"Malam ini Lo hancur! Biar kakak Lo paham, ada harga mahal buat tangan yang berani menyentuh adik gue." --Xavier--
"Aku bersumpah, aku akan jadi neraka terpanjang di hidupmu, Xavier!" --Sukma--
Dunia Sukma runtuh dalam satu malam. Perbuatan nista Hamdan, kakaknya, menyulut api dendam di nadi Xavier--pemimpin Geng Bima Sakti Yang Tak mengenal ampun. Dalam buta amarah, Xavier merenggut paksa kesucian Sukma sebagai balasan atas Marwah adiknya yang hampir ternoda.
Hamdan mengakhiri hidup dengan cara tak diberkati, meninggalkan Sukma sebatang kara.
Kesucian tercabik. Masa depan hancur. Satu-satunya penguat jiwa telah pergi.
Di ambang napas terakhirnya, Gea--kekasih Xavier, menitipkan wasiat yang menjadi belenggu sekaligus penebusan dosa: Xavier harus menikahi Sukma.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayuwidia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 20 Melepas Rindu
Suasana kantin Fakultas Sastra Inggris siang ini cukup ramai. Nara duduk seorang diri di salah satu sudut meja, menatap kosong barisan menu di depannya.
Rindu.
Ia sangat merindukan sahabat terbaiknya, Sukma.
Sudah dua bulan ini Sukma tidak memberikan kabar. Semua chat yang Nara kirim, tidak satu pun yang centang dua, apalagi terbaca.
Jelas, Nara khawatir. Bahkan, teramat khawatir.
Ia sudah berulang kali bertanya pada Ayu, memohon agar istri CEO Amerta Group itu berkenan memberi tahu alamat Sukma. Namun, Ayu selalu menjawab, "Belum saatnya kamu tahu."
Segelas creamy latte tiba-tiba tersuguh di atas meja, bersamaan dengan suara kursi yang ditarik oleh seseorang.
Nara tersadar dari lamunannya. Ia perlahan mendongak, menatap malas gadis yang kini duduk di hadapannya--Vella, wakil jenderal Geng Black Shadow.
"Ra, kenapa akhir-akhir ini lo nggak pernah nongkrong di basecamp kita? Lo juga nggak bergerak sama sekali buat beberin perbuatan bejat Xavier di X," cecar Vella mengintimidasi. Pandangannya tajam menghujam, membuat nyali Nara seketika menciut.
"Jangan bilang... lo mau putar haluan dan jadi pengkhianat--musuh dalam selimut Black Shadow."
Vella tersenyum miring. Ia menyesap creamy latte miliknya tanpa sedikit pun mengalihkan atensi dari wajah Nara yang kini mulai terlihat pias.
"Kalau lo sampai terbukti berkhianat, gue pastiin hidup lo nggak bakal lama," bisik Vella diiringi sebaris seringai yang mengerikan.
Namun, sebelum ia kembali melontarkan kata-kata ancaman, terdengar suara dehaman yang sukses membuatnya refleks menoleh ke arah sosok yang berdiri tepat di belakangnya.
"Nara, tugas dari Pak Budi udah kamu kerjain belum? Besok pagi harus dikumpulin," ujar sang pemilik suara dehaman yang tak lain adalah Ayu.
"Eng... aku..." Nara tampak bingung. Seingatnya, tugas dari Pak Budi sudah ia kumpulkan tadi pagi.
Namun, sepersekian detik kemudian, otak cerdasnya bisa langsung menangkap kode yang terselip dari ucapan Ayu. Ia mengangguk cepat, lalu segera mengunci atensinya pada Ayu, mengabaikan tatapan Vella yang kembali beralih padanya.
"Aku belum ngerjain. Kamu bisa bantu aku, kan? Aku nggak paham sama materi yang beliau sampaikan," balas Nara yang jelas langsung dipahami oleh Ayu.
"Kita ke perpus sekarang. Makan siangnya dijamak aja sama makan sore."
Nara terkekeh pelan. "Iya. Lagian, aku lagi enek. Nggak mood makan."
"Ya udah, yuk cabut!" Ayu mengulas senyum tipis, lalu menarik pelan tangan Nara untuk bangkit.
"Gue masih ada perlu sama Nara," Vella menginterupsi cepat, memperdengarkan nada suaranya yang datar dan dingin. Namun sayang, intonasinya itu sedikit pun tidak mampu membuat nyali sang Mantan Ketua Geng Srikandi menciut.
"Diundur dulu. Tugas dari dosen jauh lebih penting daripada gibahan nggak berfaedah."
Ucapan santai Ayu seketika membuat Vella naik pitam. Gadis itu refleks menggebrak meja kantin dengan keras.
Brakk!
"Lo! Bisa nggak pergi aja dari muka bumi? Karena tiap ada lo, emosi gue selalu meledak. Pengen rasanya nonjok dan ngirim lo ke Planet Pluto biar hilang dari peredaran!"
Kalimat kasar yang mengalir dari bibir Vella justru serasa menggelitik telinga Ayu, membuatnya tak kuasa menahan tawa.
"Coba aja kalau berani. Yang ada, aku yang bakal mengirimmu ke Planet Pluto. Ralat... bukan Planet Pluto, tapi ke Nusakambangan. Biar kamu bisa temu kangen sama orang-orang unfaedah di sana."
