk bersiap," putus Citra akhirnya.
Setengah jam kemudian, ketiganya sudah berada di dalam mobil Alphard hitam. Namun, kejanggalan pertama langsung disadari Citra saat ia melihat siapa yang duduk di balik kemudi. Bukan Ujang, bukan juga sopir keluarga Aditama yang biasa. Putri sendirilah yang mengemudikan mobil tersebut, sementara Kinan duduk di kursi penumpang depan. Citra duduk sendirian di kursi kapten di baris tengah.
"Kenapa tidak pakai sopir?" tanya Citra, memecah keheningan diiringi dentum pelan musik dari radio mobil.
"Sopir lagi pada repot bantuin orang kebun potong dahan pohon beringin di belakang, Mbak. Tenang aja, aku jago kok nyetirnya," jawab Putri santai dari balik kemudi, tanpa menoleh.
Perjalanan yang awalnya menyusuri jalan tol menuju pusat kota perlahan mulai berubah arah. Alih-alih mengarah ke kawasan mal elite di Sudirman atau Thamrin, Putri justru mengambil jalan keluar tol yang mengarah ke pinggiran kota yang padat merayap.
Gedung-gedung pencakar langit perlahan digantikan oleh ruko-ruko tua yang berhimpitan. Jalanan aspal mulus berubah menjadi jalanan beton bergelombang dengan lalu lintas yang sangat semrawut. Angkot yang berhenti sembarangan, sepeda motor yang menyalip dari segala arah, dan debu jalanan yang tebal mendominasi pemandangan dari balik kaca jendela.
Citra menegakkan duduknya, jantungnya mulai berdetak lebih cepat. Selama tinggal di Jakarta, ia tidak pernah melewati daerah ini. Tempat ini terlalu jauh, terlalu bising, dan sangat asing.
"Kita mau ke mana, Putri?" tuntut Citra, suaranya mulai menajam, membuang nada sopannya. "Ini bukan arah ke mal."
Kinan menoleh ke belakang, menyeringai tipis yang membuat bulu kuduk Citra meremang. Topeng gadis manis dan penyesalan itu sudah menguap tanpa sisa.
"Siapa bilang kita mau ke mal elite, Mbak?" ejek Kinan dengan suara sinisnya yang khas. "Baju-baju di Grand Indonesia itu terlalu bagus buat tubuh kampunganmu. Kita mau cari pasar grosir tradisional di ujung sana. Katanya barang-barangnya pas banget sama seleramu yang murah."
Putri tertawa pelan, menginjak pedal gas lebih dalam, membelah jalanan pasar yang semakin sempit, padat, dan dipenuhi hiruk-pikuk manusia yang berjejalan. Citra menatap keluar jendela dengan tangan terkepal erat, menyadari bahwa ia telah melakukan kesalahan besar dengan keluar dari zona amannya.
Ia telah berjalan masuk sendiri ke dalam kandang singa, dan kali ini, tidak ada kamera pengintai maupun Pak Aditama yang bisa melindunginya di antah-berantah ini.
Lanjut gk nih? komen ya!!
lanjut💪
coba tadi di rekam apa yg citra ucapan kasih ke putra