NovelToon NovelToon
SUKSES BERKAT DUKUNGAN ANAK ANAK

SUKSES BERKAT DUKUNGAN ANAK ANAK

Status: sedang berlangsung
Genre:Suami Tak Berguna / Duda
Popularitas:5.5k
Nilai: 5
Nama Author: E'Ngador Together

Ketika dunia seolah runtuh di sekelilingnya, hanya cinta anak-anak yang bisa membangunnya kembali.

Rian baru saja di-PHK ketika rumah tangganya yang sudah berjalan 7 tahun hancur berkeping-keping. Dituduh selingkuh oleh istri, Novi, dan dipermalukan oleh keluarga besarnya, ia tidak punya pilihan selain kembali ke kampung halaman dengan membawa dua anaknya – Hadian dan Alea. Kedua anak itu dengan tegas memilih mengikuti ayahnya, bahkan menolak untuk bertemu dengan ibunda kandung mereka yang kini sudah hidup dengan orang lain.

Di rumah panggung peninggalan orangtuanya, Rian memulai dari nol. Dengan tangan yang terlatih bekerja keras dan dukungan tak lekang dari kedua anaknya, ia mengolah lahan pertanian, membuka peternakan, hingga akhirnya mendirikan perusahaan dan restoran yang sukses.

Setiap langkah kemajuan yang diraihnya tak pernah lepas dari kehadiran Hadian dan Alea. Ketika pertemuan tak terduga dengan Novi dan keluarga barunya terjadi berkali-kali, anak-anak itu tetap berdir

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon E'Ngador Together, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

33. MEMULAI MENANAM PADI

Pada pagi hari yang sangat pagi, sebelum matahari mulai menyinari langit, Rian sudah terjaga dan mempersiapkan alat-alat pertanian yang akan digunakan. Hadian dan Alea juga bangun lebih awal dari biasanya, sudah mengenakan baju kerja yang sudah disiapkan dan penuh dengan semangat untuk memulai pekerjaan besar mereka.

Ketika mereka sampai di lahan pertanian, mereka terkejut melihat bahwa Pak Soleh dan beberapa tetangga desa lainnya sudah ada di sana dengan membawa alat-alat mereka sendiri. Di antara mereka adalah Pak Darmo dari toko barang antik, Pak Joni yang menyewa becak, dan beberapa anak muda desa yang ingin membantu mereka.

“Kita sudah tidak sabar untuk membantu kamu, Rian!” teriak Pak Soleh dengan suara yang penuh semangat, sedang memeriksa kondisi tanah dengan cermat. “Cuaca hari ini sangat cocok untuk membajak dan menanam padi. Kita harus memanfaatkannya dengan baik.”

Rian merasa sangat terharu melihat dukungan yang diberikan oleh tetangga desa. Dia segera menyampaikan rasa terima kasih yang dalam, kemudian mereka mulai membagi tugas secara efisien. Pak Soleh dan beberapa pria berpengalaman akan membajak tanah menggunakan bajak hewan dan cangkul besar, sementara anak muda desa akan membantu membersihkan sisa rumput liar dan memperbaiki parit irigasi. Hadian dan Alea akan membantu menyebarkan pupuk organik yang sudah disiapkan dan membawa air dari sungai untuk menyiram tanah.

Pak Darmo, yang dulunya juga seorang petani berpengalaman, mulai memberikan petunjuk tentang cara membajak tanah dengan benar agar tetap subur dan cocok untuk menanam padi. “Kita harus membajak tanah dengan kedalaman yang tepat,” ujarnya dengan suara yang jelas, menunjukkan cara menggunakan cangkul dengan benar kepada Hadian dan anak muda desa lainnya. “Jangan terlalu dalam agar akar tanaman bisa tumbuh dengan baik, tapi juga jangan terlalu dangkal agar pupuk bisa meresap dengan sempurna.”

