NovelToon NovelToon
SETAHUN MENIKAH TANPA CINTA

SETAHUN MENIKAH TANPA CINTA

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Perjodohan / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: SenandikaMaret

Dijodohkan karena darah keraton yang mengalir dalam tubuh mereka, Raden Danendra Adipati dan Raden Ayu Kirana Ayodya menerima pernikahan tanpa protes. Satu tahun berlalu dalam ketenangan yang nyaris membosankan. Tidak ada pertengkaran, tidak ada pengkhianatan, bahkan tidak ada cinta. Mereka hidup layaknya dua orang asing yang kebetulan berbagi rumah dan nama belakang yang sama. Namun ketika keadaan memaksa mereka untuk saling mengenal lebih dekat, Kirana mulai menyadari bahwa di balik sikap dingin Danendra tersimpan perhatian yang tak pernah ia tunjukkan. Sementara Danendra perlahan memahami bahwa perempuan yang selama ini selalu berada di sisinya telah menjadi bagian paling penting dalam hidupnya. Di antara tradisi keluarga, tuntutan sebagai keturunan keraton, dan perasaan yang tumbuh terlambat, keduanya harus belajar bahwa cinta tidak selalu hadir sebelum pernikahan. Terkadang cinta justru datang setelah dua hati yang asing memilih untuk saling tinggal.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SenandikaMaret, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

NAMA YANG SERING DISEBUT

Malam itu, setelah mereka pulang dari rumah utama keluarga Adipati, Kirana baru menyadari satu hal yang cukup mengganggu. Nama Risa masih ada di kepalanya. Padahal seharusnya tidak demikian. Risa ramah. Menyenangkan. Tidak melakukan apa pun yang bisa dianggap mengganggu. Bahkan jika harus jujur, Kirana cukup menyukai perempuan itu. Risa mudah diajak bicara, tidak berusaha mencari perhatian, dan sama sekali tidak membuatnya merasa tersisih.

Namun entah kenapa, setiap kali Kirana mencoba memejamkan mata untuk tidur, wajah perempuan itu justru muncul kembali di ingatannya. Terutama saat Risa dan Danendra berbicara. Cara mereka saling menanggapi terasa begitu ringan. Seolah ada banyak cerita yang tidak perlu dijelaskan karena keduanya sudah sama-sama tahu.

Kirana membalikkan tubuhnya ke sisi lain ranjang. Lalu memaksa dirinya berhenti memikirkan hal yang tidak penting. Beberapa menit kemudian, ia akhirnya tertidur.

Hari-hari berikutnya berjalan seperti biasa. Setidaknya di permukaan. Kirana tetap bekerja di yayasan. Danendra tetap sibuk dengan kantornya. Mereka masih sarapan bersama ketika jadwal memungkinkan, masih bertukar percakapan singkat tentang pekerjaan dan kegiatan sehari-hari. Tidak ada yang berubah.

Namun beberapa kali nama Risa muncul tanpa sengaja. Kadang dari Bu Rini yang menelepon. Kadang dari grup keluarga. Kadang dari cerita Mbak Siti yang menyebut Risa sedang membantu Bu Rini memilih dekorasi untuk acara keluarga.

Kirana sampai kesal sendiri karena selalu memperhatikan setiap kali nama itu disebut. Hal yang cukup menyebalkan untuk diakui.

Akhir pekan tiba lebih cepat dari yang ia kira. Pagi itu Bu Rini mengundang seluruh keluarga besar untuk makan siang bersama di rumah utama. Alasannya sederhana. Risa masih berada di Jakarta sebelum kembali mengurus beberapa pekerjaannya. Karena tidak ada agenda lain, Kirana dan Danendra datang.

Rumah utama terlihat jauh lebih ramai dibanding beberapa hari lalu. Beberapa saudara dan kerabat dekat keluarga Adipati sudah memenuhi ruang tengah. Suasana hangat khas acara keluarga langsung terasa begitu mereka masuk.

"Kirana!" Seorang tante jauh langsung melambai dari sofa.

Kirana tersenyum dan menghampiri. Sementara itu, Danendra sudah lebih dulu ditarik Pak Adipati untuk bergabung dengan beberapa kerabat pria yang sedang berbincang di teras samping.

Acara berjalan santai. Orang-orang mengobrol, menikmati makanan ringan, dan saling bertukar cerita. Tidak ada hal istimewa. Sampai sebuah candaan muncul begitu saja.

"Wah, akhirnya Risa sama Danendra ketemu lagi juga."

Kirana yang sedang mengambil minuman menoleh refleks. Yang berbicara adalah Om Surya, sepupu Bu Rini yang terkenal suka melontarkan candaan di setiap acara keluarga.

