Vivian Marvis, putri tunggal klan mafia Marvis, dinyatakan meninggal setelah melahirkan putri pertamanya.
Sejak saat itu, Kayden Gilbert—suami yang dulu mencintainya sepenuh hati—berubah menjadi pria berhati es. Bahkan, membenci darah dagingnya sendiri.
Namun kematian bukanlah akhir bagi Vivian.
Jiwanya terbangun dalam tubuh Arini, seorang wanita malang yang kehilangan segalanya. Dengan identitas baru, Vivian kembali ke Kediaman Gilbert demi bertemu putrinya, Deana.
Sayangnya, Deana hidup tanpa kasih sayang sang ayah.
"Auntie... jadi Mama Dea saja, ya? Dea kesepian."
Mendengar kata-kata itu, hati Vivian hancur.
Akankah Vivian berhasil menyatukan kembali keluarganya? Ataukah ia akan merebut putrinya dan membuat Kayden Gilbert menyesali semua yang telah terjadi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mom Ilaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cemburu
Kayden segera mengurai pelukan, lalu berjongkok untuk menggendong putri kecilnya. “Sesuai dengan keinginan putri kesayangan Papa, Papa berjanji tidak akan melepaskan alat-alat itu dari tubuh Ibumu.”
“Benalkah?” Mata Deana berkaca-kaca, namun kali ini karena letupan rasa bahagia.
“Iya, Sayang. Tapi, apa Deana mau menunggu lebih lama lagi sampai Mama bangun?”
“Mau! Sampai tahun depan pun Deana bakal nungguin Mama bangun. Telus nanti kalau Mama udah bangun, Deana mau celita kalau Deana sekalang sudah punya adik bayi, punya Abang Alex, telus punya Mama balu juga!” tutur Deana polos sembari menunjuk ke arah Vivian yang saat ini berada di dalam tubuh sang pengasuh.
Eh…?!
“Maksudnya… Papa harus punya dua istri?” tanya Kayden dengan senyum geli yang dipaksakan.
Namun, senyuman itu langsung lenyap seketika begitu ia menangkap gurat wajah Vivian yang mendadak berubah masam dan mengerikan. Aura dingin mendadak menguar dari tubuh wanita itu.
“Haha… Papa cuma bercanda, kok! Papa cuma punya Ibu kandung Deana dan Baby Elvano seorang!” ralat Kayden cepat dengan tawa kaku yang terdengar bodoh.
Gestur panik yang tidak biasa dari sang penguasa Black Valley itu sontak membuat Lastri dan Alex saling pandang dengan tatapan heran. Seorang bos mafia yang terkenal kejam dan ditakuti, ternyata bisa terlihat seciut dan sebodoh itu di depan seorang wanita.
Siang itu, di dapur mansion Gilbert. Meja makan besar yang biasanya terasa sepi dan formal, kini tampak hangat diisi oleh mereka semua. Alex mengambil posisi duduk tepat di sebelah Deana.
Namun, baru saja bocah laki-laki itu menata sendoknya, Kayden bergerak maju. Tanpa aba-aba, ia mengangkat tubuh Deana dan memindahkannya ke kursi di sebelah kirinya, sengaja menjauhkan putrinya dari jangkauan Alex.
Lastri dan Davin yang berdiri tak jauh dari meja makan saling lirik, lalu menunduk demi menyembunyikan senyum geli mereka.
Deana mendongak dengan sendok yang masih menggantung di udara. “Kenapa duduknya pindah, Papa?”
“Biar kamu duduk di sebelah Papa,” jawab Kayden pendek, langsung menyendokkan nasi ke piring putrinya seolah tidak terjadi apa-apa.
“Tapi Deana mau duduk di sebelah Abang Cendol!” protes Deana, menunjuk Alex dengan telunjuk mungilnya.
“Tidak boleh,” larang Kayden mutlak. Tatapannya sempat melirik tajam ke arah Alex.
