NovelToon NovelToon
Isi Anak Kampung Penakluk Jakarta

Isi Anak Kampung Penakluk Jakarta

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Mengubah Takdir
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: Faris Arjunanurhidayat

Faris Arjuna hanyalah pemuda kampung yang datang ke Jakarta dengan modal nekat, sebuah tas usang, dan mimpi besar untuk mengubah nasib keluarganya.
Diremehkan karena miskin, dihina karena tidak punya koneksi, Faris harus menghadapi kerasnya kehidupan ibu kota. Dari jalanan yang penuh preman, persaingan bisnis yang kejam, hingga konflik dengan orang-orang berkuasa, semuanya menjadi ujian yang harus ia taklukkan.
Namun mereka tidak tahu satu hal. Di balik penampilannya yang sederhana, Faris memiliki keberanian, kecerdasan, dan tekad yang tidak bisa dihancurkan.
Mampukah seorang anak kampung menaklukkan Jakarta dan membuktikan bahwa kesuksesan bukan milik orang kaya saja

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Faris Arjunanurhidayat, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 3 Tawaran yang Mengubah Nasib

Pria gede itu mundur satu langkah, mukanya yang tadi garang langsung merah padam, kaget setengah mati. Dia nggak nyangka banget, anak yang bajunya lusuh, kelihatan sederhana kayak orang kampung itu punya tenaga sama ilmu yang nggak main-main. Rasanya pergelangan tangannya kayak diremas sama besi kuat banget, sakit banget sampe ke tulang.

"Kurang ajar! Berani banget lu ikut campur urusan orang lain hah?!" bentak dia dengan suara parau, emosinya meledak.

Nggak pake basa-basi lagi, dia langsung ayunkan tinjunya sekuat tenaga lurus ke muka Faris. Anginnya kedengeran wusss kenceng banget, kalau kena pasti benjol atau pingsan.

Tapi buat Faris, gerakan yang secepat itu rasanya kayak gerakan orang yang lagi jalan santai doang. Dia udah biasa ngadepin preman, tawuran, sama berantem di jalanan Sidoarjo sama Surabaya dari dulu. Gerakan kayak gini udah dia hafal luar dalem.

Dengan santai banget, Faris cuma miringin kepalanya dikit ke kanan.

Wusss!

Tinju gede itu meleset tipis banget, lewat persis di samping kupingnya, nggak kena sama sekali. Belum sempet si cowok narik tangannya balik, Faris udah gerak cepet banget. Tangannya nyekel pergelangan tangan lawan, diputer dengan arah yang bikin sakit banget, terus sikutnya dihantamkan kenceng banget ke dada si cowok itu.

Bugh!

"Ughhh!!" Si cowok itu teriak kesakitan, dadanya rasanya ketindih mobil. Badannya yang gede sama gempal itu oleng ke belakang, nabrak tiang listrik sampe bergetar, terus jatuh terguling nahan sakit yang luar biasa.

Ngeliat temennya tumbang cuma sekali hantam, temen satunya yang tadi nyekel cewek itu langsung naik darah, matanya melotot merah. Dia langsung lepasin tangan cewek itu, terus ngeluarin pisau lipat gede dari dalem saku celananya.

Klik!

Pisau itu terbuka, matanya berkilau kena sinar matahari, bikin orang-orang yang ngeliat di sekitar langsung teriak kaget sama takut, mundur berbondong-bondong.

"Awas!! Dia bawa pisau!!" teriak cewek itu parau, mukanya udah pucat banget, dia peringatin Faris sekuat tenaga.

Tapi Faris malah diem aja, mukanya tenang banget, nggak ada rasa takut sedikit pun. Matanya tajam banget natap mata pisau yang tajam itu, kayak lagi ngukur jarak sama gerakan lawan. Jantungnya emang deg-degan, tapi bukan karena takut, melainkan karena insting bertahan hidupnya udah bangun penuh. Dia udah biasa ngadepin senjata tajam, dia tau cara ngadepin orang yang main kasar gini.

