NovelToon NovelToon
Kontrak 90 Hari Sang CEO

Kontrak 90 Hari Sang CEO

Status: tamat
Genre:Nikah Kontrak / CEO / Mafia / Tamat
Popularitas:5.4k
Nilai: 5
Nama Author: Febriana Hanifah

*Sinopsis*

Evelyn Mahesa bukan orang yang percaya cinta instan.
Ia hanya percaya pada satu hal: ibunya harus sembuh.

Saat tagihan rumah sakit 200 juta menumpuk dan semua jalan buntu, muncul Matthias Virel—CEO dingin, kaya, dan paling ditakuti di dunia bisnis.
Ia menawarkan jalan keluar yang mustahil ditolak:
*4,5 miliar rupiah. Syaratnya, Evelyn harus jadi istri kontraknya selama 90 hari.*

Tanpa cinta. Tanpa sentuhan. Hanya peran di depan publik demi menenangkan nenek Matthias yang sekarat.

Awalnya, Evelyn pikir ini cuma transaksi.
Tapi tinggal serumah dengan pria yang jago bikin jengkel sekaligus bikin jantung berdebar itu… ternyata lebih sulit dari yang ia kira.

90 hari.
Cukup untuk jatuh cinta?
Atau cukup untuk saling membenci sampai akhir?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Febriana Hanifah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pulang

Hari ke-42.

Matthias akhirnya boleh pulang.

Dokter bilang pemulihannya gila cepat.

"Pendarahan kepala kayak gini biasanya butuh 2 bulan buat bisa jalan normal. Dia 3 minggu udah minta pulang," kata dokter sambil geleng-geleng kepala.

Evelyn cuma senyum lepas.

Itu pertama kalinya dia senyum beneran sejak kecelakaan itu.

Mobil Virel berhenti di depan mansion jam 10 pagi.

Nyonya Alina udah nunggu di teras bawa bunga.

Om Dimas pura-pura sibuk baca koran, tapi matanya nggak lepas dari Matthias.

Matthias turun pelan, masih pakai tongkat.

Wajahnya masih pucat, tapi matanya udah hidup lagi.

Begitu lihat Evelyn berdiri di pintu, dia langsung lepas tongkatnya sebentar.

Lalu jalan 3 langkah ke arahnya.

Evelyn nggak nunggu.

Dia langsung peluk.

Nggak peduli Om Dimas liat.

Nggak peduli wartawan yang masih ngintip dari luar pagar.

Yang dia tahu, laki-laki ini hampir nggak balik.

"Jangan nakutin gue lagi," bisik Evelyn di telinganya.

Matthias balas pelukan itu erat.

"Nggak akan. Aku janji."

Nyonya Alina di belakang mereka udah nangis.

"Alhamdulillah... alhamdulillah..."

Makan siang itu rame lagi.

Meja panjang yang dulu cuma ada dingin dan formalitas, sekarang penuh suara ketawa.

Matthias duduk di kepala meja, Evelyn di sampingnya.

Nggak ada jarak. Nggak ada aturan.

"Na, coba makan sup ayamnya. Biar cepet kuat,"

kata Nyonya Alina sambil nyodorin mangkok.

Matthias ngeliat Evelyn.

"Kalau dia nggak habis, aku yang habisin."

Evelyn nyubit lengannya pelan.

"Serakah."

Mereka ketawa.

Om Dimas batuk pura-pura.

"Jangan mesra-mesraan di meja makan. Masih ada aku di sini."

Tapi suaranya nggak galak. Malah ada senyum tipis.

---

Sore harinya, Matthias dibawa ke kamar untuk istirahat.

Dokter bilang dia masih butuh tidur banyak.

Evelyn bantu dia ganti baju, dudukin di pinggir ranjang.

"Lo nggak usah ngelayanin gue kayak perawat,"

kata Matthias pelan.

"Gue mau."

"Kenapa?"

"Karena gue suka ngeliat lo butuh gue."

Matthias diem.

Lalu dia tarik tangan Evelyn, cium punggung tangannya pelan.

"Terima kasih... udah nggak pergi."

Evelyn duduk di pangkuannya hati-hati, biar nggak nyakitin jahitannya.

"Gue nggak punya alasan buat pergi, Matthias. Rumah gue ada di sini."

Mereka diem lama.

Nggak ada kata cinta yang diucap.

Tapi semua ada di cara mereka saling lihat.

Malamnya, Evelyn tidur di ranjang yang sama.

