Tiba-tiba jadi keluarga mafia?!!!
Itulah yang dirasakan oleh seorang gadis cantik bernama Lily. Takdirnya secara mendadak membawanya pada dunia gelap yang tak pernah ia tahu sebelumnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nanastar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kado dari Sarah
Happy Reading ❤️
••••••
Tak ada satu pun orang yang berani bersuara dimobil yang tengah disetir dengan ugal-ugalan itu. Walaupun raut wajah sang gadis menampilkan rasa takut, tapi si pemuda yang sedang menyetirnya tidak peduli sama sekali. Bahkan ia tadi malah memarahi sang gadis dengan umpatan yang menyakiti hatinya.
"Setiap dia ketemu sama seseorang, pasti jadi aneh gini"
Batin sang gadis dengan heran. Ia tidak mau mencari masalah saat kondisi si pemuda terlihat sedang tidak baik-baik saja. Ingatannya kembali pada perlakuan kasar si pemuda terhadap dirinya waktu lalu. Namun Gadis itu mendapati sesuatu yang aneh, pria yang ia kenal memiliki tahi lalat di bawah sudut matanya. Dan pria yang disampingnya ini tidak memiliki hal itu. Apa dia salah liat soal tahi lalat dari kakak laki-lakinya itu?
"Jangan bilang apapun pada papa! Faham!" Ancamnya dengan wajah dingin ketika mereka telah tiba dirumahnya. Tangannya bergerak membuka pintu mobil untuk dirinya keluar.
"Cepat keluar!" Bentaknya pelan.
Sang gadis itu pun langsung membuka pintu mobilnya dengan sedikit kesal. "Sabar napa" Gumamnya pelan. Ia sudah melihat si pemuda telah mendahului masuk kedalam rumahnya.
"He anak papa yang cantik!"
Gadis itu dikejutkan oleh suara seseorang yang datang menjemputnya saat ia tiba didalam rumah.
"Eh papa hehe" Ia tersenyum canggung pada ayahnya sembari menatap aneh si pemuda yang tengah berdiri didepan kamar tamu. Kenapa rasanya ia tidak suka melihat pemandangan ini?
"Maafin papa ya ninggalin kalian berdua, kamu baik-baik aja kan sama kak Zevan?" Tanyanya sembari menuntun si gadis duduk disofa tamu.
Gadis itu menatap wajah sang pemuda yang hanya diam saja. Ekpresi wajahnya tidak begitu datar, terkesan dingin. Apa dia marah kepadanya? Tapi karena apa?
"Um baik kok pa!" Ia tersenyum lebar dengan wajah ragu. Ia bingung dengan ancaman pemuda itu saat keluar dari mobil. Apakah maksudnya jangan memberi tahu sikapnya waktu itu?
"Lily laper pah" Ia memegangi perutnya yang tadi tidak jadi di isi.
"Ya sudah, ayok kita makan keluar! Zevan cepat persiapkan dirimu!" Titahnya pada pemuda itu. Tanpa berkata apapun ia pun segera bergegas pergi.
"Nah kamu juga Lily! Mandi dulu gih!" Sang ayah memencet hidungnya gemas. Pikiranya terhanyut pada sang istri yang telah meninggalkannya. Melihat senyuman diwajahnya, mengingatkannya kepada sang pujaan hati tercinta.
"Kau mirip sekali dengan mamamu..." Ujarnya yang membuat sang gadis terdiam. Bingung harus menjawab bagaimana.
"Hmm, papa gak usah sad sad ya! Kan ada Lily, kak Zevan juga!" Hiburnya dengan wajah dibuat se-ceria mungkin.
"Ya, terima kasih" Ia membenarkan rambut-rambut yang berada disekitaran kening anaknya itu penuh kasih sayang.
"Yaudah, Lily mau siap-siap dulu ya pa!"
Skip beberapa hari kemudian_
Saat itu, terlihat seorang gadis berambut sebahu sedang berjalan dikoridor. Lalu dari arah belakang, seseorang terdengar memanggil namanya cukup keras. Ia berlari kecil menghampiri gadis itu dengan raut wajah yang seperti sedang menyembunyikan sesuatu.
"Lia?"
"Iya?" Sahut sang gadis yang merasa dipanggil namanya.
"Haii" Gadis itu melambaikan tangan kearahnya.
"Kenapa kak?" Ia sedikit menghampirinya juga dengan pelan.
"Kamu satu kelas sama gadis ini kan?" Tanyanya sembari menunjukkan sebuah photo.
