Ada sebuah kepercayaan pada legenda 'pamali' di kampung kebun jeruk nipis. yang dimana para gadis yang belum menikah dilarang keluar malam hari, duduk di depan pintu, potong kuku malam hari, gunting rambut pas malam hari.
Namun ada, sekelompok remaja yang melanggar aturan itu dan berujung malapetaka bagi dirinya sendiri. Dari mereka diganggu setan di rumah sampai dibuat tersesat di hutan belakang rumah.
Apakah Anda bisa menyelesaikan pamali yang telah mereka langgar dan pergi dari pamali ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Samsya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26
Dengan hati hati pria yang menggendong tubuh Joko yang terasa dingin dan berjalan keluar dari gubuk tersebut.
“Nak Joko andai kamu lahir di garis keturunan kami kamu tidak perlu menanggung dosa mereka di masa lalu”
Pria tua tersebut dengan lembut membalut kain hitam menutup kedua matanya Joko, sambil mengucapkan beberapa mantra.
Lalu ia mengambil segelas air di nakas, meminumnya dan menyemburkan air tersebut tepat ke kepala joko.
Ajaib nya sekitar jokok tersadar dengan nafas tersengal-sengal seperti habis berlari begitu jauh.
Luka luka di wajah nya ikut menghilang seolah semburan air tadi menyembuhkan nya secara instan.
Namun pandangan Joko gelap gulita ia tidak bisa melihat apapun, pikiran nya melayang kejadian saat ia memecahkan sebuah bingkai foto.
‘jangan jangan gua buta ... Tapi kan yang kena gores cuma mata sebelah doang. bukan dua duanya. Ada ini anjir ... ’ panik Joko dalam hati nya ia merasakan kepala nya basah oleh air, namun ia ingat betul cuaca diluar tidak sedang hujan.
“gua buta? … Gak mungkin sih ini. Tapi kenapa gelap semua? … Ada apa ini?” Tanya Joko dengan suara yang serak ia meraba raba kain penutup yang menutup mata nya.
“Tenang saja, mata kamu tidak buta nak Joko Widarto”
Joko terdiam mendengar nama lengkap nya dipanggil, bulu kuduknya berdiri seketika saat ingatan lama nya terulang kembali di benak nya.
“Siapa sebenarnya kamu? … Dan kenapa Kamu mau membantu saya?” Tanya Joko ia yakin tidak asing dengan suara pria di depannya.
Suara yang sangat familiar orang yang pernah ia temui sebelum nya. Tapi ia tidak bisa mengingat namanya dan tempat dimana ia bertemu.
Suasana begitu senyap, sampai Joko bisa mendengarkan detak jantung dan hembusan nafas nya sendiri.
Tangan nya meraba-raba sekitar nya mencari tahu dimana ia sekarang.
“Sudah cukup lama rupanya. Semua berjalan begitu cepat, dunia memberi luka tanpa jeda untuk bernafas sejenak”
“Nak Joko, bapak hanya ingin menyampaikan pesan penting untuk kamu”
Titah pria tua tersebut yang terus memperhatikan Joko masih bingung dan tidak mengerti dengan apa yang sebenarnya sedang terjadi saat ini.
“Tunggu dulu sebenarnya saya ini ada dimana? .. kenapa bisa disini bersama bapak? … Seharusnya saya masih berada di villa” cecar Joko mulai menyadari jika dirinya tidak sedang berbicara dengan manusia melainkan sosok astral.
Pria tua itu hanya tersenyum kecil, ia langsung bangkit berjalan menuju ruang lain tanpa menjawab pertanyaan Joko.
Joko yang kesal karena pertanyaannya tidak dijawab, dengan nekat ia langsung turun dari dipan.
Hanya mengandalkan pendengaran dan indera penciuman hidung nya, Joko perlahan melangkah kaki nya.
Tangan nya berpegangan pada dinding yang terbuat dari anyaman bambu. Dinding nya terasa begitu dingin, ditambah bau amis yang mulai tercium jelas oleh Joko.
Langkah demi langkah Joko ambil sampai akhir nya di berdiri diambang pintu, dan merasakan hembusan angin dingin membuat bulu kuduknya kembali merinding.
Namun belum sempat Joko melangkah kaki nya keluar dari kamar, pria tersebut sudah lebih dulu menahan Joko di tempat.
“Kamu tidak mau tahu kebenaran dari apa yang disuruh ayah mu kepada dirimu nak?” Ujar pria tua itu menahan Joko agar tidak pergi.
“Bapak ini gak tau apa apa, jadi saya minta tolong jangan … “
“Widarto mengh*m*l* wanita lain saat istrinya sedang mengandung adik mu”
Bagai tersambar petir siang bolong, Joko langsung terdiam di tempat setelah mendengar ucapan tersebut.
Pikiran Joko mulai kacau ia tidak bisa lagi bersikap tenang jika sudah menyangkut hubungan keluarga nya.
“Mari duduk lagi saja dulu, saya bisa menjelaskan kebenaran nya jika kamu mau nak” tutur pria tua itu dengan sedikit lembut.
Mendengar tawaran itu Joko tetap diam, ia tidak yakin apakah pria di depannya ini di pihak nya atau justru musuh bebuyutannya?.
Joko mengepalkan tangannya ia harus mengambil keputusan secara cepat untuk mengetahui semuanya. “Baik, saya mau tau kebenaran yang selama ini menjadi pertanyaan besar bagi saya”