Risa yang duduk di sofa langsung menggeleng sambil tertawa. "Om, baru ketemu beberapa hari lalu."

"Itu tetap lama."

"Om..."

"Kalau dulu kalian berdua muncul bareng terus."

Risa menutup wajahnya dengan telapak tangan. "Ya ampun. Mulai lagi."

Beberapa orang langsung ikut tertawa.

"Benar juga."

"Iya, aku ingat."

"Dulu kalau ada acara kampus, pasti ada mereka berdua."

Risa mengangkat kedua tangannya menyerah. "Itu karena kami satu organisasi."

"Alasannya sama dari dulu," sahut Om Surya cepat.

"Tapi memang itu alasannya."

"Ah, tidak percaya."

Tante Maya yang duduk di dekat Bu Rini ikut menimpali. "Dulu kalau Risa dicari, biasanya ada di dekat Danendra."

"Dan kalau Danendra dicari?" tanya Om Surya.

"Ya cari saja Risa dulu."

Gelak tawa langsung memenuhi ruangan. Risa memejamkan mata seolah pasrah. "Kalian ini kenapa kompak sekali?"

"Karena memang begitu kenyataannya."

"Aku jadi ingat acara seminar nasional waktu itu," sahut salah satu kerabat lain.

Risa langsung menggeleng cepat. "Jangan cerita yang itu."

"Kenapa?"

"Pokoknya jangan."

Om Surya langsung menunjuknya. "Nah. Kalau sudah begini berarti memang wajib diceritakan."

Risa menghela napas panjang. "Astaga."

"Jadi waktu itu," lanjut sang kerabat dengan semangat, "Risa telat datang karena ketiduran."

"Itu fitnah."

"Itu fakta."

Semua orang kembali tertawa.

"Panitianya panik karena pembicara sudah datang semua."

"Lalu?" tanya seseorang penasaran.

"Lalu yang dicari pertama kali malah Danendra."

Risa langsung menutupi wajahnya lagi. "Kenapa aku datang ke acara ini?"

"Karena diundang."

Tawa kembali pecah.

"Danendra cuma bilang, 'Tenang. Saya tahu dia di mana.'"

"Ya ampun..." gumam Risa.

"Dan benar saja. Setengah jam kemudian Risa muncul."

Om Surya tertawa sampai menepuk pahanya sendiri. "Jadi selama ini kalian memang paket lengkap."

"Om Surya," tegur Danendra dari kursinya.

"Nah, yang satu mulai tidak nyaman," sahut Om Surya jahil.

"Saya sedang makan."

"Artinya benar."

"Artinya Om terlalu banyak waktu luang," balas Danendra lempeng.

Tawa kembali pecah mendengar sahutan datar Danendra.

"Om!"

"Kami satu tim!" bantah Risa.

"Masih pakai alasan itu."

Bahkan Bu Rini ikut tertawa mendengar bantahan yang sama. "Dari dulu jawabannya tidak pernah berubah."

Risa langsung menunjuk ibu Danendra. "Tante juga sekarang?"

"Kan memang begitu."

"Padahal aku datang ke sini untuk makan siang."

"Ya makan saja."

"Tapi jangan buka arsip hidup saya."

Suasana semakin ramai. Bahkan beberapa kerabat yang tadinya tidak ikut mendengarkan mulai mendekat karena penasaran.

Di tengah keramaian itu, Kirana tetap berdiri dengan gelas di tangannya. Sesekali ia ikut tersenyum. Namun yang paling mengganggunya justru bukan cerita-cerita itu. Melainkan fakta bahwa Danendra tidak pernah terlihat terganggu saat namanya terus dikaitkan dengan Risa. Pria itu hanya mendengarkan sambil sesekali membalas singkat, seolah sudah terlalu terbiasa dengan candaan semacam itu.

Aneh. Padahal itu hanya cerita lama, tetapi ia tetap tidak bisa mengabaikannya.

Siang menjelang sore. Acara keluarga masih berlangsung. Kirana sedang membantu Bu Rini menyiapkan buah di dapur ketika suara tawa kembali terdengar dari ruang makan.

"Danendra itu dulu paling beda sendiri."

"Oh iya?"

"Iya."

"Kenapa?"

"Karena cuma Risa yang berani membantah dia."

Tawa langsung pecah lagi. Bahkan Bu Rini ikut tersenyum. "Dulu memang begitu."

Kirana yang sedang menyusun piring buah berhenti sesaat. Hanya sesaat. Lalu kembali melanjutkan profesionalitas pekerjaannya.

"Risa itu anaknya memang cerewet dari dulu," lanjut Bu Rini.

"Iya, Tante!" teriak Risa dari luar. "Aku dengar!"

Semua orang tertawa.