Kayden melakukan ini bukan tanpa alasan. Identitas Alex sebagai cucu adopsi yang dibawa oleh Arsen membuatnya otomatis memasang radar waspada tingkat tinggi. Ia tidak mau putrinya dekat-dekat dengan "bibit" dari rivalnya.
“Napa, Papa? Papa cembulu?” tembak Deana polos.
Kayden hampir tersedak air liurnya sendiri. “Idih… siapa yang cemburu sama bocah itu? Papa cuma tidak mau kamu duduk di sana.”
Namun, Deana tidak peduli. Dengan gerakan tak terduga, bocah perempuan itu merosot turun dari kursinya, berjalan memutari meja, lalu memanjat naik kembali ke kursi di sebelah Alex.
Alex langsung mengukir senyum puas yang penuh kemenangan. Ia sengaja menatap lurus ke arah Kayden yang kini wajahnya sudah menekuk cemberut.
Ehem…
Vivian sengaja berdeham, memutus perang mata sengit antara pria dewasa dan bocah laki-laki itu.
“Ada apa, Bibi?” tanya Alex, langsung beralih menatap Vivian dengan sopan.
Vivian meletakkan garpunya, lalu menatap Kayden dengan penuh arti. “Saya mau kasih tahu pada pria ini, kalau mulai hari ini kita harus memulai misi baru kita.”
“Misi? Misi apa, Mama Alin?” Deana menyahut penasaran. Ia memanggil Vivian dengan nama Arini karena status ibu kandungnya yang koma.
“Misi membuat Deana bahagia. Jadi, apa yang sekarang bisa bikin Deana senang?” tanya Vivian lembut langsung pada putrinya.
Deana mengetuk-ngetuk dagunya, berpikir keras sembari melirik ke arah Kayden yang juga sedang menanti jawabannya dengan cemas.
“Deana mau Papa jadi olang baik!” seru Deana mantap.
Kening Kayden langsung berkerut dalam. “Memangnya selama ini Papa jahat?”
“Jahat! Kata Bang Cendol, Papa itu olaaang jahat!” tuduh Deana tanpa beban.
Ehhhh…?!
Alex yang sedang mengunyah makanan langsung tersedak hebat. Wajahnya memerah panik saat mendapati tatapan mematikan dari Kayden kini terarah lurus seolah siap mengulitinya hidup-hidup.
“Deanaaaa!” teriak Alex histeris dalam hati. Ia langsung menutup mukanya sendiri dengan kedua tangan karena skandalnya dibongkar begitu saja tanpa filter.
“Kalo Papa sudah jadi baik, Papa pelgi minta maap dulu ke Nenek dan Kakek Nico,” pinta Deana melanjutkan.
“Nggak. Papa bakal diusir kayak waktu itu. Papa ini… menantu tidak berguna di mata mereka,” ucap Kayden, mendadak merasa ciut dan menolak.
“Nda usah mindel dulu Papa, kan ada Dea yang bisa bantu Papa belbaikan.”
“Bantu apa?” tanya Alex penasaran, akhirnya memberanikan diri membuka suara.
“Bantuin baca doa, bial cetan-cetan di kepala Papa dan Kakek pelgi jauh. Habis cetannya pelgi, semua beldamai!”
“Kalau Papamu tetap tidak dimaafkan, gimana?” tanya Vivian, gemas sekaligus terhibur melihat putrinya berceloteh.
“Dea paksa Kakek! Kalo nda mau juga, Dea mau plotes pakai odong-odong telus pelgi ke lumah Kakek sama Bang Cendol!”
Heh, kenapa Alex dibawa-bawa lagi? Dasar si mulut cabe!
Alex hanya bisa meratapi nasibnya dalam diam.
Selesai makan siang dan bersiap-siap, mereka pun berangkat. Tidak lama kemudian, mereka tiba di rumah sakit tempat Aletha baru saja menyelesaikan operasi matanya.
hajajr terus Arini/Vivian 👍👍👍🤨
congratulation 🤗🤗🤗