NovelToon NovelToon
CINTA KEDUA DI BALIK HIJAB.

CINTA KEDUA DI BALIK HIJAB.

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Komedi / Romantis
Popularitas:16.7k
Nilai: 5
Nama Author: Ramanda

Setelah lima tahun berjuang tanpa hasil, Ardiah akhirnya menyerah pada desakan keluarga suaminya. Ia meminta Ferdi menceraikannya demi memenuhi keinginan ibunya untuk menikah lagi.

Dengan hati hancur, mereka pun berpisah. Namun dari rasa sakit itu, Ardiah bangkit dengan penampilan baru, memakai hijab dan kembali bekerja sebagai desainer interior di sebuah perusahaan besar.

Di sana, ia bertemu Haikal Akram, CEO muda yang dulu sering mengganggunya saat kuliah. Awalnya Ardiah tak suka padanya, tapi seiring waktu, sikap Haikal berubah menjadi lebih dewasa dan penuh perhatian.

Sementara itu, Ferdi mulai menyadari kesalahannya setelah melihat Ardiah tumbuh menjadi wanita kuat dan mandiri.

Apakah cinta pertama bisa kembali? Atau justru Ardiah akan menemukan kebahagiaan sejati bersama Haikal?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ramanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

RAHASIA HATI SANG NENEK.

"Haikal, tolong batalkan niatmu untuk membangun rumah dua lantai yang besar dan mewah di sini," protes Ardiah, setelah Haikal memberikan instruksi pada Roni.

Haikal mengerutkan dahinya, tampak heran. "Kenapa, Kak? Bukankah Mbah sudah memberikan izinnya tadi? Aku hanya ingin memberikan tempat tinggal yang layak dan nyaman untuk beliau."

Ardiah mengembus napas panjang, menatap hamparan pemukiman warga di sekitar mereka. "Haikal, Aku tidak rumah Mbah menjadi besar, karena aku takut hal itu malah mengundang niat jahat dari orang-orang yang iri. Aku tidak mau ketenangan hidup mbah terusik karena kemewahan yang mencolok."

Mendengar argumen logis dari istrinya, Haikal terdiam sejenak. Ia melipat kedua tangannya di dada, mencerna setiap patah kata Ardiah dengan saksama. Detik berikutnya, ia mengangguk setuju.

"Benar juga apa yang Kakak katakan. Aku terlalu memakai sudut pandang orang kota sampai lupa memikirkan keamanan Mbah," aku Haikal. Namun, seulas senyum cerdik kembali terbit di wajah tampannya. "Baiklah, aku setuju untuk tidak membuat rumah yang besar dan mencolok dari luar. Rumahnya akan tetap bersahaja, dengan dua kamar tidur di lantai bawah untuk Mbah dan kamar tamu."

Ardiah menghela napas lega, mengira suaminya sudah sepenuhnya mengalah. Namun, kalimat Haikal berikutnya sukses membuat matanya kembali melotot.

"Tapi, aku tetap akan membuatnya berlantai dua, Kak!" lanjut Haikal bersemangat. "Hanya satu kamar saja di lantai atas, khusus untuk kamar kita, lengkap dengan sebuah balkon yang sedikit luas untuk bersantai menikmati pemandangan."

Ardiah langsung memprotes dengan gemas. "Haikal! Padahal maksudku tidak perlu sampai berlantai dua segala!"

"Tidak bisa diprotes lagi, Kakak Sayang," potong Haikal dengan kedipan mata yang tengil. "Aku ini sangat suka melihat pemandangan alam. Apalagi di sekitar rumah Mbah ini posisinya sangat strategis, masih dikelilingi penghijauan sawah yang membentang luas, tanaman sayuran hijau, dan dekat sekali dengan aliran sungai yang menenangkan. Membayangkan minum teh sore hari di balkon itu bersama istriku yang cantik... ah, indahnya!"

Ardiah hanya bisa sabar, menyadari bahwa berdebat dengan Haikal saat pria itu sudah memiliki keinginan kuat adalah hal yang sia-sia.

Sesuai dengan perintah revisi dari sang Bos, Roni bergerak dengan kecepatan penuh. Keesokan harinya, ia mengundang pihak kontraktor profesional beserta puluhan pekerja bangunan ke desa tersebut. Jumlah pekerjanya cukup banyak, karena Haikal memberikan target yang sangat gila: rumah tersebut harus sudah selesai dan siap huni dalam waktu satu minggu saja.

Mengingat proses pembangunan yang masif pasti akan menimbulkan kebisingan dan debu yang bisa mengganggu kesehatan sang Nenek, Haikal menyusun sebuah rencana cadangan. Ia mendekati wanita tua itu yang sedang merajut di ruang tengah.

"Mbah, mumpung rumahnya sedang dibangun dan berisik, bagaimana kalau Mbah ikut Ikal dan Kak Diah pergi ke kota dulu?" rayu Haikal dengan suara lembut dan senyuman manis. "Ikal ingin memperkenalkan Mbah dengan orang tuanya Ikal. Nanti di sana Mbah bisa jalan-jalan, makan makanan enak, dan istirahat dengan nyaman."

