Di balik senyumnya yang lembut dan rumah tangga yang terlihat harmonis, Kiandra menyimpan luka yang tak kasat mata. Lima tahun menikah, pengorbanan dan cintanya pada Adam Mahendra, suaminya, seakan tak berarti.
Nadira, wanita manipulatif yang datang dengan sejuta topeng manis dan ambisi untuk merebut apa yang bukan miliknya.
Awalnya Kiandra memilih diam, berharap badai akan berlalu. Namun ketika suaminya mulai berubah, ketika rumah yang dibangunnya dengan cinta hampir runtuh oleh kebohongan, Kiandra sadar diam bukan lagi pilihan.
Dengan hati yang patah namun tekad yang utuh, Kiandra memulai perjuangannya. Bukan hanya melawan Gundik yang licik, tapi juga melawan rasa sakit yang suaminya berikan.
Di tengah air mata dan pengkhianatan, ia menemukan kekuatan baru dalam dirinya. Harga diri, dan cinta yang layak di perjuangkan.
Kiandra kembali membangun karirnya, membuat gundik suaminya semakin tidak setara dalam segala hal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kikoaiko, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 23
“Kamu jangan bohong, Nisa. Nggak mungkin kakakmu kayak gitu,” bentak Ina sambil menggeleng keras, jelas masih nggak mau percaya.
Kiandra justru terkekeh pelan. Ada tawa pahit di sana. Tanpa banyak kata, dia meraih ponselnya, jemarinya bergerak cepat membuka galeri lalu mengirim semua bukti ke nomor ibu mertuanya.
“Mama lihat sendiri aja,” katanya ringan, tapi nadanya menusuk.
Tak lama kemudian terdengar bunyi notifikasi dari ponsel Ina. Alis wanita itu langsung berkerut saat membuka pesan. Sekejap, wajahnya berubah pucat. Matanya terpaku pada layar ponselnya, foto Adam yang sedang bermesraan dengan seorang perempuan di Jerman. Tangannya sampai gemetar saat menggulir foto demi foto.
Ina menggeleng pelan, seperti berharap apa yang dilihatnya hanya ilusi. Selama ini dia melihat rumah tangga putranya baik-baik saja. Adam terlihat begitu mencintai Kiandra, begitu sayang pada Zayyan. Keluarga kecil yang kelihatan hangat, harmonis, tanpa cela. Tapi ternyata, di balik semua itu, ada kebohongan besar yang selama ini disembunyikan rapat-rapat.
Suami yang kelihatan paling bucin dan romantis, ternyata justru yang paling pintar menyimpan rahasia. Senyum manis dan sikap manisnya cuma topeng.
“Apa-apaan ini, Adam?!” suara Ina meninggi, nyaris bergetar. “Kamu tega ngelakuin ini ke istrimu?”
Adam terdiam. Kepalanya tertunduk, napasnya berat. Percuma menyangkal, semuanya sudah terbuka.
“Ma… aku khilaf,” ucapnya pelan.
Satu kalimat singkat, tapi cukup untuk menegaskan semuanya. Foto-foto itu terlalu jelas. Tak ada lagi alasan, tak ada lagi pembelaan. Adam benar-benar berselingkuh dengan Nayla.
"Khilaf katamu?" tanya Ina tidak percaya.
Perselingkuhan itu terjadi bukan karena khilaf, tapi karena memang sama-sama mau. Mereka sama-sama effort untuk bertemu, dan menyembunyikan hubungan mereka. Khilaf itu kalau cuma one night stand, kalau berkelanjutan namanya niat.
“Mama juga perlu tahu ini,” ucap Kiandra sambil menyodorkan semua bukti transaksi Adam. Dari mutasi rekening sampai berkas properti yang diam-diam dibelikan Adam untuk Nayla.
