NovelToon NovelToon
Sembilan Phoenix Agung : Jalan Kultivasi Terlarang

Sembilan Phoenix Agung : Jalan Kultivasi Terlarang

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Balas Dendam / Dikelilingi wanita cantik
Popularitas:7.4k
Nilai: 5
Nama Author: Nugraha

Lin Chen, seorang pemuda yang dianggap sampah karena memiliki Meridian Spiritual rusak, secara tidak sengaja menyentuh Phoenix bayi yang sedang bereinkarnasi. Pertemuan itu justru memberinya warisan terlarang tertinggi — "Sembilan Ikatan Phoenix Abadi".

Teknik kultivasi ini mengharuskan ia menikahi dan melakukan kultivasi ganda dengan Sembilan Phoenix Agung. Semakin banyak Phoenix yang ia taklukkan, semakin kuat ia. Namun, teknik ini dianggap melanggar tatanan langit, sehingga seluruh dunia kultivasi ingin membunuhnya.

"Dunia bilang aku terlarang? Baiklah… aku akan menikahi semua Phoenix dan membakar langit ini hingga hangus!"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nugraha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1 : Anak yang Menanggung Langit Retak

Di Kota Langit Biru, di bawah bayang-bayang Pegunungan Cang Lei yang sepanjang tahun diselimuti kabut tebal, berdirilah sebuah klan kultivasi yang pernah berjaya selama beberapa generasi—Klan Lin.

Nama itu dahulu disegani oleh banyak orang.

Leluhur mereka, Lin Tianhao, pernah mencapai tingkat Jiwa Baru Lahir Puncak dan memimpin kemenangan besar melawan Ras Iblis di Lembah Batu Hitam. Pada masa itu, panji-panji Klan Lin berkibar dengan gagah, sementara setiap anggota klan hidup dalam kebanggaan yang tak pernah mereka ragukan.

Namun kejayaan itu telah lama memudar.

Kemuliaan yang dahulu begitu terang kini hanya tersisa sebagai kenangan yang perlahan dilupakan.

Dan Lin Chen, cicit sang leluhur, menjadi bukti paling nyata dari kemunduran tersebut.

Pagi itu tidak berbeda dari hari-hari sebelumnya.

Sebelum fajar menyingsing, Lin Chen sudah duduk bersila di kamarnya yang sederhana di sayap timur kediaman klan. Seperti biasa, ia kembali mencoba melakukan hal yang sama.

Bermeditasi.

Menyerap energi langit dan bumi.

Membuka jalur energi dalam tubuhnya, namun hasilnya tetap tidak berubah.

Rasa sakit yang tajam menusuk dari dalam dadanya setiap kali ia mencoba mengalirkan energi alam ke meridian-meridiannya. Rasanya seolah ada tangan tak kasat mata yang meremas dan menghancurkan jalur energi itu dari dalam.

Lin Chen menggertakkan giginya dan terus memaksa.

Keringat mulai membasahi dahinya.

Napasnya menjadi berat, tetapi pada akhirnya, ia tetap gagal.

Tidak ada sedikit pun energi yang berhasil mengalir dengan lancar.

Tujuh dari sembilan Meridian Spiritual miliknya telah rusak sejak lahir.

Tidak seorang pun mengetahui penyebabnya.

Para tabib klan telah berkali-kali memeriksanya, namun tidak menemukan jawaban yang pasti. Ada yang mengatakan bahwa itu adalah kutukan. Ada pula yang berbisik bahwa keluarganya sedang menanggung karma buruk dari masa lalu.

Apa pun alasannya, kenyataan tetap tidak berubah.

Di usia tujuh belas tahun, Lin Chen masih berada di Tingkat Pertama Kebangkitan Roh, sebuah tingkat yang biasanya dapat dilampaui para murid baru hanya dalam beberapa minggu latihan.

"Lin Chen."

Suara dingin terdengar dari luar kamar.

"Sarapan sudah disiapkan di Aula Selatan. Jangan terlambat lagi."

Itu suara seorang pelayan klan.

Bahkan seorang pelayan pun tidak lagi berusaha menyembunyikan nada meremehkannya.

Lin Chen mengembuskan napas pelan sebelum menghentikan meditasinya dan berdiri.

Di sudut ruangan terdapat sebuah cermin kayu tua. Saat menatap pantulannya, ia melihat seorang pemuda berambut hitam yang diikat seadanya, mengenakan jubah abu-abu sederhana yang mulai usang di bagian lengan.

Namun ada satu hal yang masih bertahan.

Sorot matanya.