Lantas sang gadis yang ditanya pun mengangguk cepat. "Iya! Aku kenal kok sama dia"
"Bagus!"
Batinya dengan tersenyum penuh arti.
"Boleh minta tolong gak?"
"Tolong apa kak?"
"......." Ia membisikkan sesuatu.
"Oh, bisa banget kak!"
"Makasiii ya!" Ia tersenyum puas.
"It's okey kak!" Gadis itu pun segera pergi menuju kelasnya.
--Dikelas--
"Lily! Lily!" Teriak seseorang dari luar kelas menuju tempat duduk gadis yang dipanggilnya.
"Eh Lia, ada apa?" Gadis yang merasa namanya disebut pun menoleh kearah suara.
"Ada titipan kado nih! Dari seseorang! Pokoknya dia baik banget! Katanya ini kado ultah buat kamu!" Ucapnya dengan penuh semangat dan tentunya ngos-ngosan.
"Ultah?" Sekejap ia terlihat bingung. Kapan si ultahnya dia? Gumamnya dalam hati.
"Yaudah, makasi ya Lia!" Ia pun menerimanya walaupun didalam hatinya merasa banyak kejanggalan.
"Waaah!! Ada suratnya!"
Tanpa pikir panjang, ia pun membaca sepucuk surat yang ia temukan terselip dibawah kotak kado itu.
Hai Lily!
Udah nerima kadonya belum? Pasti sekarang lagi baca suratnya, kan? Penasaran gak siapa yang ngirimnya? Haha- Santai aja...
Kalo mau buka kado, disarankan ditempat yang gak ada orangnya, ya! Soalnya kadonya spesial banget cuma buat Lily seorang!
Okedeh, salam hangat!
Pengagum rahasia❤️
Gadis itu sedikit terkesima setelah membaca surat itu. Pengagum rahasia?! Saat ia hendak bangun untuk membuka kadonya, tiba-tiba...
"Selamat siang anak-anak!"
Guru pun datang dan membuat sang gadis harus menahan rasa ingin tahunya terhadap isi kado itu.
"Gak sabar banget pengen cepetan buka kadonya!"
Batinya dengan wajah berseri-seri. Kira-kira kejutan apa, ya? Pikirnya.
🍁🍁🍁🍁🍁
Saat itu, disebuah ruangan dengan pencahayaan minim, terlihatlah seorang gadis cantik tengah berusaha membuka sebuah kotak berwarna coklat. Ia cukup kesulitan saat hendak melepaskan tali pitanya. Bahkan sudah nampak jelas didahinya saat ini sudah muncul keringat.
"Kok susah banget si? Pake lem apaan sih nih yang bungkus kado!" Gerutunya kesal saat kotak itu tak kunjung bisa ia buka. Tanpa rasa putus asa, ia pun mengakalinya.
"Harus pake benda tajam kali ini!" Pikirnya lalu mencari sesuatu. Lalu ia pun memperhatikan sekitarnya. Lalu tatapanya terhenti pada sebuah pecahan botol kaca bekas obat-obatan. Ia pun tersenyum dengan bangga.
"Itu dia haha!" Dengan cepat ia meraih serpihan pecahan kaca paling kecil. Entah bagaimana, tanganya tiba-tiba meneteskan darah. Dan tanpa ia sadari, ia pun semakin melukai tangannya saat pita tali itu ia gores dengan serpihan kaca.
"Ih kok tanganku perih sih?!" Gumamnya saat merasakan perih ditangannya. Ia menatap kebawah lantai yang sudah dipenuhi noda cairan hitam-hitam karena kondisi pencahayaan yang tidak baik.
"Yes! Akhirnya kadonya kebuka!" Riangnya mengalahkan rasa perih ditangannya. Ia menjadi bersemangat ketika melihat usahanya membuahkan hasil. Pita kadonya sudah terlepas! Kini saatnya dia membuka kado itu!
"Ini air apaan sih kok banyak banget ditangan?" Heranya ketika melihat tangannya berlumuran darah bahkan sampai menodai kadonya. Namun ia pun tidak peduli dan hendak membuka kado itu.
"Hitung ah!" Ia pun menatap matanya.
"1....2...3!!!"
Ia pun menjerit-jerit saat sesuatu yang panjang dan hidup melompat kearahnya dengan ganas.
Aaaaaaaa!!!
Teriakannya menggema dikoridor lantai satu sekolah. Segera orang-orang yang mendengar itu langsung berlari menuju asal suara teriakan.