Sejujurnya, Kiandra sendiri kaget setengah mati. Dari Jaret, dia justru menemukan fakta-fakta baru yang bikin dadanya sesak. Ternyata suaminya nggak cuma membelikan Nayla mobil. Adam juga sudah menyiapkan apartemen, bahkan vila di Puncak. Semua dibeli pakai uang yang seharusnya untuk keluarganya sendiri.
Mata Ina langsung membelalak begitu melihat satu per satu bukti itu. Tangannya gemetar, tubuhnya hampir ambruk kalau saja Adam tidak sigap menahan. Rasa malu menamparnya keras. Dia seperti tidak sanggup menatap Kiandra sekarang.
“Dosa apa sih yang dulu pernah aku lakuin?“Kenapa aku punya anak-anak yang bodohnya kebangetan begini ” lirih Ina sambil memegangi dadanya. Suaranya bergetar, nyaris tak terdengar.
Saat itu juga semuanya terasa jelas di kepala Ina. Pantas saja gundik itu dengan entengnya memberi uang ke Nisa. Ternyata yang dia dapat dari putranya jauh lebih banyak, berlipat-lipat, tanpa rasa bersalah sedikit pun.
"Maaf ma" ucap Adam menyesal.
Ina membuang wajahnya ke arah lain, dadanya naik turun menahan emosi yang sudah di ujung. Tangannya mengepal kuat di atas pangkuan, rahangnya mengeras. Kata maaf dari mulut Adam barusan sama sekali tidak ada artinya buat dia.
“Maaf, maaf,” Ina menirukan dengan tawa sinis. “Kamu pikir dengan bilang maaf semua selesai, Adam? Kamu tau nggak, mama ini malu sama mamanya Kiandra. Mau taruh dimana muka mama di depan jeng Galuh. Mama malu, sangat malu” sentaknya lagi, kali ini lebih keras.
Adam menunduk. Rambutnya yang biasanya rapi kini berantakan karena berkali-kali diacak frustasi. Dia tahu ibunya benar, tapi kepalanya terasa penuh, seperti mau pecah. Salah satu kesalahan terbesarnya adalah tidak hanya menghianati istrinya, dia juga menghianati ibunya dan ibu mertuanya.
“Ambil semua yang sudah kamu kasih kepada wanita itu! Mobil, apartemen, vila, semua! Mama nggak ikhlas, Adam. Nggak sudi mama lihat perempuan murahan itu menikmati harta anak mama” perintahnya marah.
Kiandra yang sejak tadi diam hanya menatap santai ke arah mereka. Tidak ada air mata, tidak ada bentakan. Wajahnya datar, tapi itu justru membuat suasana semakin menyesakkan. Adam melirik ke arahnya, berharap istrinya mau bicara, atau setidaknya memberi isyarat agar masalah ini dihentikan. Namun Kiandra malah melengos, seolah lelah mendengar semuanya. Sikap itu menusuk Adam lebih dalam daripada teriakan ibunya.
Adam menghela napas kasar, suaranya terdengar berat dan putus asa. Dia berdiri, lalu kembali duduk, gelisah seperti orang kehilangan arah. Tangannya mengusap wajah berkali-kali sebelum akhirnya menatap Ina lagi.
Dia menarik napas dalam, seolah mengumpulkan sisa keberanian. “Ma...Aku tidak mungkin mengambil semua yang sudah aku berikan ke Nayla. Barang-barang itu sudah atas nama dia. Tapi aku janji… aku bakal jauhin dia, aku akan memutuskan hubungan ku dengan dia, dan jaji tidak akan pernah menemuinya lagi".
Ina tertawa pendek, tapi tawanya dingin dan tajam. “Janji?” katanya sinis. “Janji kamu itu udah tidak ada harganya di mata mama, terlebih di hadapan Kiandra. Pasti dia jijik dengan mu"
Ina berdiri mendekati Adam, menatap putranya dengan mata menyala penuh amarah. “Kalau kamu tidak bisa mengambilnya kembali, berarti mama yang bakal turun tangan, nanti. Mama sendiri yang bakal rebut semua itu. Enak aja dia, cuma modal ngangk*ng doang, terus dapet mobil, apartemen, vila. Emang dia pikir keluarga kita ini apa?”