"Murah banget nyawamu ternyata, Bang. Berani bawa mainan tajam terus di depan umum gini," kata Faris santai, suaranya dingin banget, bikin bulu kuduk merinding. "Saran saya taruh lagi sebelum lu yang nyesel seumur hidup."

Si cowok itu malah makin ngamuk, dia teriak kasar terus langsung nyerang, ayunkan pisaunya sembarangan ke arah perut sama dada Faris, pengen nyiksa atau ngecederain Faris.

Faris mundur satu langkah halus, jaga jarak biar aman. Pas pisau itu lebar ayunannya, ada celah dikit aja, Faris langsung manfaatin momen itu secepat kilat. Dia tendang kaki kanannya kenceng banget, muter, terus ngena pas banget ke pergelangan tangan yang pegang pisau itu.

Krak!!

Suara tulang berbunyi nyaring, pisau itu langsung lepas dari tangan si cowok, melayang ke udara sampe jatuh ke aspal dengan bunyi keras.

"Aaakkkhh!! Tangan gue!!" Si cowok teriak kenceng banget, mukanya kesakitan parah, dia pegang tangannya yang udah bengkok nggak beraturan.

Belum sempet dia pulih atau lari, Faris udah maju satu langkah lagi, terus tendang perutnya kenceng banget pake telapak kaki.

Bugh!!

Badannya terangkat dikit terus jatuh keras ke aspal, guling-guling sambil nahan sakit perut yang luar biasa, ngerang-ngerang nggak kuat bangun lagi.

Suasana di pinggir jalan itu mendadak hening total, sunyi banget. Orang-orang yang ngeliat sampe melongo, mulutnya nganga nggak percaya. Dua orang yang badannya gede, sangar, bawa senjata, kelihatan berbahaya banget, tumbang cuma dalam hitungan detik doang gara-gara pemuda kurus yang bawa tas ransel lusuh kayak orang miskin ini.

Faris napas dikit, ngatur napas yang agak terengah dikit, terus rapiin kerah bajunya yang agak berantem, santai banget kayak orang yang abis kerja ringan doang. Terus dia nengok natap cewek yang baru aja dia selamatin itu.

Cewek itu masih berdiri kaku, kaget banget sampe nggak bisa gerak. Dari deket begini baru Faris sadar, kalau cewek ini bukan orang sembarangan. Muka sama badannya anggun banget, kulitnya bersih mulus, bajunya rapi sama mahal, baunya wangi banget parfumnya, kelihatan banget dia orang kaya yang biasa hidup enak.

Tapi tatapan matanya tajam banget, curiga, sama waspada, kayak orang yang udah sering dikhianati atau udah biasa ngadepin bahaya.

"Mbak... Mbak nggak apa-apa kan?" tanya Faris agak kaku, dia garuk kepalanya yang nggak gatel, bingung juga harus ngomong apa.

Cewek itu diem aja, nggak langsung jawab. Dia perhatiin Faris dari ujung rambut sampe ujung kaki, kayak lagi ngecek barang atau nyari sesuatu yang mencurigakan. Tatapannya dingin banget, penuh perhitungan.

"Siapa kamu? Siapa yang nyuruh kamu dateng nolongin aku hah?" tanya dia tegas, suaranya dingin, berwibawa banget, bikin orang yang denger rasanya segan sama takut.

Faris ngernyit dikit, agak tersinggung sama pertanyaan itu. Dia nolongin dengan ikhlas, malah dikira ada maunya atau disuruh orang.

"Niat saya cuma mau nolong orang yang lagi kesusahan doang, Mbak. Nggak ada yang nyuruh, nggak dibayar, nggak ada apa-apa," jawab Faris ketus, nadanya agak kesel. "Kalau tau abis nolong malah dicurigai begini, mending tadi saya lanjut makan nasi bungkus aja, nggak usah peduli."

Denger jawaban yang jujur, lugas, sama polos tapi tegas itu, rasa curiga di mata cewek itu agak berkurang. Diganti sama rasa heran yang makin besar. Dia jarang banget ketemu orang yang berani ngomong gitu sama dia, apalagi orang asing yang baru pertama kali ketemu.