Duk!
Duk!
"Pintunya terkunci!" Teriak pemuda yang hendak membuka pintu gudang asal suara teriakannya.
"Sepertinya aku kenal suara itu..." Gumam seorang pemuda yang ikut-ikutan penasaran.
"Itukan..." Segera ia pun membantu mendobrak pintunya ketika sadar. Hingga akhirnya...
Bruak!!
Suara pintu keras saat seseorang berhasil membukanya, nampaklah seorang gadis dengan berlumuran darah tengah menahan kepala ular yang hendak mematuknya.
"Ya ampun! Lily!" Teriak seorang pemuda saat melihat kejadian itu. Ia segera mengambil ularnya dan menginjak kepalanya kuat tanpa ampun dan jeda.
"Kamu tidak apa-apa?!" Tanyanya dengan segera memeluknya erat. Sedangkan sang gadis hanya menangis sesenggukan karena kejadian tadi. Ia merasa malu atas tindakannya yang bodoh itu. Kenapa ia harus sebodoh ini?!
"Tangan kamu luka? Ayok kita segera obati!" Ucapnya dengan penuh hawatir. Sekilas gadis itu menghentikan tangisannya dan menatap sang pemuda dalam.
"Makasi kak Austin...Tapi, ularnya... Kasiaan" Ujarnya dengan suara bergetar saat melihat kondisi ularnya yang mengenaskan. Austin hanya mengkerutkan keningnya berusaha mencerna ucapan gadis itu.
"Ada apa ini?!" Teriak seorang guru ketika melihat murid-muridnya berkerumun diluar gudang.
"Itu Bu! Lily..." Salah satu muridnya mencoba menjelaskan.
"Kenapa lagi dengan gadis itu?!" Tanyanya dengan cemas dan langsung menerobos kerumunan untuk masuk kedalam gudang sekolah.
"Astaga! Apa yang terjadi?! Austin! Bawa Lily ke UKS cepat! Nanti kita bicara disana"
"KALIAN SEMUA MASUK KELAS! SEBENTAR LAGI BEL MASUK! BUBAR BUBAR!" Teriaknya dengan suara toa andalannya. Semua murid-murid pun bubar dengan kesal.
• •
•
----- DI RUANG BK ----- • • •
"Lia... Kamu ibu skors selama satu minggu! Tidak ada komentar apapun lagi!"
"Bu, Lia mohon Bu! Lia beneran gak tau isi kado itu ular Bu! Lia cuman di titipin barang aja!" Mohonya saat diruang BK. Ia sangat sedih saat mendapati hukuman berat ini. Pasti ibunya akan marah saat mendengar pernyataan ini.
"Itu salah kamu sendiri! Kenapa kamu tidak menanyai dulu siapa dirinya, dan untuk apa dia memberikan kado itu untuk Lily!"
"Kalo Bu Farida yang ada diposisi Lia mau gimana?!" Tanyanya dengan penuh keberanian. Ia sudah tidak tahan terus disalahkan.
"Ibu akan diam dan mematuhi perintah guru" Jawab Farida enteng dan tatapan remeh.
Lia yang sedikit tersinggung mendengar itu pun hanya terdiam. Cukup sudah ia merasa terhina disekolah ini. Semuanya seakan memandang rendah padanya. Lia tau dia anak yang mengandalkan beasiswa, tapi bukan berarti dia lemah!
"Baik bu, Lia permisi. Maaf atas kelancangan Lia tadi" Ia pun keluar dengan perasaan sedih. Disatu sisi, ia merasa kesal pada kebodohan dirinya. Tapi disisi lain, ia sedikit kesal juga pada Lily. Gara-gara dia, dirinya diskors seminggu yang padahal jelas-jelas bukan kesalahannya. Tapi bagaimana pun juga, semua ini sudah terjadi. Lia juga merasa sedikit bersalah pada Lily, untung saja gadis itu selamat. Kalo tidak, ia bisa lebih dalam masalah besar. Tapi bukannya yang menitipkan kado itu adalah Sarah? Seorang gadis yang satu kelas dengan Austin?