Meskipun sering dihina dan direndahkan, matanya belum kehilangan semangat.

Itu adalah satu-satunya hal yang tidak akan ia biarkan dirampas oleh siapa pun.

Aula Selatan selalu ramai saat waktu sarapan tiba.

Namun ketika Lin Chen melangkah masuk, suasana mendadak hening selama beberapa saat.

Bukan karena rasa hormat.

Melainkan karena keheningan canggung yang selalu muncul setiap kali dirinya hadir.

Beberapa detik kemudian, percakapan kembali berlanjut seolah-olah ia tidak pernah ada.

Lin Chen sudah terbiasa menghadapi hal semacam itu.

Tanpa berkata apa-apa, ia mengambil tempat di ujung meja, mengisi mangkuknya sendiri, lalu mulai makan dengan tenang.

"Tahukah kalian? Hari ini akan diadakan seleksi untuk menentukan wakil klan dalam Turnamen Sekte Bulan Perak."

Suara itu berasal dari meja utama.

Pemiliknya adalah Wei Hao, sepupu Lin Chen yang usianya dua tahun lebih muda, tetapi telah mencapai Tahap Pembentukan Inti tingkat awal.

Nada bicaranya sengaja dibuat cukup keras agar terdengar sampai ke meja Lin Chen.

"Sayangnya, tidak semua orang bisa ikut. Hanya mereka yang memiliki bakat dan kemampuan yang layak."

Beberapa orang di meja utama tertawa kecil.

Lin Chen tetap diam.

Ia menyendok sup ke dalam mulutnya dan melanjutkan makan seperti tidak mendengar apa pun.

Wei Hao tersenyum sinis.

"Aku juga mendengar kau masih bangun sebelum fajar setiap hari untuk bermeditasi."

Ia menggelengkan kepala sambil terkekeh.

"Lucu sekali. Itu seperti orang buta yang terus mencoba melukis pemandangan indah."

Tawa yang lebih keras pun terdengar.

"Sudahlah, biarkan saja."

Suara seorang gadis terdengar lembut, tetapi kata-katanya sama tajamnya.

"Kasihan juga melihatnya."

Lin Chen mengangkat pandangannya.

Duduk di samping Wei Hao adalah seorang gadis cantik bergaun biru muda. Rambutnya dihiasi jepit berbentuk bunga teratai yang mempertegas kecantikannya.

Yue Suyin.

Tunangan yang pernah ia anggap sebagai seseorang yang akan selalu berada di sisinya.

Namun kini, Lin Chen menyadari bahwa rasa kasihan adalah satu-satunya perasaan yang masih dimiliki gadis itu terhadap dirinya.

Yue Suyin bahkan tidak menatap ke arahnya.

Ia terus berbincang dengan gadis lain di sampingnya, seakan ucapan yang baru saja keluar dari mulutnya tidak lebih dari komentar biasa yang langsung terlupakan.

Lin Chen terdiam sejenak. Lalu ia meletakkan sumpitnya dengan tenang.

Tidak ada amarah.

Ia hanya berdiri, membawa mangkuk yang bahkan belum sempat dihabiskan, kemudian berjalan keluar dari Aula Selatan tanpa mengucapkan sepatah kata pun.

Di belakangnya, suara tawa dan percakapan kembali memenuhi ruangan.

Seolah kehadirannya memang tidak pernah berarti apa-apa.

Namun tidak seorang pun menyadari bahwa jauh di dalam hati pemuda yang mereka hina itu, masih tersimpan tekad yang belum padam.

Tekad yang suatu hari nanti akan mengguncang langit dan bumi.

1
Green Boy
ayo lanjut lagi thor🙏🙏
Daryus Effendi
bosan bacanya terlalu lambat alzrnya.bertele tele
Hadi Hadi
up up 👍
Hadi Hadi
up up 😍😍
Anonymous
lanjut thor seru ceritanya🙏
Si Suka Baca
Vote meluncur
Ihwan12
mantap lanjut lagi thor💪💪👍👍
Xiao Lin—Gold Author
satu mawar 🌹
Xiao Lin—Gold Author
niceeeee👍👍👍
Xiao Lin—Gold Author
Mantap👍👍👍
Xiao Lin—Gold Author
Suyin mungkin udah ketagihan sama pedang ajaib Wei Hao🤔/Sly//Doge/
Celestial Quill: /Facepalm/
total 1 replies
Xiao Lin—Gold Author
Mantap👍
Shu Qing
Luar biasa
Fatih Al
awal yang bagus👍👍
Green Boy
Bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!