“Lepas gaunmu sekarang juga! Tunjukkan ke mereka, apa saja yang akan mereka bawa pulang nanti!”
“Aku gak bakal ngelakuin hal itu, paham!” seru Rosella dari atas meja.
“Aku gak minta persetujuan kamu, Rosella.” Nada bicara dan pandangan Ayahnya pun berubah menjadi sangat dingin.
“Baimm,” suara Dio memotong niat buruknya. “Aku rasa kamu gak perlu menyuruh anakmu melakukan hal menjijikkan itu.”
Anak perempuan tertua dari pemimpin Bataviarch akan dilelang malam ini. Rosella Rachmandi telah lama bersiap menghadapi hari itu. Sebenarnya, rencananya sederhana, ia ingin mendapatkan suami yang bodoh dan lemah, sehingga dapat dikendalikannya, lalu merebut seluruh kekuasaan ayahnya yang kejam demi menyelamatkan nasib ketiga adiknya.
Ia yakin segala sesuatunya akan berjalan lancar, hingga Dio Walisang, pria yang tiba-tiba hadir di acara pelelangan itu, mengubah dan meruntuhkan seluruh rencananya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon phiiiew, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pembunuh Berdarah Dingin
Rosella menarik napas panjang agar tidak langsung mencabut pisau dan menusukkannya ke leher pria itu. Ia menahan amarahnya sekuat tenaga. Dulu, ia menganggap panggilan sayang itu manis. Namun kini, setiap kali Gumm menyebut namanya dengan cara demikian, keinginan untuk mencungkil mata pria itu justru muncul di benaknya.
“Gumm, udah ah, berhenti ngomong nggak jelas. Aku mulai bosen dengerinnya,” kata Rosella ketus.
“Kamu nggak boleh ngomong gitu sama aku. Aku sayang banget sama kamu, aku beneran nggak tahu harus gimana lagi kalau nggak ada kamu.”
“Terus kenapa? Emangnya aku harus penasaran buat cari tahu?”
Suara tawa renyah dari arah belakang membuat Rosella seketika menoleh. Belum sempat ia bereaksi, lengan Dio sudah melingkar di pinggangnya dan menarik tubuh wanita itu mendekat ke arahnya.
Pria itu mencium pipinya dengan lembut dan akrab. “Halo, manisku,” bisiknya tepat di telinga Rosella.
Jantung Rosella berdebar kencang seketika. Perasaannya selalu menjadi kacau setiap kali Dio berada di dekatnya.
“Kamu beneran mau nikah sama orang nggak jelas kayak dia?” keluh Gumm, seolah dirinya jauh lebih baik.
“Kamu pikir kamu lebih keren dari aku, gitu?” tanya Dio dengan nada tenang.
“Pasti dong. Aku orang yang mulai semuanya dari nol, usaha sendiri.”
Dio tertawa kecil dengan nada meremehkan sebelum menjawab dengan santai. “Kamu sebaiknya belajar dulu sebelum mulai pamer ya, tolol.”
Senyumnya tak mampu lagi ditahan oleh Rosella dan Ia tahu betul seberapa hebat Dio jika dibandingkan dengan Gumm.
“Sayang, tolong dong dengerin aku. Aku beneran cinta sama kamu,” mohon Gumm sekali lagi.
“Aku cuma mau kasih tau, dulu calon istriku mungkin sempat nganggep kamu pantas dipanggil sayang. Tapi jangan uji kesabaran aku ya, batasnya tipis banget,” kata Dio dengan nada dingin.
“Sayang, please—”
Ucapan Gumm terhenti mendadak saat sebuah titik merah muncul di dahinya. Itu bukan sekadar tanda penunjuk laser, melainkan lubang bekas tembakan peluru.
Pria itu langsung roboh jatuh ke lantai.
“Dasar, tolol ... emang nggak pernah mau dibilangin,” keluh Dio seraya memasukkan kembali pistolnya ke balik jaket. Ia tampak santai, seolah baru saja membuang sampah Ale-ale.