Dengan perasaan campur aduk ia berjalan melewati koridor kelas. Lalu langkahnya terhenti dijendela UKS. Ia melihat kedalamnya. Terlihat dua sejoli berbeda jenis tengah saling berhadapan saling menatap mesra. Rasa iri dan cemburu muncul dihatinya saat melihat itu. Namun ia buru-buru menepisnya. Gadis itu lebih cocok bersanding dengan pemuda tampan itu. Lia pun tersenyum penuh kemenangan atas hati ikhlasnya membiarkan orang yang dicintainya bersama perempuan lain. Dengan rasa percaya diri, ia pun melenggang pergi meninggalkan sekolah itu.
Didalam UKS, seorang gadis cantik yang terluka tangannya tengah diolesi obat merah. Mulutnya tak berhenti komat-kamit tidak jelas.
"Anjiir! Sakit banget bego!" Racaunya dengan wajah menahan sakit. Pemuda yang tengah mengobatinya terkesip mendengar umpatan kasar dari mulut gadisnya. Tak pernah ia berkelakuan seperti itu sebelumnya. Gadis yang dulu dingin, keras kepala, sulit diatur dan angkuh. Tapi yang sekarang, terlihat...
"Awhs!!" Rintihnya pelan saat pemuda itu terlalu menekan perban lukanya karena terlalu termenung jauh.
"Lily, jangan berkata kasar lagi oke! Gue gak suka" Ucapnya dengan mengusap lembut wajah gadisnya yang halus dan putih itu.
"Kayak ngomong anjir? Atau bego?" Gadis itu malah dengan sengaja mengucapkannya dengan seenaknya.
"Jangan sayang, mau mulutmu ku bersihkan?" Pemuda itu pun berdiri dihadapan sang gadis yang tengah duduk diatas ranjang UKS.
"Emangnya mulut saya cucian kotor apa! Gak mau lah anjayy" Gadis itu cekikikan pelan ketika melihat wajah kesal si pemuda. Tapi bibirnya tetap saja tersenyum manis padanya.
"Lily..." Pemuda itu tersenyum lembut kearahnya namun dengan aura gelap.
"Hehe maaf kak Austin! Tadi bercanda hehe" Gadis itu mengacungkan dua jarinya membentuk huruf V disamping wajahnya yang tersenyum lebar.
Pemuda itu meraih tangannya dan menggenggam pergelangannya erat. "Kau benar-benar ingin ku bersihkan ya, mulutnya" Ucap pemuda itu seraya mendekati wajah sang gadis.
"Heee!!" Gadis itu nampak terkejut saat sesuatu yang kenyal berwarna pink itu hampir saja mendarat dibibir mungilnya. Tentu saja, karena pemuda itu terkejut dan langsung menjauhkan wajahnya ketika ada seseorang yang membuka pintu UKS secara tiba-tiba.
"Lily! Apa kau terluka parah?!" Tanya seorang pria paruh baya yang baru saja tiba.
"Lily, ibu sarankan kamu pulang saja dan beristirahat di rumah dulu" Ucap Bu Farida yang ikut masuk kedalam ruang UKS.
"Hai om! Saya petugas UKS disini!" Ucap pemuda itu bohong sembari menundukkan kepalanya sopan.
"Oh begitu, terima kasih karena sudah menjaga anak'ku!" Balasnya dengan raut wajah datar.
"Kalo begitu saya permisi ya Bu, dan.. kamu" Ayah gadis itu melirik kearah pemuda itu sebentar. " Terima kasih sudah menjaga anak'ku!" Ia pun menuntun Lily keluar.
"Pah, kok bisa kesini jemput Lily?" Tanyanya heran sembari berjalan keluar dari ruangan UKS. Sebelum ia benar-benar keluar dari ruangannya, ia menoleh dahulu kebelakang dan melambaikan tangannya ceria pada pemuda yang terlihat sedang tersenyum kesal didalam UKS.
"Salah sendiri wlee!"
Batin gadis itu senang karena hampir saja tadi first kissnya didapatkan oleh pemuda brengsek itu. Tidak... bukan first kiss lagi sebenarnya karena seseorang yang lain telah merampasnya. Teringat itu, tiba-tiba saja hati Lily merasa sesak.
"Lily, mungkin kau sebaiknya home schooling saja" Ucap papanya saat mereka telah berada didalam mobil. Gadis itu nampak berfikir, ada benarnya juga. Setelah insiden hari itu di sekolah, tiba-tiba ia dapat kembali sekolah lagi. Dan guru-guru disana memperlakukannya dengan istimewa. Tapi dimana pun ia berada, hidupnya nampak selalu ditakdirkan tidak tenang. Apakah figuran ini terjerat sesuatu?
• • •
BERSAMBUNG
See you next part!❤️