Hadian dengan penuh perhatian mengikuti setiap petunjuk yang diberikan, segera menguasai cara menggunakan cangkul dengan benar meskipun dia masih muda. Alea juga tidak mau ketinggalan, membawa ember kecil yang diisi pupuk organik dan menyebarkannya secara merata di atas tanah yang sudah dibajak. Meskipun tubuhnya kecil dan pekerjaannya membuatnya berkeringat deras, dia tidak pernah mengeluh dan selalu tersenyum setiap kali melihat ayah dan kakaknya bekerja dengan giat.

Setelah tanah selesai dibajak dan diperbaiki, Pak Soleh mulai menunjukkan cara menanam benih padi dengan benar. “Kita akan menggunakan metode tanam langsung di lahan yang sudah dibasahi,” ujarnya dengan suara yang penuh dengan pengalaman. “Benih harus disebarkan secara merata agar setiap tanaman memiliki ruang yang cukup untuk tumbuh. Jangan terlalu banyak atau terlalu sedikit di satu tempat.”

Mereka mulai bekerja bersama-sama, menyebarkan benih padi yang sudah dibeli dari Pak Sugeng secara merata di atas lahan yang sudah dibasahi dengan air dari sungai. Rian bekerja dengan hati-hati, mengingat cara yang dia pelajari dari ayahnya ketika masih kecil. Hadian membantu menyebarkan benih di bagian lahan yang lebih dekat dengan sungai, sementara Alea membawa ember berisi air untuk menyiram area yang mulai mengering.

Selama bekerja, tetangga-tetangga desa berbagi cerita tentang pengalaman mereka menanam padi di masa lalu. Pak Joni bercerita tentang bagaimana dia dulu harus berjalan jauh untuk mendapatkan air ketika musim kemarau datang, sementara Pak Darmo bercerita tentang cara nenek moyangnya mengelola lahan pertanian tanpa menggunakan pupuk kimia sama sekali. Cerita-cerita ini membuat pekerjaan yang berat terasa lebih ringan dan menyenangkan, serta memberikan pengetahuan berharga bagi Hadian dan Alea tentang cara merawat lahan dengan benar.

Ketika matahari mulai tinggi dan udara menjadi lebih panas, mereka beristirahat di bawah naungan pohon trembesi besar yang tumbuh di pinggir lahan. Nenek Siti datang membawa bekal makanan yang sudah disiapkan – nasi hangat dengan lauk tempe orek, telur balado, dan sayuran rebus yang masih segar. Mereka makan bersama di atas tikar yang disebarkan, menikmati makanan yang sederhana namun sangat nikmat setelah bekerja keras selama beberapa jam.

“Lihat dong, Papa!” teriak Alea dengan suara yang ceria, menunjukkan ke arah lahan yang sudah ditanami benih padi. “Kita sudah bisa melihat beberapa titik hijau kecil di atas tanah! Apakah itu benih yang sudah mulai tumbuh?”

Rian tersenyum dan mendekat untuk melihatnya dengan lebih jelas. “Belum juga, sayang,” jawabnya dengan suara yang lembut. “Itu adalah bagian dari benih yang sudah menyerap air dan mulai menunjukkan warna hijau. Dalam beberapa hari lagi, mereka akan tumbuh menjadi tunas kecil yang kuat.”

Pak Soleh mengangguk dengan penuh kesetujuan. “Benih ini akan tumbuh dengan baik jika kita merawatnya dengan benar,” ujarnya dengan suara yang penuh dengan keyakinan. “Kita harus menjaga kelembapan tanah dan melindunginya dari serangan hama. Aku akan mengajarkan kamu cara membuat obat alami dari tanaman liar untuk mengusir hama tanpa merusak lingkungan.”