Tubuh Gumm jatuh tepat ketika Hans, sepupu calon suami Rosella, muncul dari balik dinding. Ia mendorong troli berisi keranjang kain dan mengenakan sarung tangan cuci piring.
Tidak ada yang tahu dari mana ia mendapatkan barang-barang itu dengan begitu cepat.
“Udah aku duga bakal berakhir begini,” gumam Hans pelan seraya mulai melipat kaki Gumm agar muat masuk ke dalam keranjang. Ia bergerak cekatan tanpa keraguan sedikit pun.
Dio membantunya menggerakkan jenazah itu, sementara Rosella hanya diam berdiri mematung dan menyaksikan peristiwa itu. Ia sama sekali tidak mampu melakukan apa pun saat itu.
Ketika Hans membawa mayat itu pergi lewat lorong tadi, Dio menatap tajam ke arah Rosella. Wajahnya tampak sangat serius.
“Sedih nggak?” tanya Dio.
“Nggak sama sekali. Cuma aku bingung, sekarang kita harus gimana ya?”
Dio tersenyum tipis lalu mencium pipi Rosella sekali lagi. Ia kemudian meletakkan tangan wanita itu di lengannya. “Kalau gini, gimana?” tanyanya pelan.
Rosella mengangguk pelan seraya menarik napas lega.
“Sekarang, kita nikmati aja pestanya sampai habis!”
Dio masuk ke dalam aula sambil tetap menggandeng tangan Rosella. Perasaan yang dirasakannya saat itu sulit dijelaskan dengan kata-kata.
Semua orang menatap ke arah mereka. Rosella membalas tatapan itu dengan dagu yang terangkat tinggi, seakan ia adalah penguasa tempat ini, dan hal itu justru membuat perasaan Dio menjadi tegang.
“Kamu baik-baik aja?” tanya Dio. Ia sadar Rosella terus mengamati sekeliling, seperti memastikan tidak ada seorang pun yang menyaksikan kejadian tadi.
Biasanya, Dio adalah sosok yang tenang dan mampu mengendalikan diri. Namun kini, ia sadar sepenuhnya bahwa tunangannya adalah satu-satunya hal yang mampu memicu emosinya secepat ini.
Hans sempat mengucapkan hal serupa dalam perjalanan menuju pesta, dan saat itu Dio hanya menertawakannya. Kini, ia yakin akan mendengar ocehan sepupunya itu karena ternyata ucapan Hans benar adanya.
“Aku lagi cari Verlis,” jawab Rosella singkat.
Mendengar itu, Dio langsung merasa lebih lega dan tenang.
Ada rasa aneh yang menjalar di hatinya. Rosella sama sekali tidak terganggu melihatnya membunuh seseorang tepat di depan mata wanita itu. Hal seperti itu sangat jarang terjadi pada wanita-wanita yang berada di lingkungan mereka. Akan tetapi, memang benar adanya bahwa wanita yang ia miliki kali ini berbeda dari yang lain.
“Itu dia Verlis. Dia lagi sama cowok si otak udang!” kata Dio seraya menunjuk ke satu arah.
Dio menatap pemuda itu dengan rasa muak. Usianya kira-kira sama dengannya, belum lewat tiga puluh lima tahun, namun ada sesuatu dari sikap pemuda itu yang membuatnya merasa jijik, karena ada noda saus di kemejanya akibat cara makannya yang berantakan dan kotor.
Rosella langsung berjalan menghampiri mereka dan Dio mengikuti dari belakang. Saat Verlis melihat kedatangan mereka, wanita itu melirik ke arah Rosella terlebih dahulu. Rosella memberikan isyarat kecil yang langsung dimengerti oleh Verlis, lalu wanita itu tersenyum lebar.
“Nggak nyangka kamu dateng juga, kakak ipar,” sapa Verlis dengan nada ceria.