Nggak ada lagi sofa. Nggak ada lagi jarak 1 meter.

Matthias tidur miring, ngadep ke dia.

Napasnya pelan, teratur.

Evelyn ngelus pipinya pelan.

"Selamat pulang," bisiknya.

Matthias nggak bangun. Tapi tangannya nyari tangan Evelyn dalam tidur.

---

Hari ke-45, Matthias udah bisa jalan tanpa tongkat, meski masih pelan.

Dia ngotot mau balik ke kantor.

Evelyn marah.

"Lo baru sembuh! Dokter bilang istirahat 2 minggu lagi!"

"Aku nggak bisa diem di rumah. Aku gila," jawab Matthias sambil pakai kemeja.

"Gila kerja atau gila gue?"

Matthias berhenti.

Dia senyum tipis.

"Keduanya."

Evelyn nggak bisa ngomong apa-apa lagi.

Dia cuma benerin dasi Matthias, lalu cium pipinya.

"Hati-hati. Kalau lo pingsan lagi, gue tinggal lo beneran."

Matthias ketawa pelan.

"Nggak akan."

---

Kantor Virel Group heboh begitu CEO-nya masuk.

Semua karyawan berdiri. Tepuk tangan.

Matthias cuma angguk kecil, jalan ke ruangannya.

Tapi di tengah jalan, dia berhenti.

"Pak Matthias, mau rapat dulu?" tanya asistennya.

Matthias geleng.

"Panggil semua kepala proyek. 10 menit lagi. Di ruang ini."

Dia masuk ke ruangannya.

Evelyn ngikut dari belakang.

Dia nggak kerja di Virel, tapi sejak kecelakaan itu, dia sering ke kantor.

Nggak ada yang protes. Malah semua senang.

"Lo nggak capek?" tanya Evelyn sambil duduk di sofa ruangannya.

"Capek. Tapi lebih capek kalau aku nggak tahu proyekku aman."

Matthias buka laptop.

"Raka udah kirim email. Dia mau bantu audit kontraktor yang kemarin."

Evelyn kaget.

"Raka? Kenapa dia mau bantu?"

"Katanya... dia mau bayar utang."

Evelyn diem.

Mungkin itu cara Raka nutup buku dengan tuntas.

Bukan cuma sama dia. Tapi sama masa lalu.

Rapat dimulai.

Matthias pimpin rapat sambil duduk.

Suara masih serak, tapi wibawanya nggak hilang.

Evelyn duduk di pojok, lihat dia kerja.

Dia sadar satu hal.

Laki-laki ini nggak dingin.

Dia cuma hati-hati.

Karena kalau dia jatuh, banyak orang yang ikut jatuh.

Rapat selesai.

Semua keluar.

Tinggal mereka berdua.

Matthias sandar di kursi, pejamkan mata.

"Capek."

Evelyn bangun, pijit pelan pelipisnya.

"Tidur 10 menit. Gue jaga."

Matthias nggak nolak.

Dia pegang tangan Evelyn, tarik pelan.

Evelyn duduk di lantai, sandar di lututnya.

"Matthias," panggil Evelyn pelan.

"Hmm?"

"Gue senang lo pulang."

Matthias buka mata.

Dia tatap Evelyn dalam.

"Aku pulang... karena ada kamu yang nunggu."

---

Malamnya, mereka pulang lebih cepat.

Nggak ada dinner bisnis. Nggak ada rapat darurat.

Cuma ada makan malam di taman belakang mansion.

Nyonya Alina masak sate ayam favorit Matthias.

Bulan purnama.

Angin sejuk.

Evelyn duduk di ayunan, kaki jinjit-jinjit.

Matthias duduk di sampingnya.

Dia nggak ngomong apa-apa.

Cuma genggam tangan Evelyn.

"Matthias," kata Evelyn pelan.

"Iya?"

"Kalau semua ini mimpi, jangan bangunin gue ya."

Matthias senyum.

Dia tarik Evelyn, peluk dari samping.

"Ini bukan mimpi, Evelyn. Ini kita. Beneran."

Evelyn sandar di bahunya.

Hatinya tenang.

Nggak ada kontrak. Nggak ada batas waktu.

Cuma ada sekarang.

Di kejauhan, Nyonya Alina ngeliat mereka dari jendela.

Dia ngusap air mata pelan.

"Akhirnya... rumah ini hidup lagi."

---

*[Bersambung ....

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!