Ardiah yang mendengar rayuan suaminya, terdiam. Ia sangat yakin neneknya akan menolak. Sebab, seingat Ardiah, selama lima tahun ia membina rumah tangga bersama Ferdi dulu, sang Nenek tidak pernah sekalipun mau diajak dengan berbagai alasan.

Namun, di luar dugaan Ardiah, setelah mendengar berbagai untaian rayuan manis dan bujukan manja dari mulut Haikal selama hampir lima belas menit, wajah sang Nenek justru melunak. Beliau tersenyum teduh lalu mengangguk perlahan. "Ya sudah kalau begitu, Ngger. Mbah ikut saja bagaimana baiknya menurutmu."

Ardiah langsung tercengang. Bagaimana bisa suaminya yang tengil itu menaklukkan keras kepalanya sang Nenek dalam waktu singkat?

Sore harinya, perjalanan menuju ke kota pun dimulai. Mereka bertiga duduk di dalam mobil mewah yang dikemudikan oleh Roni dengan nyaman. Nenek duduk di kursi belakang bersama Ardiah, sementara Haikal mengambil posisi di kursi depan, di samping kemudi.

Memanfaatkan momen di mana Haikal tampak sedang sibuk berdiskusi dengan Roni mengenai urusan pekerjaan di depan, Ardiah mendekatkan tubuhnya ke arah sang Nenek. Dengan suara yang sedikit berbisik agar tidak terdengar oleh suaminya.

"Mbah... Diah mau tanya sesuatu, boleh?" bisik Ardiah pelan.

Nenek menoleh, menatap cucu kesayangannya. "Tanya apa toh, Nduk?"

"Kenapa dulu waktu Diah masih bersama Ferdi, Mbah sama sekali tidak pernah mau diajak berkunjung ke kota? Padahal dulu Diah sering sekali memohon pada Mbah," tanya Ardiah tampak penasaran.

Sang Nenek menghela napas pendek, pandangan matanya menerawang menatap kaca jendela mobil. Beliau menepuk punggung tangan Ardiah dengan lembut sebelum mulai bercerita dengan suara lirih.

"Nduk, sebenarnya Mbah sengaja tidak mau ke sana sejak hari pernikahanmu dengan Ferdi dulu," ungkap Nenek, membuat Ardiah tersentak kecil. "Saat acara pernikahan itu, Mbah bisa melihat dengan jelas bagaimana sikap mertuamu yang dulu. Mereka sama sekali tidak suka dengan orang desa seperti Mbah. Pandangan mata dan tutur kata mereka sangat sombong, seolah-olah kita ini berada di kasta yang jauh di bawah mereka."

Nenek menjeda kalimatnya sejenak. "Mbah memilih untuk tidak pernah mengunjungimu di kota karena Mbah tahu diri, Nduk. Mbah juga tahu, suamimu yang dulu itu terlalu lemah dan selalu berpihak pada keluarganya. Jadi Mbah tidak mau kedatangan Mbah ke sana justru akan membuatmu semakin ditekan dan direndahkan oleh mereka."

Mendengar penuturan jujur yang selama ini dipendam oleh sang Nenek, mata Ardiah seketika berkaca-kaca. Dadanya terasa sesak menyadari betapa besarnya pengorbanan dan rasa peka sang Nenek demi melindunginya dari rasa malu di masa lalu.

"Lalu... bagaimana dengan Haikal, Mbah?" tanya Ardiah lagi, memajukan tubuhnya sedikit lebih dekat. "Kenapa Mbah bisa begitu yakin pada Haikal sampai mau diajak kekota? Apa Mbah tidak takut atau khawatir dengan keluarganya? Keluarga Haikal itu jauh lebih kaya dan terpandang daripada keluarga Ferdi dulu, Mbah."

Nenek tersenyum tipis, sebuah senyuman penuh kebijaksanaan yang menenangkan. "Nduk, batin orang tua itu jarang meleset. Biasanya, kalau seorang anak laki-laki memiliki sifat seperti Haikal, yang terlihat blak-blakan, ramah pada siapa pun tanpa memandang kasta, bahkan tidak malu bermanja dan menghormati orang tua,itu tandanya, Ibunya pasti mendidiknya dengan penuh kasih sayang tanpa membatasi pergaulan sang anak dengan sekat-sekat kesombongan. Artinya sifat baik anak tersebut menurun langsung dari ibunya."

Ardiah tertegun diam, meresapi setiap patah kata neneknya. Dan akhirnya ia pun mengakui, "Iya, Mbah... tebakan Mbah benar. Ibu mertuaku yang sekarang memang orang yang sangat baik dan begitu menyayangiku sejak awal kami bertemu."

Mendengar pengakuan dari sang cucu, nenek tersenyum lega. "Alhamdulillah... Mbah lega mendengarnya, Nduk," ucap Neneknya menatap Ardiah. "Pada akhirnya, cucu kesayangan Mbah ini bisa menemukan keluarga yang tepat dan tulus menyayanginya. Mbah udah tenang sekarang. Seandainya sewaktu-waktu Mbah dipanggil oleh Allah, Mbah sudah ridho, karena di dunia ini sudah ada laki-laki baik seperti Haikal yang akan menjaga dan melindungimu."