Pemuda pecinta udang itu langsung menelan ludah dan buru-buru mengelap tangannya ke celana yang dikenakannya.
“Kayaknya kita belum kenalan ya. Aku Farchy,” katanya sambil mengulurkan tangan hendak bersalaman.
Dio sama sekali tidak berniat menyentuh tangan yang tampak kotor itu.
“Maaf ya,” jawab Dio seraya merangkul bahu Rosella dengan erat. “Kalau gaun Gucci tunanganku sampai kena noda gara-gara aku, nanti aku bisa disuruh tidur di sofa seumur hidup.”
Farchy tertawa lebar.
“Itu bukan merek Gucci, tahu,” bisik Rosella sangat pelan, sehingga hanya Dio yang bisa mendengarnya.
“Aku tahu kok. Tapi dia juga nggak tahu kan, jadi aman aja,” jawab Dio berbisik balik.
Rosella tersenyum kecil ke arahnya. Senyum itu tampak sederhana, namun bagi Dio, pemandangan itu adalah hal yang sangat disukainya.
Tak lama kemudian, Hans muncul di ujung ruangan dan memberikan kode agar Dio mendekat. Dio sebenarnya enggan meninggalkan Rosella dan Verlis sendirian. Namun, ia tidak memiliki pilihan lain selain menuruti panggilan itu.
Lagipula, dua wanita itu pasti jauh lebih mahir dalam menghadapi orang yang menyebalkan macam Farchy dibanding dirinya.
“Aku ke sana sebentar ya,” bisik Dio tepat di samping telinga Rosella.
Ia melihat tubuh Rosella sedikit bergetar saat hembusan napasnya menyentuh kulit leher wanita itu. Ada rasa puas tersendiri yang dirasakan Dio saat melihat reaksi itu.
Ia pun berjalan menghampiri Hans, lalu sepupunya itu menariknya menjauh dari kerumunan tamu agar pembicaraan mereka tidak terdengar orang lain.
“Ada masalah nih,” kata Hans sambil memunggungi para tamu yang hadir.
Jaket Hans sedikit terbuka. Dio melihat noda darah yang sudah mengering di kemeja bagian dalam yang dikenakannya.
“Kamu udah beresin mayatnya?” tanya Dio langsung pada inti persoalan.
“Udah aman. Ada di bagasi mobil aku. Ada yang nelepon ke sini dan bilang kalau Gumm harus pulang. Pihak hotel pasti lagi kasih tahu panitia sekarang,” jawab Hans dengan santai.
Dio melihat salah satu staf hotel mendekati sekelompok tamu pria lalu membisikkan sesuatu kepada mereka. Itu pasti kabar yang tadi dikirimkan oleh Hans.
Hans menoleh ke arahnya seraya mengangkat gelas minum dan tersenyum tenang. Dio membalas gerakan itu meski ia tidak paham bagaimana Hans bisa setenang itu di situasi yang sedang kacau begini.
“Ngomong-ngomong,” lanjut Hans, “seharusnya Gumm yang bayar semua biaya pesta ini. Jadi aku bilang ke manajer hotel kalau sekarang kamu yang tanggung semua tagihannya.”
“Itu nggak bakal bikin kita dicurigai sama orang lain?” tanya Dio dengan nada heran.
“Nggak bakal. Aku ngomong gitu pas Gumm masih hidup kok,” jawab Hans santai seolah tidak terjadi apa-apa.
Hans memang sudah yakin dari awal kalau Gumm tidak akan bisa pulang hidup-hidup malam ini.
“Aku sebel kalau kamu terlalu paham jalan pikiranku kayak gini,” geram Dio pelan.
Seorang pelayan lewat membawa nampan gelas berisi anggur merah. Dio mengambil satu gelas. Ia membenci rasa anggur, namun tetap meneguk sedikit isinya.
Lalu, tanpa peringatan apa pun, Dio menyiramkan seluruh isi gelas itu tepat ke arah tubuh Hans.