Pagi ini dia akad nikah dengan perempuan pilihannya. Padahal dua minggu lalu dia berjanji akan melamarku. Laki-laki mana lagi yang bisa dipercaya?
Dekat sejak SMA, bahkan Kyara selalu mendukung Bagaskara untuk mencapai cita-citanya. Mulai dari beli sepatu, memberi uang untuk ongkos seleksi, Kyara selalu ada. Namun, sekarang gadis cantik itu membuktikan jika kamu memulai hubungan dengan pasanganmu dari nol, maka kamu akan mendapat pengkhianatan.
Ikuti perjalanan cinta Kyara Athiya hingga mendapat pengganti Bagaskara dengan cinta yang tulus.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BERKENALAN
Keluarga Kya sudah mendarat di bandara Tokyo, meski melalui perjalanan panjang, tapi wajah lelah tak tampak pada mereka. Justru mama dan Kya langsung berselfie ria, padahal mama sudah pernah ke Jepang, tapi mengikuti sang putri yang bersikap norak kata si sulung.
Ke Jepang, bagi Kya dan Adit baru pertama kali, mama dan papa mereka lebih suka liburan explore wisata di Indonesia, sehingga ke luar negeri hampir tidak pernah. Tak apa semua punya pilihan dan tak perlu dibanding-bandingkan dengan keluarga mapan lainnya.
Sembari menunggu di keimigrasian, Owi tiba-tiba menelepon Kya. Tentu heran dong, perasaan kemarin gak balas chat deh, eh kok tiba-tiba telepon. "Iya, halo!" sapa Kya menurunkan egonya untuk menjawab panggilan Owi.
"Di mana?" tanya Owi di seberang.
"Di bandara."
"Iya, bandara mana?"
"Tokyo!"
"Oke, aku jemput. Masih di keimigrasian kan?"
"Eh, gak usah, Wi. Kita pesan taksi saja buat ke hotelnya."
"Iya gak pa-pa, cuma mau menyambut teman aja kok, tunggu ya!" Kya mengerutkan dahi, kok Owi jadi so sweet begini. Curiga ada udang di balik batu, "Apa mungkin dia ngotot jemput karena ada Bagas di sini ya," gumam Kya curiga. Pasalnya saat bahas Bagas pengangguran, Owi pernah bilang akan mengajak mantan Kya itu untuk bermain di club Jepang, cuma kelanjutannya Kya juga gak tahu.
"Kak, udah pesan taksinya?" tanya Kya saat mereka menuju pintu keluar bandara.
"Belum, kenapa?"
"Temanku mau jemput, tapi aku gak tahu dia bawa mobil sebesar apa!"
"Teman kamu ada yang kuliah di sini, Dek?" tanya papa sembari mendorong troli koper.
"Enggak kuliah, jadi atlet di sini!"
"Siapa?" tanya Adit, mama dan papa kompak, curiga kalau teman yang dimaksud Kya adalah Bagas.
"Owi."
"Owi, teman Bagas?" tanya Adit yang memang sedikit tahu circle pertemanan sang adik. Kya mengangguk, keusilan sang kakak muncul tiba-tiba, menyenggol pundak Kya dengan menaik turunkan alis.
"Jangan bilang kalian pacaran. Eh, Pa. Dia ngotot pengen ke Jepang ternyata mau sambang pacar, Pa."
"Mulutnya loh!" protes Kya sembari melotot tak suka pada sang kakak. Papa dan mama hanya menggeleng saja melihat kedua anaknya yang selalu ribut. "Jangan percaya, Pa. Aku cuma teman sama Owi. Toh mamanya itu salah satu investor di tokonya Pak Justin."
"Kaya dong!" biasanya seorang perempuan yang paling bersemangat kalau urusan kekayaan seseorang, justru Adit yang kepo dengan keluarga Owi. Kya hanya berdecak sebal, dan segera mengangkat panggilan telepon dari Owi.
"Aku udah di area pintu keluar, Wi!" panggil Kya sembari melambaikan tangan saat melihat Owi menuju ke arahnya, dan segera mematikan ponsel.
"Lebih ganteng ini kali, Kya, daripada Bagas," seloroh mama, padahal biasanya beliau tak mau mengomentari penampilan seseorang. Kya kembali memutar bola matanya malas, mendengar komentar keluarganya.
"Nanti papa tanya ah, kedekatan kalian sebatas mau pacaran atau nikah langsung," giliran papa yang meledek sang putri. Jelas saja Kya langsung tantrum.