Setelah istirahat dan membersihkan tempat makan, mereka kembali bekerja untuk menyelesaikan bagian terakhir dari lahan. Mereka memperbaiki parit irigasi agar air bisa mengalir dengan lancar ke seluruh area lahan, dan membuat sistem saluran kecil untuk memastikan setiap bagian lahan mendapatkan pasokan air yang cukup. Hadian membantu membuat gerbang kecil untuk mengatur aliran air, sementara Alea membantu membersihkan gulma yang mulai tumbuh di sekitar pinggir lahan.

Ketika matahari mulai bergeser ke arah barat dan memberikan warna jingga yang indah pada langit, mereka akhirnya menyelesaikan pekerjaan hari itu. Lahan pertanian yang dulunya penuh dengan rumput liar kini telah berubah menjadi hamparan tanah subur yang siap untuk menumbuhkan benih padi. Setiap bagian lahan sudah ditanami dengan benar, dan parit irigasi sudah siap untuk mengalirkan air ke seluruh area.

Mereka berdiri bersama di tepi lahan, melihat hasil kerja keras mereka dengan hati yang penuh dengan rasa bangga dan harapan. Hadian merasakan kebanggaan yang luar biasa karena bisa membantu ayahnya dan berkontribusi pada pekerjaan besar ini. Alea berlari-lari kecil di sekitar lahan, menyanyikan lagu anak-anak yang dia pelajari dari Nenek Siti dan berharap agar benih padi bisa tumbuh dengan cepat dan memberikan hasil panen yang melimpah.

“Kita sudah melakukan pekerjaan yang luar biasa hari ini,” ujar Rian dengan suara yang penuh dengan emosi, membungkus anak-anaknya dengan pelukan yang erat. “Tanpa bantuan dari tetangga desa dan dukungan dari kalian berdua, aku tidak bisa melakukan ini sendirian. Terima kasih banyak kepada semua orang yang telah membantu kita.”

Pak Soleh mendekat dan menepuk bahu Rian dengan penuh penghormatan. “Kita adalah keluarga besar di desa ini, Rian,” ujarnya dengan suara yang hangat. “Kita harus saling membantu satu sama lain. Dan aku yakin bahwa lahan ini akan memberikan hasil panen yang melimpah untukmu dan keluarga kamu.”

Mereka berjalan pulang bersama-sama saat matahari mulai terbenam, dengan suara tertawa dan candaan yang memenuhi udara senja. Rian merasa bahwa semua kesulitan yang dia alami di masa lalu seolah menghilang dengan kebahagiaan yang dia rasakan pada hari ini. Benih padi yang mereka tanam bukan hanya benih untuk makanan, tapi juga benih harapan yang akan tumbuh menjadi kehidupan yang lebih baik bagi keluarga mereka dan desa yang mereka cintai.

Di rumah panggung, mereka membersihkan diri dan berpakaian baju bersih. Ketika malam tiba dan mereka berkumpul bersama untuk makan malam, Rian melihat anak-anaknya yang sedang tertidur lelap di atas tikar setelah bekerja keras seharian. Dia merasakan rasa syukur yang dalam tidak bisa diucapkan dengan kata-kata apa pun – memiliki keluarga yang kuat dan tetangga yang baik hati adalah kekayaan terbesar yang bisa dia miliki.

Di luar rumah, angin bertiup lembut melalui pepohonan di sekitar lahan pertanian, membawa harapan baru untuk masa depan yang lebih baik. Rian tahu bahwa masih banyak pekerjaan yang harus dilakukan – merawat tanaman, melindunginya dari hama dan penyakit, serta memastikan bahwa mereka mendapatkan air yang cukup selama musim tanam. Namun dengan dukungan dari keluarga dan tetangga desa, serta semangat yang tinggi dari anak-anak, dia yakin bahwa mereka akan bisa mengatasi segala tantangan dan mendapatkan hasil panen yang melimpah yang akan membawa kebahagiaan dan kemakmuran bagi mereka semua.

1
Dewiendahsetiowati
ada typo Thor Budi yang harusnya kakak jadi ayah
Dewiendahsetiowati
hadir thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!