Kata-kata itu menggantung di udara, kasar dan memalukan. Kiandra akhirnya menoleh, menatap Ina sekilas. Tatapan itu dingin, bukan marah, tapi lebih ke kecewa yang sudah terlalu lama dipendam.
Adam melihat tatapan itu dan dadanya terasa sesak. Untuk pertama kalinya, dia sadar… mungkin semua janji yang dia ucapkan sudah terlambat.
"Dia juga berencana ingin memberikan rumah untuk wanita itu ma. Itu mengapa aku membeli semua barang belanjaan, dan memblokir kartu atm dia" Kiandra terus memanasi ibu mertuanya. Biarkan ibu mertuanya itu yang memarahi suaminya.
Ina sampai gemetar. Tangannya mengepal kuat, dadanya naik turun seperti orang habis lari jauh. Mata wanita itu merah, bukan cuma karena marah, tapi juga karena rasa malu yang menusuk sampai ke tulang.
Bugh!
Pukulan itu kembali mendarat di perut Adam, lumayan keras yang di lakukan oleh Ina. Adam terhuyung, refleks memegangi perutnya, wajahnya langsung pucat.
Kiandra yang duduk tak jauh dari mereka hanya menatap dingin. Dalam hatinya ada kepuasan kecil melihat semuanya mulai runtuh satu per satu.
“Bener-bener kamu Adam!” teriak Ina lagi, suaranya parau. “Otakmu itu kamu taruh di mana sih? Kenapa kamu bisa sebodoh ini?!”
Adam menunduk. Napasnya tersengal, bukan cuma karena pukulan, tapi juga karena rasa bersalah yang menumpuk. Dia nggak berani menatap ibunya, apalagi Kiandra.
“Kau tau nggak, hah? Kamu itu dimanfaatkan sama gundik murahan itu! Dia cuma lihat harta kamu, bukan lihat kamu!” Ina mendekat, jaraknya tinggal sejengkal dari wajah Adam.
Ina mendorong dada Adam dengan telunjuknya. Dorongan kecil tapi penuh amarah. “Istri kamu yang sah berdiri di depan mata, tapi kamu malah sibuk ngurusin perempuan lain. Kamu kira mama bangga punya anak kayak kamu?”
Kiandra menyilangkan tangan di dada. Bibirnya melengkung tipis, senyum yang sama sekali nggak hangat. “Makanya ma, aku nggak mau ambil risiko. Kalau aku nggak bertindak, mungkin sekarang rumah yang aku tempati ini mungkin diam-diam akan menjadi atas nama wanita itu" ucapnya santai, tapi nadanya tajam.
"Aku cuma melindungi apa yang memang hakku" Ucapan itu seperti bensin disiram ke api.
Ina menoleh cepat ke arah Kiandra, lalu kembali ke Adam dengan mata menyala. “Dengar itu! Istri kamu sampai harus jadi orang jahat demi menutupi kebodohan kamu sendiri!”
Adam akhirnya mengangkat kepala. Matanya berkaca-kaca. “Ma… aku—”
“Diam! Mama muak dengar alasan. Kamu sudah dewasa, Adam. Tapi kelakuan kamu kayak anak kecil yang gampang dibohongi permen.” potong Ina.
Dia sampai mengusap wajahnya sendiri, frustrasi. Tangannya gatal, ingin rasanya membenturkan kepala Adam ke dinding biar anak itu sadar. Tapi yang keluar hanya napas panjang penuh kecewa.
“Kamu hancurin keluarga kamu sendiri, Dan jangan harap mama akan bela kamu kali ini.” lirih Ina akhirnya.