Belum sempet cewek itu buka mulut lagi, dari kejauhan kedengeran suara sirine polisi makin deket, suaranya kenceng banget. Dua orang yang tadi dipukul Faris mulai nahan sakit, maksain bangun sambil meringis kesakitan.

"Bos... polisi dateng! Kita harus cabut sekarang, nanti ketangkep bahaya!" bisik salah satu dari mereka parau, mukanya pucat banget takut.

Mereka jalan terseok-seok cepet-cepet masuk ke dalem mobil hitam gede yang udah nunggu di seberang jalan dari tadi, terus kabur ngebut ninggalin tempat itu.

Faris mau lari ngejar biar mereka nggak kabur, tapi langkahnya berhenti mendadak pas denger suara cewek itu.

"Jangan dikejar. Percuma aja, buang-buang waktu," kata cewek itu cepet banget, tegas banget.

Faris nengok ke dia, bingung. "Lho kenapa? Mereka kan penjahat, mereka mau nyakitin Mbak, harusnya ditangkep kan?"

"Ini urusan yang rumit, nggak sesimpel yang kamu liat," cewek itu hembuskan napas panjang, dia coba nenangin jantungnya yang masih deg-degan kenceng banget. Rapiin baju sama rambutnya yang agak berantem, terus natap Faris lekat-lekat, dalam banget kayak lagi nyelidiki dalem hati Faris.

"Ngomong-ngomong, nama saya Viona. Viona Adhitama," kata dia formal, terus ngulurin tangannya buat salaman.

Faris natap tangan Viona yang putih, halus, bersih, kukunya rapi sama terawat banget, terus dia ragu-ragu nyambutnya. Tangan Faris kasar, kering, penuh kapalan bekas kerja keras dari kecil, beda banget sama tangan Viona.

"Saya Faris. Faris Arjuna," jawabnya pendek, terus salaman sebentar doang.

Viona ngerasain kasarnya telapak tangan Faris, bukti kalau pemuda ini orang yang biasa kerja banting tulang. Tapi ilmu bertarung sama keberanian yang dia tunjukin tadi bikin pikiran Viona langsung dapet ide terang. Dia lagi butuh banget orang yang bisa dipercaya, berani, sama kuat buat jagain dia dari musuh-musuh bisnisnya yang makin gila. Faris pas banget sama kriteria yang dia cari.

Viona lepas tangannya, terus lipat kedua tangannya di dada, natap Faris tajam banget, penuh keyakinan.

"Faris... kamu sekarang punya kerjaan nggak?" tanya Viona tiba-tiba, to the point banget.

Faris kaget, melongo dikit. "Hah? Nggak punya, Mbak. Saya baru sampe di Jakarta beberapa jam yang lalu doang, baru dateng dari Sidoarjo. Belum sempet cari kerjaan sama sekali."

Denger jawaban itu, senyum tipis yang penuh arti muncul di bibir Viona. Senyum yang bikin Faris bingung sama penasaran.

"Bagus kalo gitu. Mulai hari ini, mulai detik ini juga, kamu kerja buat saya," kata Viona tegas, resmi banget, nggak ada ragu sedikit pun.

Faris makin bingung, matanya sampe melotot kaget. "Kerja? Kerja jadi apa Mbak? Jangan main-main nih, saya kan nggak punya keahlian khusus apa-apa selain kerja fisik sama berantem."

Viona maju satu langkah, natap mata Faris dalam-dalam, tajam banget, bikin Faris nggak berani natap lain.

"Jadi pengawal pribadi saya. Jadi bodyguard saya. Berapa pun bayaran yang kamu mau, saya kasih sepuluh kali lipatnya dari harga biasa. Gimana?"

Faris diem, bengong, nggak nyangka sama sekali. Dia baru beberapa jam di Jakarta, baru aja nyelamatin orang, eh tiba-tiba dapet tawaran kerjaan yang nggak pernah dia bayangin sebelumnya. Takdir emang mainnya licik banget, tapi tawaran ini rasanya kayak pintu harapan yang tiba-tiba terbuka lebar banget buat dia.

1
Samsul Samsi
😍😍😍😍
Watono
teruskan Faris bela yang benar
FARIZARJUNANURHIDAYAT: siap kak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!