"Mbah! Jangan bicara seperti itu! Diah tidak suka mendengarnya," protes Ardiah dengan cepat, setelah mendengar kalimat sensitif mengenai perpisahan itu.

"Iya, Mbah! Ikal juga protes keras!"

Mendengar protes dari depan, membuat Ardiah dan neneknya tersentak. Haikal memutar kepalanya kebelakang dengan binar mata yang penuh kehangatan. Ternyata, sejak tadi pria itu sengaja memasang telinganya tajam-tajam untuk mencuri dengar bisikan-bisikan dari kursi belakang.

"Haikal! Kamu mencuri dengar pembicaraan kami, ya?" omel Ardiah dengan wajah memerah, merasa kesal karena rahasia obrolannya ketahuan.

Haikal justru memamerkan cengiran tengilnya tanpa rasa bersalah sedikit pun. "Habisnya suara bisikan Kak Diah itu terlalu merdu di telingaku. Lagipula, Mbah tidak boleh bicara soal pergi-pergi begitu, ya. Mbah harus berumur panjang, karena nanti tugas Mbah masih banyak."

Nenek mengerutkan dahi, tampak heran namun terhibur. "Lho, memangnya tugas apa lagi toh, Ngger, buat orang tua sepertiku?"

Haikal menopang dagunya di atas sandaran kursi, menatap Nenek lalu melirik Ardiah jahil. "Tentu saja tugasnya untuk mendoakan dan mendengarkan keluh kesah Ikal kalau nanti Ikal diomeli atau dicubit lagi oleh cucu Mbah yang galak ini. Hanya Mbah satu-satunya pembela Ikal di dunia ini!"

Mendengar aduan manja dan ketengilan dari cucu menantunya itu, rasa harunya yang tadi sirna, berganti dengan tawa bahagia yang berderai renyah memenuhi kabin mobil. Sementara itu, Ardiah hanya bisa mendengus kesal, meskipun di dalam hatinya, sebuah senyuman kebahagiaan yang tulus tidak bisa lagi ia sembunyikan dari wajah cantiknya.

1
Eliermswati
tnggl diah memberikan hatinya buat Haikal😂😂😂 jng ragu lg y diah smngt thor up nya
Lia siti marlia
yah ardiah sekarang tinggal kamu memberi bukti bahwa kamu pantas menyandang status nyonya muda arkam 😁😁😁💪💪💪
Danny Muliawati
smga yg terbaik buat Ardiah
Danny Muliawati
buka hati mu ardian buktikan sm mak Lampir km tdk mandul
Lia siti marlia
kesedihan harus di kubur dalam dalam ardiah selajut nya kamu harus menyongsong masa depan yang bahagia bersama keluarga barumu dan suami tengilmu😁😁😁
Lia siti marlia
lanjut kan haikal ke manjaanmu dan ketengilanmu itu untuk meluluhkan hati ardiah😁😁😁😁
Danny Muliawati
spt nya yg bermasalah malah Ferdy yah Thor istri nya blm di sentuh kok sdh hamil 😄😃
Lia siti marlia
akhirnya ardiah mau memulai untuk langkah yang lebih baik 🥺🥺💪💪💪
Pujiastuti
akhirnya Haikal bisa juga meluluhkan hati Ardiah
Lies Shandie
lanjut AQ maraton loh bacanya soalnya baru tahu novelnya🤭
Jaya Fandi
usahamu tdk sia sia Haikal,,sbntar lagi ardiah katuh cinta pdanu
Lia siti marlia
akhirnya tumbang juga pak bos🥺🥺
Pujiastuti
tumbang deh Haikal karena kelelahan mencari Ardiah, tapi ngak papa Kal akhirnya luluh juga hati istrimu melihat dirimu tumbang tak berdaya
sunshine wings
Bagus alur storynya author..
👏🏻👏🏻👏🏻👏🏻👏🏻
👍👍👍👍👍
❤️❤️❤️❤️❤️
sunaryati jarum
Semoga hasilnya sekarang bagus
Pujiastuti
semoga kamu bisa membuat trauma pada diri Ardiah cepat hilang dan Ardiah bisa mrncintaimu tanpa trauma lagi
Lia siti marlia
untung nya arfiah udah ketemu tinggal kamu berusaha untuk meraih hati ardiah.haikalsemangat💪💪💪💪
Pujiastuti
semangat Haikal semoga kamu bisa meluluhkan hati Ardiah dan kalian cepat bersama lagi
Lia siti marlia
nah kan kelimpungan jadinya 🤭maka kalau mau apa apa di obrolin dulu ...ngasih kejutan yang mengancan kesejahteraan rumah tangga kamu kal kal🤭🤭🤭
Eliermswati
smngat kal smga bs mndpt maaf dr istri mu dan bs segera d bwa plng😂😂smngt thor up nya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!