"Papa, ngapain sih," ucap Kya tak terima. Obrolan random mereka pun terhenti saat Owi sudah di depan mereka, dan mama langsung memberi lampu hijau dengan sikap ramah Owi. Dia tak langsung menyapa Kya, malah bersalaman pada papa, mama, Adit, baru tos dengan Kya. Mama usil, main dehem segala, spontan Kya melirik sinis pada sang mama.
"Nak Owi tinggal di sini?" tanya mama ramah, giliran Adit yang berdehem. Owi tersenyum saja, pasti mereka menganggap Kya dan Owi pacaran.
"Iya, Tante dekat dengan bandara juga, mari kalau mampir ke rumah kami," ucap Owi ramah.
"Kami?" tanya papa, siapa tahu kami yang dimaksud adalah Owi dan istrinya, kan bisa menutup kesempatan Kya dekat dengannya, pikir papa.
"Saya dan mama saya. Kebetulan beberapa bulan terakhir mama membuka restoran Indonesia, Om."
"Wah, pas. Sudah buka belum. Bisa tuh sarapan di sana," usul mama. Kya semakin merengut saja, perasaan dengan Bagas dulu gak seramah ini deh mama. Apa kabar papa? Malah tak pernah mau menemui. Eh dengan Owi kok beda.
"Boleh, Tante, buka 24 jam kok, Tante! Silahkan," ucap Owi ramah. Mereka tak perlu pesan taksi biar diantar Owi saja, terlebih Owi memang mengambil cuti selama 5 hari ke depan.
"Sengaja cuti biar bisa menemani kamu liburan kali, Dek?" bisik Adit saat Owi berjalan lebih dulu bersama papa.
"Kenapa sih, kalian yang ge-er. Aku mah biasa saja!" elak Kya masih tak nyaman kalau keluarganya terlalu berharap pada Owi. Adit menyenggol lengan sang adik, meledeknya lebih jauh.
"Heleh, ngaku deh. Hati kamu pasti berbunga-bunga kan, dijemput Owi begini."
"Iyalah, gratis!"
"Alasan, sejak berangkat kamu tuh gratis semua," ucap Adit sembari menonyor kening Kyara.
"Kak, ngeselin deh!" omel Kya sembari memukul pundak sang kakak. Adit diminta duduk depan bersama Owi saat di mobil, Kya tak enak kalau mereka menunjukkan kedekatan, takut papa dan mama serta sang kakak semakin gencar menjodohkan keduanya.
Begitu sampai ke rumah Owi, mama Kya langsung bahagia, karena nuansa Indonesia terasa sekali. Memang ditujukan kepada pelancong Indonesia yang kangen dengan makanan khas Indonesia, terlebih semua makanan diolah secara halal.
Mama Owi yang tahu Kya langsung memeluk gadis itu, beberapa kali meeting dengan gadis itu, sehingga senang kali saat bertemu dengan gadis pintar dan cekatan. Kya mengenalkan keluarganya pada mama Owi, dan beliau sangat senang setiap bertemu keluarga Indonesia di Jepang.
"Silahkan-silahkan," mama Owi juga begitu ramah mempersilahkan keluarga Kya menikmati hidangan, nasi pecel dengan peyek teri, nasi uduk dengan segala topingnya, membuat mama Kya semangat sarapan. Biarlah nanti kuliner khas Jepang saat jalan-jalan.
Owi sendiri duduk di depan mama dan papa Kya, berdampingan dengan Kya, Adit menahan tawa karena merasa Owi sedang dikuliti oleh kedua orang tuanya, Adit sadar kalau Kya dan Owi memang hanya berteman saja. Mungkin karena mama dan papa tak mau Kya trauma dengan laki-laki pasca ditinggal nikah Bagas, sehingga beliau berusaha welcome pada teman laki-laki sang putri.
"Kalau kontrak kamu sudah selesai, bagaimana usaha mama kamu, Wi?" tanya papa, sekedar mencari bahan obrolan saja.
"Masih lanjut, Om, kemungkinan saya juga akan memperpanjang."
"Enak tinggal di Jepang?" tanya mama.
"Tetap enak di Indonesia, Om. Cuma di sini memang budaya disiplinnya sangat tinggi, mau tidak mau ya kita harus cepat adaptasi."
Mama dan papa mengangguk setuju, apalagi sebagai pengusaha, papa setuju sekali bahwa disiplin adalah kunci utama meraih kesuksesan, dan itu bisa dibentuk karena motivasi diri dan pengarug lingkungan.