"Yang lain kalau debat sama Danendra biasanya menyerah."

"Risa tidak?" tanya salah satu tante.

"Justru makin semangat," jawab Bu Rini.

"Tante..."

"Benar, kan?"

Risa langsung mendesah panjang. "Kenapa hari ini semua orang kompak sekali membongkar masa lalu saya?"

"Karena lucu."

"Karena jarang ada yang berani melawan Danendra."

"Itu bukan melawan," bantah Risa.

"Lalu?"

"Itu diskusi sehat."

"Versi Risa."

Tawa kembali memenuhi ruangan. Kirana ikut tersenyum. Namun senyum itu terasa sedikit lebih tipis dibanding biasanya.

Menjelang pulang, Kirana berdiri sendirian di teras belakang. Angin sore berembus pelan membawa aroma rumput yang baru dipangkas.

"Capek?"

Kirana menoleh. Risa berdiri di sampingnya sambil membawa dua gelas jus.

"Sedikit."

Risa menyerahkan salah satunya.

"Terima kasih."

Mereka berdiri berdampingan beberapa saat.

"Aku senang akhirnya bisa kenal sama kamu," kata Risa tiba-tiba.

Kirana menoleh. Risa tersenyum kecil. "Awalnya aku sempat khawatir. Tante Rini sering cerita tentang kamu. Aku bahkan sempat merasa sudah mengenalmu sebelum kita bertemu."

"Tentang apa?"

"Tentang banyak hal."

Kirana tertawa kecil. "Semoga yang bagus."

"Tenang saja. Bagus kok." Risa ikut tertawa.

Percakapan itu berjalan ringan. Nyaman. Dan justru itu yang membuat Kirana merasa semakin bersalah pada pikirannya sendiri. Mungkin akan lebih mudah kalau Risa adalah orang yang menyebalkan. Nyatanya tidak. Dan justru itu yang membuat Kirana semakin tidak nyaman dengan dirinya sendiri.

Malamnya, setelah kembali ke rumah, Kirana duduk sendirian di ruang baca. Novel pemberian Danendra masih berada di rak yang sama. Namun kali ini ia tidak sedang ingin membaca. Pikirannya terlalu ramai.

Tanpa sengaja, ia kembali mengingat percakapan siang tadi.

"Dulu kalau Risa dicari, biasanya ada di dekat Danendra."

"Kalau Danendra dicari, cari saja Risa dulu."

"Kami semua sampai hafal."

Kirana mengembuskan napas panjang. Padahal itu hanya cerita lama. Cerita yang terjadi jauh sebelum ia mengenal Danendra. Bahkan mungkin sudah tidak berarti apa-apa sekarang.

Namun semakin ia mencoba mengabaikannya, semakin sering nama itu muncul. Risa. Risa. Risa. Nama itu terus berputar di sudut pikirannya. Membuatnya bertanya-tanya tentang banyak hal yang sebelumnya tidak pernah ingin ia ketahui.

Sedekat apa mereka dulu? Seberapa penting Risa dalam hidup Danendra? Dan kenapa semua orang tampak begitu terbiasa menyebut nama mereka dalam satu kalimat yang sama? Dan yang paling mengganggunya, kenapa ia jadi ingin tahu jawabannya?

Kirana memejamkan mata sejenak. Ini tidak masuk akal. Namun untuk pertama kalinya, ia tidak bisa meyakinkan dirinya sendiri bahwa semua pertanyaan itu tidak penting. Dan itu jauh lebih mengganggu daripada yang ingin ia akui.

1
Wawan
Satu kembang buatmu Thor 💪✍️
Wawan
Wow... Why? 😍💪✍️
SenandikaMaret: kinapa yaa kira-kiraa yuk terus pantengin kisah kirana 🤭🥰
total 1 replies
Wawan
Nah lo 😍
SenandikaMaret: hayolooo 🤣
total 1 replies
Wawan
kembang mawar buatmu Kirana ✍️
SenandikaMaret: 🌹🌹 mawar juga untukmu kak, dari kirana 🤭
total 1 replies
Wawan
🤭🤭🤭 .... ngapain aja selama ini?
SenandikaMaret: hanya kirana dan tuhan lah yang tau 🤣
total 1 replies
Wawan
Naaaah.... 🤭
SenandikaMaret: nah loh 🤭
total 1 replies
Wawan
mawar buatmu thor 💪✍️
SenandikaMaret: 🌹 makasih
total 1 replies
Wawan
Wow bahaya clue-nya sangat ✍️🤭
SenandikaMaret: bikin penasaran kan 🤭
total 1 replies
Wawan
Salam kenal untuk Kirana
SenandikaMaret: haloo salam kenal juga 😇 dan selamat berkelana di dunia kirana💫
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!