"Lo!" Tangan Vella mengepal kuat. Ia benar-benar ingin melampiaskan amarahnya dengan melayangkan pukulan maut ke wajah Ayu.
"Vella," panggil seseorang yang sukses mengalihkan perhatian Vella seketika. Panggilan itu memaksanya untuk mengurungkan keinginan nekat, yang bisa saja membuatnya ditendang dari area kantin.
Dia... Haidar. Lelaki tampan bertubuh gagah yang telah berhasil menjerat hatinya.
Ayu mengulum senyum menyaksikan betapa maha dahsyatnya pesona seorang Haidar, hingga mampu membuat si Singa Betina seketika bergeming dan tunduk. Tanpa membuang waktu, ia lantas membawa Nara melangkah melewati Haidar yang masih berdiri di ambang pintu. Meninggalkan Vella yang kini terpaku di tempatnya, seolah melupakan emosinya yang sempat meledak hebat.
Langkah kaki mereka akhirnya terhenti di area taman Fakultas Sasing, tepatnya di bawah naungan pohon tabebuya.
"Nara... ada hal penting yang ingin aku sampaikan. Ini mengenai Sukma," ucap Ayu begitu mereka mendaratkan tubuh di atas bangku taman.
Nara mengangguk dan bersiap untuk menyimak.
"Sukma tinggal di Desa W. Aku sudah meminta Haidar untuk mengantarmu ke sana nanti sore."
Nara mengernyit, menatap Ayu dengan tatapan penuh tanya.
"Haidar?" sahutnya. Ia teramat heran, kenapa Ayu malah meminta orang kepercayaan Raka itu untuk mengantarnya.
Ayu mengedipkan mata, lalu mengulas sebaris senyum. "Iya. Dia... orang kepercayaanku dan Mas Juna. Agen rahasia yang sengaja kami kirim untuk menggali semua rencana busuk Black Shadow. Termasuk keculasan mereka: menjadikanmu alat untuk memuluskan rencana demi ambisi hina mereka."
Nara seketika membeku. Ia sungguh tidak menyangka, Haidar--lelaki yang selama ini mengabdi pada Raka adalah agen rahasia Ayu dan Arjuna.
"Dalam waktu dekat ini, para penegak hukum akan bergerak cepat untuk menangkap Edo dan para petinggi Black Shadow, jadi... kamu nggak usah khawatir," lanjut Ayu memecah keheningan yang sejenak singgah.
"Setelah mereka semua masuk ke dalam bui, Haidar yang akan memegang kendali Black Shadow. Menggantikan posisi Raka sebagai pemimpin geng. Mengubah pamor Black Shadow, dari geng yang dikenal pembuat onar dan perusak masa depan, menjadi geng yang menebarkan hal-hal positif, seperti Pandawara. Kumpulan anak-anak muda yang patut menjadi kiblat tunas bangsa."
Setiap kata yang mengalir dari bibir Ayu menciptakan desiran halus di dada Nara. Menghadirkan rasa kagum yang tak bisa ia tuangkan dengan rangkaian kata.
.
.
Sore harinya...
Semilir angin pedesaan menyambut hangat kedatangan Nara dan Haidar. Setelah melalui perjalanan lebih dari dua jam, akhirnya kedua insan itu bisa menginjakkan kaki di Desa W untuk menemui Sukma--wanita malang yang saat ini tengah mengandung janin darah daging Xavier, hasil dari perbuatan bejat yang dilakukannya.
Langkah kaki Nara tiba-tiba terhenti di depan pagar kayu. Sepasang bola matanya seketika bergetar saat memandang ke arah area teras rumah joglo.
"Sukma..." Suara Nara seketika tercekat di tenggorokan. Matanya berbinar digenangi air mata yang siap tumpah, mendapati sahabat baiknya tengah duduk tenang di teras rumah bersama Bi Jayanti.
"Nara..." Sukma menatap tak percaya. Sepasang manik matanya membelalak kecil, memastikan bahwa sosok yang berdiri di depan gerbang kayu itu bukanlah sekadar ilusi atau fatamorgana belaka.
Ia perlahan bangkit dari kursi kayu teras, lalu melangkah cepat menghampiri sahabat yang selama beberapa bulan ini teramat dirindukannya.
"Sukma... aku kangen banget sama kamu," bisik Nara dengan suara parau.
Ia langsung meraih tubuh Sukma, memeluknya erat, menumpahkan seluruh beban kerinduan yang teramat dalam, sekaligus rasa bersalah yang sempat mengendap di dalam dada.
Sukma pun membalas pelukan itu tak kalah erat. Menyembunyikan wajahnya di bahu Nara, menghidu dalam-dalam aroma vanilla yang menguar menenangkan dari tubuh sahabat terkasihnya.
Haru seketika hadir memenuhi relung kalbu. Menciptakan titik-titik air di sudut mata Bi Jayanti dan juga Haidar yang tengah menyaksikan dalam diam.
🍁🍁🍁
Bersambung
btw dr awal kamu kan yg salah?
memperkosa loh ga main" itu
The Power of bibi bibi🌹🌹
ancaman dlam kalimat konyol..itu kayak menggertak mau pukul orang tapi pakai ranting pohon tauge..🤣
semoga di kasih 7 tanjakan 7 turunan dan 7 Pengkol penderita mu mengejar maaf vier